Monday, October 14, 2019

Undefined Residuum of Power

Undefined Residuum of Power
Peristiwa penusukan Wiranto di Pandeglang segera mengingatkan saiya pada kisah penembakan Ronald Reagan pada 1981 di Washington. Reagan nyaris tewas tetapi dapat diselamatkan setibanya di rumah sakit. Sepuluh hari kemudian Reagan muncul dari rumah sakit menyambut publik pendukungnya.
Peristiwa Reagan dan Wiranto berbeda tetapi menimbulkan efek drama yang sama.
Sebagian masyarakat menolak peristiwa percobaan pembunuhan itu sebagai sebuah fakta. Sebagian lainnya menganggap rasa kemanusiaan mereka yang menolak fakta tadi telah hilang.
Bukan hanya polemik pro kontra pada ya tidak peristiwa tadi sebagai sebuah fakta tetapi pembicaraan politik di tingkat elit AS mengarah kepada pertanyaan berbeda. Di kabinet dan dewan dalam kurang dari 5 menit terjadi belasan pembahasan ya atau tidak wakil presiden segera mengambil alih "sementara" kekuasaan. Ya atau tidak peristiwa penusukan tadi terkait dengan manuver militer Sovyet, usaha sabotase pembangunan silo rudal, percobaan pencurian kode peluncuran nuklir, sampai ya atau tidak transisi kekuasaan diambil secepatnya.
Jauh lebih penting dari perdebatan di kalangan elit, peristiwa penembakan Reagan dianggap titik baru komunikasi politik dan media di AS. Barangkali di era Reagan peristiwa percobaan pembunuhan ini kemudian menggeser persoalan kepentingan elit kepada diskursus kepentingan publik. Berbeda dengan kasus pembunuhan Kennedy yang menciptakan kondisi defined presiden harus diganti maka pada kasus Reagan muncul kondisi undefined.
Kondisi ya atau tidak (undefined), presiden akan selamat atau mati akibat peristiwa inilah yang kemudian menarik wacana elit kepada kepentingan publik.
Sejak peristiwa tadi, ribuan orang, ratusan gereja, ratusan awak media dimobilisasi untuk melaporkan simpati publik. Doa bersama, renungan, dan kunjungan diselenggarakan dengan puncaknya haru gembira warga menyambut kemunculan Reagan di pintu Rumah Sakit Washington. Publik menganggapnya Yesus melindungi dan menyelamatkannya bagi kelangsungan nasib rakyat Amerika. Mereka yang menganggap kejadian tadi sebagai a fake, pabricated, karena Reagan memang mantan aktor yang pandai bermain peran kemudian diserang sebagai tidak berperikemanusiaan.
Reagan sukses mengubah dirinya dari presiden yang awalnya diragukan menjadi figur kuat, tabah, pejuang. Sifat-sifat remeh-temeh khas action-figure a la Marvel, DC, atau Hollywood. Ia sukses memunguti residu dari kekuasaan yang tak terdefinisikan (undefined residuum of power) yang ada di tangan publik AS. Mengubahnya untuk menjadikan dirinya tauladan dari patriotisme Amerika, sosok tabah yang akhirnya bangkit untuk menang.
Reagan seminggu kemudian menyerang Tripoli dan Benghazi. Memerintahkan deployment pasukan mempersenjatai kelompok suku nomaden Taureg untuk menguasai beberapa ladang minyak Libya. Tanpa persetujuan atau penolakan dari publik dan parlemen. Tidak ada masyarakat yang menolaknya secara terbuka karena takut dianggap tidak patriot.
John Hincley si pelaku penembakan kemudian dibebaskan pengadilan karena dianggap mengalami gangguan jiwa.

0 comments:

Post a Comment