Friday, April 24, 2020

Amalan Super

Amalan super ada 3:  
1. Memaafkan Memaafkan orang2 yg berbuat dzalim terhadap kita dan serahkan pada Allah (ambil hikmah mengapa orang mendzalimi kita, merasa bahwa mungkin saja ini sebagai bentuk balasan kedzaliman kita terhadap Allah yg tidak kita sadari, sehingga kita sadar itu sebagai bentuk penggugur dosa kita, sebagai pengingat kita untuk tidak berbuat dzalim terhadap orang lain)  
2. Bersabar Tingkatan sabar - Sabar dalam taat (cnth: sabar dalam menuntut ilmu jadi ilmu paling tinggi adalah ilmu mendengarkan) -Sabar dalam mencegah dosa -Sabar dalam ujian (tingkatan yg paling rendah) Hikmah dalam menggembala kambing yaitu tentang kesabaran, jadi yg ingin melatih kesabaran bisa untuk menggembala kambing (canda Ustadz, ehehehh) 
 3. Puasa Puasa yang diterima oleh Allah, maka kelak Allah lah yg akan memberi langsung pahala tersebut. Sedangkan pahala solat, sedekah, umrah, haji akan menjadi pengganti untuk membayar kedzoliman yg kita lakukan, sedangkan puasa yg diterima pahalanya terjaga dan tidak akan dijadikan sebagai pengganti kedzoliman (dosa).

Thursday, April 16, 2020

Tuhan memang bisa sekehendak hati

Aku tahu Tuhan memang bisa sekehendak hati. Ia Maha dengan Segalanya Segala. Bebas tanpa kungkungan definisi. Begitu diikat pada satu makna, lepaslah lagi dari ketepatan memahami. Maka berpura-pura bego adalah jalan satu-satunya memahami Tuhan, buatku.
Termasuk ketika memposisikan seseorang atau sekelompok orang di tingginya tinggi. Bak burung rajawail atau aneka hewan bermigrasi lintas benua. Tembus apa saja, cueki sesukanya, asal sampai tujuan. Mereka memisahkan diri dari realitas yang tak berkaitan diri secara langsung. Betul-betul samikna wa atokna pada kebutuhan.
Barangkali Firaun begitu juga di pucuk pimpinannya. Penguasa benua Hitam, pemegang kunci pengetahuan dan teknologi, bahkan teologi. Wajar jika Ramses II bersikap bosan dan memproklamirkan diri sebagai tuhan. Meski kebijakan itu bukan dia yang memulai. Ribuan tahun sebelumnya sudah ada leluhurnya yang senyeleneh itu.
Bayangkan saja, sisi kemanusiaan macam apa yang menghalalkan pembantaian jutaan bayi laki-laki? Kalau bukan karena si Ramses beriman pada takwil mimpinya, tak mungkin kebijakan biadab itu terlaksana. Apalagi kala itu malah sebenarnya klan Firaun masih minoritas dibanding keturunan Nabi Yusuf yang sudah menembus angka jutaan nyawa, menurut Kitab Perjanjian Lama.
Bikin gegerlah si Ramses berhubung kawan seperguruannya, Musa, enggan ikut menikmati kekuasaan. Aneka klaim dan bukti nyata dia lakukan. Semata hanya agar bisa adu pendapat dengan Musa, sosok yang oleh ayah si Ramses dianggap lebih bijaksana jadi seorang raja dibanding anak kandungnya. Untung saja Gusti Allah yang Maha Bebas itu membuat skenario nana-nini hingga akhirnya jiwa homo homini lupusnya terpanggil. Belasan tahun sejak ia hidup di ala anak punk.
Kebetulan juga lakon si Musa bisa dibilang paling suka nego. Bahkan pada Tuhan pun di bukit Tursina. Kelak, mungkin saja solat yang dibebankan pada Nabi Muhammad dapat kortingan berkat bisikan si Musa. Konon lho ya, konon. Tapi toh meski sudah move on, pria yang sekali gampar bisa bikin orang mati itu tetap kembali ke tanah ia dibesarkan.
Daripada mbulet kepanjangan, sebab ini obrolan ngopi, dipotong saja. Intinya, si Firaun bisa bosen di kursi kuasanya karena nikmat mencecap "jenak" sudah dicabut oleh Gusti Allah. Kemampuan merasakan ketenteraman itu dihilangkan, maka percuma saja jungkir balik dengan logika dan kimiawi. Sebuah fase yang mengerikan. Seekor garuda terbang di angkasa tanpa kawan, ia bisa melihat ke semesta, bisa jadi apa saja, tapi ia hanya terbang saja.
Katak di bawah ingin terbang, garuda bosan pada segala yang dipuja dunia. Naasnya, hatinya pun sudah kebas dari ketakjuban. Ia menunggu momen diperjalankan yang barangkali tetes air mata tertampung olehnya.

hutang bernama doa

Manusia tidak akan pernah lari dari hutang bernama doa. Sejauh apapun ia menjauhi titik poros tempatnya pernah mengakar, pasti akan kembali juga. Selama apapun ia telah meninggalkan kenangan, sebanyak apapun rumah singgah telah dijejaki. Manusia akan tetap kembali ke tempat di mana ada bisik-bisik hati melamatkan kerinduan.
Bagi seorang Khalid bin Walid yang tengah di titik puncak peperangan, rindu itu tak tertahan. Ia memilih pulang ke kampung halaman, mencecap atmosfer tempatnya dibesarkan. Meski dimarahi habis-habisan oleh sang khilafah kedua, apa daya, jika cinta sudah meluap membuahkan keresahan.
Pun bagi seorang pejalan penempuh kesunyian. Di mana sudut ruang dan pinggiran waktu menjadi saksi tempatnya mencintai. Apapun dan siapapun yang dijadikan tujuan kasih, Ia Maha Cinta selalu menyampaikan lewat kelembutan. Sebab siapalah penggerak hati selain Ia Sang Pencipta Terbolak-baliknya Hati.
Sekokoh apapun karang ke-aku-an dalam diri seseorang, akan luluh pada ketulusan tanpa pengharapan. Apalagi perjuangan dan pengorbanan telah disuguhkan di altar persembahan. Ia Maha Pengabul Doa akan seperti Tuhannya tiga pemuda yang terjebak di dalam gua. Masing-masing unjuk perilaku baik di masa lalu. Sebuah jalan di luar nalar ditempuh di tengah situasi tanpa titik temu.
Maka malam ini aku menjadi seorang saksi, bahwa Tuhan bekerja dengan misterius. Sebuah doa bisa menghadirkan dan merekatkan. Mengikat dalam kerinduan yang sama: akhir yang diidamkan setiap perindu: tetes air mata lega di kala nyawa di ujung raga.

Hidup asketis

"Ahli Suffah adalah sekelompok manusia yang sering 'keleleran' di sekitar Masjid Nabawi. Kerjaan mereka sehari-hari sangat serabutan. Prinsipnya hanyalah belajar pada sang nabi secara langsung. Sekitar 40-an orang dari berbagai wilayah, begitu setia meneladani hidup sang nabi. Sebuah cikal bakal proses pembelajaran tanpa henti.
Ratusan tahun sebelumnya sudah ada fenomena serupa di Kekaisaran Cina. Lao Tse sebagai guru utama memilih menyepi di tengah hutan bersama ratusan siswa. Secara terstruktur dan disiplin mereka mengkaji aneka kebijaksanaan yang kelak jua diluluhlantakkan Gerombolan Mongol. Hidup asketis atau prihatin pada pemenuhan kebutuhan dan tanggalkan keinginan jadi laku wajib. Hanya saja bagi seorang Kon Fu Tse, hidup menyendiri ala Lao Tse dinilai tak akan bawa perubahan apapun pada bangsa. Perbedaan pandangan yang kelak di Islam dialami oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i menyoal rezeki.
Di Jawa, metode pembelajaran serupa Ahli Suffah sudah tersebar di aneka penjuru. Bahkan ketika Kutai Kertanegara selaku kerajaan pertama di Nusantara, sektor kaderisasi ini digarap serius oleh para brahmana. Tak ayal ksatria-ksatria sampai era Pangeran Diponegoro memiliki bekal fisik juga olah batin yang kuat. Perpecahan di antara sesama pejuang dilatarbelakangi selisih pendapat berujung darah tumpah sudah dicontohkan Raden Wijaya dan para pamannya. Para ultra-nasionalis atau tentu saja yang materialis tersebut bisa jadi berasal dari satu Kawah Candradimuka yang sama.
Para ahli suffah pun sering gegeran di antara mereka. Tapi oleh sang nabi hal itu diperbolehkan. Maka muncul prinsip perbedaan membawa berkah. Kini terbukti, ijtihad para ahli suffah mempermudah praktik agama di era ultra-moderen ini. Fikih pada titik lain tak melulu dijadikan bendera sekaligus benderang perang. Lantaran muncul pemahaman bahwa aturan seharusnya mempermudah, bukan memperumit kehidupan.
Mungkinkah sistem ahli suffah dimunculkan di kekinian? Sangat mungkin bahkan pada tataran informal. Bak padepokan Shaolin, jiwa raga murid ditempa sedemikian rupa tiap saat oleh sang guru. Apakah harus massal? Menilik keefektifitasan dan tujuan kualitatif seperti ahli suffah, semakin sedikit seolah semakin ampuh. Lihatlah Kiai Kasan Besari pada seorang Ronggowarsito, atau Cokroaminoto pada Sukarno, Semaun, dan Kartosuwiryo, tiga tokoh pendobrak intelektual Bangsa Belanda.
Sederhananya, metode ahli suffah ini adalah tim kecil yang bergerak sebagai dapur. Telik sandi utama era 4 khalifah utama ada pada kaum mbambung ini. Merekalah yang alami 5 fase kepemimpinan dan sering saling melawan satu sama lain sebab perbedaan pendapat. Sama-sama benar sebab Sang Nabi selaku mentor tak pernah menyalahkan. Bahkan sebagian amalan-amalan yang kini dianggap sunnah bahkan wajib adalah hasil kreasi kaum yang bakal dilabeli pecundang oleh standar hidup milineal kini.
Pertanyaan terbesarku, bisakah kita jadikan lingkaran tertentu sebagai boot-camp, inkubator, atau ahli suffah semacam itu? Dengan misi jelas sebagai upaya taktis harian, dan visi mantap dipegang hingga tujuh turunan. Kukira, daripada beretoris ria, lebih baik kita bereksperimen saja saat ini juga." Papar Kang Sabar pada beberapa kawan lawas di sebuah ruang serba hitam.

