Monday, August 26, 2019

Mobil listrik bukanlah usulan yang baik di DKI

Mobil listrik bukanlah usulan yang baik di DKI
CNN Indonesia pagi ini melaporkan Gubernur DKI Anies Baswedan setuju dengan kehadiran mobil listrik di Jakarta. Pembaca berita menambahkan jika telah ada beberapa investor yang bersedia membantu pemprov.
Namun yang mengganggu perhatian saya adalah catatannya tentang akan dibebaskannya "mobil listrik" ini nantinya dari aturan Zona Ganjil-Genap yang sudah berlaku. Awalnya mungkin mobil listrik dalam bentuk kendaraan publik seperti bus atau trem tetapi sepertinya dengan aturan tadi tentu merujuk kepada kepemilikan mobil pribadi.
Jika benar demikian maka dalil yang dibangun bagi kehadiran mobil listrik ini akan meruntuhkan dirinya sendiri.
Diambilnya kebijakan Ganjil-Genap secara mendasar bertujuan membatasi dengan cara paksa jumlah populasi mobil pribadi di Jakarta. Ini bukan hal baru dan perdebatan apakah ia efektif atau tidak untuk mengatasi kepadatan/kemacetan lalu-lintas itu juga terus berlangsung sampai hari ini. Manila misalnya masih menggantung odd-event policy ini karena alasan keberpihakan bagi angkot (Jeepney) dan pemilik kendaraan yang hanya memiliki satu mobil saja.
Secara historis kebijakan ganjil-genap (2G) ini hadir di sela acara ASIAN games tahun lalu (2018). Yang pelaksanaanya diperpanjang melalui surat gubernur dengan beberapa modifikasi terutama di zona-zona baru. Kebijakan ini bukanlah baru dan juga tidak tanpa kritik. Meksiko, Bogota, Delhi, Beijing, Shanghai, Paris, Milan, Roma, dan Portland mengimplementasikannya dengan cara-cara beragam. Ada yang bersifat temporer maupun permanen dengan beberapa pengecualian.
Apabila kita rujuk kepada sejarahnya, kebijakan 2G ini sebetulnya menggantikan kebijakan lama 3 in 1 di awal reformasi (SK Gub Sutiyoso). Kebijakan dimana satu mobil pribadi wajib minimal ditumpangi oleh tiga orang di hari kerja (Senen-Jumat). Apa yang terjadi ketika kebijakan ini dijalankan adalah munculnya lapangan pekerjaan baru; joki three in one. Yaitu sekelompok orang baik pribadi maupun terorganisir yang "membantu" pemilik kendaraan menyiasati aturan 3 in one dengan menjadi penumpang bayangan dengan bayaran tertentu. Hubungan simbiosis ini berjalan dan kemacetan di Jakarta tidak terlalu dapat diatasi.
Dalam perkembangannya 3 in 1 tidak lagi efektif. Ini karena ruas jalan tidak banyak bertambah di kota dan besaran kendaraan tidak lagi mendukung konsep tiga orang dalam satu kendaraan. Yang lebih penting lagi adalah, sejak 2004 dimana tidak lagi ada keharusan batas minimal pendapatan bagi kepemilikan kendaraan maka jumlahnya meledak. Terutama kendaraan roda dua. Bila melihat alasan tadi maka 3 in 1 dikembangkan saja menjadi 6 in one.
Kembali kepada persoalan awal. Dasar dari kebijakan terkait pembenahan lalu lintas yang ada hari ini sebetulnya membatasi populasi kendaraan. Hal ini yang harus tetap menjadi perhatikan Gubernur DKI.
Bila kebijakan tadi kemudian ditindaklanjuti dengan dipersilahkannya kendaraan pribadi (mobil-motor) berbasis listrik maka sama saja kembali membanjiri Jakarta dengan kemacetan. Ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan persoalan udara bersih, polusi udara, suara, atau kualitas kota. Kemacetan di kota-kota besar sebagian besar karena penggunaan kendaraan pribadi yang tidak diatur.
Singapura menerapkan aturan jumlah mobil laik dan keluar (off and on-road). Jumlahnya diatur dengan ketat dimana setiap warga yang ingin memiliki kendaraan dipersilahkan mengambil sertifikat kepemilikan (COE/Certificate of Entitlement). Semacam buku antrian daftar kepemilikan kendaraan yang harganya hampir sama dengan harga kendarannya sendiri.
Bagi Jakarta sebenarnya belum perlu memainkan isu lingkungan seperti polusi yang memang bukan agenda utama penataan lalu lintas di kota.
Kebijakan-kebijakan seperti penerapan aturan tegas syarat kepemilikan seperti calon pemilik harus mempunyai lahan parkir atau garasi. Bila kita lihat jalan dan trotoar di Jakarta hari ini cukup tersiksa menjadi garasi. Bukan hanya memperkecil ruang manuver mobil-mobil parkir tadi kadang mengambil lahan orang jalan dan anak-anak kampung kota untuk bermain bola.
Begitu juga dengan insentif bagi warga kota terutama ASN pemprov dan para pelajar untuk mendapatkan subsidi dan bukan mustahil ongkos gratis bila menggunakan kendaraan umum. Subsidi tadi bisa diambil dari pajak kendaraan pribadi yang ditinggikan.
Gubernur juga bisa mengambil inisiatif untuk menghilangkan kendaraan dinas bagi pejabat-pejabatnya. Uang bagi pengadaan, bbm, dan pemeliharaan kendaraan dinas pejabat ini dialihkan saja dalam bentuk renumerasi atau tambahan tunjangan bagi pegawai pemprov yang menggunakan transportasi publik. Jadi pegawai yang memanfaatkan KRL misalnya mendapatkan tambahan Rp 500 -Rp 1 juta di tunjangannya.
Coba saja dulu dengan pengaturan-pengaturan seperti ini. Tidak perlu ikut-ikutan dengan mobil listrik, orang lihat ini cuma dagang mobil ambil komisi saja.

