Thursday, June 13, 2019

Trialektika Ruang Pasca Pemilu

Trialektika Ruang Pasca Pemilu
0.1
Sering kita membahas di forum fesbuk ini tentang trialektika sebagai sebuah meta-theori yang dikembangkan dari dialektika Marxian.
Saiya ingat kembali pada satu makan malam beberapa tahun lampau di sebuah restoran di jalan Raden Saleh yang kini tutup dan menjadi kafe mie instant. Mualim Muzakir Manaf masuk dari ruang samping. Ini pertemuan kedua saiya dengannya setelah sebelumnya kami bersua di Takengon menindaklanjuti persetujuan Helsinki. Dari pihak pemerintah ada perwakilan A Husein dan dari pihak Finlandia ada utusan yang bernama Juha. Juha Christensen.
Juha ini nanti saiya beberapa kali melihatnya ada di forum-forum di tanah air. Terakhir ia, saya lihat ada di sebuah acara tentang Energi Baru dan Terbarukan yang dibuka oleh Wapres Jusuf Kalla beberapa bulan lalu di Jakarta. Barangkali pekerjaannya itu semacam konsultan atau makelar negosiasi, saiya tidak faham juga.
Di restoran tadi, Juha menemani Presiden Martti Ahtisaari dan Manaf. Mereka berbincang cepat sambil berdiri. Sebelum waktu makan malam tiba dan saiya tidak lagi melihat Mualim Manaf. Pertemuan itu memang bukan untuk kami, saiya hanya seseorang yang menemani delegasi Finlandia dari pemerintah di acara tertutup itu.
"Sebetulnya kurang apa Aceh berkorban untuk republik ini."
Mualim berkata kepada saiya di sela-sela pertemuan di dataran tinggi Takengon, ia berbaju kaos v neck coklat lengan panjang. Tubuhnya tinggi dan gagah dan semenjak di helikopter ada saiya sudah mendengar posisinya sebagai panglima perang Aceh Merdeka.
"...pemerintah republik ini gagal membaca keinginan rakyat. Ada rasa keadilan yang diabaikan.... dan pemerintah menjadikan masalah lain sebagai alasannya."
Ia lalu berkata tentang keinginan Aceh memperoleh greater autonomy dalam pengelolaan pemerintahan setelah persetujuan Helsinki. Kelak istilah otonomi yang diperluas ini diminta pihak Thailand kepada Indonesia untuk membantu memediasi pihak Kerajaan dengan pihak milisi melayu Thailand Selatan.
Setelahnya saya tidak mempunyai lagi saluran untuk berdiskusi dengannya tentang hal-hal lain sampai kami bertegur sapa di restoran makanan Indonesia (OASIS). Setelahnya Aceh mempunyai partai sendiri dan banyak kombatan GAM turun berpolitik dan berbirokrasi.
0.2
Semenjak Edwar Soja menajamkan kajian trialektika formasi spasial maka pemahaman kajian sosiologi dan geografi berubah signifikan.
Cara pandang kita terhadap persoalan tidak lagi melulu bersifat historis, tetapi cenderung spasial. Apa yang disampaikan Mualim Manaf tentang otonomi yang diperluas adalah persoalan ruang daripada ekonomi-politik. Ini menyangkut tentang pengelolaan dan pemanfaatan seluasnya apa yang dia sebut sebagai Negeri Aceh Nagari Makmur Sentosa (Nagroe Atjeh Darrusalam). Satu definisi spatial tentang ruang hidup baru.
Pokok penting yang ditambahkan dalam metateori trialektika adalah unsur ruang (spatial) setelah ekonomi dan politik. Pada pendekatan Marxist klasik maka problematika sejarah dipengaruhi oleh dialektika antara kepentingan ekonomi dan politik. Belakangan pendekatan ini tidak lagi dapat menjelaskan fenomena sosiologi di masyarakat. Menurut beberapa tokoh penggagasnya (Foucaut, Edward Said, Edward Soja, F.Jameson, dll.) pada kenyataanya kontes ekonomi-politik itu ternyata lebih banyak melibatkan perebutan ruang. Ruang seperti halnya politik-ekonomi itu adalah sesuatu yang hidup, dinamis, berkembang atau menyusut.
Adanya istana, gedung parlemen, dan gedung mahkamah agung adalah bagian dari proses meruangkan demokrasi yang paling kasat. Perebutan reklamasi, infrastruktur, Meikarta, dan lahirnya taman-taman dengan huruf-huruf besar adalah klaim atas ruang untuk membuktikan adanya keberhasilan ekonomi (pembangunanisme) dan politik (keberpihakan penguasa kepada publik). Sehingga klaim bahwa ruang adalah sesuatu yang ajeg, tetap, mutlak, seperti NKRI harga mati dengan sendirnya menjadi usang.
Lepasnya Timor-Timur, Sipadan-Ligitan, dikuasainya pelabuhan-pelabuhan oleh perusahaan Cina dan Singapura, serta banyak perusahaan Malasyia menguasai konsensi hutan nasional adalah bukti bahwa pertaruhan ruang itu sifatnya bertukar tangkap dengan lepas.
Beberapa hari lalu dihadapan pejabat pemerintahan, TNI, dan Polri, Mualim Manaf melotarkan kekecewaannya pada proses pemilu (pilpres). Ia menyampaikan keinginan untuk mengadakan referendum Aceh, tetap bergabung atau berpisah dengan Republik Indonesia.
Bila kita menelaah trialektika ruang dan pengalaman-pengalaman bahwa negara di dunia itu ada yang tumbuh dan tumbang, maka kita tidak dapat menyederhanakannya dengan jargon; Saya Pancasila, saya Indonesia. Saya toleran saya NKRI. Atau sekedar menyablon peta Indonesia di jaket motor dan mengabaikan bahwa barangkali bukan hanya Aceh Darussalam yang menginginkan perpisahan. Problem kita hari ini memang krisis kepemimpinan.

0 comments:

Post a Comment