Monday, August 26, 2019

Antagonis dan Penumpang Gelap 2022-2024

Antagonis dan Penumpang Gelap 2022-2024
Dalam menelaah konflik perlu dibedakan antara antagonis dalam dengan para penumpang gelap. Antagonis dalam sebuah konflik adalah aktor langsung atau tidak langsung yang membuat konflik terpelihara menjadi berkelanjutan (protracted conflict).
Pasca pilpres 21-22 kelompok ini maju dengan kekuatan penuh untuk menciptakan apa yang disebut dengan instabilitas. Melalui kondisi tadi mereka memajukan tawaran-tawaran dengan memposisikan dirinya sebagai "orang penting". Sementara para penumpang gelap, adalah mereka yang lebih bersikap memainkan posisi pragmatis untuk mengambil keuntungan dari para kontestan yang berkonflik. Seperti halnya antagonis mereka juga ada di masing-masing pihak. Mereka sepertinya mendukung sikap aktor yang menjadi avatar tetapi tidak terlalu banyak bekerja keras untuk membantu si aktor.
Tulisan ini sebetulnya untuk mengomentari dari beberapa tulisan terdahulu dengan perkembangan politik yang ada sekarang.
Pada saat masyarakat pendukung Prabowo berharap capresnya memasang posisi tegas dengan pemerintahan mereka tentu kecewa dengan adanya pertemuan di MRT. Sebagian berharap kecurangan tidak ditoleransi dengan tentu saja Prabowo sebagai ujung tombaknya.
Tidak lama kemudian Prabowo memenuhi undangan makan di rumah Megawati Soekarno bersama beberapa petinggi partai. Sementara "wakil" dari pemerintah adalah Pramono Anung.
Yang menarik tentu pada saat bersamaan, Pembina Nasdem Surya Paloh mengundang makan Gubernur Anies Baswedan ke kantornya di Gondangdia, satu blok dengan kediaman Megawati. Paloh dengan serius berkata jika Anies adalah kandidat partainya untuk pilpres 2024.
Meskipun Anies berkata bahwa kunjungannya untuk membicarakan perkembangan di Jakarta, hanya orang bodoh saja yang tidak menghubungkannya dengan politik. Anies tentu bukan tanpa pengetahuan dan kesadaran untuk hadir dalam undangan tadi. Ia mungkin sudah mendiskusikannya dengan Jusuf Kalla.
Sehingga dalam hal ini, orang mulai bisa menarik garis lebih tegas tentang penumpang-penumpang gelap yang ingin dibersihkan baik di pihak koalisi pendukung Jokowi maupun di kubu Prabowo.
Kekalahan Prabowo di Jakarta misalnya, akan dibaca elit sebagai tidak adanya keseriusan dari Anies untuk memenangkan Prabowo di Ibukota. Meski ia ikut hadir dalam pertemuan-pertemuan umum (Reuni 212 dan kampanye akhir pilpres 2019) tetapi faktanya Prabowo kalah di DKI. Begitu pula Jokowi kalah di Jawa Barat yang berdampak kepada menurunnya ekspektasi PDIP terhadap sosok Ridwan Kamil.
Saiya belum dapat menegaskannya, tetapi politik memang sedinamis itu. Bila tidak dapat diambil faedahnya untuk apa dipelihara. Kira-kira begitu yang sering saiya dengar.
Anies misalnya mesti memenangkan pilkada DKI 2022 untuk dapat maju ke pilpres 2024. Hal ini tidak lagi mudah diperoleh dengan kejadian-kejadian politik yang terjadi belakangan ini. Terutama bagi partai Gerindra, PAN dan juga PKS. Koalisi alternatif termasuk mendekati pihak yang dulu tidak sefaham dengan Anies di Jakarta tentu perlu dimulai dari sekarang. Mulai dari berubahnya kebijakan terkait reklamasi dan daging qurban racikan chef Borobudur.

0 comments:

Post a Comment