Tenang sejati itu adalah sikon ketika tengah di tengah badai

"Lho dikira aku juga gak pernah menderita, Kang? Disangka keseharianku penuh kegembiraan dan kelapangan? Bahkan tiap tahun ditutup dengan prestasi berwujud materi duniawi? Indikator apa yang terlihat di depan mata malah Sampeyan pakai untuk menilaiku?" Tanya Kang Sabar pada Kang Koplak yang tiba-tiba mampir ke KebunKami.
.
"Lha iya to. Gak pernah sekalipun aku baca, dengar, dan lihat Sampeyan sambat, ngeluh, tentang apapun. Sesekali sebatas cerita masalah-masalah yang Sampeyan hadapi. Ya misuh pun sesekali. Tapi kok kayaknya gak seberat hidupku. Setidaknya aku merasa ada momen terlemah di hari-hariku." Ujar Kang Koplak yang masih berpakaian necis khas kantoran sembari leyeh-leyeh.
.
"Kan doaku memang minta derita pas sedang kuat-kuatnya, Kang. Minta kepayahanku di hari-hari terlemahku untuk didouble pas sedang di hari terkuatku. Baik fisik, mental, termasuk juga finansial. Jadi gak begitu terasa bertubi-tubi sebab memang sudah dipersiapkan sedari jauh hari. Gusti Allah bisa dinego gitu, kok. Ingat ya, Sayyidatina Khadijah kan seolah menyambut derita ketika mau melamar Muhammad yang belum jadi nabi." Jawab Kang Sabar sembari memindahkan rumput dari pot-pot mawar ke tanah.
.
"Sampeyan gila, dong. Masak minta ke Tuhan kok berupa penderitaan. Aku dikejar kuota habis aja bingung belinya pas tanggal tua." Kang Koplak gusar dengan tangan tengah sibuk menyeduh dua gelas kopi.
.
"Penderitaan itu gak bisa dihindari di hidup ini, Kang. Tuh, Sidharta Gautama saja malah bilang bahwa dunia ini adalah tempatnya samsara. Kalau di Bumi ini beres nyuci salah kita, bakal reinkarnasi jadi beres. Ibaratnya dicuci. Makanya para sufi gila-gilaan bayar kafarat, tebus atas salah mereka. Sebab itu anak tangga pertama menuju ketenteraman sejati. Penderitaan adalah salahsatu proses penebusan dosa itu, selain efek juga dari tingkah di masa lalu." Sahut Kang Sabar.
.
"Serius bahas dosa? Aku gak percaya konsep pahala dan dosa lho." Ujar Kang Koplak.
.
"Hahaha.... Lupa aku. Ya katakan istilah dosa itu wujud penyederhanaan dari efek perilaku kita saat melukai baik fisik, batin, ataupun kemungkinan masa depan oranglain atau makhluk hidup bahkan benda mati lainnya. Hukum alam itu memang ada, Kang. Sampeyan 'teplak' satu nyamuk atau satu lalat, maka berapa tingkat anak-cucunya musnah? Itu kenapa barangkali Al Ghazali bisa masuk surga karena biarkan satu lalat meminum tinta di penanya. Padahal membunuh berarti memutuskan keturunan, rezeki, dan peran pihak lain. Termasuk sungai, gunung, dan mineral di dasar laut." Ucap Kang Sabar yang mau duduk di lincak.
.
"Betul juga sih. Waktu aku membebaskan tanah adat jadi kebun sawit efeknya resah tanpa jelas sebabnya. Mabok dan cewek gak mampu redakan gelisahnya. Tapi begitu traktir temen atau ngasih duit ke oranglain bisa hilang sendiri." Kang Koplak menyodorkan segelas bening berisi kopi mengepul ke seniornya di kampus dulu itu.
.
"Lantaran memberi sesuatu justru akan membuat lebih bahagia daripada menerima sesuatu. Kan hasil riset tahun lalu di Eropa sebut gitu. Nah, pelaksanaan kafarat paling 'simple' tuh memberikan sesuatu ke oranglain dan kita gak ikut menikmatinya. Bisa berwujud ngasih duit ke orang yang baik, yatim piatu, atau juga janda. Kalau gak punya duit ya ngasih makan, ngambilin penghalang di jalanan kayak duri atau batu, membersihkan saluran air yang macet di lingkungan sekolah atau masjid, bisa juga puasa." Kang Sabar menyeruput pelan Kopi Etiopia racikan si tamu.
.
"Termasuk derita di keseharian juga wujud dari bayar kafarat itu?" Tanya Kang Koplak.
.
"Yup. Pokoknya begitu dapat resah tanpa alasan, segera diam. 'Flashback' dari menit sampai tahunan kira-kira mana yang bikin resah itu. Bisa saat kita nyakitin bawahan tanpa sengaja, bikin sakit hati orangtua, atau hal-hal sepele lainnya misal nyabut rumput tanpa sebab atau buang sampah sembarangan. Terus minta maaf atau lakuin tindakan untuk 'reverse' atau putar balik dari kerusakan jadi perbaikan." Sahut Kang Sabar.
.
"Gak perlu ibadah kek solat gitu-gitu, kan?" Kejar Kang Koplak.
.
"Ya kalau situ masih 'keukeuh' untuk agnostik sih gak ya gakpapa. Cuma kalau ingin naik ke anak tangga kedua, ya ibadah fisik perlu dilakuin. Solat Awwabin untuk cuci salah keseharian, tambahin solat tobat, terus solat kafarat habis Jumaatan. Indikator suksesnya adalah Sampeyan dapat rezeki dadakan. Nah, tinggal itu diniatkan untuk bayar kafarat. Bikinlah Jumat Berkah kek anak-anak mabok di forum sebelah yang sebelum dugem selalu bagi-bagi nasi kotak dan amplop ke siapapun yang dirasa butuh." Imbuh Kang Sabar.
.
"Pola pikir dan kesadaran itu yang bikin Sampeyan kelihatan adem ayem terus?" Tanya Kang Koplak.
.
"Yep. Dawuh Mbah Yai Sepuhku gitu. Lebih tepatnya tantangan sih buatku. 'Tenang sejati itu adalah sikon ketika tengah di tengah badai'. Wajar dong Sampeyan tenang saat ada duit, kerjaan lancar, pacar gak ribut, dan beres hidupnya. Tantangannya, apa Sampeyan bisa tenang saat duit minus, kerjaan dipersulit atasan, pacar ngajak putus terus, dan hidup terasa sempit? Ini permainan mental sih. Menang Sampeyan atau samsara dan kroco-kroconya." Tandas Kang Sabar.
.
"Jadi, ini PR-ku selanjutnya?" Celetuk Kang Koplak.
.
"Boleh, kalau Sampeyan ngerasa kuat gitu. Hahaha..." Sahut Kang Sabar.

fardu kifayah menemani yang sedang kesepian dan kesakitan

"Ternyata susah juga ngejalanin dawuh Mbah Nun, Kang. Kukira dulu gampang banget. Modal ngopi, nongkrong, dan rasan-rasan, dah tertunaikan tuh fardu kifayah menemani yang sedang kesepian dan kesakitan. Pada kenyataannya gak semudah dan senikmat itu. Terutama setelah pihak yang biasa ditemani ternyata gak cuma menusuk dari belakang, tapi sampai melempar granat ke depan kita dan lingkaran yang paling kita lindungi. Tantangannya ada di situ, gak nyaman banget." Sambat Kang Kuat pagi ini di ruang tamu.
.
"Ya gakpapa, di usiamu yang masih 25 tahun memang hal begitu wajar. Pasti berat. Maunya nongkrong ya yang sefrekuensi dan sama-sama nguntungin. Cuma itu kan kalau nongkrong sama yang sefrekuensi. Gak nyaman klo sampe kesusahan cari topik pembicaraan, kan? DI usiamu gitu, susah ada di tahap mendengarkan. Maunya ngomong terus sok ngasih solusi dan sok paling menderita di dunia. Aku juga begitu waktu awal-awal menikah di usia segitu." Hibur Kang Sabar sembari menyodorkan kopi Kalosi Toraja.
.
"Lha iya, aku heran fenomena segitu gampang nembung utang ke orang yang memang secara logika belum stabil keuangannya. Itupun demi gaya hidup yang gila-gilaan borosnya. Seolah konsumsinya gak mikir seberapa pengeluaran dan pemasukan yang entah darimana. Penyalahgunaan dawuh Mbah Nun tentang pasrah pada takdir. Padahal kan takdir itu sendiri ada yang read-only dan ada yang bisa dimodifikasi. Herannya, mereka ini dianggap tokoh dan diberi panggung, sudah begitu masih didengarkan omongannya." Imbuh Kang Kuat usai melepas jaket kulit bikinan UMKM yang dia temani.
.
"Tafsir kita pada segala informasi yang diserap memang rawan disetir nafsu jika tak terkendali. Ambillah dalil 'mereka yang mati berjihad sejatinya tidak mati' idaman kaum haus darah. Disangka dengan bunuh diri dan membunuh bisa permudah jalan menuju kedamaian di alam kubur. Padahal kaum sufi sendiri juga gunakan dalil serupa untuk gambarkan efek amal jariyah selama hidup. Selama manfaat yang ditinggal si mayit masih terasa bahkan sampai tujuh turunan, selama itu juga ia masih hidup. Persis konsep dalam film animasi berjudul Coco." Kang Sabar duduk lesehan, mengambil mendoan yang baru ia goreng sendiri.
.
"Iya sih fenomena omong doang begitu sudah umum. Termasuk ketika yang menagih utang kalah ngeri dibanding yang ditagih. Aku mulai ambil jarak dari sosok-sosok begituan. Aku nolak ngutangi, dia pasti nyari sumber utangan lain. Parahnya, seolah gak ada iktikad baik untuk nyarutangi. Padahal sekere hore begini, klo tenggat utangku telat ya apapun siap kugadai di pegadaian. Asal komitmen gak telat bayar. Sampai anak-anak milineal kemarin bikin komik, meme, sampai tweet soal fenomena kalah galak ini." Ujar si jomblo yang masih menunggu jodohnya tepluk dari langit.
.
"Klo di usiaku yang kepala tiga ini bisa melihat dan keluhkan para orangtua muda minim pengetahuan soal asuh anak dan keluarga, di usiamu juga sambat hal yang kurang lebih sama. Kedua fenomena ini bersumber dari minimnya pendidikan sektor serupa di jenjang pendidikan wajib. Mana ada kelas parenting di program Wajib Belajar 9 tahun itu. Pun juga financial planning gak diajarkan di jurusan Sosial tingkat SMA sekalipun. Padahal dua pendidikan ini kebutuhan paling mendasar setelah seseorang masuk dunia kerja." Ucap pria tambun bersarung dengan cangkir kopi di tangan kanan.
.
"Terus kalau sudah terlanjur lulus dari jenjang sekolah 9 tahun gimana? Aku kan gak kuliah juga tuh. Bisaku ya cuma kerja seadanya. Manut sama bos, amanah dan jujur semaksimalnya. Belajarku ya cuma simak channel Youtube, podcast di Spotify, dan baca-baca saja. Sesekali ngaji kitab ke kiai-kiai secara offline. Apa begitu sudah cukup? Kalau pakai standar berkah tuh terhindari dari penipuan, apes, dan gak gelisah, kayaknya aku sudah begitu. Soal pemasukan selalu kandas demi ini-itu yang kebutuhan sih soal lain. Setidaknya ada dana darurat kalau ada kejadian tak terduga." Tanya si pria berambut ikal sepunggung itu.
.
"Ya kita kejar indikator keberhasilan saja. Berarti rejekimu sudah berkah kalau menurut Yai Sepuh. Pakai standar 15% dari sisa bersih pengeluaran kebutuhan bulanan sudah ditunaikan, ya tinggal investasikan ke saham saja. Kamu sudah paham soal mekanisme yang tiga bulanan, kerjanya cuma beberapa hari menganalisis laporan keuangan emiten-emiten tertentu. Soal nikah diplanning ambil dari investasi boleh, bagusnya sih dibikin pos sendiri. Tugas kita di umur segini kan menata hidup serapi mungkin agar setidaknya gak merepotkan siapapun." Jawab Kang Sabar.
.
"Tapi kan Mbah Nun gak dawuh sampai serinci itu, Kang. Intinya ya pasrah bongkokan ke Gusti Allah. Dihabiskan buat oranglain. Sampai sakit-sakitan, ada yang dicerai istri gara-gara sibuk mentingin umat, sampai kerjaan profesional berantakan demi alasan dakwah. Fenomena totalitas kayak gitu kan ada juga di tengah era kekinian ini. Aku aja digugat waktu hobiku mainan moge dicap gak zuhud dan gak mau ngutangi oranglain dengan alasan semua anggaranku sudah masuk pos masing-masing." Kilah Kang Kuat ang sebentar-sebentar melirik Asus ROG-nya.
.
"Gini, aku emang sudah lama gak update dari Mbah Nun. Cuma materi dari waktu-waktu lalu masih terngiang jelas di kepalaku. Mbah Nun sering dawuh soal 'kamu lebih tahu urusan profesionalmu daripada aku', mengutip hadis Kanjeng Nabi saat disalahkan petani kurma yang gugat beliau lantaran sarannya berbuah produktifitas panen menurun. Jadi, soal manajemen pribadi, entah itu keuangan sampai waktu dan energi, Mbah Nun menyerahkan pada pola tiap manusia. Ini sering dipakai untuk menjawab soal kontradiksi merokok dan kesehatan.
.
Terus Mbah Nun sering kutip kisah penjual sate Madura yang membagi pemasukan harian dalam tiga toples. Uang dari satu pembeli masuk pos belanja ulang esok hari, uang dari satu pembeli lagi untuk kebutuhan keluarga dan pribadi, nah, satu pembeli lagi tak ditentukan jumlahnya masuk toples yang bisa dipendam dalam tanah atau sembunyikan untuk kebutuhan sosial, agama, dan dana darurat. Jangan bandingkan dirimu dengan laku hidup Mbah Nun sedari muda. Kamu gak akan kuat, biar Mbah Nun saja dengan tempaan sedari sedari kecil saja yang lakuin." Kata Kang Sabar panjang lebar.
.
"Berarti tetap kepada otonomi kita sebagai individu dalam menjalani sehari-hari ya? Gak usah terlalu jalani laku prihatin yang bisa jadi tidak dilatihkan pada kita sedari belia oleh lingkungan terdekat, tapi ala kadarnya saja. Gak terpaku zona nyaman dan mencari dalil dan dalih dari oranglain untuk menghibur diri dari kemalasan dan kemiskinan yang terus mencengkeram. Kalau dawuh Kakak Yai Banyubening, 'miskin itu pilihan gaya hidup setelah kaya raya, bukan karena miskin terpaksa situasi dan keadaan tanpa mau berusaha keluar darinya'. Gitu?" Simpul Kang Kuat.
.
"Senangkepku sih gitu. Kalau memang ada keliru, pasti berasal dari salah tafsirku atas ngaji selama ini. Kalau kebetulan pas, ya Gusti Allah memang menghendaki gitu." Tutur Kang Sabar sebelum menerima telepon dari ujung negeri.

