Thursday, April 16, 2020

Gimana sih biar ruh kita kuat

“Gimana sih biar ruh kita kuat, Kang? Katamu ‘mensana in corporesano’ itu kurang tepat. Prinsip yang Mbah Nun balik menjadi di dalam jiwa kuat pasti berdampak ke raga sehat. Meski bergaya hidup tak sehat menurut medis, tapi nyatanya paling bugar di antara kawan seumuran. Tanpa membatasi diri pada apapun yang masuk ke dalam diri. Sesederhana mengubah niat makan sesuatu.” Tanya Kang Kuat saat menanam Parijoto di Taman LincakSenthir.
.
“Lha, ruh itu sebenarnya adalah apapun yang kamu isi melalui panca inderamu. Kalau kata suku Indian, ‘tiap orang punya dua serigala dalam dirinya, baik dan buruk. Penentu mana yang tumbuh adalah sisi paling rutin diberi makan. Baik akan dominan kalau disuapi hal-hal kebaikan, tapi kalau diberi keburukan, bakal dia yang tumbuh.’ Kalau yang kamu dengarkan adalah sambatan berulang, keluh tanpa syukur, yang hadir rusaknya ruhmu.” Jawab Kang Sabar yang tengah merapikan posisi rambatan Binahong.
.
“Denger pengajian, pemecahan solusi atas permasalahan, sampai menghindari sesi ghibah tanpa mencari hikmah gitu? Kok sesederhana itu sih?” Tanya si pria berkaos bertuliskan JombloBerdaulat.
.
“Ya teori dan praktek yang kutahu sih gitu. Ibaratnya kan ruh itu listrik yang mengaliri ragamu. Nah, perlu di-‘charge’ ketika sudah ada peringatan ‘low battery’. Tinggal colokin ke listrik, ambil yang sudah diamankan meteran saja. Itu ibaratnya guru-guru terverifikasi sanad keilmuannya, tahu yang dibicarakannya tidak boleh asal ‘njeplak’. Kalau berkoar kembali ke Quran dan Sunnah tanpa panduan, itu seperti nyambung kabel serabut ke tiang listrik langsung. ‘Njeblug!’ Pastinya.” Sahut bapak berkolor ijo.
.
“Online bisa dong lewat Yutup atau cuplikan instagram? Kan untuk orang lapangan kayak kita susah cari waktu dan energi luang tuh untuk ngaji offline.” Kejar Kang Kuat.
.
“Kalau menurutku sih bisa sebab itu yang kulakuin bertahun-tahun ini. Daripada ndengerin musik asal-asalan dan efeknya gak jelas, mending dengerin pengajian saja. Mending ambil yang membahas kitab saja agar lebih terarah. Jika awalnya gak paham dan malah kliyengan, dipaksa terus. Sebab itu sedang meluaskan wadah pemahamanmu. Pertama kali mendengar Syaikh Hamza Yusuf dan Syaikh Abdullah bin Bayyah, aku mumet berhari-hari. Alhamdulillah sekarang bisa nyimak tanpa subtittle sekalipun.”
.
“Tapi niatku masih terus mencari lemahnya yang sedang ngaji gimana dong.”
.
“Nah tinggal tundukkan saja dirimu itu. Percuma mengisi ember yang sudah penuh. Harus dibuang dulu biar lancar jaya dapat isi baru. Mau sampai kapan terus membangkang sedang usia makin bertambah dan jatah hidup makin berkurang. Kita butuh jalan trabas tapi tidak senekat kerajaan-kerajaan KW itu ya.”
.
“Indikator ruh sudah diberi makan tuh apa?”
.
“Gak gampang galau soal urusan sepele sehari-hari. Bisa sabar dan syukur dalam ranah terkecil. Doa urusan ecek-ecek bisa terkabul, dan serangan pihak yang gak suka bertambah dan di luar logika.”
.
“Kok nyeremin sih?”
.
“Lho kan ujian kenaikan tingkat ya pasti begitu. Tenangmu akan diuji ketika lingkungan sekitarmu memfitnah gila-gilaan. Bahkan seluruh dunia yang kamu kenal seolah mengucilkan ke titik terhina. Gie saja maklum kok. Buat dia mending diasingkan daripada tunduk pada kemunafikan. Nah, buat kita, ya harus berani keluar dari zona nyaman.”