Antagonis dan Penumpang Gelap 2022-2024

Antagonis dan Penumpang Gelap 2022-2024
Dalam menelaah konflik perlu dibedakan antara antagonis dalam dengan para penumpang gelap. Antagonis dalam sebuah konflik adalah aktor langsung atau tidak langsung yang membuat konflik terpelihara menjadi berkelanjutan (protracted conflict).
Pasca pilpres 21-22 kelompok ini maju dengan kekuatan penuh untuk menciptakan apa yang disebut dengan instabilitas. Melalui kondisi tadi mereka memajukan tawaran-tawaran dengan memposisikan dirinya sebagai "orang penting". Sementara para penumpang gelap, adalah mereka yang lebih bersikap memainkan posisi pragmatis untuk mengambil keuntungan dari para kontestan yang berkonflik. Seperti halnya antagonis mereka juga ada di masing-masing pihak. Mereka sepertinya mendukung sikap aktor yang menjadi avatar tetapi tidak terlalu banyak bekerja keras untuk membantu si aktor.
Tulisan ini sebetulnya untuk mengomentari dari beberapa tulisan terdahulu dengan perkembangan politik yang ada sekarang.
Pada saat masyarakat pendukung Prabowo berharap capresnya memasang posisi tegas dengan pemerintahan mereka tentu kecewa dengan adanya pertemuan di MRT. Sebagian berharap kecurangan tidak ditoleransi dengan tentu saja Prabowo sebagai ujung tombaknya.
Tidak lama kemudian Prabowo memenuhi undangan makan di rumah Megawati Soekarno bersama beberapa petinggi partai. Sementara "wakil" dari pemerintah adalah Pramono Anung.
Yang menarik tentu pada saat bersamaan, Pembina Nasdem Surya Paloh mengundang makan Gubernur Anies Baswedan ke kantornya di Gondangdia, satu blok dengan kediaman Megawati. Paloh dengan serius berkata jika Anies adalah kandidat partainya untuk pilpres 2024.
Meskipun Anies berkata bahwa kunjungannya untuk membicarakan perkembangan di Jakarta, hanya orang bodoh saja yang tidak menghubungkannya dengan politik. Anies tentu bukan tanpa pengetahuan dan kesadaran untuk hadir dalam undangan tadi. Ia mungkin sudah mendiskusikannya dengan Jusuf Kalla.
Sehingga dalam hal ini, orang mulai bisa menarik garis lebih tegas tentang penumpang-penumpang gelap yang ingin dibersihkan baik di pihak koalisi pendukung Jokowi maupun di kubu Prabowo.
Kekalahan Prabowo di Jakarta misalnya, akan dibaca elit sebagai tidak adanya keseriusan dari Anies untuk memenangkan Prabowo di Ibukota. Meski ia ikut hadir dalam pertemuan-pertemuan umum (Reuni 212 dan kampanye akhir pilpres 2019) tetapi faktanya Prabowo kalah di DKI. Begitu pula Jokowi kalah di Jawa Barat yang berdampak kepada menurunnya ekspektasi PDIP terhadap sosok Ridwan Kamil.
Saiya belum dapat menegaskannya, tetapi politik memang sedinamis itu. Bila tidak dapat diambil faedahnya untuk apa dipelihara. Kira-kira begitu yang sering saiya dengar.
Anies misalnya mesti memenangkan pilkada DKI 2022 untuk dapat maju ke pilpres 2024. Hal ini tidak lagi mudah diperoleh dengan kejadian-kejadian politik yang terjadi belakangan ini. Terutama bagi partai Gerindra, PAN dan juga PKS. Koalisi alternatif termasuk mendekati pihak yang dulu tidak sefaham dengan Anies di Jakarta tentu perlu dimulai dari sekarang. Mulai dari berubahnya kebijakan terkait reklamasi dan daging qurban racikan chef Borobudur.

