Thursday, April 16, 2020

hutang bernama doa

Manusia tidak akan pernah lari dari hutang bernama doa. Sejauh apapun ia menjauhi titik poros tempatnya pernah mengakar, pasti akan kembali juga. Selama apapun ia telah meninggalkan kenangan, sebanyak apapun rumah singgah telah dijejaki. Manusia akan tetap kembali ke tempat di mana ada bisik-bisik hati melamatkan kerinduan.
Bagi seorang Khalid bin Walid yang tengah di titik puncak peperangan, rindu itu tak tertahan. Ia memilih pulang ke kampung halaman, mencecap atmosfer tempatnya dibesarkan. Meski dimarahi habis-habisan oleh sang khilafah kedua, apa daya, jika cinta sudah meluap membuahkan keresahan.
Pun bagi seorang pejalan penempuh kesunyian. Di mana sudut ruang dan pinggiran waktu menjadi saksi tempatnya mencintai. Apapun dan siapapun yang dijadikan tujuan kasih, Ia Maha Cinta selalu menyampaikan lewat kelembutan. Sebab siapalah penggerak hati selain Ia Sang Pencipta Terbolak-baliknya Hati.
Sekokoh apapun karang ke-aku-an dalam diri seseorang, akan luluh pada ketulusan tanpa pengharapan. Apalagi perjuangan dan pengorbanan telah disuguhkan di altar persembahan. Ia Maha Pengabul Doa akan seperti Tuhannya tiga pemuda yang terjebak di dalam gua. Masing-masing unjuk perilaku baik di masa lalu. Sebuah jalan di luar nalar ditempuh di tengah situasi tanpa titik temu.
Maka malam ini aku menjadi seorang saksi, bahwa Tuhan bekerja dengan misterius. Sebuah doa bisa menghadirkan dan merekatkan. Mengikat dalam kerinduan yang sama: akhir yang diidamkan setiap perindu: tetes air mata lega di kala nyawa di ujung raga.

0 comments:

Post a Comment