Thursday, April 16, 2020

fardu kifayah menemani yang sedang kesepian dan kesakitan

"Ternyata susah juga ngejalanin dawuh Mbah Nun, Kang. Kukira dulu gampang banget. Modal ngopi, nongkrong, dan rasan-rasan, dah tertunaikan tuh fardu kifayah menemani yang sedang kesepian dan kesakitan. Pada kenyataannya gak semudah dan senikmat itu. Terutama setelah pihak yang biasa ditemani ternyata gak cuma menusuk dari belakang, tapi sampai melempar granat ke depan kita dan lingkaran yang paling kita lindungi. Tantangannya ada di situ, gak nyaman banget." Sambat Kang Kuat pagi ini di ruang tamu.
.
"Ya gakpapa, di usiamu yang masih 25 tahun memang hal begitu wajar. Pasti berat. Maunya nongkrong ya yang sefrekuensi dan sama-sama nguntungin. Cuma itu kan kalau nongkrong sama yang sefrekuensi. Gak nyaman klo sampe kesusahan cari topik pembicaraan, kan? DI usiamu gitu, susah ada di tahap mendengarkan. Maunya ngomong terus sok ngasih solusi dan sok paling menderita di dunia. Aku juga begitu waktu awal-awal menikah di usia segitu." Hibur Kang Sabar sembari menyodorkan kopi Kalosi Toraja.
.
"Lha iya, aku heran fenomena segitu gampang nembung utang ke orang yang memang secara logika belum stabil keuangannya. Itupun demi gaya hidup yang gila-gilaan borosnya. Seolah konsumsinya gak mikir seberapa pengeluaran dan pemasukan yang entah darimana. Penyalahgunaan dawuh Mbah Nun tentang pasrah pada takdir. Padahal kan takdir itu sendiri ada yang read-only dan ada yang bisa dimodifikasi. Herannya, mereka ini dianggap tokoh dan diberi panggung, sudah begitu masih didengarkan omongannya." Imbuh Kang Kuat usai melepas jaket kulit bikinan UMKM yang dia temani.
.
"Tafsir kita pada segala informasi yang diserap memang rawan disetir nafsu jika tak terkendali. Ambillah dalil 'mereka yang mati berjihad sejatinya tidak mati' idaman kaum haus darah. Disangka dengan bunuh diri dan membunuh bisa permudah jalan menuju kedamaian di alam kubur. Padahal kaum sufi sendiri juga gunakan dalil serupa untuk gambarkan efek amal jariyah selama hidup. Selama manfaat yang ditinggal si mayit masih terasa bahkan sampai tujuh turunan, selama itu juga ia masih hidup. Persis konsep dalam film animasi berjudul Coco." Kang Sabar duduk lesehan, mengambil mendoan yang baru ia goreng sendiri.
.
"Iya sih fenomena omong doang begitu sudah umum. Termasuk ketika yang menagih utang kalah ngeri dibanding yang ditagih. Aku mulai ambil jarak dari sosok-sosok begituan. Aku nolak ngutangi, dia pasti nyari sumber utangan lain. Parahnya, seolah gak ada iktikad baik untuk nyarutangi. Padahal sekere hore begini, klo tenggat utangku telat ya apapun siap kugadai di pegadaian. Asal komitmen gak telat bayar. Sampai anak-anak milineal kemarin bikin komik, meme, sampai tweet soal fenomena kalah galak ini." Ujar si jomblo yang masih menunggu jodohnya tepluk dari langit.
.
"Klo di usiaku yang kepala tiga ini bisa melihat dan keluhkan para orangtua muda minim pengetahuan soal asuh anak dan keluarga, di usiamu juga sambat hal yang kurang lebih sama. Kedua fenomena ini bersumber dari minimnya pendidikan sektor serupa di jenjang pendidikan wajib. Mana ada kelas parenting di program Wajib Belajar 9 tahun itu. Pun juga financial planning gak diajarkan di jurusan Sosial tingkat SMA sekalipun. Padahal dua pendidikan ini kebutuhan paling mendasar setelah seseorang masuk dunia kerja." Ucap pria tambun bersarung dengan cangkir kopi di tangan kanan.
.