Dari Retaliasi Iran sampai Proklamasi di Reklamasi -Pola Retaliasi dalam Konflik-

Dari Retaliasi Iran sampai Proklamasi di Reklamasi
-Pola Retaliasi dalam Konflik-
Hampir tiga minggu sejak kejadian garda revolusi Iran menahan Tanker minyak Inggris MV Stena Impero dan Inggris-Liberia MV Mesdar di Selat Hormut Teluk Persia belum ada perkembangan baru dialog Timur Tengah.
Iran berdalih tindakan ini diambil untuk pemeriksaan keamanan reguler dari kapal-kapal yang melewati selat. Pengamat sepakat aksi tadi merupakan tit for tat dari aksi Inggris menahan Tanker Grace One milik Iran atas dasar Iran melanggar sanksi embargo Uni Eropa karena mengirim minyak ke Suriah.
Bila kita catatkan maka akan diperoleh poin seperti berikut:
Aksi 1.
-Pasukan Elit Inggris menahan Tanker Iran Grace One di Selat Giblartar, satu tanjung di dekat Spanyol yang berada di pengawasan otorita Inggris.
-Operasi dilakukan dengan mengirim pasukan via udara (helikopter) ke dek kapal.
-Inggris berdalih, tanker Iran melanggar embargo Uni-Eropa terkait sanksi kepada Suriah.
-Aksi dilakukan malam hari dimana Tanker tidak dikawal kapal perang Iran
Reaksi 1
Iran memaksa Stena Impero berpindah haluan di jalur utama selat Hormuz ke wilayahnya.
Pasukan Iran menahannya dengan mengirim kapal patroli serta pasukan elit yang diturunkan lewat helikopter.
Iran berdalih ini merupakan pemeriksaan keamanan
Aksi dilakukan siang hari dimana Tanker di kawal oleh kapal perang Inggris Foxtrot 236.
Reaksi 2
Iran menahan tanker berbendera Liberia yang membawa minyak perusahaan Inggris
Pada pola retaliasi atau berbalasan seperti ini maka pesan yang ingin disampaikan Iran adalah:
1. Kami bisa melakukan apa yang anda lakukan tetapi jauh lebih baik. Kami melakukannya siang hari sementara anda malam hari dengan diam-diam.
2. Kami melakukannya dimana kapal perang Inggris mengawal tanker dengan posisi siap tempur. Sementara tanker kami tidak dikawal sama sekali.
3. Anda menahan satu saiya menahan dua.
4. Tidak satu pun dari negara Uni Eropa yang mendukung aksi penahan tanker Iran. Meskipun mengatasnamakan embargo EU.
5. Kami akan menaikkan tensi x+1 sebagaimana anda menjawabnya, tetapi kami bisa diajak negosiasi.
Sementara itu demi kedaulatan tanah air, maka akan ada upacara tujuhbelas agustus di pulau Reklamasi yang telah direbut dari mandor proyek dan sub-kon truk tanah urugan. Benar-benar heroik.