Manusia umumnya akan memegang kekuasaan selama-lamanya

"Manusia umumnya akan memegang kekuasaan selama-lamanya. Sampai batas waktu yang tak terhingga jika bisa. Pembenaran, yang salah diklaim benar, indoktrinasi bahwa mereka benar, sampai membungkam bahkan menghilangkan yang menentang kebenaran versi mereka. Semua tingkah polah mempertahankan kekuasaan itu lumrah dilakukan. Dari zaman sebelum Iblis menghuni Bumi, sampai era Tesla mau bedol planet ke Mars, gelagat itu masih ada. Bahkan konon itu yang jadi alasan terkuat Elon Musk ngotot hijrah ke Mars. Manusia Bumi sudah susah di-upgrade." Papar Kang Kuat sok-sokan njlimet di depan senior-seniornya.
.
"Manusia umumnya akan memegang kekuasaan selama-lamanya. Sampai batas waktu yang tak terhingga jika bisa. Pembenaran, yang salah diklaim benar, indoktrinasi bahwa mereka benar, sampai membungkam bahkan menghilangkan yang menentang kebenaran versi mereka. Semua tingkah polah mempertahankan kekuasaan itu lumrah dilakukan. Dari zaman sebelum Iblis menghuni Bumi, sampai era Tesla mau bedol planet ke Mars, gelagat itu masih ada. Bahkan konon itu yang jadi alasan terkuat Elon Musk ngotot hijrah ke Mars. Manusia Bumi sudah susah di-upgrade." Papar Kang Kuat sok-sokan njlimet di depan senior-seniornya.
.
"Terus? Basa-basi dah busuk itu sih." Celetuk Kang Koplak.
.
"Nah, apa sih yang kita lakukan ketika sedang berada di tengah upaya mempertahankan kekuasaan sudah sevulgar-vulgarnya? Gimana misal para raja di masa silam sampai jarak ribuan tahun kelola hal itu, juga bangsawan, brahmana, ksatria, petani-peternak-nelayan, sampai pedagang sikapi hal itu? Pasti ada pola yang terlihat lah. Setidaknya agar kita gak kagetan dan gumnan melihat fakta sehari-hari yang seolah makin nggegirisi." Sahut Kang Kuat.
.
"Coba deh raja-raja era kuno ngapain aja? Bukannya mereka hobi perang demi alasan ekonomi kalau gak ya urusan harga diri dan percintaan." Kang Syukur memancing mania mantap.
.
"Firaun membunuh semua bayi laki-laki keturunan Bani Israil yang kala itu berstatus menjadi budak demi meniadakan penentang. Musa lolos dengan berbagai skenario langitnya. Namrud membangun Taman Bergantung Babilonia demi obati rindu sang istri pada tanah asal yang konon pegunungan hijau, sedang Babilon adalah Tanah Arid, seatmosfer dengan gurun pasir. Kedua raja ini tunjukkan kegagahan diri dengan melawan kemustahilan memunculkan infrastruktur yang wow. Ketika muncul Ibrahim yang radikal abis, si anak muda itu otomatis di bakar disaksikan rakyat senegeri." Lanjut Kang Kuat sembari memegang tumbler berisi kopi mocca kesukaannya.
.
"Ya itu mah wajar kali tiap raja selalu begitu. Trah Khan mengirim berbagai ekspedisi maut ke seantero benua Asia demi wujudkan visi kakeknya, Jenghis Khan, menyatukan dunia di bawah penguasa langit. Bahkan sekelas Cina bisa takluk meski sudah dilindungi Tembok Besar selama ratusan tahun. Nobunaga Oda juga sama, babat habis lawan termasuk kaum biksu, demi satukan Jepang. Bukannya dalih para raja ini ya 'necessary evil', kejahatan yang dihalalkan? Terus mau gimana?" Kang Sabar menanggapi.
.
"Semua nama yang kita sebut tadi fokus pada infrastruktur untuk program mempertahankan kuasa. Oda dengan kuasai kastil-kastil lawan politiknya, mengepung yang melawan, serta memutus jalur distribusi. Persis ketika Madinah dikhianati Suku Khaibar. Jengkhis punya sistem terminal kuda tiap sekian ratus kilometer sehingga para pengirim pesan bisa melaju 24 jam tanpa perlu istirahatkan kuda-kuda tercepat. Namrud juga menjamin hidup para pengukir berhala, termasuk Firaun yang membuat Bani Israil dalam situasi dan kondisi yang tercukupi sandang, pangan, papan, hingga tak merasa tengah dijajah. Soal tujuan yang ditempuh berbeda, fokus kita pada upaya radikal para raja ini." Sahut Kang Kuat.
.
"Dicari upaya sebagai sisi di luar raja mau ngapain kalau penguasa sedang begitu rakus?" Tanya Kang Syukur.
.
"Ahli propaganda Ramses II malah beralih bela Musa setelah kalah argumentasi dan bukti kebenaran. Entah bagaimana, Ibrahim bisa lolos dari Namrud dan memilih hijrah. Klan ninja memilih melawan mati-matian atas invasi Oda, meski mustahil menang sebab klan itu sangat individualis, tapi pada akhirnya memilih berkalang tanah daripada berputih tulang. Marcopolo juga memilih lanjutkan perjalanan dari tadinya yang seorang penasehat kekaisaran Khan sebab tak kuasa melihat intrik usai penaklukan Cina. Kukira, pada satu titik memang hijrah jadi solusi." Tukas Kang Kuat.
.
"Tapi para walisongo tetap mengawal transisi peralihan Majapahit-Demak-Pajang-Mataram, sampai sekarang Indonesia merdeka pun dikawal anak keturunannya. Kenapa beda sikap ada di sini? Padahal bisa saja Majapahit hilang begitu saja dengan kemunculan Islam yang sangat kuat kala itu. Para ahli strategi-budaya-agama itu malah turun tangan langsung mengelola dan mengalirkan kekuasaan pada yang emmang-memang mampu. Kebo Kenongo misalnya, meski difitnah habis-habisan oleh Sunan Kudus, tetap mendokan kebaikan pada negeri ini dengan mewangikan anak-keturunannya sebagai penerus estafet pengawal negeri. Kemudian hari, Sunan Kudus memilih membayar kafarat dengan uzlah 40 hari sebab yang dibunuh ternyata adalah kekasih Gusti Allah." Imbuh Kang Ikhlas.
.
"Tak lain dan tak bukan karena para wali songo ini juga merupakan produk dari percampuran multietnis. Darah mereka mengalirkan genetik Arab, Cina, bahkan etnis lokal di sini. Kesadaran bahwa mereka memiliki latar belakang yang mewakili mayoritas dan minoritas penduduk negeri, secara otomatis tak akan tega menumpahkan darah skala masif. Kasus Firaun dan Khan, adalah contoh mempertahankan kekuasaan atas dasar ras. Konflik semacam ni terus bermunculan bahkan setelah era moderen dan masa ultra-moderen seperti sekarang ini. Nazi, KluxKluxKan, apartheid, dan beragam pertahankan kekuasaan atas ras tu terus terjadi sampai sekarang.
.
Para wali mengedepankan apa yang barangkali disebut maqasid dan maqoidush syariah, tujuan sebuah kebijakan hukum dan tindakan. 'For greated good' kalau istilah Barat. Bukan penghalalan segala cara atau 'necessary-evil', tapi memutari masalah agar tidak perlu sampai ekstrim konfliknya. Barangkali ini juga hikmah setelah puluhan ribu pasukan Janissary beserta keluarganya habis dibabat di Wilayah Kedu oleh para penguasa yang beraliran memuja dewa Siwa dan dewi Durga, kalau saya tidak keliru. Pendekatan oleh gelombang kedua yang dimulai oleh Syaikh Jumadil Kubro terbukti lebih manjur dengan memakai pengetahun dan ilmu terapan." Kang Kuat lantas menyeruput kopi di tangannya.
.
"Taktik serupa masih bisa diterapkan sekarang? Bermodal simpati-empati, jalur infiltrasi memakai asimilasi-akulturasi masih mempan? Sama saja masuk ke septic tank yang harus siap berkubang najis, dong? Apa ada indikator progres metode semacam itu berhasil?" Kejar Kang Koplak.
.
"Nyatanya, meski negara kita ini demokratis, dan punya pasal kebebasan ungkapkan sikap dan berpendapat, LGBT tetap dihajar habis-habisan para penguasa. Tidak ada orang telanjang bebas dengan dalih dan dibela aparat penegak hukum sebab sedang bebas berpendapat. Walaupun korupsi seolah mustahil diberesi, seiring dengan narkoba dan pornografi, setidaknya nilai dan moral bermasyarakat masih ada. Tentu ada geliat kaum muda yang hobi cari mutual, atau pamer Amer, ya itu fenomena biasa. Medsos hanya menunjukkan apa yang selama ini nyaris tak mungkin dipublikasikan. Itupun rata-rata pakai akun medsos kedua atau palsu sekalian." Sahut Kang Kuat.
.
"Jadi, ini gerilya dengan taruhan ngeri, ya? Harus siap difitnah, meski sejatinya tengah memperbaiki sedikit demi sedikit. Asal gak sepik-sepik iblis berjubah malaikat dulu lalu berujung one night standing. Hahahaha..." Celetuk Kang Koplak.
.
"Bangkeeeeeee!" Kang Kuat misuh.