"Terus kalau sudah terlanjur lulus dari jenjang sekolah 9 tahun gimana? Aku kan gak kuliah juga tuh. Bisaku ya cuma kerja seadanya. Manut sama bos, amanah dan jujur semaksimalnya. Belajarku ya cuma simak channel Youtube, podcast di Spotify, dan baca-baca saja. Sesekali ngaji kitab ke kiai-kiai secara offline. Apa begitu sudah cukup? Kalau pakai standar berkah tuh terhindari dari penipuan, apes, dan gak gelisah, kayaknya aku sudah begitu. Soal pemasukan selalu kandas demi ini-itu yang kebutuhan sih soal lain. Setidaknya ada dana darurat kalau ada kejadian tak terduga." Tanya si pria berambut ikal sepunggung itu.
.
"Ya kita kejar indikator keberhasilan saja. Berarti rejekimu sudah berkah kalau menurut Yai Sepuh. Pakai standar 15% dari sisa bersih pengeluaran kebutuhan bulanan sudah ditunaikan, ya tinggal investasikan ke saham saja. Kamu sudah paham soal mekanisme yang tiga bulanan, kerjanya cuma beberapa hari menganalisis laporan keuangan emiten-emiten tertentu. Soal nikah diplanning ambil dari investasi boleh, bagusnya sih dibikin pos sendiri. Tugas kita di umur segini kan menata hidup serapi mungkin agar setidaknya gak merepotkan siapapun." Jawab Kang Sabar.
.
"Tapi kan Mbah Nun gak dawuh sampai serinci itu, Kang. Intinya ya pasrah bongkokan ke Gusti Allah. Dihabiskan buat oranglain. Sampai sakit-sakitan, ada yang dicerai istri gara-gara sibuk mentingin umat, sampai kerjaan profesional berantakan demi alasan dakwah. Fenomena totalitas kayak gitu kan ada juga di tengah era kekinian ini. Aku aja digugat waktu hobiku mainan moge dicap gak zuhud dan gak mau ngutangi oranglain dengan alasan semua anggaranku sudah masuk pos masing-masing." Kilah Kang Kuat ang sebentar-sebentar melirik Asus ROG-nya.
.
"Gini, aku emang sudah lama gak update dari Mbah Nun. Cuma materi dari waktu-waktu lalu masih terngiang jelas di kepalaku. Mbah Nun sering dawuh soal 'kamu lebih tahu urusan profesionalmu daripada aku', mengutip hadis Kanjeng Nabi saat disalahkan petani kurma yang gugat beliau lantaran sarannya berbuah produktifitas panen menurun. Jadi, soal manajemen pribadi, entah itu keuangan sampai waktu dan energi, Mbah Nun menyerahkan pada pola tiap manusia. Ini sering dipakai untuk menjawab soal kontradiksi merokok dan kesehatan.
.
Terus Mbah Nun sering kutip kisah penjual sate Madura yang membagi pemasukan harian dalam tiga toples. Uang dari satu pembeli masuk pos belanja ulang esok hari, uang dari satu pembeli lagi untuk kebutuhan keluarga dan pribadi, nah, satu pembeli lagi tak ditentukan jumlahnya masuk toples yang bisa dipendam dalam tanah atau sembunyikan untuk kebutuhan sosial, agama, dan dana darurat. Jangan bandingkan dirimu dengan laku hidup Mbah Nun sedari muda. Kamu gak akan kuat, biar Mbah Nun saja dengan tempaan sedari sedari kecil saja yang lakuin." Kata Kang Sabar panjang lebar.
.
"Berarti tetap kepada otonomi kita sebagai individu dalam menjalani sehari-hari ya? Gak usah terlalu jalani laku prihatin yang bisa jadi tidak dilatihkan pada kita sedari belia oleh lingkungan terdekat, tapi ala kadarnya saja. Gak terpaku zona nyaman dan mencari dalil dan dalih dari oranglain untuk menghibur diri dari kemalasan dan kemiskinan yang terus mencengkeram. Kalau dawuh Kakak Yai Banyubening, 'miskin itu pilihan gaya hidup setelah kaya raya, bukan karena miskin terpaksa situasi dan keadaan tanpa mau berusaha keluar darinya'. Gitu?" Simpul Kang Kuat.
.
"Senangkepku sih gitu. Kalau memang ada keliru, pasti berasal dari salah tafsirku atas ngaji selama ini. Kalau kebetulan pas, ya Gusti Allah memang menghendaki gitu." Tutur Kang Sabar sebelum menerima telepon dari ujung negeri.

0 comments:

Post a Comment