Gajah Bertarung Pelanduk Menang Dari Atjech ke Papua

Gajah Bertarung Pelanduk Menang
Dari Atjech ke Papua
Pada pertemuan malam di Kedai Kopi Atjeh di Sarinah tuan Khalid Zabidi berkata bahwa ia mendengar seseorang tokoh yang mempunyai naluri bisnis berkata; Gajah bertarung pelanduk menang di tengah.
Ekspresi yang benar untuk kalimat di atas adalah; gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah. Bila dua kekuatan berperang, mesti rakyat kecil yang menjadi korban.
Jadi ini tentu menarik diulas mengingat sebagian besar arah politik kita masih menganut Marxis 1.0 dimana percakapan ekonomi menentukan arah dari obrolan politik. Artinya ketimbang kita mempercayai analisis pengamat yang kadang kebanyakan post-factum (sudah terjadi baru diulas) atau teori-teori berat tentang sosio-politik maka kadang kala pernyataan yang muncul dari naluri para pedagang itu menjadi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada 1986, Liem Sio Liong, pebisnis yang dikenal sebagai mitra Soeharto menasehati presiden Orde Baru tadi; Era baru kelompok menengah Islam semakin berpengaruh dengan ide dan aktivitasnya. Adopt or Revolt.
Soeharto seperti biasanya mendengar nasihat Liem tetapi tidak semua dikerjakannya. Ia memberi ruang bagi aktivitas kelompok Islam di bawah lembaga ICMI. Membuka diri bagi pemikiran Islam tetapi yang berkaitan dengan kebudayaan seperti mendorong Festival Istiqlal, membuka Bait Quran di TMII dengan tentu saja tetap menahan aspirasi politik-ekonomi yang berbau agama Islam. Soeharto jatuh sepuluh tahun kemudian dan semenjak itu kelompok Islam tidak terbendung menjadi salah satu pemain dalam kontestansi politik nasional.
Perkara Gajah bertarung dan Pelanduk menang ini tentu perlu diperhatikan dalam narasi-narasi konflik yang terjadi belakangan ini. Termasuk kerusuhan di Papua yang dikait-kaitkan dengan kejadian di Surabaya. Setelah sebelumnya kita disuguhi beberapa kejadian seperti kerusuhan pasca pilpres baru lalu yang mengambil tema radikalisme yang menewaskan banyak korban jiwa oleh aparat kepolisian.
Bila kita melihat kepada formasi konflik yang biasa terjadi di tanah air maka kebanyakan dimulai dari konflik di tingkat atas. Artinya ia adalah komunikasi dalam bentuk kekerasan (violence) yang dipanjangkan. Artinya sangat kecil kemungkinan sebuah konflik muncul karena hal-hal yang berkaitan langsung dengan urusan masyarakat kebanyakan.
Bahkan jika mengambil contoh penistaan agama oleh Ahok yang direspon dengan aksi massa besar umat Islam pun ternyata tidak meletup menjadi konflik atau tindakan anarkis.
Pasca pilpres misalnya pengamat berpikiran akan terjadi benturan horisontal di masyarakat. Kenyataannya tidak ada konflik yang dimaksud dan hakikatnya memang sulit menciptakan apa yang disebut dengan Amok (kemarahan mendadak). Yang kita saksikan adalah tindakan di luar batas dari aparat kepada demonstran dan sampai hari ini belum lagi kita ketahui hasil penyelidikan dari korban-korban yang luka maupun tewas.
Salah satu indikator dari kuatnya konflik elit di balik kejadian di atas adalah terjadinya deeskalasi konflik setelah pertemuan Prabowo-Jokowi, dan Prabowo Megawati. The so called kedaruratan yang dimintakan oleh beberapa elit di lingkungan kabinet bisa diabaikan.
Kini kita melihat kerusuhan di Papua dikaitkan dengan aksi salah satu organisasi Islam di beberapa kota di Jawa. Menkopol Wiranto berkata ia telah berkoordinasi dengan elit politik dan pemerintah di kedua provinsi.
Ya, bila aksinya adalah merespon aksi di Jawa tentu menjadi pertanyaan mengapa yang dikejar demonstran di Papua adalah aparat kepolisian dan militer. Gedung yang mereka bakar pun adalah gedung DPRD dan pemerintahan. Tentu saja kita dapat menduga serangan ini tidak diarahkan kepada ormas Islam yang dimaksudkan. Ini bukan mustahil bagian dari konflik elit yang dipanjangkan.
Eskalasi ini sama tidak popularnya dengan isu terorisme, radikalisme, atau perusuh. Artinya ia tidak akan meningkatkan perang antar gajah ke wilayah yang lebih jauh. Hanya saja pelanduk mana yang akan menjadi pemenang?.

