Wednesday, June 12, 2019

Democratic Reslience, Ojeg Langganan, Orang Arab Habieb Rijiq si Heri Olang dan lain-lainnya itu

Democratic Reslience,
Ojeg Langganan,
Orang Arab
Habieb Rijiq
si Heri Olang
dan lain-lainnya itu
0.1
Selagi melewati demo ramai di depan emak-emak dekat kantor Bawaslu tuan Heri, kawan yang setahun menduda ditinggal mangkat istrinya mengirimkan pesan WA. Ia kawan sekolah yang kerap bertanya tentang situasi politik Indonesia. Dulu saya memanggilnya Heri Hitachi (hitam tapi cina).
Profesinya adalah sebagai tukang ojeg langganan di pasar Ikan hias Mester Jatinegara.
Sebelumnya saiya mau menulis sedikit perbedaan opang (pangkalan), ojol (online) dan olang (langganan). Yang terakhir itu meskipun mangkal hanya pada jam-jam tertentu dimana langganan mereka membutuhkan. Ia memiliki delapan langganan. Pagi pedagang ikan hias, pedagang warteg, seorang ustad pengajian, rumah makan padang, orang kerja, dan seseorang yang profesinya tidak perlu kita sebutkan. Si wanita tadi diantarnya dari Jati Asih Bekasi. Ia tidak menerima penumpang dadakan karena alasan profesionalitas. Ini menurutnya ia selalu ada di tempat di waktu-waktu yang diperlukan para pelanggan.
Dulunya saya berpikir sebagai keturunan cina yang mesti ada jiwa dagang maka pertanyaannya yang berat dan belum jelas ada hubungan langsungnya dengan pekerjaannya itu benar-benar serius ditanyakannya. Apa dan bagaimana arah politik mungkin akan menjadi pertimbangan sikap ekonominya sebagaimana kebanyakan pengusaha besar melihat persoalan politik kekuasaan. Tetapi beberapa kali bertemu atau berhubungan via aplikasi WA, mimik wajahnya serius saja.
Saya mencoba mencari kalimat yang pas untuk menghargainya. Bahwa dia bertanya seperti itu harus kita anggap sebagai sebuah a democratic relisilience tentang politik dari masyarakat yang belakangan semakin baik dan kepengen tahu saja (kepo) tentang apa yang terjadi.
Selain hari ini bukan hanya tukang ojeg yang pandai menilai keadaan berkat sosial media, tetapi naluri mengantisipasi keadaan tadi sudah dipraktikkan emak-emak yang belakangan semakin kerap. Mereka mengambil alih daya kritis orang partai, LSM, aktivis, juga mahasiswa dalam menyuarakan protes pada keganjilan-keganjilan.
0.2
Kira-kira ini yang saya sampaikan kepada;
0.2.1
Bahwa hari ini kita melihat sikap kritis masyarakat yang tidak terbendung dimana-mana. Agenda kritik dari soal ekonomi pasar sampai kecurangan pemilu dengan tumbal ratusan petugas KPPS itu menggerakkan naluri dan akal sehat orang banyak.
Sekarang perbincangan politik itu bukan agenda elit saja tetapi sudah menjadi obrolan orang-orang.
0.2.2
Bahwa fenomena emak-emak semakin kritis dan kepo itu adalah sesuatu yang menarik diamati. Mengapa mereka menggantikan fungsi kritis dari mahasiswa. Sekaligus mencoba menjawab pertanyaaan apakah the agent of change yakni mahasiswa hari ini belum bergerak itu menyebabkan mengapa yang kita sebut dengan "people power" belum menemukan amplifikasinya.
Ataukah hari ini the new agent of change itu adalah emak-emak?. Mereka berbeda dengan mahasiswa yang berfungsi sebagai penjambung pikiran dan lidah rakjat namun kini mereka adalah penjambung naluri dan perut rakjat.
0.2.3
Soal twitter Hendropijono yang menyebut HRS sebagai orang Arab yang macam-macam dengan NKRI itu adalah pendekatan tradisional dalam mitigasi konflik.
Mirip dengan kasus pelecehan Al Quran Ahok, pemerintah membuat kanal-kanal untuk mengecilkan arus umat Islam. Ada kanal penangkapan artis, kanal persekusi emak-emak, kanal diskreditasi tokoh, dan tentu saja membelah dengan isu Islam Ramah versus Islam Radikal, dan arab intoleran versus pribumi.
Kita melihat mitigasi seperti itu gagal. Ahok kalah, demo umat Islam berakhir aman, NKRI tidak menjadi ribut seperti Suriah, serta kehidupan toleransi berjalan seperti biasa.
0.2.4
Tentang Habieb Rizieq sendiri itu dapat diterangkan dengan sederhana. Sampai hari ini jaringan ulama keturunan Hadramaut (Yaman) belum dapat dipegang pemerintah.
Habieb-habieb besar yang menjadi pandu dari gerakan urban social movement menggeser Ahok dari Jakarta bergeming pada sikap mengkritisi pemerintahan Jokowi.
Sementara sebagai seorang keturunan arab, mustahil HRS ini bergerak tanpa meminta petuah dan petunjuk dari jaringan ulama arab tadi. Menuding HRS sebagai Arab perusak sama saja mengeraskan sikap kepada jaringan habaib.
Sementara tidak satu pun jaringan ulama di Indonesia yang dapat melepaskan diri dari hubungan maula-muridan dengan guru-guru besar dari keturunan Hadramaut Yaman. Negeri dimana banyak ayat dan hadist shahis menerangkan keutamaan orang-orangnya.
0.2.5
Bahwa saiya juga menyampaikan kekaguman pada idenya menjadi ojeg langganan (olang). Secara alamiah di era persaingan 4.0 yang banyak membunuh pelaku Opang, maka tetap menjadi Olang itu pilihan cerdas. Ia berhasil membranding dirinya sebagai orang kepercayaan. Motornya setia dititipin belanjaan sambil menunggu konsumen selesai belanja kebutuhan lainnya.
Saiya menyampaikan kekaguman juga pada pertanyaan kritisnya.
"Yoi, bro gua juga sama-sama thank you ya."
"...soalnye ada penumpang gua yang suka tanya-tanya politik. Kalo udah tau gini kan gua keliatan pinternya."
Saiya menutup telepon WA. Si Heri ini harusnya menjadi Profesor Intelejen atau Menteri pertahanan.

0 comments:

Post a Comment