Monday, August 26, 2019

Mengantar anak monyet ke sekolah

Mengantar anak monyet ke sekolah
Penyakit keruwetan di Jakarta setiap subuh yang pelan-pelan mulai ditanggulangi adalah kesemrawutan setiap pagi mengantar anak ke sekolah.
Hampir tiap hari setiap mulai selesai subuh dari Tebet melewati sekolah SMP 115, SMA 8, sampai ke arah Menteng (Kolase) dan SMA 4/7 Gambir (Jalan Bunga) faktor anak masuk sekolah ini ikut memastikan kemacetan di Jakarta. Kata tuan Siregar, orang tua itu mengantar anak monyet ke sekolah.
Satu mobil masuk ke halaman atau jalan di depan sekolah, lalu satu per satu anak monyet yang dimaksud dikeluarkan dari kendaraan. Untuk kegiatan tadi paling tidak dibutuhkan waktu 1-2 menit, yang membuat antrian dan kemacetan.
Pengantaran pribadi dengan mobil, motor, dan ojeg online dengan kepanikan luar biasa ini bila kita perhatikan memang membuat Jakarta kota yang tidak ramah bagi semua orang. Selain takut anak terlambat sekolah para ortu ini sebenarnya ikut membuat penampilan kota yang berbahaya/
Saiya kurang setuju dengan konsep Foot sebagai alat Berjalan dari Gubernur Anies, karena behaviour masyarakat kita masih percaya drop by point sebagai satu keharusan. Artinya perlu pengaturan di transportasi anak sekolah ini membutuhkan aturan yang agak tegas. Beruntung ada sistem zonasi yang sedikit banyak mengurangi tekanan pengantaran ini.
Di video anak sekolah di Boston ini rupanya sudah dipelajari algoritma gerakan anak ke-pulang sekolah yang dapat memanfaatkan bus-bus umum (sekolah) sehingga pemakaiannya menjadi efektif dan efisien. MIT membuat sistem penjadwalan dan titik-titik kumpul -dimana siswa diwajibkan ada pada satu waktu pengambilan atau pengantaran.
Sewaktu kerja di UNCTAD Jenewa, saiya perhatikan setiap sekolah selalu ada titik kumpul bersama (Rendezvous) dimana murid-murid akan turun di sana dan bersama-sama guru atau petugas berjalan menuju sekolah. Bis, trem, dan kendaraan pribadi tidak boleh mendekati sekolah untuk menghindari perlambatan dan kemacetan. Siswa yang telah akan tetapi ditunggu kawan-kawannya.
Pernah saiya tanya pada Maureen, kolega yang anaknya bersekolah di sekolah internasional mengapa mereka tetap menunggu anak yang telat ia menjawab.
"...agar si anak tahu bahwa keterlambatannya mempengaruhi yang lainnya. Ada hukuman sosial yang diberikan pada siswa agar ia menghargai waktu."
-0:57

0 comments:

Post a Comment