Sunday, April 7, 2019

UANG-UANGAN

(oleh: Watung Budiman)
“Hidup ini permainan,” kira-kira begitu kata Kitab Suci. Ini ide yang nggak terlalu nyandak buat sebagian orang sebenarnya. Lha gimana, wong sudah lintang pukang dibombardir deadline seperti ini, pagi sampai petang, kok dibilang cuma dolanan? Dan kalau kita baca koran, betapa seratusan orang mati tragis di Situ Gintung, trilyunan duit beredar di pemilu kemarin, peluh dan depresi, tragedi dan nestapa dunia, semua riil terasa… dan sama sekali nggak kelihatan seperti main-main. Kelihatannya.
Rumi punya tamsil yang kalau dipikir-pikir, dimat-matke, bisa memberi sedikit insight. Begini beliau bilang:
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Dunia adalah taman bermain, 
di mana anak-anak bermain jual-jualan.
Saling bertukar uang-uangan.
Ketika malam tiba, mereka pun pulang
kelelahan, dan tangan mereka
tetap tak membawa apa-apa.
(diterjemahkan oleh Herry Mardian)
: : : : : : : : : : : : : : : : :
Persis. Kita seharian nguber-nguber (dan diuber-uber) kerjaan, pemilu, rumah, iPhone, Playstation, bonus tahunan, deposito, job-grade, golden shakehand (apaan sih?)… sementara nanti pas saatnya kita dikubur berkalang tanah, nggak satu pun dibawa, kecuali selembar kafan. Semuanya ditinggal, termasuk anak dan istri. Semuanya goodbye.
Dan ngomong-ngomong soal ‘uang-uangan' (imaginary money) di puisinya Rumi, itu persis permainan monopoli waktu kecil dulu. Ada duit-duitan, ada bank-bankan. Kita bisa beli tanah, rumah, sampai hotel dan mengutip pajak dari lawan. Kita sorak sorai begitu dapat “rejeki” kartu dana umum atau si lawan mendarat di tanah kita. Kita depresi kalau disuruh bayar atau kena kartu masuk penjara (dan paling sebel kalau nggak keluar-keluar). Sedih, murung, riang, excited, bahkan keributan, otot-ototan dengan lawan, namanya juga permainan: kadang kita terbawa suasana.
Tapi begitu maghrib tiba, ibunda tercinta memanggil di bawah, kita pun sadar: permainan musti selesai. Duit-duitan yang terkumpul dengan “jerih payah” itu, rumah, hotel, semua properti musti masuk lagi ke kotaknya. Papan ditutup. Nggak ada yang dibawa. “...dan mereka pun pulang kelelahan, dan tangan mereka tetap tak membawa apa-apa.”
Terus apa maksudnya ini semua kalau cuma buat dolanan?
Mari kita minggir barang sebentar, merenung sejenak. Kita main monopoli, kita having fun, kita nyari rumah sebanyak-banyaknya, hotel sebanyak-banyaknya, bikin lawan sebangkrut-bangkrutnya, dan begitu papan ditutup, semuanya selesai, wusss… bak kapas ditiup angin. Ada refleksi menarik sebenarnya di sana: apa sebenarnya tujuan permainan monopoli ini?
Flashback ke abad 19. Permainan monopoli ini tercipta di sebuah lingkungan pergolakan politik dan ekonomi yang ruwet di masa itu di Virginia, Amrik sono, yang panjang kalau diceritakan (jadi detilnya baca sendiri).
Tapi intinya begini. Permainan yang dulu bernama Landlord’s Game (atau Dolanan Tuan Tanah) ini didesain oleh seorang wanita Quaker bernama Elizabeth Magie dengan satu tujuan: memudahkan orang mengerti tentang single-tax theory, tentang bagaimana tuan-tuan tanah memperkaya dirinya dan mempermiskin para penyewa.
Nah, itu. Itu tujuan awalnya: supaya para pemain belajar sesuatu. Tapi kemudian apa yang terjadi sekarang, berabad-abad kemudian? Landlord’s Game ini jadi permainan monopoli, dolanan yang pure entertainment, yang masing-masing pemain berusaha menjadi sekaya-kayanya dengan memiskinkan lawan semiskin-miskinnya. The richer, the winner. Kita main, beli sana-sini, menang atau kalah, selesai. Sementara tujuan asalinya? Tentang single-tax theory? Kebanyakan anak-anak kita, mungkin juga kita, nggak lagi tahu.
And sadly, it happens also with our life… don’t you think? What is this life? What is the purpose of this game of life?
Elizabeth Magie, sang pencipta monopoli, telah mendesain sedemikian rupa agar para pemain memperoleh sesuatu yang tentu lebih berharga dari pernak-pernik aksesori permainan itu sendiri, sesuatu yang mungkin akan senantiasa tinggal bahkan setelah papan permainan ditutup: sebuah pelajaran.
Dan hidup ini tentulah lebih kompleks, lebih warna-warni dari permainan monopoli. But again, what have we learned from this “game of life”, sesuatu yang akan senantiasa melekat bahkan ketika papan kehidupan kita ditutup? What do you think The Creator has in mind? Telling us to collect imaginary money, lands and houses… as much as you can?
"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (QS Al-An'am [6]: 32)

0 comments:

Post a Comment