Thursday, June 13, 2019

Masyarakat 5.0 Pro

Masyarakat 5.0 Pro
Baru kali ini saya mengikuti sebuah diskusi tentang masyarakat digital dan memperoleh perspektif layak bahas. Acara yang diselenggarakan Breeding Klub di Es Teller 77 Blok M menghadirkan narsum Dr. Anto Sudarto yang dengan segera mengatakan bahwa profile dari masyarakat digital adalah sesuatu yang dapat diklaim.
Jepang menurutnya, sudah memastikan bahwa mereka akan mengarah kepada masyarakat 5.0. Apa dan bagaimana visi-misi dari masyarakat tersebut pemerintah Jepang sudah mendefisinikannya antara lain menjadikan leisure atau kebahagiaan sebagai salah satu tujuan mulia dan lahirnya otomatisasi demokrasi.
Saya tidak terlalu terkejut bila Jepang mengklaim sebagai leader ke arah masyarakat fully automated society. Mereka adalah pelopor dari mesin parkir, digital porn-machine, dan vending machine asongan yang bukan hanya mempermudah urusan tetapi memberikan rasa puas kepada masyarakat penggunanya. Bandingkan di Indonesia dimana urusan parkir merepotkan semua orang.
Jerman sejak 2010 mendeklarasikan sebagai furhrernya Pembangunan Berkelanjutan, Green-Society, Green Finance, dan aneka usaha terbarukan (Renewable Society). Mereka menawarkan hidup bahagia bersama lingkungan. Sementara Thailand bersaing dengan Korea Selatan menawarkan konsep Anti-Aging Society, dengan visi hidup beauty ever after dengan tawaran operasi plastik dan ganti kelamin. Kelak tidak lagi akan ada orang tua yang keriput dan pasangan yang bingung memilih teman hidup.
Sementara Cina lewat Huawei sudah pada tahap 5G society. Untuk apa membawa cash kalau semua bisa dibayar tanpa membayar (cash-less society). Gagasan yang membuat Donald Trump marah-marah dan memboikot Huawei. Alasannya sederhana saja, jika cashless society ini berhasil diterapkan maka sebetulnya kita hidup kembali ke era utopian dimana orang tidak perlu susah-susah mencari Money Changer untuk menukar uang kita ke dollar. Semua dikonversi menurut cash yang berlaku di negara masing-masing. Huawei's idea pastinya akan mengembalikan lagi marwah mata uang lokal atas dominasi dollar AS.
Tetapi yang menjadi pertanyaan kritis tuan Anto adalah, apakah orang Indonesia akan kembali menjadikan isu-isu masa depan masyarakat ini sebagai sebuah obrolan. Seperti pernah terjadi dengan isu globalisasi, e-komers, digitalisasi, industri 4.0, atau fin-tech yang hanya berhenti di level jargon saja.
Lalu bagaimana nantinya model pemerintahan dan parlemen bila aspirasi publik kemudian telah dapat dikumpulkan oleh semua intelejensi buatan. Yang mampu membaca, memprediksi, dan mengeksekusi melalu algoritmanya. Sehingga eksekutif, legislatif, yudikatif, politisi, tokoh agama dan tokoh masyarakat pelan-pelan akan kehliangan perannya.
Ia juga mempertanyakan mengapa misalnya kita tidak mempersiapkan konsep yang lebih mungkin diimplementasikan untuk dapat eksis di masyarakat daripada berhenti sebagai pengamat.
Mengambil istilah Prof Hasti Nahdiana, musti ada genius locium atau ruang episteme yang menghimpun pengetahuan masyarakat kita sebagai satu keunggulan kompetitif untuk masyarakat masa depan. Model-model ide, gagasan, kebijakan, dll dapat dikeluarkan dari sana. Seperti misalnya bagaimana keunggulan dari segi demografis masyarakat muslim Indonesian. Kita bisa menawarkan ke dunia Halal Society 5.0, Fintech Society Syariah 5.0, dan Arisan 5.0. Yang terakhir itu nantinya ibuk-ibu yang menang arisan mendapatkan bonus dalam bentuk paket internet atau promo ojol, chatime drink, dan nginep gratis di jaringan hotel Airbnb selama setahun.
Diskusi yang diantar politisi muda Partai Golkar Khalid Zabidi menyimpulkan bahwa nantinya akan ada dua tantangan bagi masyarakat sekarang. Yaitu bagaimana mejawab persoalan filosofis dimana etika kemanusian nantinya bersinergi dengan etika teknologi. Yang hari ini saja pemerintah masih tunggang langgang, lintang pukang dan pontang panting mendefinisikan diri mereka di tengah arus kebebasan teknologi informasi dan kedaulatan sosial media. Masih bingung menghadapi hoak.

0 comments:

Post a Comment