Monday, August 26, 2019

Gajah Bertarung Pelanduk Menang Dari Atjech ke Papua

Gajah Bertarung Pelanduk Menang
Dari Atjech ke Papua
Pada pertemuan malam di Kedai Kopi Atjeh di Sarinah tuan Khalid Zabidi berkata bahwa ia mendengar seseorang tokoh yang mempunyai naluri bisnis berkata; Gajah bertarung pelanduk menang di tengah.
Ekspresi yang benar untuk kalimat di atas adalah; gajah bertarung dengan gajah, pelanduk mati di tengah. Bila dua kekuatan berperang, mesti rakyat kecil yang menjadi korban.
Jadi ini tentu menarik diulas mengingat sebagian besar arah politik kita masih menganut Marxis 1.0 dimana percakapan ekonomi menentukan arah dari obrolan politik. Artinya ketimbang kita mempercayai analisis pengamat yang kadang kebanyakan post-factum (sudah terjadi baru diulas) atau teori-teori berat tentang sosio-politik maka kadang kala pernyataan yang muncul dari naluri para pedagang itu menjadi sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada 1986, Liem Sio Liong, pebisnis yang dikenal sebagai mitra Soeharto menasehati presiden Orde Baru tadi; Era baru kelompok menengah Islam semakin berpengaruh dengan ide dan aktivitasnya. Adopt or Revolt.
Soeharto seperti biasanya mendengar nasihat Liem tetapi tidak semua dikerjakannya. Ia memberi ruang bagi aktivitas kelompok Islam di bawah lembaga ICMI. Membuka diri bagi pemikiran Islam tetapi yang berkaitan dengan kebudayaan seperti mendorong Festival Istiqlal, membuka Bait Quran di TMII dengan tentu saja tetap menahan aspirasi politik-ekonomi yang berbau agama Islam. Soeharto jatuh sepuluh tahun kemudian dan semenjak itu kelompok Islam tidak terbendung menjadi salah satu pemain dalam kontestansi politik nasional.
Perkara Gajah bertarung dan Pelanduk menang ini tentu perlu diperhatikan dalam narasi-narasi konflik yang terjadi belakangan ini. Termasuk kerusuhan di Papua yang dikait-kaitkan dengan kejadian di Surabaya. Setelah sebelumnya kita disuguhi beberapa kejadian seperti kerusuhan pasca pilpres baru lalu yang mengambil tema radikalisme yang menewaskan banyak korban jiwa oleh aparat kepolisian.
Bila kita melihat kepada formasi konflik yang biasa terjadi di tanah air maka kebanyakan dimulai dari konflik di tingkat atas. Artinya ia adalah komunikasi dalam bentuk kekerasan (violence) yang dipanjangkan. Artinya sangat kecil kemungkinan sebuah konflik muncul karena hal-hal yang berkaitan langsung dengan urusan masyarakat kebanyakan.
Bahkan jika mengambil contoh penistaan agama oleh Ahok yang direspon dengan aksi massa besar umat Islam pun ternyata tidak meletup menjadi konflik atau tindakan anarkis.
Pasca pilpres misalnya pengamat berpikiran akan terjadi benturan horisontal di masyarakat. Kenyataannya tidak ada konflik yang dimaksud dan hakikatnya memang sulit menciptakan apa yang disebut dengan Amok (kemarahan mendadak). Yang kita saksikan adalah tindakan di luar batas dari aparat kepada demonstran dan sampai hari ini belum lagi kita ketahui hasil penyelidikan dari korban-korban yang luka maupun tewas.
Salah satu indikator dari kuatnya konflik elit di balik kejadian di atas adalah terjadinya deeskalasi konflik setelah pertemuan Prabowo-Jokowi, dan Prabowo Megawati. The so called kedaruratan yang dimintakan oleh beberapa elit di lingkungan kabinet bisa diabaikan.
Kini kita melihat kerusuhan di Papua dikaitkan dengan aksi salah satu organisasi Islam di beberapa kota di Jawa. Menkopol Wiranto berkata ia telah berkoordinasi dengan elit politik dan pemerintah di kedua provinsi.
Ya, bila aksinya adalah merespon aksi di Jawa tentu menjadi pertanyaan mengapa yang dikejar demonstran di Papua adalah aparat kepolisian dan militer. Gedung yang mereka bakar pun adalah gedung DPRD dan pemerintahan. Tentu saja kita dapat menduga serangan ini tidak diarahkan kepada ormas Islam yang dimaksudkan. Ini bukan mustahil bagian dari konflik elit yang dipanjangkan.
Eskalasi ini sama tidak popularnya dengan isu terorisme, radikalisme, atau perusuh. Artinya ia tidak akan meningkatkan perang antar gajah ke wilayah yang lebih jauh. Hanya saja pelanduk mana yang akan menjadi pemenang?.

0 comments:

Post a Comment