kegusaranku pada penebangan 190 pohon

"Kukira, 190 pohon itu tak ridho tubuhnya ditebang hanya demi gelaran balapan mobil yang terjadi cuma dalam hitungan hari. Mereka butuh belasan bahkan puluhan tahun untuk capai kebermanfaatan sedahyat sekarang. Dikira menghirup polusi dan memberi naungan di teriknya Kota Metropolitan adalah tugas gampang? Coba deh tanya ke 'Umbrella-Girl' kala mesin-mesin elektrik mendesis dan mencicit. Apakah memang tugas menaungi itu perkara yang sepele?
.
Fungsi lain pohon kan juga menyerap air di sekitarnya. Menyimpan di dalam tubuhnya melalui jalur akar. Di tengah minimnya lahan terbuka hijau, tentu agak mustahil menyedot air hujan sebanyak-banyaknya. Meski terbukti sumur resapan dengan diameter semeter dan kedalaman lebih dari 2 meter itu gak manjur hadang curah hujan tinggi dan kiriman air dari daerah pegunungan. Setidaknya kaum yang berpikir bisa melihat bedanya antara fokus pada rumah-rumah pompa air versus menggali sumur yang jumlahnya gak seberapa itu.
.
Seolah solusi-solusi untuk tangani ini tidak saling bersinergi. Limpahan air bukan dibuang dengan pompa, apalagi pohon yang bakal ditebang, malah memasang alat berkoar-koar banjir datang. Hell-ooo, jaman medsos gini lo, lambe-lambe turah bakal auto nyinyir sendiri tanpa pakai TOA sekalipun, Cyin. Apalagi kalau laskar kek Lucinta Luna sudah turun kandang dan meringsek area twitwar maupun adu instastory.
.
Dengan anggaran yang sebesar itu, akan lebih berdampak jika melakukan perawatan pohon-pohon, peremajaan atau mengatur agar tak jadi bom waktu yang menjatuhi siapapun di bawahnya kala hujan angiin datang tiba-tiba. Kukira kebijakan serba ruwet itu berasal dari pola pikir yang entahlah, mungkin saja hanya demi terkesan wah saja. Ketika peneduh di terik kota besar tepat di atas jembatan penyeberangan dibuang demi alasan selfi, alangkah aduhai logika di baliknya. Pun ketika baksos numpang LSM lain demi entah apa, kan jadi blunder sendiri di mata netijen yang terhomat sekaligus biadab.
.
Sudah dirasa cukup me-roasting salahsatu contoh hasil "yang penting seiman", mari kita kembali ke soal pohon. Kukira banyak orang sekarang lupa pada peran pohon. Mereka bisa merasa sejuk di bawah AC sekian PK (sst, bukan Mbak-mbak PK lho yaaaa). Soal air juga sudah diatur PDAM dengan kualitas yang begitu. Perkara sumber air bersih yang terus menipis secara drastis di waduk-waduk akibat pendangkalan dan perubahan cuaca, sudah kuduga para konsumen membebankan kepasrahan pada Perusahaan Daerah itu.
.
Tentu saja kinerja mereka sangat profesional soal antisipasi krisis-krisis di masa mendatang dengan menganalisis pola di masa silam. Tidak Seperti Jiwasraya dan Asabri yang bisa rontok investasinya sampai 90% tanpa berpikir untuk 'cut-loss' ketika masuk minus 20%, batas maksimal kaum 'expert' di bidang saham. Pun juga tak seruwet Garuda yang sampai tega membuat laporan keuangan palsu untuk tutupi kekurangan. Soal gundik, Harley, juga Brompton, biarlah itu jadi urusan pihak berwenang saja. Aparat penegak hukum kita dan pengawas perusahaan tentu tak akan gemetar mendengar nama-nama besar yang saling terkait saut sama lain itu.
.
Keasikan ghibah nih sampai Out of topic. Menebang pohon pun diatur dalam Islam, Kang. Kukira dalam aturan main agama-agama lain juga ada. Misal dalam konsep Tri Hita Karana ala Hindu, atau peran merawat seperti dalam Budha, pun juga Kristen dan Katolik yang dicontohkan Rasul mereka, Isa, kala bepergian hanya membawa gayung, kutafsir usaha tidak menyimpan air di atas permukaan tanah. Demikian juga agama-agama lokal yang dikawal para Shaman, kaum bijak yang mendapat kewenangan menemani masyarakat di pedalaman.
.
Di Mentawai, sejak belasan ribu tahun silam ada hukum adat mengatur penebangan pohon. Pola yang kurang lebih sama ditemukan di tengah masyarakat Dayak, Badui Dalam, suku-suku di Papua, dan kukira di banyak tempat terpencil lain selalu ada. Di pedalaman Jawa ada aturan serupa hingga akhirnya era kemerdekaan menanggalkan kebijakan serupa di daerah perkotaan demi alasan pembangunan. Meski kemudian hari beberapa pemimpin daerah getol melakukan penghijauan di kanan-kiri jalan. Mereka, masih peduli soal pohon.
.
Era moderen bahkan mencoba menerapkan rasa terima kasih kepada pohon pinggir jalan sebagai penetralisir polusi dengan aturan tak boleh memaku tubuhnya. Tentu banyak pelanggaran terjadi oleh masyarakat sipil yang mau nampangin produknya secara sembrono dan gak mberkahi itu. Tapi Satpol PP juga tak letih-letih tunaikan kewajiban tertibkan hal begituan, sebab tak mungkin mereka hanya sibuk main gusur, kan?
.
Lebih gila lagi ya, bahkan Nabi Muhammad melarang memetik ranting kering ketika perang. Padahal kata Shakespeare, all is fair in love and war. Semua halal kalau lagi jatuh cinta dan perang. Lha, kan kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat. Begitu kata Guru Fisika SMP-ku dulu, Pak Haryono. Kalau memang ngaku Islam dan sungguh-sungguh maniak sunnah, tentu tak akan tebang pohon sembarangan dong. Apalagi alasannya hanya untuk acara balapan yang tentunya cewek-cewek seksi, alkohol, dan judi berseliweran. Kalau diseret ke ranah fikih, kukira lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Oiya, wejangan Nabi untuk akhir zaman kan tanamlah pohon meskipun cuma sebiji walau kamu tahu besok pagi Malaikat Isrofil tiba-tiba DM lewat tiupan Sangkakala-nya itu.
.
Kupastikan warga kere-hore macam saya, yang ketar-ketir ketika gas 3 kiloan mau dicabut subsidinya pertengahan tahun ini, gak bakal nonton balapan dunia bergengsi itu. Senada dengan para penjual gorengan yang ragu mampu stabil penualan dan kepulan asap dapur kalau setabung merangkak di atas 40 ribu rupiah. Seberapa banyak sih penduduk negeri ini yang sanggup beli tiket ajang begituan. Padahal satu pohon bisa dihitung tuh menghidupi berapa hidung tiap harinya. Kalau 1000 orang menghirup oksigen darinya, berarti ada 190.000 orang terdampak kekurangan pasokan oksigen demi sekian ribu orang yang terlibat di ajang balapan adu baterai itu.
.
Dihitung ekonomi juga bisa. Lebih membawa dampak ke siapa sih pohon-pohon ini. Ke orang-orang di gedung bertingkat dengan strata ekosospolbud menengah atas, atau kaum kecil di pinggir jalan yang sangat diwelas-asihi Kanjeng Nabi Muhammad. Dari sudut pandang Sang Nabi, kira-kira siapa yang beliau belani, kaum pembalap atau wong cilik yang selama ini hanya dijadikan jargon oleh satu parpol pemelintir KPK itu?
.
Tenang, aku bukan petrol-head kayak si Jeremy Clarkson yang selalu sinis pada teknlogi mobil listrik di The Grand Tour itu. Jadi kegusaranku pada penebangan 190 pohon ini bukan perkara sentimen Green-Economy. Murni tanpa bias. Kok bisa sih mengorbankan yang sudah berkorban berpuluh tahun demi yang datang dalam hitungan harian. Kayak apa tuh kira-kira perasaan si pohon ditikung orang-orang asing dan aseng. Rasanya tuh lebih bangke daripada pas jadi korban ghosting tahu gak sih.
.
Barangkali Bang Pitung bakal ber-ciat-ciat dari alam kubur menengok kotanya kini sudah panas, eh masih ditanya tim bubur panas diaduk atau gak diaduk. Kan njengkeli, ya?" Oceh Kang Kuat pagi ini.