.
“Pola hidup begini sudah ada sedari jaman baheula, Kang. Tinggal lihat yang sudah sepuh-sepuh dan dengarkan nasehat mereka baik-baik. Mereka sudah melaluinya sedangkan kita masih terseok-seok. Itu juga bentuk jalan trabas lho. Tentu akan lebih sampai tujuan jika kita ditemani guide, kan? Kalau konsep baratnya ya mengelilingi diri dengan yang 10 tahun di bawah usia kita dan 10 tahun di atas kita.”
.
“Mirip prinsip regenerasi dan mentoring dong ya?”
.
“Yap. Sebab kalau kita harus andalkan akal kita doang, gak bakal sampai. Mau baca buku sampai berapa tahun untuk tahu yang cukup 10 menit mendengarkan? Toh buat apa ngeyel dan ngotot ke orang yang sudah lalui semua penderitaan itu. Salahsatu syarat disebut ulama kan karena sudah mengalami berbagai macam derita. Elon Musk bisa sampai titik ini karena dia rela hidup kere demi mimpinya.”
.
“Welah, jauh bener ngasih contohnya.”
.
“Lho, ruh itu gak kenal agama lho, Kang. Jika Gusti Allah maunya agama Cuma satu, sudah dimusnahkan lho semuanya. Nyatanya sekelas Taat Pribadi juga dibiarkan bertahun-tahun hadir sebagai penguji. Nyatanya para CEO kelas multinasional itu bisa sehari semalam Cuma tidur di bawah 5 jam lho. Itupun bisa membawa perusahaan mereka menuju titik puncak sukses menurut standar pemasaran.”
.
“Tapi mereka kan gak pernah dengerin pengajian, Kang?”
.
“Lho inti pengajian kan mengajak menuju kebaikan. Pengingat visi dan misi harian serta agar tinggalkan hal yang sia-sia. Pernah ketemu anak-anak TEDx atau NGO? Lihatlah bagaimana mereka sehari-hari mengisinya dengan pembicaraan penuh semangat. Gagasan-gagasan selalu di asah dan tak sempat mengisinya dengan ghibah tipis-tipis. Betul-betul fokus meski hal yang dilakukan tak hasilkan uang.”
.
“Tapi kok ada yang kukenal malah hidup dari proyek?”
.
“Ya itu wajar jika sebatas untuk penggunaan operasional harian. Tapi kalau yang untuk memperkaya diri memang ada. Anggap saja itu oknum seperti cara berkelit pihak-pihak tertentu ketika ada anggotanya yang tertangkap basah. Nyatanya mesti tak bergaji pasti, kebahagiaan mereka tetap memancar ke mana-mana. Tidak leha-leha, membiarkan barang-barang berantakan, apalagi sekadar Yutuban demi ngakak sesaat.”
.
“Lha iya waktu aku di dalamnya kan juga jauh dari religius. Tapi nyatanya bisa jalan puluhan kilometer tiap hari dengan beban di punggung juga puluhan kilogram. Tapi memang ada sesi briefing yang berisi tentang target harian serta motivasi berdasarkan pengalaman. Di lingkungan startup juga kutemui fenomena serupa. Spotify betul-betul dimanfaatkan sebagai mood booster dan pengendali emosi.”
.
“Jadi jangan ngerasa sudah kuat ruhnya gara-gara sering berkopyah, berbaju koko, bersarung, dan aroma semerbak sering dipakai. Ada orang-orang di luar pola tersebut yang tetap kuat juga ruhnya. Nanti bisa meluber ke bertambahnya energi jiwa didapat dari manfaat yang lahir dari panca indera kita. Semakin banyak meningkatkan derajat makhluk Gusti Allah, makin tambah langgeng juga jiwanya sampai petualangan alam-alam lain setelah mati.”
.
“Jadi Pekerjaan Rumahku adalah menyaring lebih rinci lagi apa yang kuindera ya?”
.
“Yoi. Makanya jangan mbribikin cewek terus. Biarlah jodoh datang dengan sendirinya tanpa perlu melototin instagram apalagi Tindir.”

0 comments:

Post a Comment