Thursday, April 16, 2020

Biarkan, biarkan, biarkan

Menua menuju senja. Masih berontak seolah remaja. Sistem norma diterjang, hormat dilabrak. Dikucilkan, usai menyendiri. Meludahi tanpa peduli. Baginya, ajaran baik hanya di bangku anak didik. Di luar pagar profesi, ia mewujud lebih brutal dari kaum jelata. Bicaranya keras, kosakatanya kasar, gestur tubuhnya angkuh, dan terus lihat buruk dari segala baik.
.
Doa bagi ia sudi kau panjatkan? Meski usiamu jauh lebih muda. Ia telah sakiti seluruh kawanan berhati lembut. Kaum tua terisak kecewa. Generasi muda dendam membara. Ingin lumat hingga tak berdaya. Siapa ia begitu durhaka? Tak dibesarkan cinta? Atau titisan Durga? Entah, serupa misteri titi kala mangsa. Ia tak terduga.
.
Biarkan, biarkan, biarkan. Nasib serupa di depan mata. Tak terlampau jauh jarak antar masa. Sengsara akan didapati jiwa penyiksa. Karma tak kenal lupa. Kembali, bumerang pulang. Kasiani hari tua. Renta tanpa siapa-siapa. Dibuang, buah dari membuang. Dicerca atas aib tak bernama. Kecuali, seberat angkat derita atas nama ganti dosa. Maaf, harus menderas dari mulut si bangka.
 

0 comments:

Post a Comment