Tuesday, April 16, 2019

tanggung jawab atas diri kita masing-masing

Herry Mardian
PINGIN nanya kang, apakah mungkin saat ini kita bisa memastikan bahwa "ad din" yang dijalankan sekarang sepenuhnya benar sehingga saya mengajak orang lain ke jalan saya? Dan sya seringkali bingung menyikapi orang lain yang teguh dengan ad dinnya tapi bertolak belakang dg ad din persepsi saya. Apa sya tdk punya hak terhadap org yang "yakin"?
: :
Sebenarnya gini.
Pada prinsipnya, kita hanya akan dimintai tanggung jawab atas diri kita masing-masing, termasuk bagaimana kita menentukan jalan untuk memahami ad-Diin kita sendiri. Itu yang paling penting. Kita akan dihakimi dan dimintai pertanggung jawaban atas diri kita sendiri, bukan orang lain (baca saja di Q. S. 6 : 164).
Tentu, seorang ayah akan dimintai pertanggungjawaban atas anaknya, suami atas istrinya, istri atas anaknya, dsb, bukan berarti sama sekali tidak mau tau, elu elu gua gua, ya. Tapi apakah agama orang tersebut ada dalam tanggung jawab kita nggak, sementara kita sendiri belum merasa firm dengan apa yang kita pegang.
Tidak semua yang berbeda dengan apa yang kita yakini itu pasti salah, dan tidak semua yang berbeda dengan kita itu harus ikut kita sehingga sama keyakinannya. Sebab, perbedaan adalah sesuatu yang niscaya, sudah ditetapkan. Mustahil semua harus jadi satu pemahaman.
==
"Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.
Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu."
(Q. S. [5] : 48).
==
Berbeda pemahaman, sudut pandang, ya boleh saja. Tidak ada masalah. Asal jangan saling memaksa. Allah menghendaki kita 'work the difference out', bukan 'eliminate all the differences'. Sama seperti menikah kan.
Sekali lagi, yang akan dimintai pertanggungan jawab adalah 'diri sendiri'. Gimana kamu sampai meyakini itu? Sejauh mana upayanya? Gimana sampai kamu memutuskan itu? Gimana prosesnya? Bukan, 'kenapa dia nggak juga meyakini apa yang kamu yakini?'
Bahkan tugas seorang Rasul pun hanya menyampaikan, bukan memaksa (5 : 99).
Menyampaikan pun, hanya pada yang butuh, yang mau. Bukan semua orang dipaksa harus menerima dan mendengarkan. Itu menzalimi namanya. Kalau tidak haus, jangan dipaksa minum dong 
Nah, di saat yang sama, kita diwajibkan-Nya memahami dulu, dengan kokoh, apapun yang akan kita ikuti. Kita tidak boleh taklid, asal ikut, tidak cross check, tidak meneliti/mengkonfirmasi, cuma beragama dengan 'katanya'. Itu tidak boleh, sebenarnya, jika kita sudah mulai ingin melangkah ke pemahaman ad-Diin yang lebih hakiki.
Kita harus paham dengan apa yang akan kita ikuti. Tidak boleh tidak.
"Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya" (17 : 36)
Artinya,
(1) kita tidak dimintai pertanggung jawaban atas jalan orang lain. Orang lain boleh berbeda, dan masing-masing akan mempertanggungjawabkan jalannya sendiri.
Tapi, (2) kita harus punya sekian kadar pemahaman atas apa yang akan kita ikuti. apapun yang kita ikuti, masing-masing kita harus mempertanggungjawabkan pilihan kita sendiri.
Bukan berarti tidak perlu berdakwah, ya. Tapi itu bahasan lain.
Jadi, sebenarnya Allah menghendaki masing-masing kita itu punya pemahaman yang firm, yang kokoh, atas ad-Diin masing-masing. Setiap orang akan punya sekian kadar pemahaman, kadar kebenaran. Jadi, kita akan jadi masyarakat yang saling mengisi. Kalau semua pemahaman harus sama dan standar, kita akan saling memerangi.
Jadi perlu nggak mengajak-ngajak orang lain?
Sikap paling utama, hargailah proses orang lain yang juga sedang berusaha memahami agamanya, memahami kehidupannya. Jangan menganggap 'semua belum setinggi saya pemahamannya', tapi hargailah bahwa Allah mengajari setiap orang dengan proses yang berbeda, dengan kadar pemahaman yang berbeda pula.
Fokus pada titik temu, bukan pada perbedaan.
Jangan tebas semua perbedaan, jangan anggap bahwa yang sedang kita yakini sekarang adalah kebenaran mutlak yang harus diikuti semua orang 
Toh yang akan ditanya nanti, kita dan apa yang kita yakini, bukan 'dia dan keyakinan dia'.
(Herry Mardian)
: :

0 comments:

Post a Comment