Thursday, June 13, 2019

Konflik dan Bangunan Narasi

Konflik dan Bangunan Narasi
Yang perlu kita kumpulkan dari sebuah konflik adalah konflik itu sendiri dan bangunan narasinya.
0.1
Sebelum kita masuk ke konfliknya maka bangunan narasi adalah kisah yang menjadi latar dari mengapa terjadi hal ini dan itu. Ia berbeda dengan plot yang disusun jauh sebelum terjadinya konflik, maka narasi tadi baru akan datang belakangan. Establisment of narration menurut Tuan Alexander Muller, dapat dibuat oleh siapa saja. Aktor maupun antagonis.
Aktor sendiri adalah pemain-pemain yang berkepentingan langsung. Misalnya dalam konflik kerusuhan 21-22 Mei yang bertepatan dengan aksi massa pendukung Prabowo dan masyarakat anti pemilu curang ada aktor yang berkepentingan dan ada antagonis. Aktor ini bisa saja pendukung 01 maupun pendukung 02. Bisa juga bukan pendukung keduanya tetapi mempunyai kepentingan di 01 dan di 02. Meskipun demikian mungkin juga mereka sama sekali tidak mempunyai kepentingan di keduanya.
Dari kemungkinan aktor saja sudah dapat kita bayangkan betapa cairnya apa yang disebut dengan conflict indeterminacies. Satu pengamatan obscura tidak akan pernah mencukupi untuk membuat sekedar sebuah asumsi. Ada kaidah dari Paul de Man tentang pentingnya menahan logika dan membuka turunan, rujukan dari segala kemungkinan.
Bisa saja kita letakkan satu saja aktor dan menggeledahnya dengan beberapa pertanyaan, namun ia mesti akan berkembang kepada the vertiginous possibilites alias pusing palakku.
Misal bagi sebagian pendukung inti 02, seperti elit di grup pengusung seperti Demokrat, PKS, apa yang disebut sebagai the battle itu sudah selesai setelah lembaga survey merilis Quick Count (tiga jam setelah pilpres dianggap selesai). Battle selanjutnya terserah masing-masing. Agus Yudoyono misalnya dengan tanpa beban bergeser kepentingannya ke 01 karena ia misalnya memang hanya bergabung di grup untuk menyelamatkan nasib partai. Kini ia perlu melompat untuk bersikap pragmatis karena gula ada di grup pemenang. Ini sah-sah saja.
Bagi PKS misalnya tidak terlalu kuat lagi serangan-serangan kepada 01 mengingat mereka telah berhasil pula memanfaatkan buntut naga untuk melampaui target. Demikian pula di tubuh 02 mesti ada pihak yang kemudian mencoba mencari titik temu dengan 01.
Sementara itu di pihak 01, sebagai pemenang (terlepas curang, menipu, atau fair) secara politik peluang kontestansi antar pendukung bukan tidak ada. Justru ketika mereka sepakat menjadi pemenang maka para pemain ini kemudian berpeluang menciptakan konflik sesama mereka untuk menjadi the choosen one. Ia yang dipilih sebagai negosiator, baik untuk urusan rekonsiliasi dengan pihak 02 maupun dengan makelar-makelar yang menunggu jatah proyek dan posisi stratetis di kekuasaan.
Kerusuhan 21-22 (23) Mei kemarin dapat dilihat dari perspektif-perspektif ini. Misal dengan melontarkan pertanyaan; grup siapakah yang ingin menunjukkan bahwa grupnya lah yang terkuat, ia lah yang memegang kunci keamanan sekaligus penjamin bahwa 5 tahun ke depan pemerintah tidak akan diganggu.
0.2
Hanya saja ada satu hal yang tidak dapat diabaikan elit hari ini. Bahwa "percakapan publik" selalu berbeda dengan "pembicaraan" elit.
Dorongan menjatuhkan Ahok misalnya bukanlah inisiatif elit tetapi animo masyarakat yang sebagian kecewa dengan model pembangunan dengan cara gusur di Jakarta. Bahwa kemudian some of them employ religious echo to designate and generate their symbol to intervene more and more, maka itu adalah naturenya. Mereka yang kebanyakan menjadi korban mempunyai simbol ini secara imanen dalam diri mereka. Meskipun nanti di pilkada DKI membuktikan jika komunitas Batak protestan di wilayah utara adalah mereka yang juga menginginkan Ahok jatoh.
Pada saat sebagian yang berseberangan mengatakan bahwa terlalu berbahaya memainkan isu identitas maka itu pun sebenarnya adalah satu bentuk identifikasi baru terhadap pihak berseberangan. Tidak ada politik tanpa identitas.
Semenjak Lacan menyebut manusia adalah makhluk penanda (homo pictor) maka penciptaan simbol-simbol dalam percakapan-percakapan publik menempatkan isu-isu publik dalam konfigurasi pembicaraan politik elit. Tidak ada elit yang berani mengklaim bahwa mereka adalah pendorong dari gerakan aksi massa 212, reuni 212. Namun tidak satu pun dari mereka yang tidak melihat adanya peluang dan ancaman politik dari percakapan publik tadi.
Percakapan publik dan pembicaraan elit ini lah dasar dari terbentuknya apa yang kita ingin ulas sebagai "establisment of narration", penciptaan bangunan-bangunan narasi.
Percakapan publik hari ini adalah mengapat misalnya perlu 600-an petugas KPPS tewas, mengapa dibutuhkan waktu sedemikian lama untuk menghitung sah suara pada saat teknologi informasi memungkinan pertukaran data dengan cepat, mengapa kemenangan tadi tidak membanggakan, mengapa menolak otopsi, perhitungan ulang, mengapa pengumuman dilakukan tengah malam, dst, dst.
Percakapan ini yang kemudian menciptakan ambiguitas literasi, bahwa misalnya hari ini publik tidak dengan mudah mempercayai apa yang dinarasikan elit. Penolakan quick count, pengabaian otopsi, dan penyelewengan tontonan hasil hitung. Percakapan ini pun muncul menjadi teka-teki epistemik (epistemic conundrums). Jika tidak ada persoalan mengapa mereka (petugas KPPS) mati? Mengapa pula pengumuman dilakukan sehari lebih cepat di tengah malam? Mengapa pemilu sebelumnya tidak terjadi).
Percakapan ini lah yang pada akhirnya melahirkan political distractions. Membuat kemenangan salah satu pihak ini menjadi tawar, kurang greget, menyisakan kegundahan, mengurangsi legitimasi, dan pada akhirnya semua orang percaya jika ini pilpres paling garing dalam sejarah republik.
Kegundahan tadi tentu membuat pesta kemenangan dan bagi-bagi hadiah menjadi garing juga.
Padahal menurut elit perlu ada pihak-pihak yang dipestakan sebagai si pemenang, dan perlu ada pihak yang dipersalahkan untuk menerima kekalahan. Jika tidak maka ini kurang menarik bagi pemerintahan ke depan. Si kalah harus dibuat super kecewa, dan dari kekecewaanya itu timbul gesekan sosial.
Bangunan narasi ini memproyeksikan persepsi-persepsi kita dalam bahasa (Language). Bahasa ini yang nanti sekaligus ditransaksikan dalam wujud bahasa kekerasan, kekuasaan, kekuatan. Tujuannya tentu saja beragam. Bisa sekedar pamer otot atau tadi, aktor ingin menunjukkan jika dirinya yang harus diajaka berunding tentang bagi-bagi kekuasaan.
.... bersambung (kalau sempat atau sesuai permintaan)

0 comments:

Post a Comment