Thursday, April 16, 2020

benamkan dirimu di bumi kekosongan

“Mencari adrenalin di tengah kota besar sangatlah sulit. Ngegas pol beresiko senggol sana-sini, belum lagi dihadang polisi. Cari lumpur juga harus jauh ke tepi kota. Pun mencari tempat sepi, gelap, dan angker, mustahil didapat. Seolah takdirnya orang kota memang hidup aman dan nyaman tanpa ancaman sedikitpun.
.
Barangkali perlariannya ke maksiat seperti selingkuh, mabok, karaoke, judi, dan sejenisnya adalah upaya pencarian adrenalin itu. Bukankah tindakan ilegal selalu munculkan pola ‘deg-deg-ser’ di jantung? Ketika adrenalin meningkat sebab kuatir ketahuan istri atau suami, diburu polisi, digerebeg ormas, sampai rekaman viral, sungguh candu, kan? Kalau dibedah menggunakan pisau dari Maslow dengan kebutuhan dasar itu, hanya sebatas jasad saja ujungnya. Ketenangan tak semudah itu didapat.
.
Ada cara paling gila menurutku. Membedakannya dengan psikopat sangatlah sulit. Mereka ini kaum 'troublemaker', ke manapun pergi selalu bikin masalah. Entah dengan mengada-adakan masalah, memancing tanpa niat mendapatkan ikan tapi memperkeruh air yang bening, dan seterusnya. Manusia jenis ini barangkali begitu haus adrenalin sampai masalah pun dia cari demi kepuasan. Terlebih jika sebelumnya juga anak motor, dan setelah menikah tak bisa touring lintas kota sebab dimarahi istri, wah, itu paling apes orangnya.
.
Teman-temanku gila-gilaan koleksinya. Ada yang mobil sport dengan pajak dan perawatan bulanan berkalilipat pendapatanku, pun hobi jalan-jalan ke luar negeri. Tapi apakah hati mereka tenang? Ketika sesi ‘rasan-rasan’ dimulai, tak jarang mata mereka sembab dan teteskan air mata. Keluhan tentang entah hubungan dengan keluarga yang merenggang, apes di satu bidang profesional, sampai hampa tanpa merasakan apa-apa di tiap harinya. Padahal secara kebutuhan primer, sekunder, sampai tersier, sudah terpenuhi semua.
.
Terus masalahnya ada di mana? Apa yang kurang di hidup kaum 1 % itu? Ketenangan batin, lepas dari kekuatiran akan persoalan duniawi. Bukankah istri, anak, usaha, sampai relasi tak abadi? Semua akan pergi pada waktu kadaluarsanya. Lihatlah Nuh, istri Firaun yang direbus minyak sampai wafat, dan banyak tokoh lain. Kebaikan mereka yang sudah sampai puncak tetap tak mampu menolong orang terdekatnya. Itu yang hidup ruhaninya beres, lha kalau ‘mblangsak’ macam diriku gimana?
.
Ada juga sih kawan-kawan pemain proyek yang seolah bahagia di depan umum. Sandangnya nomer wahid, tunggangannya besar dan mewah, rumahnya sekian miliar rupiah harganya, makannya pun selalu di tempat khusus, dan semua terlacak ketika dia unggah di medsos atau ketika bertemu teman masa sekolah. Tapi sempatkan bicara empat mata dengan mereka, telisik di mana ia merasa kurang dengan dunia serba berkelimpahan. Ibadah mereka jos, sedekah dan zakat tak pernah lupa, meski suap tak pernah lupa dilakukan sebagai pelicin tender.
.
Kukira pada titik puncak kepemilikan semacam itu akan muncul kehausan di dalam diri. Setidaknya itu yang kurasakan ketika seolah dunia sudah bertekuk lutut di depan mata. Tetap ada yang kosong tanpa terdefinisikan namanya. Menimba ilmu ke mana-mana berbuah ketenangan temporal, sementara dalam hitungan harian saja. Waktu bertahun-tahun itu belum menemukan yang memberi ketenangan secara permanen. Padahal secara laku sedang menjemput ketenangan juga.
.
Kemudian waktu seolah semua upaya pencarian adrenalin dengan bentuk berbeda itu temukan muaranya. Pada titik pendakian nan berat yang seolah tak berbatas. Ketika sebelumnya selalu merasa sudah tahu di titik tertentu ketika sang pengisi materi tak mampu beri jawaban memuaskan, kini memasuki samudera tanpa tepi. Pertanyaan tak akan terjawab sebelum membuktikan di kenyataan sehari-hari. Model pengajaran seperti yang Ibnu Rusdi dan Ibnu Arabi sering sebut, kukira.
