Thursday, April 16, 2020

blunder pada omongannya sendiri

"Iya, aku tahu senior itu blunder pada omongannya sendiri ketika masih memimpin rapat gerakan entah sekian tahun silam itu. Tapi ingat, itu sudah menjadi kewajaran begitu masuk gerbang istana. Apalagi ketika transferan yang mengalahkan gaji karyawan start-up itu masuk rutin tiap bulan. Belum lagi fasilitas dikawal patwal ke mana-mana dengan sirene meraung. Hm, kemacetan Jakarta sih gak ada tajinya bagi lingkaran istana.
.
Aku pernah membaca tentang cara menguji jati diri seseorang seutuhnya. Salahsatunya dengan memberi kekuasaan padanya. Tentu selain harta dan wanita. Tiga hal yang menurut Ronggowarsito sebagai pengalih utama manusia dari tujuan pokoknya hidup di dunia. Wajar saja seorang kere-hore macam diriku rajin puasa, anti molimo, lha gak sanggup, je. Lha kalau aku dikasih duit segepok? Weleh-weleh, kuatirnya lari ke Alexis dan konco-konconya, surga dunia ala-ala.
.
Ada banyak sosok yang saat mereka belum berkuasa, berkoar segala cara hadapi lawan dengan penuh keberanian. Bahkan rekam jejak digital sebut bahwa negara-negara adikuasa macam Cina dan Amerika Serikat bakal takut pada mereka (ssst, mereka bukan pengikut Kerajaan Agung Sejagad atau Kerajaan Sunda, lho). Termasuk soal utang negara yang kandas demi program-program penguras kas negara seperti Dana Aspirasi Masyarakat yang masuk kantong parpol itu. Besarannya kan naik sekian ratus persen dari sebelumnya. Jika ditotal akan kalahkan total anggaran mitigasi bencana sepertinya.
.
Okelah kalau perseorang banyak faktor penggoyahnya. Tapi kalau itu merasuki sebuah badan organisasi? Wah, kan lucu jika lembaga dengan AD/ART malah 'esuk dele, sore tempe', gak konsisten. Masalah pelik bangsa yang meski sudah pernah dicontohi visi-misi ala Repelita atau MDGs, tetap saja asik mengejar bayangnya sendiri. Bukan mengurus rakyat yang makin kere, dengan alasan statistik sebut angka kemiskinan menurun sekian persen.
.
Bagi para pekerja angka, termasuk pengambil kebijakan yang mendasarkan keputusannya pada lembar-lembar data, kenyataan lapangan hanya pepesan kosong belaka. Klarifikasi sederhana seperti 'blusukan' yang pernah jadi trending gara-gara digarap Agensi Permak Multinasional, kini hilang gaungnya. Gak usahlah menyalahkan media massa yang kini banyak menganut Asal Bapak Senang. Selain saham dibeli kroni penguasa agar bisa mengontrol postingan dan cetakan, siapa sih yang mau kena pasal UU ITE dan disetrum di saat interogasi. Idih, ini bukan Guantanamo lho Bro! Soal mereka suka 'click-bait', barangkali hanya itu cara satu-satunya mereka selamatkan keuangan kantor. Hei, Dude, algoritma Instagram sekarang berubah, susah dapat cuan kalau gak bayar!
.
Kukira gagasan ala Sayyidina Umar bin Khattab, preman pasar naik tahta versi salahsatu ustad hijrah, saat jadi khilafah sangatlah utopis. Mana mungkinlah penguasa sekarang, entah atasan atau kroco bawahan, sudi angkat karung berisi beras ke kolong jembatan apalagi pelosok desa. Berkilah bahwa itu tugas utama Bulog sudah pasti dikedepankan. Perkara jika kemudian BUMN itu memusnahkan entah berapa juta ton beras demi stabilkan harga pasar, dianggap urusan lain. Beras sebanyak itu bisa bikin 'mblending' entah berapa juta orang kere-nelangsa di bawah langit ini.
.
Tempo hari pernah kukatakan bahwa jebolan pendidikan dan kultur lingkungan kerja militeristik belum tentu gampang marah, sedangkan sipil 7 turunan gak pasti mudah ramah. Pada satu titik balik, arus akan membalik 'coping-mechanism' pengendalian diri itu. Teori kerumunan bisa menjadikan seorang profesor ikut mengadili maling jemuran secara membabi buta. Tanpa perlu membawa-bawa 'Mbah Dok' dalam Desa Penari, logika sudah bisa memprediksi hal serupa. Seekor anak singa akan mengeong ketika sedari kecil dibesarkan induk kucing. Pun berlaku sebaliknya.
.
