Thursday, April 16, 2020

Hidup asketis

"Ahli Suffah adalah sekelompok manusia yang sering 'keleleran' di sekitar Masjid Nabawi. Kerjaan mereka sehari-hari sangat serabutan. Prinsipnya hanyalah belajar pada sang nabi secara langsung. Sekitar 40-an orang dari berbagai wilayah, begitu setia meneladani hidup sang nabi. Sebuah cikal bakal proses pembelajaran tanpa henti.
Ratusan tahun sebelumnya sudah ada fenomena serupa di Kekaisaran Cina. Lao Tse sebagai guru utama memilih menyepi di tengah hutan bersama ratusan siswa. Secara terstruktur dan disiplin mereka mengkaji aneka kebijaksanaan yang kelak jua diluluhlantakkan Gerombolan Mongol. Hidup asketis atau prihatin pada pemenuhan kebutuhan dan tanggalkan keinginan jadi laku wajib. Hanya saja bagi seorang Kon Fu Tse, hidup menyendiri ala Lao Tse dinilai tak akan bawa perubahan apapun pada bangsa. Perbedaan pandangan yang kelak di Islam dialami oleh Imam Malik dan Imam Syafi'i menyoal rezeki.
Di Jawa, metode pembelajaran serupa Ahli Suffah sudah tersebar di aneka penjuru. Bahkan ketika Kutai Kertanegara selaku kerajaan pertama di Nusantara, sektor kaderisasi ini digarap serius oleh para brahmana. Tak ayal ksatria-ksatria sampai era Pangeran Diponegoro memiliki bekal fisik juga olah batin yang kuat. Perpecahan di antara sesama pejuang dilatarbelakangi selisih pendapat berujung darah tumpah sudah dicontohkan Raden Wijaya dan para pamannya. Para ultra-nasionalis atau tentu saja yang materialis tersebut bisa jadi berasal dari satu Kawah Candradimuka yang sama.
Para ahli suffah pun sering gegeran di antara mereka. Tapi oleh sang nabi hal itu diperbolehkan. Maka muncul prinsip perbedaan membawa berkah. Kini terbukti, ijtihad para ahli suffah mempermudah praktik agama di era ultra-moderen ini. Fikih pada titik lain tak melulu dijadikan bendera sekaligus benderang perang. Lantaran muncul pemahaman bahwa aturan seharusnya mempermudah, bukan memperumit kehidupan.
Mungkinkah sistem ahli suffah dimunculkan di kekinian? Sangat mungkin bahkan pada tataran informal. Bak padepokan Shaolin, jiwa raga murid ditempa sedemikian rupa tiap saat oleh sang guru. Apakah harus massal? Menilik keefektifitasan dan tujuan kualitatif seperti ahli suffah, semakin sedikit seolah semakin ampuh. Lihatlah Kiai Kasan Besari pada seorang Ronggowarsito, atau Cokroaminoto pada Sukarno, Semaun, dan Kartosuwiryo, tiga tokoh pendobrak intelektual Bangsa Belanda.
Sederhananya, metode ahli suffah ini adalah tim kecil yang bergerak sebagai dapur. Telik sandi utama era 4 khalifah utama ada pada kaum mbambung ini. Merekalah yang alami 5 fase kepemimpinan dan sering saling melawan satu sama lain sebab perbedaan pendapat. Sama-sama benar sebab Sang Nabi selaku mentor tak pernah menyalahkan. Bahkan sebagian amalan-amalan yang kini dianggap sunnah bahkan wajib adalah hasil kreasi kaum yang bakal dilabeli pecundang oleh standar hidup milineal kini.
Pertanyaan terbesarku, bisakah kita jadikan lingkaran tertentu sebagai boot-camp, inkubator, atau ahli suffah semacam itu? Dengan misi jelas sebagai upaya taktis harian, dan visi mantap dipegang hingga tujuh turunan. Kukira, daripada beretoris ria, lebih baik kita bereksperimen saja saat ini juga." Papar Kang Sabar pada beberapa kawan lawas di sebuah ruang serba hitam.

0 comments:

Post a Comment