Thursday, April 16, 2020

Kenapa sih anak susah nurut pada perkataan orangtuanya?

“Kenapa sih anak susah nurut pada perkataan orangtuanya? Padahal bisa jadi mereka sangat taat pada guru, kakek-nenek, bahkan orang lain. Justru kepada ayah-ibunya susah dinasehatin. Kegelisahan serupa biasanya menerpa anak usia 3 tahun ke atas. Ketika menurut ilmu psikologi barat pada tahap itu memang otak berkembang sangat dahsyat.
.
Itu yang kuanut sejak anak pertama mengakhiri ‘golden age’-nya itu. Pendampingan 24 jam untuk pastikan setidaknya ‘attitude’ atau sikap anak tak ‘mblangsak’. Meski pada akhirnya ketika si anak lepas bermain dengan ‘peer-group’ atau teman sebayanya, was-was tentu ada. Maka evaluasi secara berkelanjutan terus kulakukan kala itu. Awasi apa yang didapat setelah bermain dan menelusuri dapatkan sikap atau kata tak etis dari siapa saja. Jika taktik infiltrasi tak mempan pada sosok-sosok pemberi pengaruh buruk, terpaksanya adalah boikot berhubungan secara temporal bahkan hingga permanen.
.
Di usia ‘rebel’ atau berontak itu, anak akan belajar dan asah nalar terus-menerus. Bahkan akan terus menguji siapa saja yang layak ia turuti omongannya. Ini semacam penundukan kemampuan logika, begitu simpulanku kala itu. Maka pengaktifan otak belakang anak dengan traumatis ketika langgar aturan standar etika dan moral kulakukan. Pemaksaan penggunaan otak reptil yang mengawal anak dari di dalam kandungan sampai usia 3 tahun itu melalui ‘reward and punishment’, hadian dan hukuman. Jangan sampai di tahap ini anak menangkap sisi 'mencla-mencle' atau tak memberi pemahaman kenapa ada 'qaul qadim-qaul jadid' perbedaan pendapat dari orang yang sama.
.
Bertahun lalu hanya teknik itu yang kutahu hasil racikan berbagai peradaban sekujur bumi. Berkelindan dengan bundanya anak-anak yang mengaminkan meski dengan supervisi ketat agar tak kebablasan dalam pendisiplinan anak. Indikator berhasil terlihat ketika anak pulang kampung dengan mbahnya tanpa ditemani orangtua atau dibanding anak seumuran. Kemampuan kendalikan ego, id, dan superego terlihat sudah ada ketika belum masuk TK. Termasuk ketika tantrum, si anak harus sadar tengah berhadapan dengan ayah lembut dan gaul yang tiba-tiba bertiwikrama jadi Rahwana.
.
Intinya, 'goal' atau tujuan secara sosial si anak sulung ini mendapat posisi sesuai namanya: menjadi buah bibir kebaikan dan kesayangan orang-orang sebab ‘attitude’-nya. Sama sekali konsep agama belum dimasukkan dalam artian dosa-pahala sebab metode yang kupakai berusaha merasionalisasikan semua fenomena, termasuk peribadahan. Maka peranku ketika anak masuk TKIT adalah mengklarifikasi semua yang dia dapat di sekolah. Ambil baik, buang buruknya. Seperti mengkoreksi pemahaman anak atas dogma yang dijejalkan guru-gurunya.
.
Nyatanya anak sudah bisa dengan mudah 'relate' atau bersimpati dan berempati pada lingkungannya. Tentu fase berontak selalu ada pada momen-momen keinginannya tak dituruti. Orangtua lain mungkin akan memilih mengalah daripada membiarkan anak menangis. Tapi prinsip bedakan ingin dan butuh kupegang erat saat itu. Harus menalar urgensi mendapatkan keinginan dan pengorbanan yang didapat darinya. Jika pun tak sanggup temukan kebaikan dari keinginan, jika aku sebagai ayah punya uang lebih, akan katakan bahwa kupenuhi keinginan itu bukan ganjaran atas tantrum tapi murni sayang saja.
.
