Thursday, April 16, 2020

gegeran dengan pasangan hidup

“Menikah bertahun-tahun silam pun masih berpeluang ada gegeran juga dengan pasangan hidup, lho. Tak hanya menimpa yang tengah di fase pendekatan pacaran. Biasanya sebelum usia 30 tahun yang dibedah adalah secara psikologis masing-masing orang. Entah kemapanan ekonomi, status sosial di lingkungan, wibawa di wilayah profesional, serta pola perilaku pasangan lain yang bisa jadi teladan atau malah contoh buruk.
.
Hari kemarin BBC merilis laporan tentang temuan angka perceraian meningkat drastis di Swedia. Negara dengan sistem kesejahteraan dan kesetaraan gender tertinggi di dunia Barat. Berbondong-bondong pakar hubungan interpersonal memamerkan hasil temuan di banyak kasus perceraian 'alpha-female' yang berperan sebagai CEO. Dari angka statistik dibedah sampai tipis sekali meski pada akhirnya belum ada titik solusi yang menembak inti permasalahan.
.
Banyak janda muda di negeri ini disebabkan masalah perekonomian dan kestabilan emosi. Sebuah fenomena yang dianggap wajar sebab memang ‘coping-mechanism’, penenangan diri, apalagi sampai pelajaran cara menjadi pasangan hidup atau orangtua tak diajarkan dalam kurikulum Wajib Belajar 9 tahun. Padahal mayoritas penduduk negeri ini melengkungkan janur kuning usai lulus SMA dan mendapat pekerjaan. Jika membebankan tugas mengajari tips-trik hidup ke pundak para guru ngaji, akan kurang terasa dampaknya sebab secuil yang mau hadir di forum sejenis. Meski bisa jadi peran itu sudah banyak dilakukan kaum da’i yang naik turun panggung juga.
.
Kembali ke Swedia, di sana para wanita dengan karir dan pendapatan lebih besar dari suaminya tak sedikit berujung perceraian. Umumnya berasal dari suami-suami yang kemudian sadar pada posisinya yang lebih rendah. Bahasa anak sekarangnya adalah ‘insecure’. Menuju rendah diri di hadapan istri yang secara kultur patriarkis justru harus berada di bawah derajat suami. Studi kasus para CEO itu berkutat seputar kebahagiaan dan ketenangan yang beda versi antara suami dan istri.
.
Kita tanggalkan dulu kasus di Indonesia yang bercerai sebab kurang belanja dan ribut untuk urusan sepele, ya. Selain sudah mafhum begitu secara logika dasar dan termaktub dalam Kitab-kitab Fikih ribuan tahun ini. Aku pun setuju pada pendapat Buya Syakur bahwa sebangsat apapun pasangan, harus disabari demi langgeng. Konsep anti bercerai beliau persis dalam dogma Katolik. Kenyataan di lapangan juga tunjukkan bahwa yang sudah bercerai juga kebanyakan terbengkalai. Terutama bagi pihak wanita dan anak-anaknya.
.
Titik ekstrim solusi dari Buya Syakur adalah menganggap tengah memelihara hewan di rumah. Asal dilayani kebutuhannya, gugur sudah kewajiban sebagai pasangan. Sisanya difokuskan ke perbaikan individu dan anak-anak jika memang sudah memiliki penerus. Aneka pilihan laku bisa dipilih untuk memperkuat rasa syukur dan sabar. Ini bukan bentuk mengalah keadaan tapi justru meminta kekuatan untuk memikul beban yang terus bertambah. Barangkali ini diambil dari laku istri Firaun yang direbus minyak mendidih bersama tukang sisirnya yang dijatah surga sebab pertahankan ketauhidan.
.
Di Swedia, tunjukkan juga bahwa keberlimpahan materi, kemapanan status sosial, kekuatan pengaruh, serta tingginya budaya tak mempan hadang perceraian. Para istri dengan jabatan mentereng keluhkan sikap suami yang seolah tak siap menerima fakta pasangannya bukan istri biasa. Tentu tenaga dan waktu habis untuk melayani lingkup kebermanfaatan lebih luas. Sungguh lumrah jika kemudian saat pulang ke rumah sudah habis semuanya. Ibaratnya, suami hanya menerima sisa-sia.
.
Bahkan ketika langkah-langkah psikologis moderen sudah ditunaikan, masih saja ada yang kurang. Ini mirip di film berjudul ‘Marriage Story’. Pemenuhan kebutuhan ala Maslow terbentur dimensi tanpa nama. Maka, kemudian muncul irisan Diagram Venn masalah itu. Sebenarnya kesadaran akan visi dan misi selama berumahtangga sangat penting dikomunikasikan. Pembagian peran antara suami dan istri secara jelas tak akan kaburkan batasan. Suami tak usah urusi masalah dapur-sumur-kasur, istri pun tak akan ganggu suami di teras-amben-meja kerja.