.
Jika bertahun sebelumnya kuisi dengan penaklukan-penaklukan, baik secara prestasi di ekosospolbudhankam, kini pada penundukkan diri sendiri sedalam-dalam. Persis kata Ibnu Athaillah dalam Hikam, ‘benamkan dirimu di bumi kekosongan’. Tak menjadi siapa-siapa, tak memiliki apa-apa, tak ingin apa-apa di dunia, adalah pilihan dari yang tersedia, bukan yang dipilihkan takdir atas diri. Memilih puasa bukan karena memang tak ada yang dimakan, tapi ketika berlimpah ruah menu sedap di atas meja makan.
.
Inilah ‘One Piece’ yang kucari-cari sedari awal membaca manga itu. Harta karun tanpa imajinasi dan tak pernah ada perhentian dalam pencarian. Selalu ada anak tangga menuju tujuan justru dengan menaklukkan diri sampai titik serendah-rendahnya. Sebab laku Malamatiyah dan Uwaisiyah sangat terasa menantang dengan berbagai anomali dan kontradiksi yang diamalkan. Hanya saja itu tingkatan ‘advance’ untukku yang masih noob, anak magang ini.
.
Toh pada akhirnya bukan adrenalin yang puaskan diri. Tapi pemahaman pada yang baru, dunia akan lebih luas daripada sekadar menutup utang tiap bulan, membayar karyawan meski gaya hidup harus diminimalkan, pokoknya terus berkorban sampai habis-habisan. Tentu tetap pertimbangkan keseimbangan dengan pasrah total. Dunia hanya sebatas penggugur kewajiban memenuhi peran berbuat baik, menebar benih manfaat di manapun dan kapanpun berada.
.
Bukankah memang visi menjadi pohon berbuah harus ditanamkan tanpa henti? Agar tak mandeg seperti air di comberan seperti wejangan Imam Syafii soal keberkahan merantau. Terus mengalir meski tubuh terdiam di satu ruang. Berkelana di era kekinian bisa dengan menatap layar, menggerakkan jemari di atas papan ketuk, dan merawat sekitar hingga titik puncak kebermanfaatan. Konsep mengangkat derajat dari yang kurang nendang menjadi sangat membuat ketagihan. Tentu dengan panduan syariat fikih agar lebih terukur secara progres.
.
Kupikir jalan ini memang paling cocok bagi masyarakat perkotaan yang dari bangun sampai tidur lagi dikejar ketergesaan. Makan harus sambil berdiri demi tak terjebak macet, berangkat pagi buta demi kejar absen ‘fingerprint’, dan di sepanjang jeda antar waktu diisi dengan melihat kehidupan oranglain di medsos. Ya jika hati sudah sehat, kalau belum maka yang muncul iri, dengki, hasud, dan rasa rendah diri pada manusia. Padahal seperti disebut di atas, dan ini fakta, belum tentu mereka yang mengesankan diri ada di puncak sukses tengah berbahagia dengan kehidupannya.
.
Akhirul ngoceh, aku hanya bisa membagi hasilku menempuh pendakian yang berat ini. Konsep dari Mas Rizal WarungKami saat melihatku terengah-engah jejaki anak tangga menuju Gunung Kamulyan. ‘Ketemu Gusti Allah atau sekedar surga pun pendakiannya melelahkan gitu ya, Mas. Gak segampang pas jalanan rata saja’, katanya. Sebuah celetukan dari pendaki veteran pada pendaki amatiran kebesaran perut. Betul kukira jalan sunyinya jalan sunyi ini. Sudah bukan pandangan dunia lagi yang dijadikan dasarnya lakukan sesuatu, tapi Pemilik Semesta-lah sebagai indikator. Ketakutan 'la ubali' ala Mbah Nun terasa betul tiap saat/
Kebahagiaan, sebagaimana dituangkan Imam Ghazali dalam Kimiyatussa’adah, sebenarnya sangat mudah didapat. Asal paham ilmunya, kelar sudah. Berani coba untuk bahagia yang sebenarnya?” Tukas Kang Kuat di angkringan berliterasi di bilangan Semarang itu.

0 comments:

Post a Comment