blunder pada omongannya sendiri

"Iya, aku tahu senior itu blunder pada omongannya sendiri ketika masih memimpin rapat gerakan entah sekian tahun silam itu. Tapi ingat, itu sudah menjadi kewajaran begitu masuk gerbang istana. Apalagi ketika transferan yang mengalahkan gaji karyawan start-up itu masuk rutin tiap bulan. Belum lagi fasilitas dikawal patwal ke mana-mana dengan sirene meraung. Hm, kemacetan Jakarta sih gak ada tajinya bagi lingkaran istana.
.
Aku pernah membaca tentang cara menguji jati diri seseorang seutuhnya. Salahsatunya dengan memberi kekuasaan padanya. Tentu selain harta dan wanita. Tiga hal yang menurut Ronggowarsito sebagai pengalih utama manusia dari tujuan pokoknya hidup di dunia. Wajar saja seorang kere-hore macam diriku rajin puasa, anti molimo, lha gak sanggup, je. Lha kalau aku dikasih duit segepok? Weleh-weleh, kuatirnya lari ke Alexis dan konco-konconya, surga dunia ala-ala.
.
Ada banyak sosok yang saat mereka belum berkuasa, berkoar segala cara hadapi lawan dengan penuh keberanian. Bahkan rekam jejak digital sebut bahwa negara-negara adikuasa macam Cina dan Amerika Serikat bakal takut pada mereka (ssst, mereka bukan pengikut Kerajaan Agung Sejagad atau Kerajaan Sunda, lho). Termasuk soal utang negara yang kandas demi program-program penguras kas negara seperti Dana Aspirasi Masyarakat yang masuk kantong parpol itu. Besarannya kan naik sekian ratus persen dari sebelumnya. Jika ditotal akan kalahkan total anggaran mitigasi bencana sepertinya.
.
Okelah kalau perseorang banyak faktor penggoyahnya. Tapi kalau itu merasuki sebuah badan organisasi? Wah, kan lucu jika lembaga dengan AD/ART malah 'esuk dele, sore tempe', gak konsisten. Masalah pelik bangsa yang meski sudah pernah dicontohi visi-misi ala Repelita atau MDGs, tetap saja asik mengejar bayangnya sendiri. Bukan mengurus rakyat yang makin kere, dengan alasan statistik sebut angka kemiskinan menurun sekian persen.
.
Bagi para pekerja angka, termasuk pengambil kebijakan yang mendasarkan keputusannya pada lembar-lembar data, kenyataan lapangan hanya pepesan kosong belaka. Klarifikasi sederhana seperti 'blusukan' yang pernah jadi trending gara-gara digarap Agensi Permak Multinasional, kini hilang gaungnya. Gak usahlah menyalahkan media massa yang kini banyak menganut Asal Bapak Senang. Selain saham dibeli kroni penguasa agar bisa mengontrol postingan dan cetakan, siapa sih yang mau kena pasal UU ITE dan disetrum di saat interogasi. Idih, ini bukan Guantanamo lho Bro! Soal mereka suka 'click-bait', barangkali hanya itu cara satu-satunya mereka selamatkan keuangan kantor. Hei, Dude, algoritma Instagram sekarang berubah, susah dapat cuan kalau gak bayar!
.
Kukira gagasan ala Sayyidina Umar bin Khattab, preman pasar naik tahta versi salahsatu ustad hijrah, saat jadi khilafah sangatlah utopis. Mana mungkinlah penguasa sekarang, entah atasan atau kroco bawahan, sudi angkat karung berisi beras ke kolong jembatan apalagi pelosok desa. Berkilah bahwa itu tugas utama Bulog sudah pasti dikedepankan. Perkara jika kemudian BUMN itu memusnahkan entah berapa juta ton beras demi stabilkan harga pasar, dianggap urusan lain. Beras sebanyak itu bisa bikin 'mblending' entah berapa juta orang kere-nelangsa di bawah langit ini.
.
Tempo hari pernah kukatakan bahwa jebolan pendidikan dan kultur lingkungan kerja militeristik belum tentu gampang marah, sedangkan sipil 7 turunan gak pasti mudah ramah. Pada satu titik balik, arus akan membalik 'coping-mechanism' pengendalian diri itu. Teori kerumunan bisa menjadikan seorang profesor ikut mengadili maling jemuran secara membabi buta. Tanpa perlu membawa-bawa 'Mbah Dok' dalam Desa Penari, logika sudah bisa memprediksi hal serupa. Seekor anak singa akan mengeong ketika sedari kecil dibesarkan induk kucing. Pun berlaku sebaliknya.
.
Kalaulah gambaran Shio-Shio ala kalender Cina banyak beririsan dengan Primbon racikan Ronggowarsito yang juga memodifikasi temuan Jayabaya, barangkali memang demikian adanya kebenaran itu. Tinggal penggunaan sistem itu yang bertujuan berlainan. Di Jawa, astronomi dan astrologi dipakai untuk penempaan spiritual, sedangkan di Tibet, teknik serupa digunakan untuk memaksimalkan potensi jasad dan ruh. Tak lain semata agar jiwa hidup segar-bugar sehingga bisa arungi 14 juta tahun alam kubur setidaknya, sampai kelak dicuci dengan konsep reinkarnasi. Konsep yang 11-12 dengan ala Islam, Jawa, dan aneka tradisi lain, tentu kecuali reinkarnasi.
.
Terus kita hanya bisa memandang para pria berpundak penuh bintang itu dengan kewajaran? Berargumentasi seperti barusan, lantas timbul pemakluman bangsa garuda ini dilihat sebagai emprit yang mencuit sakit oleh negara-negara dunia? Sekian tahun silam aku masih ingat beberapa jaringan kawan semangat sambut bonus demografi yang tertinggi dari negeri-negeri lain di dunia. Kini, orang-orang itu berbalik dan memanggil fenomena lebih banyak kaum usia produktif daripada non-produktif ini sebagai beban demografi. Kutukan, itu yang mereka presentasikan di lembaga-lembaga kelas dunia. Tentu demi dana kampanye pencegahan mengucur deras.
.
Tak heran jika pucuk-pucuk kementerian berisikan para pengusaha yang biasa dipanggil konglomerat. Langkah mematikan jika dilihat dari sejarah ke belakang bangsa ini, sampai era Majapahit setidaknya. Kala itu orang asing dan pengusaha ada di prioritas paling bawah soal menerima mandat kekuasaan. Bahkan di bawah para petani, nelayan, dan perawat alam. Sekarang, malah beberapa tokoh asing dan aseng dijadikan sebagai konsultan utama pemindahan ibukota negeri dari Tanah Jawa. Konon, langkah ini ada efek kualat tersendiri di dunia 'sama'. Kalau merujuk Ki Agus Sunyoto, pola inilah yang membuat Islam susah diterima di negeri ini meski sudah hadir sedari masa para sahabat nabi.
.
Itu barangkali yang melatarbelakangi Syeikh Subakir dan Syeikh Jumadil Kubro, utusan Kekhalifahan Ottoman pilih metode infiltrasi yang lain. Beradaptasi di Campa, menyesap perlahan atmosfer Asia Tenggara, berbuah manis ketika dengan waktu singkat mampu memiliki Pondok Pesantren pertama di dalam istana Majapahit. Menempatkan diri sebagai Brahmana-Ksatria, Islam diterima mulai dari tingkat teratas trah darah para bangsawan, di mana konon raja adalah titisan dewa. Tak heran, rakyat jelata berbondong-bondong memasuki Islam berdasarkan patuh pada penguasanya.
.
Fakta sekarang ini sebut memang yang dikehendaki para penguasa kita berbeda jauh dari penguasa era kerajaan dulu. Serba instan menuntut kebijakan lama yang terbukti jadi solusi praktis malah ditanggalkan demi alasan komisi sekian persen. Penciptaan tenaga kerja murah meriah tanpa potensi protes, mulai dikondisikan sedari sekarang. Satu Omnibus Law berproses 100 hari mampu menerabas 75 Undang-Undang yang digodog entah berapa puluh tahun silam. Entah demi apa jika bukan tuntutan dunia industri.
.
Pendidikan formal pun sudah mengukuhkan dirinya dalam menara gading. Padahal gading mana yang tak retak, pun gajah mati meninggalkan gading saja. Dilihat saja berapa persen produk pendidikan yang mampu mempermudah hidup manusia-manusia kesusahan dalam kesehariannya. Jika patokan berkah suatu ilmu dilihat dari radius kebermanfaatannya, kukira nol besar bakal mudah terlihat. Adanya hanya tumpukan pengangguran yang makin berat rasionya. Sudah begitu, dihajar seminar-seminar yang menghina para pekerja dengan dogma bahwa tiap orang bisa jadi wirausahawan.
.
Terus omongan senja-senja tai anjing ini mau di kemanakan? Sebatas rasan-rasan para singa yang mengeong? Okelah kalau itu dipakai untuk menguliti aib oranglain. Tapi tugas pribadinya bagaimana? Yakin bukan singa yang mengeong juga? Masih takut ngaji gara-gara gak diijiinkan istri dan anak? Atau masih kuatir perintah atasan yang jelas haramnya dan korupsi dianggap tak terhindarkan? Hati-hati, jangan sampai buaya di depan mata tak kelihatan, malah membidik cicak di tembok sebelah rumah.
.
Kan gak afdol sudah pamer sangar dan gahar di medsos, tapi ditinggal rabi mantan langsung jadi sobat ambyar." Ucap Kang Sabar di teras surau.

urung kuat drajate

"Pernah lihat atau dengar tokoh besar tiba-tiba tersandung masalah pelik yang mungkin bagi manusia awam sangat sepele? Bahkan ia keturunan wali, kiai, atau kaum cerdik-cendekia, yaaaa, okelah sebut saja pengusaha masuk jadi contoh juga. Seolah semua rentetan yang bisa jamin tujuh turunan itu tak berdaya cegah si tokoh dari kebajatannya? Bisa jadi tokoh sekelas itu disembunyikan aibnya rapat-rapat oleh Gusti Allah, tapi begitu dibuka, ngeri, kan? Konsep Jawa menyebutnya fenomena 'urung kuat drajate', belum cocok derajatnya.
.
Raditya DIka suatu senja-senja tai anjing berkisah dengan beberapa kawan komedian papan atas stand-up comedy bahas ini. Kenapa rata-rata cewek para komedian selalu cantik dan seksi dalam standar mata pria pada umumnya. DItemukanlah benang merahnya yaitu humoris dan mampu ubah bad-mood si cewek jadi bed-mood. Tak akan ada yag menghina sebab memang sudah begitu hukum logika. Sama seperti ketika tua-tua tapi menikahi perawan ting-ting. Melihat ketenaran, wibawa, serta harta si kakek, bunga desa mana tak bakal menolak? Itulah pemberian Gusti Allah yang berupa wadah untuk terima amanah.
.
Sunan Tembayat pernah ditegur Sunan Kalijaga sebab jarang mengisi pengajian rutin bagi lingkungan terdekatnya. Padahal Bupati Semarang era Kuno itu membangun masjid di mana-mana. RUpanya, bagi sang guru, itu belum paripurna. Harus hijrah untuk meluaskan wadah dan manfaat. Jika tidak, semua pemberian itu bisa dicabut begitu saja. Lihatlah beberapa nama tenar di media televisi yang kini tak ada lagi, bahkan namanya nista dalam perghibahan emak-emak saat belanja sayuran.
.
Gusti Allah tu punya nama Al Aziz, yang bisa dimaknai sebagai sesuka hati. Gelar yang sangat dikuatirkan menimpa seseorang atau dalam lingkaran komunalnya. Begitu ngerinya, bahkan ada wali atau teman-Nya, yang datang ke suatu wilayah untuk lakukan peran tersebut. Dalam terminologi Hindu, kukira fungsi itu diambil oleh Konsep Dewa Siwa. Destruksi untuk mengawali proses dekonstruksi. Bisa berwujud fisik, pikiran, perasaan, bahkan sampai tahap ruh dan jiwa.
.
Lihatlah bangsa-bangsa terdahulu dengan rentang puluhan ribu tahun. Ada beberapa yang fenomenal hingga tercatat di lintas kitab suci, termasuk catatan para pejalan dan filusuf. Atlantis sendiri dinukil dari tulisan Plato yang konon mampir ke negeri itu. Belum lagi kaum-kaum di TImur Tengah yang beragam juga dihapus dari muka bumi. Tak tanggung-tanggung jika Gusti Allah sedang ingin reset sistem manusia di atas muka Bumi. Keluarga para nabi juga tak luput dari pemusnahan ini. Lihatlah istri dan anak Nabi Nuh, Paman Nabi Ibrahim, bahkan paman-paman Nabi Muhammad.
.
Dinosaurus itu jika digunakan secara rasio ukuran tubuh, kurang lebih hanya seukuran lutut Nabi Adam. Sedangkan mayoritas ahli sejarah sepakat ada makhluk serupa manusia yang tinggal di Bumi ini sebelum Buah Khuldi dimakan. Bisa jadi hujan meteor dan Musim Semi Radiasi Nuklir setelahnya adalah upaya membumihanguskan manusia versi terdahulu itu. Ibaratnya, di-update agar sesuai dengan kebutuhan hidup manusia generasi baru.
.
Ada satu kajian yang jika ditelusuri secara Gogelyah, Scholar sekalipun, hanya akan berujung mumet. Yaitu soal ilmu beginian. DIsebutkan salahsatu tanda 'Al-Aziz' datang adalah dicabutnya standar hidup dasar manusia berupa sandang, pangan, dan papan. Versi kekiniannya, penggusuran. Di luar konteks aturan bernegara dan penyelewengan hak hidup manusia di atas wilayahnya, ada aspek kadar keberkahan suatu daerah. Tidak lantas melabelisasi semua korban gusuran adalah pelaku maksiat dan sebaliknya. Itu simpulan yang terlalu prematur dan tidak adil, blaaass.
.
Dalam kajian tersebut, peran wali sebagai perawat jagat alit di sekitarnya sangat terasa dan terlihat. Sebejat-bejat pejabat, pengusaha, bahkan preman, akan tunduk pada satu atau lebih, sosok yang dirasa mampu kuasai kejiwaannya. Tak heran mereka tak mampu mengusir sang tokoh masyarakat sehingga wilayah pun aman dari dampak kerusakan yang bakal dihasilkan. Coba cek sejarah Tebuireng, Gontor, bahkan Gus Miek dan pilihan tempat dakwahnya. Konsep ini serupa dengan konsep Hutan Lindung yang tak akan berubah jadi Hutan Produksi jika ditemukan manusia adat di atas tanahnya.
.
Aku pernah mendengar kisah jika Mbah Moen termasuk wali yang enggan berpergian. Fokus pada ngaji kitab. Langkah yang kemudian hari diikuti Gus Baha dengan segala alasan masuk akal. Termasuk keputusan beliau menolak banyak permintaan untuk perayaan dakwah penghabis materi dan energi umat, bahkan kiai dan gus yang umumnya naik panggung mengamini. Mbah Moen, dalam kisah yang sering kudengar, hanya akan datang ke satu wilayah jika di tempat tersebut akan mendapat jatah 'Al-Aziz' itu tadi.
.
Kenapa begitu terkesan jahat sih Gusti Allah dalam pandangan ini? Kukira qiyas-nya sama seperti seorang ayah yang pada titik tertentu harus memukul si anak ketika sudah keterlaluan dan menimbulkan efek merusak di luar diri. Baik perasaan, akal, terutama fisik dan berujung zalim ke orang lain. Meski anak usia 3-9 tahun ada dalam binaan malaikat, tapi peran orangtua harus mengenalkannya pada pijakan tangga menuju tingkat mumayyis dan mukallaf. Mampu memilah dan memilih sesuai standar prioritas dan dampak kebermanfaatan.
.
Laku ini diambil di banyak lingkaran ksatria sedari ribuan tahun silam. Periode setelah 9 tahun sampai 15 tahun, anak harus dilepaskan, dititipkan ke guru-guru bijak. Selain untuk menjadi karakter baru yang berbeda dari pengaruh orangtua, juga melatih kemandirian dan 'tatag' dalam jalani kehidupan. Buya Syakur sebut bahwa standar melepas ini kalau kekinian ada selepas masa Sekolah Menengah Atas. Anak berdiri sendiri, untuk lanjut bekerja atau kuliah. Jika kemudian orangtua memilih membiayai, termasuk ketika menikah dan setelahnya dibantu sedikit-sedikit, itu bernilai amal baik saja, bukan sebuah kewajiban.
.
Kembali ke soal 'Al-Aziz', Indonesia menurut kesaksian beberapa penerabas jalur wali, memang sedang menuju ke arah sana. Senada dengan hasil analisis njlimet para pakar di berbagai sektor. Dimulai 2020 sebagai penguji, alam dan situasi-kondisi masyarakat tengah tunjukkan gejala dihukum dan berdampak sistemik jika tak segera sadar diri dan mulai nyicil perbaikan. Seperti tangani banjir, tanah longsor, dan angin ribut, sebenarnya bisa dilakukan pencegahan mulai dari jauh-jauh hari.
.
Memang ada para teman-Nya Gusti Allah yang lakukan perbaikan-perbaikan dalam jalan sesunyi-sunyinya. DIlambangkan sampai makam beliau-beliau pun tersembunyi dan sengaja tidak ingin diketahui orang banyak. Ini kesaksian kawan dan senior yang memang hobi melacak keberadaan makam-makam para aktifis ekossopolbudhankam era dulu, hinggga rentang ratusan tahun silam. Metode yang tidak bisa kuraih dengan logika sebab tak miliki dasar kemampuan dan pengetahuan.
.
Kita pun bisa andil dalam peran itu secara awam dan lugu. Seperti kemarin ada teman yang berkomentar di status febsukku soal menyimpan benih apa saja untuk ditebar di pekarangan-pekarangan kosong. Kemudian membagikan benih-benih yang terbukti berbuah baik agar menyebarkan virus menanam. Niat sedekah oksigen dan penyimpan air itu sangat mulia tapi terkesan sepele. Prakteknya? Kukira hanya yang berhati ikhlas sanggup istiqomah di suluk tersebut. Siapapun, bisa jadi bagian dari proyek khilafah fil 'ardi dalam lingkup paling sederhana. Menahan diri dari buang plastik es teh atau cilok sungguh sangat berat, kan?
.
Waspada talbis juga dalam soal perbaikan ini. Sebab Quran sudah ingatkan bahwa ada yang seolah memperbaiki justru malah merusak lebih besar lagi. Sebuah artikel di Mojok minggu lalu agak menyentak alam bawah sadarku. DI sana si penulis dengan tengil menyentil pola pikir bahwa tote-bag lebih baik dariipada tas kresek murahan dan sedotan stainless steel lebih merusak daripada sedotan plastik. Rupanya, melakukan perbaikan pun butuh makrifat atau reason behind those action. Gak bisa asal tambal sulam jika tak paham aturan dasar.
.
Suatu hari aku pernah terkaget-kaget saat Kak Yai Banyubening sarankan seorang ibu meghentikan mengirim fatihah ke anaknya. Ini sebab dikuatirkan doa si ibu untuk dirinya sendiri belum tembus langit juga. Akan sia-sia jika berupaya menolong oranglain tapi lalai menolong diri sendiri. Jangan didebat dulu, ini ranah ruh yang luar biasa luas. Tak heran jika masa kehidupannya mencapai 14 juta tahun. Hidup di dunia yang dapat 63 tahun saja sudah mujur ini, tentu hanya remah rengginang dibanding hidup setelah mati, kan?
.
Jadi, ayo mulai sadar diri lah. Jangan sampai memancing Gusti Allah terpaksa marah ke kita. Kalau dalam istilah Mbah Nun, 'la ubali', jangan marah padaku. Bukankah hidup yang penuh samsara ini semata dilakukan demi mencari ridho-Nya? Kalau masih menuruti ridho diri sendiri dan manusia di sekitar sampai lalai tugas utama menjadi abdi bagi-Nya, ya percuma. Amal-amal akan dilempar ke muka kita kala Hari Penghitungan. Itu kalau ruh kita masih bisa hidup melalui 14 juta tahun." Tukas Kang Sabar di depan cangkir teh Sarwangi.

