Monday, October 14, 2019

Demo ke Istana atau DPR Kajian Postmetropolis

Demo ke Istana atau DPR
Kajian Postmetropolis
Mengapa dalam kasus aksi unjuk rasa menentang RUU KPK dan RUU lain-lainnya mahasiswa mendemo gedung DPR? Tetapi tidak istana? Padalah presiden memiliki kewenangan menyusun dan mengajukan RUU. Setiap pembahasan RUU mesti melibatkan Eksekutif dan Legislatif.
Adalah Edward Soja yang menulis tentang proses terjadinya pemampatan ruang kepada apa yang disebutnya arah baru dalam politik ruang. Menurutnya cara manusia mendefinisikan ruang tidak dapat dilepaskan dari penciptaan mitos-mitos tentang ruang itu sendiri. Bila ada satu usaha menemukan kembali asal-muasal dari terciptanya ruang-ruang tadi maka akan ditemukan tiga periode penciptaan.
1.0
Pertama hasrat yang disebutnya synekism, yaitu dorongan alamiah manusia untuk menciptakan dan menambah kebutuhan dan hasrat pada ruang sebagai bagian dari caranya mengaitkan diri kepada simpul-simpul identitas. Yang melingkupi persoalan politik atau kultural. Penegasan diri atau identitas tadi kepada ruang menjadi propeler bagi manusia untuk kemudian membangun gugus hubungan sosialnya.
2.0
Kedua, fase dimana terjadi rekonstitusi untuk menjadi dasar bagi pengembangan hasrat meruang tadi. Pernyataan sikap pemuda lokal pada Kongres Pemuda 11, 28 Oktober 1928 adalah satu contoh bagus dari rekonstitusi identitas ruang tadi. Kata Pemuda Ambones, Java, Sumatran, Borneo, Islamite yang adalah gugus hubungan sosial di fase synekism seperti kita tulis di atas kemudian dipertanyakan, diredefinisikan, lalu dimusnahkan (abolish) menjadi: Bangsa Indonesia.
Bukti awal dalam bentuk ruang jawa, ruang sumatera, ruang borneo, ruang Islam, Katolik, selanjutnya diatomisasi melalui proses fusi dalam bentuk ide, orang, barang, dan identitas baru. Mereka meskipun seperti sedang memerdekakan batasan dan usaha keluar dari ruang politik-kulturalnya masing-masing sebenarnya tengah membangun satu ruang yang terisolasi (isolated space) bernama Indonesia.
3.0
Baru nanti di fase ketiga, ketika industrialisasi berhasil menjadi motor pergerakan manusia dengan penemuan-penemuan teknologi mobilisasi -ditemukannya mobil, kereta cepat, pesawat. Yang selanjutnya muncul revolusi dalam komunikasi -penemuan telegram, telepon, internet, ponsel, wifi, dst., maka konsep ruang terisolasi pada fase kedua menjadi tidak ajeg lagi.
Di fase ini istilah post-industrialis, post-metropolis kemudian menyeruak ke depan. Ruang sekarang tidak dapat menahan pergerakan manusia yang dihidupi dengan mitos tanpa batas (borderless-society). Para turis, back-packers, dan penyintas batas adalah generasi yang hidup dengan politik-kultural baru di dunia kita sekarang. Kami bangsa Indonesia dalam propaganda di fase kedua dilembutkan dengan fase kami turis dunia, kami backpacker dunia. Yang dengan sendirinya identitas menjadi "backpacker" atau turis ada di dalamnya mengandung tindak subversif.
Mereka didapuk sebagai kaum yang dapat menghancurkan hegemoni harga tiket, promo hotel-hotel, dan diskon makanan. Mereka memaksa politisi mengeluarkan UU Desa yang mengatur tentang perlunya desa menjadi desa wisata dan semua sistem pembayaran konvensional menjadi usang karena penemuan kartu cash-less yang nyaris bebas biaya konversi mata uang.
Pelembutan persepsi sosial dan kuasa imajinasi kaum urban dalam meretas ruang terisolasi ini yang kelak akan mengembalikan kita kepada imajinasi baru dalam politik-dan kultural ruang. Bahwa kita sekali lagi hidup kepada mitos bahwa ada kemungkinan koalisi ruang dan dan persepsi bersama yang bisa digarap.
4.0
Ini dapat menjadi teropong bagi kita untuk menggeledah pemahaman mengapa para mahasiswa itu bergerak dari ruang hukum (Gedung KPK) ke ruang politik (Gedung DPR-MPR) lewat sebuah isu bernama RUU KPK. Hampir serentak para mahasiswa bergerak ke gedung-gedung dewan rakyat.
Mengapa mereka tidak bergerak ke ruang eksekutif (Istana Kepresidenan) yang sejatinya mesti pihak utama dalam pengusulan, perancangan, pembahasan dari RUU KPK dan RUU lain-lainnya itu?
Mereka adalah kaum muda yang sedang bertransformasi dari anak-anak kota menjadi warga kota seutuhnya. Mereka ada dalam transisi antara mengklaim identitasnya untuk diakui sebagai warga kota -ini karena mahasiswa adalah produk urban/kota- dengan isu kontemporer urban. Mereka adalah para makhluk yang hidup di ruang post-metropolis, yang selalu diundang untuk menemukan dan menggali diri untuk masa depan mereka sendiri.
Sekarang, mereka seperti ditulis Ian Chambers; "...menjadi warga metropolis..di atas segala urusan, mitos, cerita, atau kisah adalah cara bagi sebagian kita untuk menemukan lokasi diri kita di tengah modernitas. Untuk membuat kisah kita, dan menulis cerita kita sendiri."
Hari ini massa mahasiswa bergerak ke gedung dewan, karena ada mitos yang mereka bawa sebagai penyambung lidah rakyat. Bila mitos ini diabaikan maka mereka akan menulis mitos baru, bahwa mereka adalah pewaris sah negara ini. Pada titik ini mereka akan bergerak ke Istana, istana menggusur kekuasaan dengan damai atau paksa.
Hasti Nahdiana, Khalid Zabidi, Haji Misbach, Goben Gusmiyadi
Foto: Aksi Mahasiswa di Solo, Republika
https://www.facebook.com/andihakim03/posts/10157494191740502

0 comments:

Post a Comment