.
Melihat Sayyidina Khadijah tentu kita akan melihat betapa beliau ikut juga membabat alas bersama sang suami. Pengorbanan gila-gilaan dari hasilnya berdagang ekspor-impor. Termasuk gunakan pengaruh sosial dan politiknya untuk melindungi sang kekasih. Sayyidina Aisyah di kemudian hari dengan ketajaman akalnya menjadi guru bagi para sahabat selepas sang suami wafat. Para istri ulama tak kalah sangar, ada Cut Nyak Dien, Laksamana Malahayati, Dewi Sartika, Kartini, termasuk nyai-nyai sepuh hingga hari ini. Semuanya berkarakter singa tapi tetap saja bisa bersinergi bersama sang suami yang juga singa. Kapan mereka sempat 'family-time' dan 'me-time'? Anomali yang keren, kan?
.
Kemungkinan kebingungan dunia barat pada lonjakan angka perpisahan ini sebab yang dicari hanya tataran jasad saja. Pertimbangan duniawi menjadi pijakan melamar seseorang. Entah karena fisik, perbuatan baik, hingga simpati-empati lawan jenis itu. Padahal Kanjeng Nabi mengatakan seseorang yang hijrah hanya akan mendapatkan apa yang dituju olehnya. Berperang ingin ghanimah bakal dapat bertumpuk harta, sederet budak juga dijatah banyak, tapi sayangnya tak dapat ridho Gusti Allah. Indikator berkah itu adalah manfaat yang keluar dari yang dicita-citakan itu. Paling sederhana adalah apakah setelah menikah justru kebermanfaatan seseorang jauh berkurang sebab dikurung ‘family-time’ di rumah.
.
Menikah sendiri adalah proses hijrah dari keakuan menjadi kekamian. Saling meleburkan diri untuk menuju tujuan yang sama. Seharusnya mengabdi pada Gusti Allah, menjadi manfaat yang tergandakan seperti rumus rejeki yang dikalilipatkan juga. Bukan malah sibuk mengukur pencapaian materi diri sendiri dengan yang di atasnya. Prinsip terbalik di mana seyogyanya memandang ke atas hanya pada wilayah ibadah, sedangkan untuk urusan harta, tahta, dan cinta, cukup lihat yang di bawah. Semata agar muncul ‘acceptance’, penerimaan sehingga tak ‘denial’, kufur nikmat terus. Ingat, Gusti Allah akan mengambil yang tak kita syukuri dan menambah yang disyukuri.
.
Untunglah Islam melalui bidang tasawuf memiliki solusi untuk persoalan ini. Ketika di usia masuk kepala 3 masih belum sakinah atau tenang, apalagi mawadah atau cinta berkurang, terlebih tak warrahmah atau memberi manfaat lebih ke sekitar, bahaya. Perlu ditelisik lagi di alam ruh kedua pihak. Jangan-jangan pas ijab qabul dulu belum sadar jika tugas membimbing ruh istri diserahkan dari ayah mertua ke pundak suami. Lupa bahwa selama ini yang disayangi dan dicintai hanyalah fisik yang akan keriput dan perilaku baik yang bisa jadi hanya pencitraan. Reset pernikahan perlu dilakukan dengan serius dibimbing ulama yang sudah alami fase serupa.
.
Uniknya, membimbing ruh tidaklah dengan menasehati, apalagi memarahi. Melainkan diam, memberi contoh, sabar, berpuasa dari bicara yang bisa jadi sumber masalah, tentunya menguatkan ruh diri sendiri dulu. Ketika ruh sendiri sudah kuat, akan mampu membimbing ruh pasangan tanpa bicara sekalipun. Gusti Allah adalah Maha Pembolak-balik Hati, maka ketika pasangan hidupmu tengah rewel, bisa jadi itu cara-Nya memanggilmu pulang. Agar tak terus bersama secara fisik dan pikiran pada hubungan suami-istri dan anak. Harus berani uzlah seperti Kanjeng Nabi yang mulai tapa sedari umur 25 tahun hingga puncaknya ketika 40 tahun.
.
Ini juga alasanku getol meringsek zona tasawuf dengan bringas. Sebab solusi ala fikih sungguh ngeri-ngeri jenisnya. Kalau tak siap malah akan menambah masalah dengan masalah pembuat bubrah. Ketika masuk ranah pencucian hati di dunia sufi, justru kita bisa selamatkan pernikahan dan kembali berlayar langgeng menuju samudera ridho Illahi. Berani ngilu di jalur dingin membeku dan sunyi ini?” Ucap Kang Ikhlas pada kaum duda pemilik kuda besi ribuan cc.

0 comments:

Post a Comment