Thursday, May 16, 2019

Parallel Processing untuk Entrepreneur

Parallel Processing
“Pa, minta saran dong. Papa waktu itu bilang latihan untuk kerja pararel. Mulai ngelatihnya dari mana?”
Pesan WA di atas dikirim oleh sulung saya beberapa waktu yang lalu, saat saya sedang nonton film “Resurrection Ertugrul” di Netflix. Sontak saya pause aplikasi Netflix yang sedang saya tonton dan segera WA call ke Reza. Rupanya Reza sedang berpikir keras bagaimana caranya melakukan “parallel processing” yang sering saya nasehatkan ke dia dalam beberapa waktu belakangan ini.
Sejak dia memutuskan ingin menjadi seorang entrepreneur, saya memang sering mewanti-wanti dia untuk bisa bekerja secara paralel, mengerjakan beberapa tugas sekaligus. Dalam dunia entrepreneurship yang penuh ketidakpastian, bekerja secara paralel adalah sebuah kemestian. Dalam satu hari kita bisa dihadapkan pada berbagai masalah secara bersamaan, dan semuanya harus bisa diputuskan hari itu juga. Tanpa kemampuan parallel processing, kerja kita jadi sangat lambat, dan kita akan kehilangan banyak sekali peluang bisnis.
Tentu saja Reza sangat mau mengikuti nasihat saya. Tapi dia masih bingung, bagaimana caranya? Mana mungkin pada saat yang bersamaan otak kita memikirkan 2 atau lebih permasalahan sekaligus?
Saya paham apa yang Reza pikirkan. Ketika baru mulai masuk dunia kerja, saya juga tidak kenal apa itu “parallel processing”. Sebagai karyawan baru, kata sakti yang saya pegang teguh saat itu adalah “fokus”. Kalau diberi tugas oleh bos misalnya, saya akan fokus dan mengkonsentrasikan segala daya upaya untuk menyelesaikan tugas tersebut secara tuntas. Di situlah “fokus” menjadi mantra yang sangat penting. Artinya, kita hanya bisa bekerja secara serial, dan tidak bisa paralel. Saat itu saya sama sekali tidak terpikir bisa melakukan beberapa hal sekaligus. Saya hanya bisa mengerjakan satu hal saja pada saat yang sama.
Ketika karir semakin naik, tentu saja “fokus” masih tetap penting. Tetapi definisi fokus mulai bergeser. Fokus tidak lagi berarti hanya mengerjakan 1 hal pada saat yang sama, tapi lebih ke pilihan strategi bagaimana sebuah misi harus dijalankan. Arti fokus sudah bergeser dari level operasional menjadi level strategis. Karena dalam level operasional kita masih harus mengerjakan/memikirkan beberapa hal sekaligus. Di situlah saya mulai akrab dengan mantra baru, yaitu “parallel processing”.
Ketika memutuskan terjun menjadi entrepreneur, ternyata “parallel processing” ini makin penting. Banyak hal yang harus dikerjakan pada saat yang sama. Mulai dari menerima komplain dari customer, menyiapkan bahan presentasi, meeting dengan mitra, dan lain-lain. Sebagai sebuah start-up, tentu saja itu semua harus dilakukan sendiri, dan tidak bisa didelegasikan ke orang lain. Alhasil kemampuan melaksanakan pekerjaan secara parallel processing menjadi sangat penting.
Kembali ke laptop. Bagaimana kita bisa melatih diri kita supaya bisa melakukan “parallel processing”? Apakah otak kita bisa memproses beberapa hal sekaligus dalam waktu yang sama?
Pertanyaan mendasar dari Reza itu membuat saya juga bertanya-tanya, benarkah otak kita bisa bekerja secara paralel? Jangan-jangan sebenarnya parallel processing itu tidak ada. Pada saat yang sama, secara serial otak kita hanya mengerjakan 1 hal saja. Tetapi karena semuanya dikerjakan secara cepat, maka ketika satu masalah sudah dapat diselesaikan maka otak kita bisa segera mengerjakan hal yang lain dengan cepat pula. Begitulah otak kita bekerja secara terus-menerus, dari satu masalah ke masalah yang lain dengan cepat. Dalam 1 hari beberapa masalah dapat diputuskan, sehingga yang terlihat adalah kita bisa bekerja secara parallel processing. Padahal kalau di-zoom out, yang terjadi sebenarnya tetap saja serial processing, tapi dilakukan secara cepat dan berpindah dari satu masalah ke masalah yang lain.
Kembali ke pertanyaan Reza, bagaimana melatih parallel processing? Yang dapat dilatih menurut saya adalah kemampuan bekerja secara cepat dan kemampuan mengambil keputusan secara cepat pula. Kemampuan bekerja secara cepat membutuhkan beragam skill yang harus dilatih, sementara kemampuan mengambil keputusan membutuhkan sikap dan mindset yang tepat, sehingga kita bisa mengambil keputusan-keputusan secara cepat pula.
Bagaimana menurut Anda?
Salam,
Hari

0 comments:

Post a Comment