Wednesday, June 12, 2019

Apologist dan People Power

Apologist dan People Power
Yang perlu kita cegah dalam mengawal demokrasi adalah dorongan menjadi apologist.
Istilah ini belum terlalu populer di negeri kita, tetapi dalam praktiknya sudah ada. Apologist adalah lovers atau die harders hari ini. Mereka tidak dapat melihat objektivitas pada sosok atau keyakinan yang diyakininya benar kecuali memang harus dibela saja. Sikap seperti ini kemudian terstigma menjadi semacam sikap pokoknya mesti benar.
Semenjak 2014 gejala menjadi apologist itu semakin meningkat saja baik. Baik by being force (dipaksa) maupun by intention (sukarela) untuk membela sosok yang dipilihnya.
Seorang kawan fesbuk yang mendeklarasi sebagai pembela kemanusiaan menulis; Bahwa ia mengakui jika di belakang Jokowi ada mantan Jendral seperti Wiranto, Hendropriyono, Sutiyoso, dll., yang tidak dapat dilepaskan dari skandal kemanusiaan di masa lalu.
"....tetapi memilih Jokowi adalah lebih baik daripada Prabowo."
Ia telah menjadi apologist dengan argumennya tadi.
Sebagian yang lain mengatakan jika rapat raksasa umat Islam di Monas 212 sebagai sebuah politik identitas. Identitas apa yang dimaksudnya itu tidak jelas, ini karena sebenarnya ia tidak suka saja ada jutaan orang berkumpul di tengah ibukota.
Ketika jutaan massa yang berkumpul dengan tertib itu melaksanakan hajatnya tanpa meninggalkan sampah atau merusak rumput taman, Ia menyibukkan diri dengan jumlah bilangan hitungan berapa banyak orang yang hadir.
Bahwa ada pembelajaran besar bagi kita dan mungkin juga dunia, bagaimana sebuah rapat raksasa dilaksanakan dengan tertib tanpa satu pun pihak yang berani mengklaim sebagai panitia, penyelenggara, maupun mereka yang paling berjasa besar. Juga kita dapat belajar bagaimana rapat tadi disuplai dengan akomodasi dan logistik yang swa-daya.
Tanpa ada satu pun tindakan merusak properti publik dan anarki terhadap aparat negara. Ini adalah sebuah contoh dari kedewasaan publik terutama umat Islam dan ulamanya menyuarakan diri menuntut keadilan dalam demokrasi.
Pada suara-suara yang mengancam demokrasi rakyat dengan tuduhan sebagai upaya mencaci maki dan mencela presiden atau mantan Jendral yang menyebut orang Arab mau merusak NKRI mereka akan makan angin saja.

0 comments:

Post a Comment