Terpaksanya adalah memberi anak durasi meluapkan emosinya. Bisa 5 menit, 10 menit, dan kelamaan semakin sedikit. Anak cewekku harus diajari cara mengendalikan perasaan sendiri secepat mungkin dengan terus mengaktifkan nalar sebagai tali kekang. Awalnya memang harus dibantu dengan cara pengalihan menuju kegiatan lain, atau dengan hitungan jika sudah mencapai batas maksimal. Jika lewat 10 menit belum berhenti menjerit, segera katakan dalam hitungan ketiga akan terpaksa sekali menghukum anak. Entah dengan tabokan yang terukur dan nir-emosi, tapi orangtua tunjukkan dulu sudah memukul diri sendiri dulu untuk tahu kadar sakitnya. Cukup sekali untuk mengaktifkan otak reptil dengan kewaspadaan.
.
Keras? Ini kusarikan dari banyak sekali metode serupa yang hasilkan generasi tangguh dan kuat. Dari Spartan, Xerxes, Firaun, Mongol, samurai, Lao Tse, hingga ala-ala raja di Nusantara. Sedari TK anak paham apa itu konsekuensi melakukan sesuatu. Baru-baru ini setelah paham konsep kafarat, pengaktifan otak reptil sama dengan tanamkan kesadaran anak kalau emosinya bisa merusak banyak pihak. Tentu saja setelah anak terkejut saat orangtua sudah tega tahap menabok, harus segera merangkul dan menghibur bahwa itu akibat anak menuruti emosi merusak. Bukan karena sudah tak sayang. Sekarang, ada konsep yang melawan teori yang kupraktekkan selama ini. Ternyata lumayan manjur juga.
.
Berlawanan dari contoh di atas adalah ala Nashoihul Ibad yang di-‘breakdown’ oleh Kak Yai Agung di SurauKami. Pemahaman bahwa anak lahir sampai usia 3 tahun diasuh Gusti Allah langsung, buat kesadaran orangtua tak boleh marah sedikitpun pada anak di usia belum nalar itu. Kehadiran rewel si anak adalah untuk menguji dan tingkatkan mental orangtuanya. Ketika dari 3 sampai 9 tahun, anak diasuh oleh para malaikat. Maka di tahap ini lumrah melihat anak bisa asik diam sendiri dalam waktu lama hanya bermain dengan imajinasinya.
.
Dengan catatan selama usia ini juga ditanamkan ‘parenting-concept’ atau konsep pengasuhan orangtua pada si anak. Mentang-mentang diasuh malaikat lantas anak dibiarkan bermain pisau, kencing sembarangan tanpa konsekuensi, merebut mainan teman tanpa ditegur, hingga berteriak malam-malam tanpa dimarahi oleh orangtuanya. Ingat, beda antara bego dan bebal dengan terapkan konsep Nashoihul Ibad ini sangat tipis. Ini era banyak ditemui pasangan muda dengan anak satu lebih asik bermain hape sendiri sembari rebahan. Biarkan anak balitanya berkeliaran di komplek membuat keributan. Akan terlihat mana orangtua yang paham pengasuhan dan yang masa bodoh dengannya.
.
Kusarankan jangan jadi orangtua muda yang tak peduli perkembangan mental anak. Rugi sendiri di masa tua si orangtua bakal hadapi monster yang sebenarnya bisa dicegah sedari usia dini. Beberapa sesepuh mampu memprediksi nasib anak kecil seperti kisah Nabi Khidir membunuh seorang anak lantaran masa depan tersusun oleh susunan masa sekarang. Tentu juga buang jauh-jauh kita berbuat baik ke anak agar dapat panen di masa tua. Itu bukan cinta tapi dagang kasih-sayang.
.
Di fase 3-9 tahun ini disarankan Kak Yai Agung dan Mbah Yai Rahmat untuk hindari memukul anak. Kuatirnya anak jadi trauma pada perbuatan baik yang dipaksakan. Ini sama dengan konsep pengasuhan ala Gus Baha yang tetap memuliakan anak dengan dalil bahwa merekalah yang akan teruskan sujud dan doakan orangtua di alam ruh. Kedua jalur pengasuhan ini bermuara supaya anak tidak kabur dari kita menuju lingkungan buruk yang memanjakan nafsu. Banyak kutemui fenomena ini saat masa sekolah punya kawan nakal dari kalangan agamis.
.
