Monday, August 26, 2019

Prinsip Abdul Somad

Prinsip Abdul Somad
Jika Abdul Somad itu menolak meminta maaf maka itu bukanlah bentuk kesombongan tetapi keteguhan dalam prinsip dan pendapat.
Saiya mendukung sikap-sikap seperti ini. Seseorang harus mempunyai keberanian dalam menjaga pendapatnya. Dulu Ada Galileo yang membalik pendapat Paus dan Gereja tentang bumi pusat. Kita memiliki Moh. Hatta, satu dari pendiri bangsa.
Ketika diasingkan ke Tana Merah, Hatta mencari tambahan uang dengan menulis dan menjual minyak kelapa hasil pembagian tahanan yang dihematnya baik-baik.
Ketika diminta menarik tulisannya di Shin Tit Po tentang Komunisme Sovyet yang mesti runtuh, Hatta bergeming. Beberapa kawan dari kelompok naturalis, Islam dan nasionalis pergi menghindari massa yang marah. Di depan ratusan interniran PKI yang membawa tongkat kayu ia berkata:
"...ditarik atau tidak ditarik, komunis Sovyet mesti runtuh."
Setelah 50 tahun ramalannya terbukti Uni Sovyet bubar meninggalkan negara-negara baru yang merdeka dan hanya menyisakan Rusia.
Ada prinsip Chantam rule dalam sebuah dialog keilmuan. Dimana apa yang dibicarakan di dalam forum tidak boleh dibawa keluar. Ia mesti berhenti sebagai sebuah proses pengilmuan (discoursing) terbatas kepada para peserta saja. Peserta mesti menjaga prinsip tadi.
Sementara bila kita tetap tidak setuju dengan satu pendapat maka mesti ia dibantah dengan pendapat lainnya. Bukannya menyuruh orang berganti pikiran dan meminta maaf. Ini benar-benar saran yang dungu.
(Status Andi Hakim: Senior paling pinter dan bersahaja)

0 comments:

Post a Comment