Wednesday, June 12, 2019

Aku Mencatat maka kamu ada

1. Di mall semakin banyak restoran ramai dipenuhi orang. Sementara di bagian supermarket botolan sirop serta mie instant dimajukan ke depan. Ramadhan telah tiba.
Terlepas dari persoalan relijius, masalah agama sebetulnya mencakup juga persoalan ekonomi. Sejauh ini indikatornya baru sirop dan mie instant atau kolak dan gorengan.
2. Definisi Islam Nusantara rupanya tidak mencakup wilayah Sumatera, Banten, dan Jawa Barat serta Sulawesi. Ini karena di sana Prabowo menang berkat dukungan Islam Radikal bukan Islam Nusantara.
Jadi Ke-Nusantara-an itu sendiri bukan sebuah definisi yang tidak bertentangan di dalam dirinya sendiri.
3. Partai PKS menurut saya adalah partai yang luar biasa dalam pilpres dan pileg kali ini. Seturut di belakangnya adalah Nasdem.
Bila Nasdem cocok dengan model vote-gather yang spesifik secara demografi dan terbukti sukses termasuk yang fenomenal di Jawa Barat dimana 01 kalah telak. Ini mereka lakukan karena mereka memang harus memisahkan calegnya dengan sosok capres-wapres yang diusung. No Coat's Tail Effect dari sosok presiden usungan. Dengan begitu cara lain yang harus mereka ambil dan sukses.
Sementara PKS bukan hanya menang dengan isu-isu besar mereka juga berhasil meniti bahtera partainya di atas gelombang. Seperti peselancar profesional mereka menunggu gelombang, mengaturnya, dan bermain di atasnya. Hal ini terjadi karena beberapa faktor;
a. Ideologisasi partai yang sukses (menurut Nano Estananto)
b. Kaderisasi yang tertib dan terjaga
c. Mobilitas elemen partai yang serempak
d. Keterbukaan pada isu-isu penting lainnya (BBM murah, SIM seumur hidup, No PBB, dst.)
Singkat kata dari semua partai, PKS lah yang hari ini menunjukkan bahwa mereka sudah menjadi partai yang paling ideal untuk disebut partai paling demokratis dan terbuka.
PDI, Gerindra, PAN, apalagi PDIP masih tetap menjadi partai Patron.

0 comments:

Post a Comment