Tuesday, February 4, 2020

Dari Suriah

Dari Suriah
Sejak 2010 kita melaporkan apa yang terjadi dan akan terjadi di Suriah, Irak, Iran dan Yaman. Sepertinya tidak ada yang meleset dengan prediksi-prediksi yang sering kita bahas tentang bagaimana pemerintah, militer dan rakyat Suriah akan berhasil mengatasi cobaan besar yang menghantam nagari mereka.
0.1
Dua minggu ke belakang pasukan Arab Suriah bergerak ke pertahanan terakhir kelompok jihadis di provinsi Idlib. Idlib adalah provinsi di mana kelompok jihadis dan pemberontah Suriah melalui tawaran perjanjian bersedia keluar dari kota-kota dan wilayah yang mereka kuasai dan dievakuasi ke provinsi ini. Wilayah ini setahun lalu diinvasi Turki dengan alasan mengejar milisi Kurdi-Turki di Suriah.
Setelah dimediasi Rusia dan Iran, Turi setuju dengan membagi wilayah Idlib dan Alepo Selatan dalam empat zona pengawasan. Sebagian wilayah perbatasan dibawah pengawasan militer Turki.
Wilayah buffer ini memberi nafas bagi milisi jihadis pro Turki dan sebagian milisi jihadis asing. Sementara bagi pemerintah dan militer Syria, kehilangan kesempatan mengambil kembali Idlib adalah pukulan besar untuk membangun ekonomi di provinsi utara termasuk kota Allepo. Namun dalam perang perlu juga diambil opsi kekalahan terkecil untuk memenangkan pertempuran. Kesepakatan zonasi Astana ini memberi mereka kesempatan untuk fokus di front-front lain.
Presiden Assad tetap dengan strateginya menyelesaikan front-front satu persatu. Ia tentu belajar dari kekalahan Nazi Jerman yang membuka terlalu banyak front di eropa. Setiap kota yang berhasil direbut dengan segera dinormalisasi, baru setelahnya mereka kembali bergerak ke front lain.
Kini setelah perkembangan perang di Libya yang mulai condong kepada front nasional, pemerintah Erdogan menarik milisi jihadis pro Turki untuk terlibat lebih serius di front Libya. Pemerintah Syria dengan segera mengambil kesempatan ini untuk merebut jalur utara yang menghubungkan Alepo, Idlib dan kota pelabuhan Latakia yang berbatasan pantai dengan . Simpang raya Idlib merupakan jalan cagak yang menghubungkan jalur pantura dengan jalur tengah menuju Latakia kota Syria di laut Mediterania. Latakia adalah pusat pengapalan ekspor pertanian, industri dan energi Syria.
Pertempuran simpang raya Idlib dimulai lebih cepat daripada yang bayangkan pemerintah Assad seturut kegalauan Erdogan dengan kekalahan milisi ikhwanul muslim yang anti pemerintah di Libya. Erdogan beberapa kali mengancam akan menyerang Suriah bila mereka mendesak terus milisi pro jihadis. Beberapa mediasi ditawarkan Ankara baik langsung maupun melalui pihak ketiga agar Damaskus menjauh dari lajur pantura Idlib.
Namun sepertinya tawaran ini tidak akan diterima sebelum pasukan Arab Suriah mencapai simpang Raya Idlib, yang artinya mereka harus menguasai kota yang diklaim sebagai benteng terakhir milisi jihadis dan ISIS di Suriah. Assad membutuhkan normalisasi kembali jalur tadi untuk menggerakkan kembali ekonomi di propinsi utara mereka.
Sementara Rusia tidak akan membiarkan Turki menggunakan pesawat tempurnya untuk menyerang pasukan Arab Suriah. Artinya Rusia akan berkonfrontasi langsung bila Turki memperlambat gerakan pasukan darat Suriah.
Bagi Rusia direbutnya Idlib akan memudahkan mereka melakukan patroli dan lebih banyak mesin perang dari pangkalan laut mereka di Latakia digunakan untuk mempercepat penyelesaian operasi penihilan milisi bersenjata di Suriah. Dengan begitu Rusia bersama Iran akan mempercepat proyek investasi pipanisasi minyak dan gas di Suriah yang menghubungkan Iran-Irak-Suriah dan Laut Tengah.
Nanti gilirannya Suriah di bawah Assad dengan dukungan Rusia, Cina dan Iran akan memaksa pemain-pemain inti dalam perang (AS, Inggris, Jerman, Prancis, dan Turki) untuk realistis dalam memanfaatkan minyak dan gas Suriah. Sementara Saudi, UEA, Bahrain, dan Qatar yang mendanai dan suplai milisi jihadis ini ke Suriah tinggal gigit jari saja.
Assad adalah pemenang dalam perang "ganti rejim" yang dimulai AS dan sekutu timur tengahnya. Ia adalah orang yang harus diajak kompromi dalam peta Timur Tengah ke depan.

0 comments:

Post a Comment