Thursday, April 16, 2020

kegusaranku pada penebangan 190 pohon

"Kukira, 190 pohon itu tak ridho tubuhnya ditebang hanya demi gelaran balapan mobil yang terjadi cuma dalam hitungan hari. Mereka butuh belasan bahkan puluhan tahun untuk capai kebermanfaatan sedahyat sekarang. Dikira menghirup polusi dan memberi naungan di teriknya Kota Metropolitan adalah tugas gampang? Coba deh tanya ke 'Umbrella-Girl' kala mesin-mesin elektrik mendesis dan mencicit. Apakah memang tugas menaungi itu perkara yang sepele?
.
Fungsi lain pohon kan juga menyerap air di sekitarnya. Menyimpan di dalam tubuhnya melalui jalur akar. Di tengah minimnya lahan terbuka hijau, tentu agak mustahil menyedot air hujan sebanyak-banyaknya. Meski terbukti sumur resapan dengan diameter semeter dan kedalaman lebih dari 2 meter itu gak manjur hadang curah hujan tinggi dan kiriman air dari daerah pegunungan. Setidaknya kaum yang berpikir bisa melihat bedanya antara fokus pada rumah-rumah pompa air versus menggali sumur yang jumlahnya gak seberapa itu.
.
Seolah solusi-solusi untuk tangani ini tidak saling bersinergi. Limpahan air bukan dibuang dengan pompa, apalagi pohon yang bakal ditebang, malah memasang alat berkoar-koar banjir datang. Hell-ooo, jaman medsos gini lo, lambe-lambe turah bakal auto nyinyir sendiri tanpa pakai TOA sekalipun, Cyin. Apalagi kalau laskar kek Lucinta Luna sudah turun kandang dan meringsek area twitwar maupun adu instastory.
.
Dengan anggaran yang sebesar itu, akan lebih berdampak jika melakukan perawatan pohon-pohon, peremajaan atau mengatur agar tak jadi bom waktu yang menjatuhi siapapun di bawahnya kala hujan angiin datang tiba-tiba. Kukira kebijakan serba ruwet itu berasal dari pola pikir yang entahlah, mungkin saja hanya demi terkesan wah saja. Ketika peneduh di terik kota besar tepat di atas jembatan penyeberangan dibuang demi alasan selfi, alangkah aduhai logika di baliknya. Pun ketika baksos numpang LSM lain demi entah apa, kan jadi blunder sendiri di mata netijen yang terhomat sekaligus biadab.
.
Sudah dirasa cukup me-roasting salahsatu contoh hasil "yang penting seiman", mari kita kembali ke soal pohon. Kukira banyak orang sekarang lupa pada peran pohon. Mereka bisa merasa sejuk di bawah AC sekian PK (sst, bukan Mbak-mbak PK lho yaaaa). Soal air juga sudah diatur PDAM dengan kualitas yang begitu. Perkara sumber air bersih yang terus menipis secara drastis di waduk-waduk akibat pendangkalan dan perubahan cuaca, sudah kuduga para konsumen membebankan kepasrahan pada Perusahaan Daerah itu.
.
Tentu saja kinerja mereka sangat profesional soal antisipasi krisis-krisis di masa mendatang dengan menganalisis pola di masa silam. Tidak Seperti Jiwasraya dan Asabri yang bisa rontok investasinya sampai 90% tanpa berpikir untuk 'cut-loss' ketika masuk minus 20%, batas maksimal kaum 'expert' di bidang saham. Pun juga tak seruwet Garuda yang sampai tega membuat laporan keuangan palsu untuk tutupi kekurangan. Soal gundik, Harley, juga Brompton, biarlah itu jadi urusan pihak berwenang saja. Aparat penegak hukum kita dan pengawas perusahaan tentu tak akan gemetar mendengar nama-nama besar yang saling terkait saut sama lain itu.
.
Keasikan ghibah nih sampai Out of topic. Menebang pohon pun diatur dalam Islam, Kang. Kukira dalam aturan main agama-agama lain juga ada. Misal dalam konsep Tri Hita Karana ala Hindu, atau peran merawat seperti dalam Budha, pun juga Kristen dan Katolik yang dicontohkan Rasul mereka, Isa, kala bepergian hanya membawa gayung, kutafsir usaha tidak menyimpan air di atas permukaan tanah. Demikian juga agama-agama lokal yang dikawal para Shaman, kaum bijak yang mendapat kewenangan menemani masyarakat di pedalaman.
