Tuesday, June 18, 2019

Geografi dan Nama Indonesia

Geografi dan Nama Indonesia
Mana yang lebih dulu ada tempat atau nama tempat? Kira-kira demikian thesis dari Li fu Tuan tentang tempat dan ruang (space and place). Ucapan tadi muncul lagi dari seorang pemapar dalam diskusi Negara Islam: Utopia dan Geografi di Fakultas Geografi Goetingen Sant August.
Beberapa pemapar lain mempunyai temuan-temuan menarik tentang hubungan antara nama dan tempat dalam diskusi itu. Salah satunya menemukan jika konsep negara khilafah dan negara Islam itu mesti mempunyai lokasi dan batas. Artinya relasi manusia dengan satu kepercayaan barangkali melampaui batas-batas, namun dalam praktiknya ia sangat-sangat empiris dan terukur.
Apa yang disebut negara islam atau khilafah itu misalnya masih dalam perdebatan apakah hanya sebatas sistem umum yang dapat mewarnai aneka sistem kenegaraan lainnya? Atau ia adalah satu entitas khusus yang menempati satu wilayah lengkap dengan perbatasan dan pos pemeriksaan imigasi. Ini mengapa si pemapar (yang adalah mahasiswa pasca) menunjukkan dalam posternya jika ISIS demi kampanye negara islamnya mengubah namanya tergantung kondisi. Sekali mereka menyebut dirinya IS (Islamic State), lalu ISI (Islamic state in Irak) lalu kemudian ISIS dengan tambahan Syam (Suriah).
Keajegakan antara tempat dan nama tempat inilah yang sebetulnya sumir. Ia bisa dirobah kapan saja sesuai kepentingan politik strategis. Termasuk keajegakan akan perubahan batas dan teritori. Bagi tentara dan rakyat Suriah, ISIS itu adalah teroris dan mereka datang untuk merebut tanah air mereka. Sementara bagi teroris ISIS mereka merasa mempunyai tugas mulia untuk membangun satu negara Islam meskipun itu ada di tanah orang lain.
Perobahan-perobahan atas tempat dan nama ini pun terjadi dengan apa yang kita sebut Indonesia. Setelah reformasi sudah berapa ratus kabupaten dan provinsi baru dibuat orang. Berapa provinsi yang melepaskan diri menjadi negara sendiri? Dan berapa banyak provinsi yang ingin melakukan referendum lepas dari negara kesatuan. Hal-hal seperti ini sudah menunjukkan jika apa yang difahami dengan nama dan tempat berhubungan erat dengan pengalaman dan bagaimana orang ingin berhubungan dengan pengalamannya di waktu sekarang atau nanti. Pengalaman pada tempat itulah yang membuat lahirnya nama-nama, sikap primordial, romantisme dan emosi atas ruang. Ia bercampur aduk dengan pandangan sosial politik orang di dalamnya.
Saiya senang sekali mendengarkan ceramah seorang guru agama di laman berbagi yang berkata jika nama-nama di Nusantara ini punya asal-usul dari bahasa arab. Ia misalnya berkata jika sumatera, Jawa, Kalimantan, Maluku dan Papua ada penyebutan arabnya.
Pada komentar yang meremehkan paparannya dengan menyebutnya lucu, gila, atau memalukan kita senyum-senyum saja.
Ia mempunyai alasan dengan paparannya, dan mungkin orang lain memiliki versi berbeda. Tetapi mana lebih dulu tempat atau nama itu sesuatu yang politis. 70 Tahun lalu orang tidak mengenal Indonesia, 40 tahun lalu tidak dikenal nama Papua dan Timor Leste di buku-buku sekolah, dan 15 tahun lalu belum ada provinsi Gorontalo Utara. Apa yang membuat anda yakin nama-nama yang disebut guru agama itu tidak pernah ada.

0 comments:

Post a Comment