Friday, June 21, 2019

Menabung di Bank?

Menabung di Bank?
Perdebatan apakah bunga bank itu termasuk riba, serta boleh tidaknya kerja di bank menurut saya tergolong perdebatan yang tidak begitu mendasar.
Masalah yang lebih besar ;
1. Keberadaan bank.
2. Sistem moneter yang dipakai seluruh negara di dunia.
Bunga bank itu hanya sebatas ekses dari keberadaan sistem perbankan. Jadi dia itu keniscayaan turunan dari keberadaan bank/ sistem perbankan, bukan keniscayaan pokok.
Kerja di bank?
Okey ada hadits yang bilang semua pelaku riba itu kena dosanya.
Tapi balik lagi, inti permasalahannya ya karena adanya perbankan. Kalau tidak ada bank ya mana ada yang kerja di bank toh?
Riba itu sebetulnya tidak harus perbankan. Intinya ketika ada aktivitas moneter sejenis pinjam meminjam, lalu di dalam klausulnya terdapat kewajiban untuk membayar lebih dari jumlah pinjamannya, nah kelebihannya itu riba.
Mau itu dilaksanakan oleh personal, jika kita melakukan pola semacam itu tetap saja namanya riba.
Untuk perbankan, secara prinsip tidak perlu kita perdebatkan apakah dia melaksanakan aktivitas riba atau bukan. Jawabannya mutlak IYA.
Bagaimana dengan bunga bank? Apakah riba?
Pertama, kita harus tau, bunga tabungan kita itu di dapat darimana, yaitu dari hasil riba yang dilakukan bank ketika bank meminjamkan yang kepada kreditur. Ketika kita dapat bagi hasil dari keuntungan hasil riba, tentu itu adalah keuntungan kita dari hasil riba.
Kedua,
Pola debitur-kreditur.
Dalam sistem yang dibangun perbankan, debitur selaku pemilik modal memberikan pinjaman kepada kreditur. Dan debitur SELALU mendapat kelebihan (bunga) dari pinjaman yang dia berikan kepada kreditur.
Nah, ketika kita meminjam uang ke bank,
Disana yang berlaku sebagai debitur adalah bank. Dan kreditur adalah kita selaku peminjam.
Kelebihan pengembalian uang yang diterima debitur itu namanya bunga. Bunga dalam konsep bank tersebut, secara syariat artinya riba. Tentu haram.
Lalu, bagaimana dengan ketika kita menabung?
Ketika kita menabung,
Ternyata pola debitur-kreditur tidak lenyap dalam aktivitas menabung.
Ketika kita menabung, kita menjadi debitur (pemberi pinjam uang) kepada bank. Dan bank berposisi sebagai kreditur (peminjam uang).
"Apakah kita mendapat kelebihan uang kembalian dari si peminjam (bank)?"
Iya! Dapat!
Yaitu dari bunga bank/deposito.
"Tapi kan kalau tabungan kita dibawah sekian, justru malah uang tabungan kita minus? Ya disitu artinya kita tidak dapat bunga dong?"
Hmm..
Beda.
Seberapa kecilpun tabungan anda, mau cuma 100ribu rupiah juga, anda tetap dapat bunga.
Tapi kenapa tabungan anda minus?
Karena ada biaya administrasi/uang jasa pelayanan yang diambil oleh bank karena telah mengelola tabungan anda. Biaya administrasi itu tidak tergolong riba.
Ketika tabungan anda sedikit, tentu bunga yang anda dapat juga sedikit. Dikurangi biaya administrasi bisa bisa minus.
Tapi pada batas tertentu, bunga (riba) yang anda dapatkan dikurang biaya administrasi bisa jadi nol. Lewat dari batas tersebut, uang anda surplus.
Sekarang kita studi kasus sedikit
Misal anda menabung 10juta.
Bunga (b) = 10ribu.
Administrasi (a) = 9ribu.
Sehingga tabungan anda bertambah 1ribu per bulan. Kita beri Indeks surplus (s) = 1ribu
Nah, yang riba itu yang mana?
(S) atau (b)?
Tentu yang B.
Sekalipun tabungan anda minus terus tergerus (a), sebetulnya anda tetap menikmati bunga kok.