waktu taat dan waktu maksiat

“Kanjeng Nabi Muhammad tuh pernah touring ke surga, neraka, dan alam-alam di antaranya, Kang. Meski begitu, beliau tetap kembali ke 'basecamp' di Mekah. Bertenaga cahaya, Burung Besi beliau itu melibas ruang-waktu hanya semalam. Terus intinya apa sih touring Kanjeng Nabi itu selain penghibur di Tahun Duka Cita? Kukira sih seperti apapun sukses-celaka di hari esok, masih bisa diperbaiki di hari sekarang ini.
.
Kemarin Yai Rahmat jelaskan konsep waktu taat dan waktu maksiat. Istilah dari Kitab Iqodhul Himam karangan Kyai Ahmad Sanusi itu bisa jadi solusi kekinian. Garis besarnya sih harus lebih banyak waktu untuk taat daripada maksiat. Misal nih saat main hape buat pakai VPN gratisan 3 jam, nah pakai hape itu juga untuk sarana nambah ilmu terutama agama harus lebih dari 3 jam. Makanya kesadaran menghisab diri sendiri harus ‘running in foreground’, nongol terus di otak kita.
.
Jangan sampai kita larut dengan fasilitas yang Gusti Allah beri. Bahayanya kalau Dia sampai marah, wah, bisa diambil paksa semua. Sudah banyak kasusnya lho. Setahun ini paling tidak aku baru sadar bahwa fenomena di tengah masyarakat, bahkan tingkat keluarga, bisa dijadikan bahan refleksi. Kita melihat pola sebab-akibat secara logika, maupun sampai tingkat ruh yang orang sebut sebagai batin. 'Wong nandur bakalan panen', memanen pasti yang ditanam.
.
Memfitnah orang bisa jadi niatnya untuk jatuhkan yang difitnah. Latar belakangnya bisa iri, dengki, hasud, dkk, Cuma asalnya ya mengada-ada. Tipe pengecut sebab tidak berani satu lawan satu makanya mencari kawan untuk keroyokan. Biasanya juga bermuka dua, di depan kita memuji, di belakang meludahi. Akibatnya bisa malah harga dirinya yang jatuh saat fitnah itu tidak terbukti.
.
Kembali ke soal touring, aku jadi ingat dulu teman karibku mengubah cita-cita keliling dunia pakai VW-Combi jadi touring di surga saja. Bisa jadi pertimbangan ekonomi jadi faktor terbesar. Hanya saja kemarin malam Yai Rahmat mengajak lebih baik touringnya besok saja setelah ruh lepas dari raga. Bisa menjelajahi ke manapun, asalkan selama masih menempel jasad terus merawat ruh. Sesederhana dengan mendengar, melihat, serta segala input masuk ke otak yang baik-baik. Tentu menutup panca indera kita dari segala kejelekan dunia, termasuk ghibah tipis-tipis.
.
Adapun jiwa, yang letaknya di dalam ruh, diberi nutrisi dengan melakukan perbuatan baik. Tentu niatnya harus beres dulu setidaknya menjadikan manfaat lebih dahsyat. Tadinya kopi baru petik harganya sekilo cuma 2.500 rupiah, kita olah hingga setelah branding sekilonya sampai tembus 400 ribuan. Tentu sebab dan akibatnya adalah lingkungan di sekitar pohon kita rawat setulus mungkin, termasuk para pekerja di sekitar. Semata agar keuntungan itu terus menjadi berkah yang men-tsunami ke lingkup terluar diri.
.
Beda tipis antara kapitalisasi dan meningkatkan derajat sesuatu. Kapitalisme itu kan ‘kemaruk’, pasir gratis di bawah gunung diangkut. Dijual dengan harga mantab, lantas uangnya untuk maksiat. Itu sama saja tidak angkat derajat pasir, malah menjadikan pasir sebagai pembuka perbuatan dosa. Bukannya berkah, uang hasil penjualan akan membawa dampak merusak bagi si juragan, bahkan keluarganya. Entah istri dan anak tidak bisa dinasehati, habis untuk biayai pengobatan, aib jadi bahan omongan orang, sampai pengguna narkoba dan selingkuh.
.
Tidak ada makhluk ciptaan Allah yang rela dijadikan lantaran pembangkangan pada Gusti Allah. Ingat, tugas khalifah fil ardi, perawat bumi, tidak sanggup diemban makhluk semesta raya. Tapi Gusti Allah bekali Adam dengan ‘skill’ dan ‘will’, kemampuan dan tekad untuk lakukan amanah tersebut. Tentu syarat dan ketentuan berlaku, sebab biasanya hanya secuil yang mau melakukan perbaikan tanpa sorot liputan kamera. Maka tak heran Gusti Allah menganggap orang-orang yang pasti difitnah kaumnya itu sebagai teman.
.
Nah, makrifatnya touring kukira semacam studi banding. Di tempat asal ada batu berserakan di sungai, di perjalanan menemukan si batu diolah jadi akik, di tempat tujuan kaget sebab batu pun bisa jadi hiasan rumah. Lantas si rider itu pulang kampung, terinspirasi, dan mengolah batu seperti yang ia lihat sebelumnya. Proses tanpa berniat cari uang ini justru tengah memberi makan jiwa, selama saat berproses tak malah meracuni ruh dengan ghibah, dkk. Ketika manfaat sudah didapat dan oranglain merasakan hal serupa, secara otomatis akan datang pembeli, bahkan kolektor, tanpa kita promosikan.
.
Sudah kubuktikan sendiri formula ini. Biarlah Gusti Allah mengurus uang yang akan teralokasi untuk menutup utang, biaya hidup, sampai cadangan. Tugasku hanya sebatas berproduksi kebaikan setiap hari. Etika dijaga, estetika dijadikan tujuan. Memperindah yang sudah indah sebab Gusti Allah sendiri Mahaindah dan cinta keindahan. Jadi jangan berpatokan bahwa zuhud dan talak dunia itu pasti berpakaian compang-camping dan tak beralas kaki seperti laku Nabi Isa.
.
Kenapa Kanjeng Nabi diturunkan level prihatinnya daripada Nabi Isa? Sebab ketika nabi berperilaku seperti Isa, yang ada malah dianggap Tuhan. Maka Kanjeng Nabi tetap jadi saudagar, investor, tokoh masyarakat, menikah, berketurunan, dan masih mau mengurusi lumpur-lumpur Kota Mekah kala itu. Bercita-cita surga tak hanya didapat dari penampilan fisik yang ala kadarnya. Ingat, ada kesombongan pun dibatalkan surga atas kita. Miskin bisa sombong? Sangat bisa dan biasa.
.
Nanti, ketika sudah serba berkecukupan sandang-pangan-papan, harus mau touring lagi ke hulu perjuangan. Jangan ‘stuck in comfort zone’, mager di saat baju bermerek Suprim, perut kenyang, dan rumah tingkat seratus. Kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ‘taruhlah dunia di tanganmu, jangan di hatimu’. Maka ia dengan mudah memberikan apa yang ada di tangan. Sebab sadar sepenuhnya yang ia dapatkan hanyalah pemberian dari Gusti Allah, bukan hasil kerja keras peras keringat banting setir, eh, banting tulang.
.
Di sinilah peran uzlah itu muncul. Kita tinggal di kota besar tentu susah mencari gua seperti Kanjeng Nabi di Gua Hira. Maka tinggal mencari lokasi-lokasi yang berfungsi seperti gua, memisahkan diri dari rutinitas dunia. Imam Ghazali memilih zawiyah atau tempat mojok di atas menara masjid. Rutinitasnya pun hanya menyapu dan jadi marbot. Padahal kala itu statusnya adalah rektor terbesar di negerinya. Toh dari momen itu justru lahir kitab Ihya Ulumuddin, Kimiyatussa’adah, dan banyak lainnya.
.
Kukira tadinya motor adalah zawiyahku. Ditemani adrenalin atau khauf, memburu maut dan kemudian berkilah darinya. Ternyata anggapan ini kurang pas menurut Yai Rahmat. Tetap saja ketenangan harus didapat dari memberhentikan jasad, akal, bahkan hati dari dunia. Hanya diam dan memanggil Gusti Allah. Tentu suasana sepi tidak jadi syarat jika memang harus siap diuji. Kita bisa saja duduk wiridan dengan tenang padahal satu meter di depan kita ramai orang berghibah ria.
.
Harus terus sadar bahwa hidup ini toh pada akhirnya adalah cara lanjutkan touring di alam kubur yang bermasa 14 juta tahun. Tak usah gubris kaum ghibah yang belum tentu selamat jasadnya selama di dunia, sebab kita pun tak terjamin keselamatannya. Patokannya ya umur 50 tahun sudah ruwet hidupnya, entah biayai keluarga yang bermasalah, antri di dokter dan ketergantungan obat. Kala itu hadir baru sadar apa yang seharusnya diprioritaskan sedari muda. Bagiku yang masuk 30 tahun beberapa bulan lagi, persoalan ini sangat serius, termasuk istri dan anak sudah dipikul tanggungjawabnya di pundak sedari ijab-qabul diteriakkan sah oleh para saksi nikah.
.
Ibaratnya nih ya, seorang suami adalah road-captain bagi anggota lain. Road-captain ini harus punya guru di depannya, yang beritahu rute mana lebih aman dan jalur trabas agar lebih efektif-efisien. Guru bisa begitu sebab pernah lalui jalur sejenis. Guru ini nanti berfungsi juga sebagai ‘sweeper’ di belakang yang mengawasi progres selama touring. Bagi guru ruhani yang sudah melimpah jiwanya, ketika kita mlipir dan mau maksiat, beliau akan hadir dengan berbagai metode ingatkan kita. Percaya wislah, aku sudah buktikan ini.
.
Ketika kemarin Yai Rahmat menegur touringku cukup di alam ruh saja, aku tergelak. Memang gas dan kopling sudah kutinggalkan sejak berbulan ini, termasuk helm full-face sudah terkurung dalam lemari entah sejak kapan. Energi habis untuk hadir secara offline saat briefing touring ke alam ruh seminggu bisa sampai 4 kali. Seringkali sekali sesi sampai 5 jam lebih dengan masih ditambah penguatan rencana dan pengumpulan bekal saat sendirian di rumah. Betul-betul tak sempat untuk touring menggeber mesin ribuan cc yang sudah terparkir rapi di garasi kawan.
.
Jadi, jika kemarin pagi temanya ‘my pain my gain’, nah pagi ini ya ‘touring bisa nanti-nanti, bekalnya harus dicari lagi hari ini’. Jasad kita akan tunduk pada ruh, dan ini sudah kami buktikan. Aturan main biologis ala barat hanya 'safe-mode' untuk yang ruh dan jiwanya tak terlatih. Tapi bagi para CEO atau sufi kelas kakap, gaya hidup amburadul secara medis toh nyatanya hidup mereka bisa sampai usia 70 tahun lebih dengan kebugaran fisik jelas di atas rata-rata.
.
Tak heran Yai Rahmat tegaskan bahwa ‘Kanjeng Nabi itu gaya hidupnya gak sehat, lha kapan beliau tidur, asupan nutrisinya gimana, tapi toh nyatanya catatan beliau sakit sangatlah sedikit’. Itulah kenapa bagi beberapa kawan seper-touring-an di SurauKami yang sudah celaka total, pengumpulan bekal di alam ruh dan pendisiplinan ruh lebih diprioritaskan dari mengurus jasad.
.
Gusti Allah tidak akan pernah mencelakai manusia yang dikenal-Nya secara dekat. Malah akan dijaga seperti Ashabul Kahfi.” Papar Kang Sabar tentang hasil pengamatannya pada 5 pria berkepala penuh uban dengan gambar tengkorak di kaosnya.

