Monday, August 26, 2019

Of Mice and Men

Of Mice and Men
Itu adalah siang yang baru tergelincir ke arah barat. Di jalan Tambak dekat Pegangsaan ada saiya lihat di muka satu bungkusan kain dan perempuan muda di tepi jalan.
Perlahan motor saiya pelankan dan bungkusan kain itu adalah satu sosok perempuan tua yang terlungkup antara jalan dan trotoar kecil. Si perempuan muda berkata pelan.
"Emak, emak... "
Ia mencoba membangunkan dan mulai tampak gelisah terbit di wajahnya. Saiya berhenti dan seorang bapak pengendara motor juga ikut berhenti dari arah belakang. Onggokan tadi seperti bantal bekas yang dilupakan dan tersuruk di parit jalan terbawa air hujan.
Hampir tidak ada denyutan di nadi tangan dan lehernya. Si bapak mengangguk ketika ia saiya minta dalam hitungan tiga mengangkat tubuh kurus yang sebetulnya cukup satu orang saja ke pinggir trotoar. Mobil dan motor lain berlalu mengejar urusannya masing-masing.
"Emak kamu? Kenapa jatuh?"
Si anak mengangguk dan berkata mereka baru berjalan dari Senen ke Matraman untuk mencari satu kerabatnya yang ternyata tidak ada lagi di sana. Mereka lalu berputar lewat Manggarai dan tiba-tiba emaknya tersungkur.
Saiya mencoba membuka kelopak mata dan meminta si bapak untuk melihat retina si perempuan tua. Denyutnya tidak ada. Si anak mulai berkaca-kaca sambil mengulang menyebut emaknya.
Kelopaknya saiya buka dan dalam dua detik kepala perempuan tadi bergerak.
Saiya berikan uang sepuluh ribu pada si bapak untuk segera membeli teh hangat manis di warteg yang tidak jauh dari sana.
Si perempuan tua saiya sandarkan ke dinding ia seperti bangun dari kematian. Dan bapak tadi datang dengan teh hangat yang diminumkan ke si perempuan. Pelan pelan disedotnya kembali nyawanya yang sempat keluyuran.
Wanita penjaga warteg datang membawa airputih dan mengembalikan uang sepuluh ribu tadi. Saiya menolaknya dan memberinya tambahan agar ia membuatkan dua bungkus nasi dengan lauk pauknya. Ia ragu tetapi kembali juga ke kedainya.
Si bapak masih berdiri seperti menunggu instruksi. Sama sekali tidak ada kata-kata dari mulutnya. Si perempuan mulai menangis dan anaknya pun demikian.
"...rencana tadi mau balik lagi ke Senen naik bus ke Tangerang."
Anaknya berkata dan penjaga warteg datang dengan pesanan dan bonus dua teh hangat manis.
Satu bajaj berhenti dan bertanya apa yang terjadi. Ia bersedia mengantar keduanya tanpa bayaran.
Sambil tergopoh-gopoh mereka masuk ke bajaj. Mengangguk seperti berterimakasih dan menghilang ditelan tikungan.
Tinggal saiya dan si bapak yang diam seperti patung Padalarang. Seperti tikus dan manusia dalam Novel John Steinbick yang diterjemahan Pramoedya dan sukses ketika diangkat dalam layar lebar. Sebagian mati di gudang beras sebagian mati digilas jalan penghidupan.
Saiya mengangguk pada si bapak. Ia membalasnya dan kami berpisah sebagaimana kami bertemu. Tanpa perkenalan dan basa-basi seperti manusia pada umumnya.

0 comments:

Post a Comment