Jadi,
Ketika kita menabung di bank, itu sudah tidak bisa kita sangkal bahwa kita sedang melakukan kegiatan aktif riba. Kita terlibat langsung sebagai debitur dan mendapat surplus dari "investasi" kita tersebut.
Maka tentu menabung di bank juga haram, pada prinsipnya.
Dan saya kira, untuk hal ini tidak bisa dibuka ruang ikhtilaf. Bahwa status bank, menabung di bank, itu adalah HARAM. Itu secara pokok hukum (ushul).
Kalau ada yang memperdebatkan statusnya hukumnya secara ushul, secara prinsip dasar, sekalipun dia ulama yang jenggotnya sampai menjuntai ke lantai,, patut kita pertanyakan status dia... Hmm..
Ketika berbicara realita, baru disini dibuka ruang.
Karena tidak pada setiap kondisi bahwa syariat islam itu bisa ditegakkan secara rigid. Boleh jadi setelah diturunkan, dibukalah ruang2 ijtihad, ijma, atau apapun. Sehingga baik menabung di bank, kerja di bank, hal tersbeut tidak dikategorikan haram.
Tapi tentu ada syarat agar hal tersebut berlaku.
1. Didasari taqwa.
Kita takut kepada Allah, memohon ampun atas kelemahan kita yang belum bisa menegakkan hukum Allah secara utuh. Dan kita tidak boleh berhenti berazam, bahwa kita akan terus berusaha mewujudkan penegakan hukum Allah di bumi, sesuai kemampuan kita.
2. Terpimpin.
Seperti di surat Ibrahim (14/24),
"Ashluha tsabit, WA far'uha fissama'i".
Hal furu, itu haknya "langit".
Kalau orang NU pasti ngerti istilah "Langitan". Dia adalah orang2 alim (ulama) yang senior, secara struktur keummatan ada di atas. Jajaran petinggi Ummat lah kira2.
Kalau hal ini BUKAN merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh "Langit" secara konstitusionil, hal tersebut (pembolehan menabung di bank) tidak sah berlaku. Dan status hukum kembali kepada prinsip dasar, haram.
Masalah lainnya,
Sistem moneter kita.
"Uang kita tiap tahun tergerus inflasi.
Jika tahun 2000 uang kita dipinjam 10juta, lalu tahun 2020 dibayar juga 10juta, tentu itu tidak adil. Karena daya beli uang 10juta tahun 2000 dan 2020 beda jauh. Dulu 10 juta kita bisa beli 4ribu porsi nasi goreng, tahun 2020 kita hanya bisa beli 700-800 porsi nasi goreng saja. Nilai yang tergerus sampai 5x lipat.
Ya udah adil dong pakai bunga, karena dia memperhitungkan juga laju inflasi."
Hmm...
Ya mau gimana lagi.
Memang repot pakai sistem moneter begini.
Kalau tanpa riba, kita yang dipinjam uangnya malah terzalimi.
Kalau pakai riba, dosa.
Simalakama...
Jadi, pelarangan menabung di bank, pelarangan kerja di bank, itu tidak bisa dilakukan parsial, terpisah. Dia harus termasuk kedalam bahasan yang menyeluruh.
Menurut pendapat pribadi saya,
Orang / pegiat dalil agama yang bermain di ranah perdebatan boleh tidaknya menabung di bank, kerja di bank,, mereka ini patut diwaspadai.
Sebagian di antara mereka hanya bermain retorika, ujungnya membenarkan hawa nafsunya dan hawa nafsu kebanyakan manusia yang tidak mau mendengar firman Tuhan. Mereka hanya akan membuat setan bersorak gembira...
Tentu model pola struktur masyarakat islam tidak demikian.
Masyarakat islam itu terstruktur, terkomando dengan tertib, bergerak dengan rapi, terprogram..
Mereka tidak membawa perdebatan ini keluar, melainkan bermusyawarah di dalam. Dan keputusan hasil dari musyawarah tersebut lantas disosialisasikan ke bawah melalui struktur ummat, bukan melalui media publikasi...
ChikYen
#MariMerdeka
#LepasDariRiba
#IST

0 comments:

Post a Comment