benamkan dirimu di bumi kekosongan

“Mencari adrenalin di tengah kota besar sangatlah sulit. Ngegas pol beresiko senggol sana-sini, belum lagi dihadang polisi. Cari lumpur juga harus jauh ke tepi kota. Pun mencari tempat sepi, gelap, dan angker, mustahil didapat. Seolah takdirnya orang kota memang hidup aman dan nyaman tanpa ancaman sedikitpun.
.
Barangkali perlariannya ke maksiat seperti selingkuh, mabok, karaoke, judi, dan sejenisnya adalah upaya pencarian adrenalin itu. Bukankah tindakan ilegal selalu munculkan pola ‘deg-deg-ser’ di jantung? Ketika adrenalin meningkat sebab kuatir ketahuan istri atau suami, diburu polisi, digerebeg ormas, sampai rekaman viral, sungguh candu, kan? Kalau dibedah menggunakan pisau dari Maslow dengan kebutuhan dasar itu, hanya sebatas jasad saja ujungnya. Ketenangan tak semudah itu didapat.
.
Ada cara paling gila menurutku. Membedakannya dengan psikopat sangatlah sulit. Mereka ini kaum 'troublemaker', ke manapun pergi selalu bikin masalah. Entah dengan mengada-adakan masalah, memancing tanpa niat mendapatkan ikan tapi memperkeruh air yang bening, dan seterusnya. Manusia jenis ini barangkali begitu haus adrenalin sampai masalah pun dia cari demi kepuasan. Terlebih jika sebelumnya juga anak motor, dan setelah menikah tak bisa touring lintas kota sebab dimarahi istri, wah, itu paling apes orangnya.
.
Teman-temanku gila-gilaan koleksinya. Ada yang mobil sport dengan pajak dan perawatan bulanan berkalilipat pendapatanku, pun hobi jalan-jalan ke luar negeri. Tapi apakah hati mereka tenang? Ketika sesi ‘rasan-rasan’ dimulai, tak jarang mata mereka sembab dan teteskan air mata. Keluhan tentang entah hubungan dengan keluarga yang merenggang, apes di satu bidang profesional, sampai hampa tanpa merasakan apa-apa di tiap harinya. Padahal secara kebutuhan primer, sekunder, sampai tersier, sudah terpenuhi semua.
.
Terus masalahnya ada di mana? Apa yang kurang di hidup kaum 1 % itu? Ketenangan batin, lepas dari kekuatiran akan persoalan duniawi. Bukankah istri, anak, usaha, sampai relasi tak abadi? Semua akan pergi pada waktu kadaluarsanya. Lihatlah Nuh, istri Firaun yang direbus minyak sampai wafat, dan banyak tokoh lain. Kebaikan mereka yang sudah sampai puncak tetap tak mampu menolong orang terdekatnya. Itu yang hidup ruhaninya beres, lha kalau ‘mblangsak’ macam diriku gimana?
.
Ada juga sih kawan-kawan pemain proyek yang seolah bahagia di depan umum. Sandangnya nomer wahid, tunggangannya besar dan mewah, rumahnya sekian miliar rupiah harganya, makannya pun selalu di tempat khusus, dan semua terlacak ketika dia unggah di medsos atau ketika bertemu teman masa sekolah. Tapi sempatkan bicara empat mata dengan mereka, telisik di mana ia merasa kurang dengan dunia serba berkelimpahan. Ibadah mereka jos, sedekah dan zakat tak pernah lupa, meski suap tak pernah lupa dilakukan sebagai pelicin tender.
.
Kukira pada titik puncak kepemilikan semacam itu akan muncul kehausan di dalam diri. Setidaknya itu yang kurasakan ketika seolah dunia sudah bertekuk lutut di depan mata. Tetap ada yang kosong tanpa terdefinisikan namanya. Menimba ilmu ke mana-mana berbuah ketenangan temporal, sementara dalam hitungan harian saja. Waktu bertahun-tahun itu belum menemukan yang memberi ketenangan secara permanen. Padahal secara laku sedang menjemput ketenangan juga.
.
Kemudian waktu seolah semua upaya pencarian adrenalin dengan bentuk berbeda itu temukan muaranya. Pada titik pendakian nan berat yang seolah tak berbatas. Ketika sebelumnya selalu merasa sudah tahu di titik tertentu ketika sang pengisi materi tak mampu beri jawaban memuaskan, kini memasuki samudera tanpa tepi. Pertanyaan tak akan terjawab sebelum membuktikan di kenyataan sehari-hari. Model pengajaran seperti yang Ibnu Rusdi dan Ibnu Arabi sering sebut, kukira.
.
Jika bertahun sebelumnya kuisi dengan penaklukan-penaklukan, baik secara prestasi di ekosospolbudhankam, kini pada penundukkan diri sendiri sedalam-dalam. Persis kata Ibnu Athaillah dalam Hikam, ‘benamkan dirimu di bumi kekosongan’. Tak menjadi siapa-siapa, tak memiliki apa-apa, tak ingin apa-apa di dunia, adalah pilihan dari yang tersedia, bukan yang dipilihkan takdir atas diri. Memilih puasa bukan karena memang tak ada yang dimakan, tapi ketika berlimpah ruah menu sedap di atas meja makan.
.
Inilah ‘One Piece’ yang kucari-cari sedari awal membaca manga itu. Harta karun tanpa imajinasi dan tak pernah ada perhentian dalam pencarian. Selalu ada anak tangga menuju tujuan justru dengan menaklukkan diri sampai titik serendah-rendahnya. Sebab laku Malamatiyah dan Uwaisiyah sangat terasa menantang dengan berbagai anomali dan kontradiksi yang diamalkan. Hanya saja itu tingkatan ‘advance’ untukku yang masih noob, anak magang ini.
.
Toh pada akhirnya bukan adrenalin yang puaskan diri. Tapi pemahaman pada yang baru, dunia akan lebih luas daripada sekadar menutup utang tiap bulan, membayar karyawan meski gaya hidup harus diminimalkan, pokoknya terus berkorban sampai habis-habisan. Tentu tetap pertimbangkan keseimbangan dengan pasrah total. Dunia hanya sebatas penggugur kewajiban memenuhi peran berbuat baik, menebar benih manfaat di manapun dan kapanpun berada.
.
Bukankah memang visi menjadi pohon berbuah harus ditanamkan tanpa henti? Agar tak mandeg seperti air di comberan seperti wejangan Imam Syafii soal keberkahan merantau. Terus mengalir meski tubuh terdiam di satu ruang. Berkelana di era kekinian bisa dengan menatap layar, menggerakkan jemari di atas papan ketuk, dan merawat sekitar hingga titik puncak kebermanfaatan. Konsep mengangkat derajat dari yang kurang nendang menjadi sangat membuat ketagihan. Tentu dengan panduan syariat fikih agar lebih terukur secara progres.
.
Kupikir jalan ini memang paling cocok bagi masyarakat perkotaan yang dari bangun sampai tidur lagi dikejar ketergesaan. Makan harus sambil berdiri demi tak terjebak macet, berangkat pagi buta demi kejar absen ‘fingerprint’, dan di sepanjang jeda antar waktu diisi dengan melihat kehidupan oranglain di medsos. Ya jika hati sudah sehat, kalau belum maka yang muncul iri, dengki, hasud, dan rasa rendah diri pada manusia. Padahal seperti disebut di atas, dan ini fakta, belum tentu mereka yang mengesankan diri ada di puncak sukses tengah berbahagia dengan kehidupannya.
.
Akhirul ngoceh, aku hanya bisa membagi hasilku menempuh pendakian yang berat ini. Konsep dari Mas Rizal WarungKami saat melihatku terengah-engah jejaki anak tangga menuju Gunung Kamulyan. ‘Ketemu Gusti Allah atau sekedar surga pun pendakiannya melelahkan gitu ya, Mas. Gak segampang pas jalanan rata saja’, katanya. Sebuah celetukan dari pendaki veteran pada pendaki amatiran kebesaran perut. Betul kukira jalan sunyinya jalan sunyi ini. Sudah bukan pandangan dunia lagi yang dijadikan dasarnya lakukan sesuatu, tapi Pemilik Semesta-lah sebagai indikator. Ketakutan 'la ubali' ala Mbah Nun terasa betul tiap saat/
Kebahagiaan, sebagaimana dituangkan Imam Ghazali dalam Kimiyatussa’adah, sebenarnya sangat mudah didapat. Asal paham ilmunya, kelar sudah. Berani coba untuk bahagia yang sebenarnya?” Tukas Kang Kuat di angkringan berliterasi di bilangan Semarang itu.