Konsep mencintai berarti tak sering mengungkapkan sering diulang Yai Rahmat. Mendoakan dalam sunyi ketika anak sudah lelap, membacakan Fatihah dan mendawamkan doa di ubun-ubun anak, adalah salahsatu jalan membimbing ruh anak. Termasuk prinsip untuk tak mendahului tidur anak dan istri agar ruh kita punya kesempatan membimbing ruh yang keluar dari jasadnya itu. Tentu pemahaman mendalam seputar wilayah ini harus dimiliki agar tak salah kaprah. Tapi secara awamnya adalah dalil hadis yang berbunyi bahwa doa sesama Muslim yang tak saling mengetahui akan dikabulkan Gusti Allah.
.
Dulu awal berkenalan dengan Yai Anwar Zahid, pengasuhan ini diberi istilah ‘pasrahke Gusti Allah ae, ben diramut Gusti Allah sebab Sampeyan yo gak bakal bisa ndandani nek ilmune wis mentok’. Kini, lewat konsep af’alullah ala Yai Agung, biar anak diasuh Gusti Allah, sebagai orangtua hanya tinggal mengasuh alam semesta. Rumput diatur agar tak berantakan, batu ditata agar beri manfaat, sampai semut pun disedekahi gula di luar rumah sembari dibilangin agar tak masuk ke dalam rumah.
.
Awalnya kuragukan konsep mendiamkan anak ini dan biarkan Gusti Allah bekerja. Nyatanya, sekarang terbukti tanpa perlu marah-marah apalagi mengayunkan tangan. Ingat, Sayyidina Umar bin Khattab pernah ancam anaknya dengan cambuk pajangan di ruang tamu yang akan sang ayah ayunkan ke si anak jika mereka berbuat dzalim. Konon, memang khalifah kedua itu seumur hidup tak pernah turunkan cambuk dari tempatnya. Barangkali tanpa lakukan itu anak-anaknya sudah yakin sang ayah mampu dan siap ayunkan cambuk itu. Indikatornya menutur Yai Agung adalah rasa sesal dalam batin. Kalau sesal berarti ada emosi terlibat, kalau tak ada sesal sebab sadar itu wajib demi tegakkan kebenaran.
.
Bisakah hal serupa diterapkan pada pasangan hidup? Sangat bisa. Kecuali soal mengayunkan tangan lho ya, tapi juga jangan main tendang. Pokoknya sangat dilarang ada kekerasan dalam rumah tangga. Terlebih ketika si istri sudah memberi anak perempuan 3 orang, atau seorang anak laki-laki. Status ruhaninya sudah setara ibu si suami. Pun suami bagi istri adalah sang bapak selepas ijab-qabul dinyatakan sah. Inilah status quo di mana keduanya setara.
.
Tinggal diamkan ketika tengah ada konflik, berpuasa membalas dan bereaksi. Doakan dalam sunyi, jangan sampai mereka tahu tengah didoakan. Fokuskan pikiran dan perasaan mengurusi alam sekitar. Mulailah merawat tanaman, buatlah taman, memelihara hewan, dan sibukkan diri dengan itu. Gusti Allah akan turun tangan merawat keluarga sebab wilayah ruh ada di Kuasa-Nya. Sebab aku bukan orang yang percaya metode suwuk-suwukan, maka posisi mursyid atau guru bijak ada di posisi sebagai teman ketika hatiku merasa kesepian. Tak pernah sedikitpun sambat atau curhat, cukup tanya trik dan tips hadapi fenomena dunia.
.
Akhirul status, mari belajar mengasuh dengan berani berkata ‘tidak usah’ pada share-sharean fesbuk yang hanya sekadar teori. Fokus pada perbaikan tingkah laku dan pelaksanaan kata-kata. Stop menghakimi cara asuh oranglain dan koreksi diri berikut semua argumen dasar lakukan pendisiplinan diri dan keluarga. Jasad ini harus ditundukkan agar tak sesuka hati, tapi harus paham dulu pengetahuan tentangnya. Setidaknya psikologi barat mampu mengurai pola jasad meski baru secuil. Sisanya, justru banyak kutemui di samudera tasawuf. Selamat berlayar!” Papar Kang Sabar di depan emak-emak bersenyum manis.

0 comments:

Post a Comment