Prinsip Abdul Somad

Prinsip Abdul Somad
Jika Abdul Somad itu menolak meminta maaf maka itu bukanlah bentuk kesombongan tetapi keteguhan dalam prinsip dan pendapat.
Saiya mendukung sikap-sikap seperti ini. Seseorang harus mempunyai keberanian dalam menjaga pendapatnya. Dulu Ada Galileo yang membalik pendapat Paus dan Gereja tentang bumi pusat. Kita memiliki Moh. Hatta, satu dari pendiri bangsa.
Ketika diasingkan ke Tana Merah, Hatta mencari tambahan uang dengan menulis dan menjual minyak kelapa hasil pembagian tahanan yang dihematnya baik-baik.
Ketika diminta menarik tulisannya di Shin Tit Po tentang Komunisme Sovyet yang mesti runtuh, Hatta bergeming. Beberapa kawan dari kelompok naturalis, Islam dan nasionalis pergi menghindari massa yang marah. Di depan ratusan interniran PKI yang membawa tongkat kayu ia berkata:
"...ditarik atau tidak ditarik, komunis Sovyet mesti runtuh."
Setelah 50 tahun ramalannya terbukti Uni Sovyet bubar meninggalkan negara-negara baru yang merdeka dan hanya menyisakan Rusia.
Ada prinsip Chantam rule dalam sebuah dialog keilmuan. Dimana apa yang dibicarakan di dalam forum tidak boleh dibawa keluar. Ia mesti berhenti sebagai sebuah proses pengilmuan (discoursing) terbatas kepada para peserta saja. Peserta mesti menjaga prinsip tadi.
Sementara bila kita tetap tidak setuju dengan satu pendapat maka mesti ia dibantah dengan pendapat lainnya. Bukannya menyuruh orang berganti pikiran dan meminta maaf. Ini benar-benar saran yang dungu.
(Status Andi Hakim: Senior paling pinter dan bersahaja)