Ramayana

“Semalam kusempatkan ngankring di WarungKami asuhan Mas Rizal ‘Slamet’. Sedari awal memang kuniatkan untuk mencari wangsit dari buku-buku di gerobaknya. Menghitung juga sampai akhir pekan tak ada waktu luang malam hari. Jadilah dari area pegunungan turun menuju perkotaan lewat jalur hutan. Sampai lokasi, rupanya sang juragan sekaligus Pengendali Alumunium itu tengah ‘kerokan’ dengan dirinya sendiri. Kejadian yang baru sekali seumur hidup itu kusaksikan.
.
Usut punya usut rupanya eks-hijrah dan karib catur para habib itu baru saja dikeroki syariah alias bekam. Niat menutup WarungKami sebab meriang gagal sebab setoran nasi kucing dan bala kurawanya sudah keburu datang. Jadilah diriku pelanggan pertama setelah kompor mengeringkan kaum gorengan. Langsung kusodori Kopi Robusta SaptaWening dari Mas Anwar Batang selaku owner dan di-‘roasting’ sang penemu nama sakti itu. Tentu dibagi dua sebab diriku selaku pecinta Robusta perlu punya stok dari lokasi kebun kopi di atas Makam Maulana Magribi itu.
.
‘Catching up’ pun dimulai sebab sudah sekian minggu tak bersua. Terakhir bertemu sepertinya saat maiyahan di TancapKayon-nya GugurGunung. Kawan sepersebats-an Mbah Joko Pinurbo itu khusyuk siapkan Robusta Magelang sesuai resep rahasianya, sedangkan kutelusuri daftar buku yang menarik. Niatnya mencari mantra dari Joko Pinurbo sebab senja tadi mendapat wejangan tentang ponsel, gempa, dan Tuhan dari sang penyair. Apa daya rupanya buku raib entah dipinjam siapa. Jadilah kusaut kitab karangan Mbah Seno Gumira tentang Ramayana. Seolah melanjutkan Anak Bajang Menggiring Angin-nya Romo Sindhunata meski dengan kekoplakan di sana-sini khas Mbah Seno.
.
Langsung meluncur cover belakang, menelisik daftar pustaka, kemudian menyusuri daftar isi. Kapimoda merangsang birahiku pada keingintahuan. Tanpa babibu, dilahaplah segala tafsir Mbah Seno atas sosok 'punk is him' itu. Pasukan terdepan laskar Hanoman itu beruntung sebab dibekali umur panjang dan konon salahsatu kera generasi pertama. Mungkin karena paling awal lahir maka ia tak punya kesaktian secuil pun, bertelanjang tubuh, tak tenar, pokoknya sangat biasa dan cenderung mudah di-‘bully’.
.
Nyatanya, malah si kakek itu jadi satu di antara tiga yang tak terkena Sirep Indrajit. Tak lain sebab usianya lebih tua dari ilmu hitam manapun. Ia malah kemudian menghidupkan Pasukan Titisan Wisnu setelah menyuwuk mayat-mayat dengan air cucian daun yang dibawa Anoman atas saran Wibisana. Pun kemudian ketika bendungan menuju Alengka dihajar raksasa dahsyat anak Rahwana, Kapimoda menjadi ‘problem-solver’ dengan teknik infiltrasi dan ‘hit and run’. Sekali lagi, sosok yang sangat biasa ini justru mengabadi bahkan digambarkan Mbah Seno berulangkali meminta dibunuh lakonnya oleh Mpu Walmiki.
.
Tak menemukan nama ‘perangsang’ lain, kumulai membaca dari depan. Rupanya digambarkan bahwa Pasukan Ayodya pasca menumbangkan kediktatoran Rahwana justru berambisi menyatukan dunia dengan kekuatan merusaknya. Sampai di sini diskusi antara Jamaah Rasan-rasan semakin menarik menyoal Virus Korona. Mas Rizal tunjukkan screenshot Instastory Mas Agus GugurGunung tentang upaya preventif skala hati dengan kaitan Musa, Khidir, dan Qorun. Kukatakan kalau di SurauKami masih adem ayem saja menyoal gegeran virus itu.
.
Kemarin pagi kebetulan berbincang dengan seorang dokter spesialis penyakit dalam dan termasuk orang penting ikatan profesinya. Tak ada sedikitpun cemas dari gestur maupun nada bicaranya. Padahal ia adalah sosok kunci yang seharusnya teramat panik dengan ancaman nyata di gerbang-gerbang negeri. Solusi berupa etika batuk, jaga stamina, hingga tidak paranoid diberikan berulangkali. Maka kukira juga tak perlu lah aku ikut ribut sebab ulama medis sudah berkata demikian.
.
Lantas soal Korona kami otak-atik-gathuk guyonan dengan berbagai kemungkinan. Entah dari santet paku payung sebab Korona kan berbentuk mahkota, sampai kualat atas geger Natuna. Merembet ke mental orang Indonesia yang santuy tapi ‘nggegirisi’ bikin ngeri. Tentara Cina sebanyak apapun akan kabur tunggang langgang bertemu emak-emak penguasa jalanan. Belum lagi deretan nenek-nenek dengan lidah penuh umpatan dan kutukan. Anak sekolah tawuran sudah siap di belakangnya, para bapak laskar ngopi-ngudud siaga dengan papan catur, dan aparat pertahanan dan keamanan cukup mengorganisir orkestra Pertahanan Semesta itu.
.
Lha hanya saat peranglah ilmu hitam dan putih bekerjasama kok. Para dukun stop nyantet sesama anak bangsa, dan para kiai stop menyerang para dukun juga. Semua ditempuh demi menghadang invasi bangsa asing dan aseng. Seperti era kemerdekaan dulu. Jin dan malaikat ikut dikerahkan oleh para penakluknya, persis ujaran Ningsih Tinampi yang agak kontroversial sebab sampai mau menyeret Kanjeng Nabi hanya untuk ngurusi santet.
.
Kaum terkuat di negeri ini memang emak-emak. Siapapun sepertinya bakal mengamini. Bahkan di SurauKami pun para kiai, termasuk kiai sepuh, dibantah oleh santri emak-emak dengan brutal. Mungkin kesadaran bahwa surga ada di telapak kaki mereka, dan ridhonya adalah ridho Tuhan, jadi dalilnya semena-mena. Apalagi tokoh papan atas seperti Syeikh Bajnabai yang diberkahi tundukkan singa gara-gara selalu sabar saat di-‘omyang’ istri. Kekinian, Gus Baha sekalipun anjurkan jalan ninja ini: menuntut kebahagiaan seminimal mungkin dari istri agar tak kecewa. Masih mau solat pun sudah cukup jadi alasan tak membantah istri saat sedang mendidih batinnya.
.
Eh, tapi, ada lho yang paling ditakuti kaum pemegang sapu dan siap mengayunkan ke pantat anak-anaknya itu. Eng-ing-eng, tak lain adalah pasukan tukang kredit. Begitu teriakannya terdengar, langsung pintu dan jendela tertutup, emak-emak moksa entah ke mana. Ketika sang penagih di depan rumah, diutuslah ‘krucil-krucil’-nya sebagai jubir dan katakan bahwa emak tengah pergi. Tak mempan, para bapak yang sedang mager disuruh adu mulut dengan perwakilan Bank Plecit itu. Jika biasanya pihak yang utang lebih galak dari yang ngutangi, emak-emak ini lain, seolah mereka adalah Rahwana yang berjumpa Arjuna Sasrabahu saat tengah bertiwikrama. Nyaliya menciut seketika!
.
Untunglah pihak Cina tak lantas ‘counter-intelligence’ dengan merekrut para bank plecit itu. Bisa bubrah semua strategi Pertahanan Semesta yang dipegang kuncinya oleh emak-emak. Bayangkan saja jika satu emak mampu bikin serumah kebakaran jenggot, apalagi jika skala satu batalion. Wah, pasukan khusus pun bakal mengkerut dan cuma bisa nunduk saat istrinya minta dibelikan kulkas persis milik tetangga rumah. Para intel usia TK-SD yang masih ingusan dan sering minta uang jajan ke warung tetangga juga hanya bisa menangis meraung ketika jatah ngemilnya dipakai untuk bayar cicilan. Sungguh, bahaya jika rahasia ini bocor ke pihak lawan!
.
Di luar guyon itu tentu Indonesia dan Cina adalah saudara tua. Islam bisa masuk ke negeri ini berkat metode Cina. Pun pengobatan alternatif dan banyak kemajuan teknologi didapat dari negara dengan catatan utuh dari 4000 tahun silam itu. Kita tak bisa melepaskan diri darinya. Termasuk saat ada darah Cina mengalir dalam diriku dari Mbah tertentu, atau Cina-cina Hitam yang jadi bukti akulturasi-asimilasi ratusan tahun telah berhasil. Soal gegeran sebab bersumber kesenjangan sosial, gesekan politik, tak usahlah dimasukkan daftar konflik abadi. Biarlah bangsa kita menjadikan kebodohan, kebebalan, dan kemalasan sebagai musuh abadinya. Jihad Akbarnya ya melawan diri.
.
Jadi, kukira memang dolanku bermanfaat sekali dari jam tengah 9 malam sampai jam 2 dini hari. Selain memotret sekian ratus halaman dari Kitab Primbon hasil olahan Ronggowarsito. Setidaknya jamaah seperti ini masih ada dengan nostalgia masa ngaji ketika kanak-kanak, update kekinian gerakan dakwah lingkaran tertentu, sampai area nakal yang tengah hits. Bukankah Hasan al Banna berikut ujung tombak Tarekat Syadziliyah gunakan pendekatan kopi dan rokok untuk latihan istiqomah belajar? Bagi kami, bolehlah rasan-rasan dan misuh tipis-tipis jadi bumbu pengusir kantuk.” Tandas Kang Kuat di sudut ruang.