.
Di Mentawai, sejak belasan ribu tahun silam ada hukum adat mengatur penebangan pohon. Pola yang kurang lebih sama ditemukan di tengah masyarakat Dayak, Badui Dalam, suku-suku di Papua, dan kukira di banyak tempat terpencil lain selalu ada. Di pedalaman Jawa ada aturan serupa hingga akhirnya era kemerdekaan menanggalkan kebijakan serupa di daerah perkotaan demi alasan pembangunan. Meski kemudian hari beberapa pemimpin daerah getol melakukan penghijauan di kanan-kiri jalan. Mereka, masih peduli soal pohon.
.
Era moderen bahkan mencoba menerapkan rasa terima kasih kepada pohon pinggir jalan sebagai penetralisir polusi dengan aturan tak boleh memaku tubuhnya. Tentu banyak pelanggaran terjadi oleh masyarakat sipil yang mau nampangin produknya secara sembrono dan gak mberkahi itu. Tapi Satpol PP juga tak letih-letih tunaikan kewajiban tertibkan hal begituan, sebab tak mungkin mereka hanya sibuk main gusur, kan?
.
Lebih gila lagi ya, bahkan Nabi Muhammad melarang memetik ranting kering ketika perang. Padahal kata Shakespeare, all is fair in love and war. Semua halal kalau lagi jatuh cinta dan perang. Lha, kan kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat. Begitu kata Guru Fisika SMP-ku dulu, Pak Haryono. Kalau memang ngaku Islam dan sungguh-sungguh maniak sunnah, tentu tak akan tebang pohon sembarangan dong. Apalagi alasannya hanya untuk acara balapan yang tentunya cewek-cewek seksi, alkohol, dan judi berseliweran. Kalau diseret ke ranah fikih, kukira lebih banyak mudharatnya daripada manfaatnya. Oiya, wejangan Nabi untuk akhir zaman kan tanamlah pohon meskipun cuma sebiji walau kamu tahu besok pagi Malaikat Isrofil tiba-tiba DM lewat tiupan Sangkakala-nya itu.
.
Kupastikan warga kere-hore macam saya, yang ketar-ketir ketika gas 3 kiloan mau dicabut subsidinya pertengahan tahun ini, gak bakal nonton balapan dunia bergengsi itu. Senada dengan para penjual gorengan yang ragu mampu stabil penualan dan kepulan asap dapur kalau setabung merangkak di atas 40 ribu rupiah. Seberapa banyak sih penduduk negeri ini yang sanggup beli tiket ajang begituan. Padahal satu pohon bisa dihitung tuh menghidupi berapa hidung tiap harinya. Kalau 1000 orang menghirup oksigen darinya, berarti ada 190.000 orang terdampak kekurangan pasokan oksigen demi sekian ribu orang yang terlibat di ajang balapan adu baterai itu.
.
Dihitung ekonomi juga bisa. Lebih membawa dampak ke siapa sih pohon-pohon ini. Ke orang-orang di gedung bertingkat dengan strata ekosospolbud menengah atas, atau kaum kecil di pinggir jalan yang sangat diwelas-asihi Kanjeng Nabi Muhammad. Dari sudut pandang Sang Nabi, kira-kira siapa yang beliau belani, kaum pembalap atau wong cilik yang selama ini hanya dijadikan jargon oleh satu parpol pemelintir KPK itu?
.
Tenang, aku bukan petrol-head kayak si Jeremy Clarkson yang selalu sinis pada teknlogi mobil listrik di The Grand Tour itu. Jadi kegusaranku pada penebangan 190 pohon ini bukan perkara sentimen Green-Economy. Murni tanpa bias. Kok bisa sih mengorbankan yang sudah berkorban berpuluh tahun demi yang datang dalam hitungan harian. Kayak apa tuh kira-kira perasaan si pohon ditikung orang-orang asing dan aseng. Rasanya tuh lebih bangke daripada pas jadi korban ghosting tahu gak sih.
.
Barangkali Bang Pitung bakal ber-ciat-ciat dari alam kubur menengok kotanya kini sudah panas, eh masih ditanya tim bubur panas diaduk atau gak diaduk. Kan njengkeli, ya?" Oceh Kang Kuat pagi ini.

0 comments:

Post a Comment