Thursday, June 13, 2019

Tempo, Tito dan Bangunan Narasi 21-23 Mei

Tempo, Tito dan Bangunan Narasi 21-23 Mei
Kapolri Tito memegang dengan gagah senapan yang menurutnya digunakan dalam aksi 21-23 Mei 2019.
Saiya menunggu laporan Tempo untuk menulis status kedua tentang Aktor dan Bangunan Narasi. Isinya seperti dapat diprediksi ada pihak yang dipersalahkan sebagai sebuah jaringan perusuh profesional. Kedua narasi; baik yang disampaikan Tito dan Tempo adalah hak dari membangun narasi atas sebuah kejadian yang terjadi.
Delapan orang dikabarkan tewas, dan ratusan dilarikan ke rumah sakit umum daerah. Gubernur Anies dikoreksi karena dianggap lebai dengan ikut mengangkut keranda jenazah salah satu korban. Jaringan dokter dan medis internasional MER-C akan melaporkan dugaan penggunaan senjata pembunuh dan tindakan kekerasan aparat kepolisian ke badan internasional di bawah PBB.
Sementara itu Menkopol Wiranto dan Menkoinfo Rudiandara membangun narasi bahwa pelarang sosial media (WA, Facebook, Twitter) oleh pemerintah bertujuan membatasi penyebaran hoax. Tidak lama kemudian alasan hoax pun berganti narasi menjadi bahayanya masyarakat mengunduh VPN dan provider internet internasional lainnya karena alasan keamanan finansial.
Sejak masa yunani klasik persoalan bagaimana pengalaman (experience) individu dianggap dapat merepresentasikan sebuah kebenaran (Truth) yang nantinya dianggap kebenaran publik tidaklah sederhana. Sebuah kebenaran membutuhkan narasi untuk disampaikan dan disetujui, Sementara dalam perkembangannya narasi tidak dapat menjadi bebas nilai dan netral. Ia dapat dikonstruksi, direkonstruksi dan didekonstruksi dan dikembangkan oleh pihak berkepentingan untuk mencintakan apa yang kita sebut pengetahuan. Dimana sekarang dimana media massa arus utama bersaing dengan penggiat media sosial perbedaan narasi itu semakin tajam. Ia merujuk kepada Walter Benjamin; diciptakan bukan lagi untuk membongkar rahasia dan menyingkap kebenaran, tetapi hanyalah sebuah aksi balas dendam terhadap narasi-narasi lainnya.
Laporan Tito dan Tempo adalah narasi yang disampaikan sebagai sebuah gagasan yang kita sebut sebelumnya sebagai a lived experience. Melalui kanal visual dan tekstual media massa mainstream (MSM) narasi dibuat dengan legitimasinya (kepolisian dan jurnalistik). Sambil berakting memeragakan senjata -tanpa sarung tangan sebagaimana protap terhadap barang bukti- Tito sedang menghadirkan a lived experience dirinya kepada publik. Yang maksudnya adalah menghadirkan pengalaman yang mengguncang (Erlebnis) untuk menggantikan apa yang dialami publik sebagai aura pengalaman (Erfahrung). Tentang aura pengalaman akan adanya ketidakberesan dari meninggalnya 600 petugas KPPS, sistem hitung yang mahal tetapi sering keliru, dan pertanyaan mengapa anak-anak menjadi korban dari kejadian 21-23 Mei lalu.
Persoalan apakah narasi tadi akan menciptakan relasi antara pengalaman saya sebagai pengalaman anda tidak lagi menjadi konkrit. Ia sebaliknya hadir untuk mendelegitimasi pengalaman kita sebagai pengamat dan meletakkan apa yang kita percaya sebagai sebuah pengalaman mengguncang tadi sebagai mistifikasi, politis, dan ilusi-ilusi kasar sebagai bentuk kekecewaan. Hanya pengalaman mereka lah yang dapat dijadikan rujukan untuk membuka kebenaran (truth) selain itu tidak dan ada kemungkinan hoax.
Tetapi di sini nantinya akan lahir problematika penalaran. Laporan Tempo tentang adanya tokoh-tokoh yang dekat dengat Prabowo yang terlibat dalam sebuah percobaan putsch (usaha makar) dengan menyusun rencana jahat di acara aksi damai di Bawaslu kemudian menjadi Erlebnis itu sendiri. Ia yang awalnya bertujuan membimbing pengalaman mereka sebagai pengalaman publik pada akhirnya hanya menjadi pengalaman personal pihak redaktur yang dipaksakan diadopsi publik.
Sebab ketika ada elemen publik yang lebih serius (jurnalis, pengamat, akademisi) ingin menggeledah siapa sumber, dan bagaimana sumber-sumber yang tadi terkait dengan pelaksanaan konflik dan hubungannya dengan temuan-temuan versi pengalaman publik (Erfahrung) maka argumen yang akan kita terima akan sama. Bahwa mereka mempunyai sumber yang dapat dipercaya. Si sumber punya informasi A0, A1, dan karena alasan tertentu (ekslusifitas, keamanan) ia tidak dapat diakses oleh yang lain kecuali kami.
Di sini kembali kepada statemen Walter Benjamin, tujuan narasi yang dibangun memang bukan untuk membuka rahasia dan membeberkan kebenaran. Sebaliknya ia menjadi aksi upaya mengaburkan kebenaran dan lebih jauh ia lebih mirip sebuah usaha balas dendam.

0 comments:

Post a Comment