Mengantar anak monyet ke sekolah

Mengantar anak monyet ke sekolah
Penyakit keruwetan di Jakarta setiap subuh yang pelan-pelan mulai ditanggulangi adalah kesemrawutan setiap pagi mengantar anak ke sekolah.
Hampir tiap hari setiap mulai selesai subuh dari Tebet melewati sekolah SMP 115, SMA 8, sampai ke arah Menteng (Kolase) dan SMA 4/7 Gambir (Jalan Bunga) faktor anak masuk sekolah ini ikut memastikan kemacetan di Jakarta. Kata tuan Siregar, orang tua itu mengantar anak monyet ke sekolah.
Satu mobil masuk ke halaman atau jalan di depan sekolah, lalu satu per satu anak monyet yang dimaksud dikeluarkan dari kendaraan. Untuk kegiatan tadi paling tidak dibutuhkan waktu 1-2 menit, yang membuat antrian dan kemacetan.
Pengantaran pribadi dengan mobil, motor, dan ojeg online dengan kepanikan luar biasa ini bila kita perhatikan memang membuat Jakarta kota yang tidak ramah bagi semua orang. Selain takut anak terlambat sekolah para ortu ini sebenarnya ikut membuat penampilan kota yang berbahaya/
Saiya kurang setuju dengan konsep Foot sebagai alat Berjalan dari Gubernur Anies, karena behaviour masyarakat kita masih percaya drop by point sebagai satu keharusan. Artinya perlu pengaturan di transportasi anak sekolah ini membutuhkan aturan yang agak tegas. Beruntung ada sistem zonasi yang sedikit banyak mengurangi tekanan pengantaran ini.
Di video anak sekolah di Boston ini rupanya sudah dipelajari algoritma gerakan anak ke-pulang sekolah yang dapat memanfaatkan bus-bus umum (sekolah) sehingga pemakaiannya menjadi efektif dan efisien. MIT membuat sistem penjadwalan dan titik-titik kumpul -dimana siswa diwajibkan ada pada satu waktu pengambilan atau pengantaran.
Sewaktu kerja di UNCTAD Jenewa, saiya perhatikan setiap sekolah selalu ada titik kumpul bersama (Rendezvous) dimana murid-murid akan turun di sana dan bersama-sama guru atau petugas berjalan menuju sekolah. Bis, trem, dan kendaraan pribadi tidak boleh mendekati sekolah untuk menghindari perlambatan dan kemacetan. Siswa yang telah akan tetapi ditunggu kawan-kawannya.
Pernah saiya tanya pada Maureen, kolega yang anaknya bersekolah di sekolah internasional mengapa mereka tetap menunggu anak yang telat ia menjawab.
"...agar si anak tahu bahwa keterlambatannya mempengaruhi yang lainnya. Ada hukuman sosial yang diberikan pada siswa agar ia menghargai waktu."
-0:57

Halaqoh dan Urban Life Style

Halaqoh dan Urban Life Style
Minggu ini paling tidak ada tiga kematian dimana saiya hadir dan terlibat.
Yang pertama musibah datang pada ananda Madjid, bocah lucu yang saiya suka sekali menggendongnya. Ia berbadan sehat dan cerdas. Hanya baru ketahuan ia ada menderita gangguan di paru-parunya. Lepas pulang dari masjid ia merasa sesak nafas.
Umi dan Abahnya sempat memberikan pertolongan dengan tabung oksigen. Membawanya ke rumah sakit menunggui operasi sampai akhirnya kehendak ilahi rabbi pemilik semua titipan. Ia dipinjamkan kepada ibu bapaknya sebagai matahari selama enam tahun saja. Bahwa apa yang menjadi bagian dunia dari tubuh manusia pada akhirnya memang mesti dikembalikan ke dunia.
Hanya saja di sini kisahnya.
Orang-orang banyak menolong keluarga berduka tadi. Sebagian adalah kawan kawan halaqoh pengajian. Mereka membantu dari urusan dana, penjemputan, sampai pemandian, penshalatan, dan penguburan. Semua bergerak otomatis saja tanpa ba bi bu seperti telah terbiasa. Hampir semua beban kecuali kesedihan diambil orang-orang tadi dari keluarga berduka.
Beberapa bapak dan ibu yang saiya tanya berkata mereka cuti kantor atau izin terlambat untuk ikut berduka. Sebagian membatalkan urusannya demi menegakkan kewajiban pada majelis kematian.
Saiya melihat sekilas bahwa orang-orang tadi dari keluarga berkecukupan dan mereka mempunyai kedudukan atau pendidikan tinggi.
Saiya menjadi maklum mengapa orang-orang ini menjadi sedemikian solid. Mereka menggerakkan diri mereka sebagai sebuah komune. Yang jamaahnya saling menjaga urusan bersama, menutupi kekurangan dan membagi kelebihan.
Ini dapat menerangkan mengapa gerakan seperti halaqoh, dan jamaah tablig mudah diadopsi masyarakan urban. Itu karena prinsip rekatan antar jamaahnya yang luar biasa yang menarik kebanyakan urbanist secara emosional
Dua majelis kematian yang lain juga dilaksanakan tetapi tidak terlalu mudah.
#Alfatihah

