Monday, August 26, 2019

Halaqoh dan Urban Life Style

Halaqoh dan Urban Life Style
Minggu ini paling tidak ada tiga kematian dimana saiya hadir dan terlibat.
Yang pertama musibah datang pada ananda Madjid, bocah lucu yang saiya suka sekali menggendongnya. Ia berbadan sehat dan cerdas. Hanya baru ketahuan ia ada menderita gangguan di paru-parunya. Lepas pulang dari masjid ia merasa sesak nafas.
Umi dan Abahnya sempat memberikan pertolongan dengan tabung oksigen. Membawanya ke rumah sakit menunggui operasi sampai akhirnya kehendak ilahi rabbi pemilik semua titipan. Ia dipinjamkan kepada ibu bapaknya sebagai matahari selama enam tahun saja. Bahwa apa yang menjadi bagian dunia dari tubuh manusia pada akhirnya memang mesti dikembalikan ke dunia.
Hanya saja di sini kisahnya.
Orang-orang banyak menolong keluarga berduka tadi. Sebagian adalah kawan kawan halaqoh pengajian. Mereka membantu dari urusan dana, penjemputan, sampai pemandian, penshalatan, dan penguburan. Semua bergerak otomatis saja tanpa ba bi bu seperti telah terbiasa. Hampir semua beban kecuali kesedihan diambil orang-orang tadi dari keluarga berduka.
Beberapa bapak dan ibu yang saiya tanya berkata mereka cuti kantor atau izin terlambat untuk ikut berduka. Sebagian membatalkan urusannya demi menegakkan kewajiban pada majelis kematian.
Saiya melihat sekilas bahwa orang-orang tadi dari keluarga berkecukupan dan mereka mempunyai kedudukan atau pendidikan tinggi.
Saiya menjadi maklum mengapa orang-orang ini menjadi sedemikian solid. Mereka menggerakkan diri mereka sebagai sebuah komune. Yang jamaahnya saling menjaga urusan bersama, menutupi kekurangan dan membagi kelebihan.
Ini dapat menerangkan mengapa gerakan seperti halaqoh, dan jamaah tablig mudah diadopsi masyarakan urban. Itu karena prinsip rekatan antar jamaahnya yang luar biasa yang menarik kebanyakan urbanist secara emosional
Dua majelis kematian yang lain juga dilaksanakan tetapi tidak terlalu mudah.
#Alfatihah

0 comments:

Post a Comment