Kalaulah gambaran Shio-Shio ala kalender Cina banyak beririsan dengan Primbon racikan Ronggowarsito yang juga memodifikasi temuan Jayabaya, barangkali memang demikian adanya kebenaran itu. Tinggal penggunaan sistem itu yang bertujuan berlainan. Di Jawa, astronomi dan astrologi dipakai untuk penempaan spiritual, sedangkan di Tibet, teknik serupa digunakan untuk memaksimalkan potensi jasad dan ruh. Tak lain semata agar jiwa hidup segar-bugar sehingga bisa arungi 14 juta tahun alam kubur setidaknya, sampai kelak dicuci dengan konsep reinkarnasi. Konsep yang 11-12 dengan ala Islam, Jawa, dan aneka tradisi lain, tentu kecuali reinkarnasi.
.
Terus kita hanya bisa memandang para pria berpundak penuh bintang itu dengan kewajaran? Berargumentasi seperti barusan, lantas timbul pemakluman bangsa garuda ini dilihat sebagai emprit yang mencuit sakit oleh negara-negara dunia? Sekian tahun silam aku masih ingat beberapa jaringan kawan semangat sambut bonus demografi yang tertinggi dari negeri-negeri lain di dunia. Kini, orang-orang itu berbalik dan memanggil fenomena lebih banyak kaum usia produktif daripada non-produktif ini sebagai beban demografi. Kutukan, itu yang mereka presentasikan di lembaga-lembaga kelas dunia. Tentu demi dana kampanye pencegahan mengucur deras.
.
Tak heran jika pucuk-pucuk kementerian berisikan para pengusaha yang biasa dipanggil konglomerat. Langkah mematikan jika dilihat dari sejarah ke belakang bangsa ini, sampai era Majapahit setidaknya. Kala itu orang asing dan pengusaha ada di prioritas paling bawah soal menerima mandat kekuasaan. Bahkan di bawah para petani, nelayan, dan perawat alam. Sekarang, malah beberapa tokoh asing dan aseng dijadikan sebagai konsultan utama pemindahan ibukota negeri dari Tanah Jawa. Konon, langkah ini ada efek kualat tersendiri di dunia 'sama'. Kalau merujuk Ki Agus Sunyoto, pola inilah yang membuat Islam susah diterima di negeri ini meski sudah hadir sedari masa para sahabat nabi.
.
Itu barangkali yang melatarbelakangi Syeikh Subakir dan Syeikh Jumadil Kubro, utusan Kekhalifahan Ottoman pilih metode infiltrasi yang lain. Beradaptasi di Campa, menyesap perlahan atmosfer Asia Tenggara, berbuah manis ketika dengan waktu singkat mampu memiliki Pondok Pesantren pertama di dalam istana Majapahit. Menempatkan diri sebagai Brahmana-Ksatria, Islam diterima mulai dari tingkat teratas trah darah para bangsawan, di mana konon raja adalah titisan dewa. Tak heran, rakyat jelata berbondong-bondong memasuki Islam berdasarkan patuh pada penguasanya.
.
Fakta sekarang ini sebut memang yang dikehendaki para penguasa kita berbeda jauh dari penguasa era kerajaan dulu. Serba instan menuntut kebijakan lama yang terbukti jadi solusi praktis malah ditanggalkan demi alasan komisi sekian persen. Penciptaan tenaga kerja murah meriah tanpa potensi protes, mulai dikondisikan sedari sekarang. Satu Omnibus Law berproses 100 hari mampu menerabas 75 Undang-Undang yang digodog entah berapa puluh tahun silam. Entah demi apa jika bukan tuntutan dunia industri.
.
Pendidikan formal pun sudah mengukuhkan dirinya dalam menara gading. Padahal gading mana yang tak retak, pun gajah mati meninggalkan gading saja. Dilihat saja berapa persen produk pendidikan yang mampu mempermudah hidup manusia-manusia kesusahan dalam kesehariannya. Jika patokan berkah suatu ilmu dilihat dari radius kebermanfaatannya, kukira nol besar bakal mudah terlihat. Adanya hanya tumpukan pengangguran yang makin berat rasionya. Sudah begitu, dihajar seminar-seminar yang menghina para pekerja dengan dogma bahwa tiap orang bisa jadi wirausahawan.
.
Terus omongan senja-senja tai anjing ini mau di kemanakan? Sebatas rasan-rasan para singa yang mengeong? Okelah kalau itu dipakai untuk menguliti aib oranglain. Tapi tugas pribadinya bagaimana? Yakin bukan singa yang mengeong juga? Masih takut ngaji gara-gara gak diijiinkan istri dan anak? Atau masih kuatir perintah atasan yang jelas haramnya dan korupsi dianggap tak terhindarkan? Hati-hati, jangan sampai buaya di depan mata tak kelihatan, malah membidik cicak di tembok sebelah rumah.
.
Kan gak afdol sudah pamer sangar dan gahar di medsos, tapi ditinggal rabi mantan langsung jadi sobat ambyar." Ucap Kang Sabar di teras surau.

0 comments:

Post a Comment