Thursday, June 13, 2019

Malam Kudus

Malam Kudus
Banyak petasan diledakkan ke udara malam takbiran yang kudus. Tetapi masih kalah banyak dengan petasan demo Sarinah yang diarahkan ke massa untuk mengelabui bunyi tembakan.
Pintu-pintu masuk Monas dijaga dan beberapa areal tidak diperbolehkan dimasuki pengunjung. Mungkin pemerintah takut perusuh menyusup dan mengambil alih istana. Meski katanya perusuh sudah teridentifikasikan berkat temuan sebuah senjata selundupan. Ya satu pucuk saja untuk makar.
Saya mengindari Monas lalu bergerak ke arah Stasiun Kota dan kota tua. Tiap pintu masuknya dijaga polisi, dan Polisi Militer berkaos merah-merah. Ada logo CPM dan ini cukup baru. Setiap dilihatnya rombongan datang satu dua orang berdiri membuat video atau foto. Kebanyakan yang membawa ransel yang jadi perhatiannya. Jadi setelah kegiatan memotret para peserta reuni 212 awal tahun lalu maka surveiling public privacy dilanjutkan atas nama keamanan.
Saya tidak faham perihal hak asasi untuk dipantau. Di Berlin masih kuat penolakan CCTV di ruang kerja dan menyorot ke arah jalan. Ini karena orang di sana punya pengalaman buruk dengan model seperti ini di era perang dingin. Ya, di museum mata-mata ada arsip yang berisi data aktivitas harian warga. Yang mirip dengan facebook hari ini.
Di kota Tua ada dua grup band. Yang di depan kantor pos bermain ala kadarnya. Tetapi khalayak yang duduk meleseh ada menerimanya dengan kalem saja. Yang di bagian utara depan Daarsad Musin bermain cukup baik. Mereka bisa menjalin interaksi dengan pengunjung dengan membuka panggung bagi siapa saja yang ingin sumbang suara. Sepasang Ibu dan anak Tionghoa maju memanaskan permulaan dengan senandung Sepanjang Jalan Kenangan
Malam ini jalan dipenuhi kaum bazariyah dari orang Minang sampai Madura. Orang Minang berdagang perlengkapan Hari Raya. Pakaian, kerudung, kopiah dan perhiasan emas imitasi yang penuh oleh kaum perempuan.
Tentu saja itu diperbolehkan, tokh dunia ini memang perhiasan hidup dan sebagian banyak yang palsu.
Satu dua orang Batak menggelar lapak 'Solusi Catur'. Pengunjung membayar 20 ribu untuk memecahkan dua langkah kematian dengan hadiah uang 100 ribu. Ia untung banyak dari kesalahan perhitungan. Sambil terus menerus dipanasinya pengunjung bila solusi ini mau ditutup karena kemarin ada anak kecil bisa menjawabnya.
Disebelahnya ada pula orang Batak dengan lapak pancing botol. Pengunjung membayar 10 ribu untuk menegakkan botol kosong teh botol di papan miring dengan menggunakan pancingan buluh bambu dan gelang plastik.
Sekali dua kali pria penjaganya demi membantah keragu-raguan pengunjung ada menunjuklan cara membuat botol-botol tadi berdiri. Terlihat mudah saja baginya, tetapi tidak bagi rombongan malam takbiran yang datang bergelombang. Tiap buluh mau ditarik ia membengkong atau melinting.
Malam kudus di Kota Tua pun terang dengan takbir, tasbih, tahmid, kembang api, dan teriakan penjual pakaian, bakso, sotomie, batagor dan penyewaan tikar. Udara pun penuh aneka bau-bauan yang penuh hikmat dan aroma rasa.

0 comments:

Post a Comment