Of Mice and Men

Of Mice and Men
Itu adalah siang yang baru tergelincir ke arah barat. Di jalan Tambak dekat Pegangsaan ada saiya lihat di muka satu bungkusan kain dan perempuan muda di tepi jalan.
Perlahan motor saiya pelankan dan bungkusan kain itu adalah satu sosok perempuan tua yang terlungkup antara jalan dan trotoar kecil. Si perempuan muda berkata pelan.
"Emak, emak... "
Ia mencoba membangunkan dan mulai tampak gelisah terbit di wajahnya. Saiya berhenti dan seorang bapak pengendara motor juga ikut berhenti dari arah belakang. Onggokan tadi seperti bantal bekas yang dilupakan dan tersuruk di parit jalan terbawa air hujan.
Hampir tidak ada denyutan di nadi tangan dan lehernya. Si bapak mengangguk ketika ia saiya minta dalam hitungan tiga mengangkat tubuh kurus yang sebetulnya cukup satu orang saja ke pinggir trotoar. Mobil dan motor lain berlalu mengejar urusannya masing-masing.
"Emak kamu? Kenapa jatuh?"
Si anak mengangguk dan berkata mereka baru berjalan dari Senen ke Matraman untuk mencari satu kerabatnya yang ternyata tidak ada lagi di sana. Mereka lalu berputar lewat Manggarai dan tiba-tiba emaknya tersungkur.
Saiya mencoba membuka kelopak mata dan meminta si bapak untuk melihat retina si perempuan tua. Denyutnya tidak ada. Si anak mulai berkaca-kaca sambil mengulang menyebut emaknya.
Kelopaknya saiya buka dan dalam dua detik kepala perempuan tadi bergerak.
Saiya berikan uang sepuluh ribu pada si bapak untuk segera membeli teh hangat manis di warteg yang tidak jauh dari sana.
Si perempuan tua saiya sandarkan ke dinding ia seperti bangun dari kematian. Dan bapak tadi datang dengan teh hangat yang diminumkan ke si perempuan. Pelan pelan disedotnya kembali nyawanya yang sempat keluyuran.
Wanita penjaga warteg datang membawa airputih dan mengembalikan uang sepuluh ribu tadi. Saiya menolaknya dan memberinya tambahan agar ia membuatkan dua bungkus nasi dengan lauk pauknya. Ia ragu tetapi kembali juga ke kedainya.
Si bapak masih berdiri seperti menunggu instruksi. Sama sekali tidak ada kata-kata dari mulutnya. Si perempuan mulai menangis dan anaknya pun demikian.
"...rencana tadi mau balik lagi ke Senen naik bus ke Tangerang."
Anaknya berkata dan penjaga warteg datang dengan pesanan dan bonus dua teh hangat manis.
Satu bajaj berhenti dan bertanya apa yang terjadi. Ia bersedia mengantar keduanya tanpa bayaran.
Sambil tergopoh-gopoh mereka masuk ke bajaj. Mengangguk seperti berterimakasih dan menghilang ditelan tikungan.
Tinggal saiya dan si bapak yang diam seperti patung Padalarang. Seperti tikus dan manusia dalam Novel John Steinbick yang diterjemahan Pramoedya dan sukses ketika diangkat dalam layar lebar. Sebagian mati di gudang beras sebagian mati digilas jalan penghidupan.
Saiya mengangguk pada si bapak. Ia membalasnya dan kami berpisah sebagaimana kami bertemu. Tanpa perkenalan dan basa-basi seperti manusia pada umumnya.