Thursday, April 16, 2020

Manusia umumnya akan memegang kekuasaan selama-lamanya

"Manusia umumnya akan memegang kekuasaan selama-lamanya. Sampai batas waktu yang tak terhingga jika bisa. Pembenaran, yang salah diklaim benar, indoktrinasi bahwa mereka benar, sampai membungkam bahkan menghilangkan yang menentang kebenaran versi mereka. Semua tingkah polah mempertahankan kekuasaan itu lumrah dilakukan. Dari zaman sebelum Iblis menghuni Bumi, sampai era Tesla mau bedol planet ke Mars, gelagat itu masih ada. Bahkan konon itu yang jadi alasan terkuat Elon Musk ngotot hijrah ke Mars. Manusia Bumi sudah susah di-upgrade." Papar Kang Kuat sok-sokan njlimet di depan senior-seniornya.
.
"Manusia umumnya akan memegang kekuasaan selama-lamanya. Sampai batas waktu yang tak terhingga jika bisa. Pembenaran, yang salah diklaim benar, indoktrinasi bahwa mereka benar, sampai membungkam bahkan menghilangkan yang menentang kebenaran versi mereka. Semua tingkah polah mempertahankan kekuasaan itu lumrah dilakukan. Dari zaman sebelum Iblis menghuni Bumi, sampai era Tesla mau bedol planet ke Mars, gelagat itu masih ada. Bahkan konon itu yang jadi alasan terkuat Elon Musk ngotot hijrah ke Mars. Manusia Bumi sudah susah di-upgrade." Papar Kang Kuat sok-sokan njlimet di depan senior-seniornya.
.
"Terus? Basa-basi dah busuk itu sih." Celetuk Kang Koplak.
.
"Nah, apa sih yang kita lakukan ketika sedang berada di tengah upaya mempertahankan kekuasaan sudah sevulgar-vulgarnya? Gimana misal para raja di masa silam sampai jarak ribuan tahun kelola hal itu, juga bangsawan, brahmana, ksatria, petani-peternak-nelayan, sampai pedagang sikapi hal itu? Pasti ada pola yang terlihat lah. Setidaknya agar kita gak kagetan dan gumnan melihat fakta sehari-hari yang seolah makin nggegirisi." Sahut Kang Kuat.
.
"Coba deh raja-raja era kuno ngapain aja? Bukannya mereka hobi perang demi alasan ekonomi kalau gak ya urusan harga diri dan percintaan." Kang Syukur memancing mania mantap.
.
"Firaun membunuh semua bayi laki-laki keturunan Bani Israil yang kala itu berstatus menjadi budak demi meniadakan penentang. Musa lolos dengan berbagai skenario langitnya. Namrud membangun Taman Bergantung Babilonia demi obati rindu sang istri pada tanah asal yang konon pegunungan hijau, sedang Babilon adalah Tanah Arid, seatmosfer dengan gurun pasir. Kedua raja ini tunjukkan kegagahan diri dengan melawan kemustahilan memunculkan infrastruktur yang wow. Ketika muncul Ibrahim yang radikal abis, si anak muda itu otomatis di bakar disaksikan rakyat senegeri." Lanjut Kang Kuat sembari memegang tumbler berisi kopi mocca kesukaannya.
.
"Ya itu mah wajar kali tiap raja selalu begitu. Trah Khan mengirim berbagai ekspedisi maut ke seantero benua Asia demi wujudkan visi kakeknya, Jenghis Khan, menyatukan dunia di bawah penguasa langit. Bahkan sekelas Cina bisa takluk meski sudah dilindungi Tembok Besar selama ratusan tahun. Nobunaga Oda juga sama, babat habis lawan termasuk kaum biksu, demi satukan Jepang. Bukannya dalih para raja ini ya 'necessary evil', kejahatan yang dihalalkan? Terus mau gimana?" Kang Sabar menanggapi.
.
"Semua nama yang kita sebut tadi fokus pada infrastruktur untuk program mempertahankan kuasa. Oda dengan kuasai kastil-kastil lawan politiknya, mengepung yang melawan, serta memutus jalur distribusi. Persis ketika Madinah dikhianati Suku Khaibar. Jengkhis punya sistem terminal kuda tiap sekian ratus kilometer sehingga para pengirim pesan bisa melaju 24 jam tanpa perlu istirahatkan kuda-kuda tercepat. Namrud juga menjamin hidup para pengukir berhala, termasuk Firaun yang membuat Bani Israil dalam situasi dan kondisi yang tercukupi sandang, pangan, papan, hingga tak merasa tengah dijajah. Soal tujuan yang ditempuh berbeda, fokus kita pada upaya radikal para raja ini." Sahut Kang Kuat.
.
"Dicari upaya sebagai sisi di luar raja mau ngapain kalau penguasa sedang begitu rakus?" Tanya Kang Syukur.
.
"Ahli propaganda Ramses II malah beralih bela Musa setelah kalah argumentasi dan bukti kebenaran. Entah bagaimana, Ibrahim bisa lolos dari Namrud dan memilih hijrah. Klan ninja memilih melawan mati-matian atas invasi Oda, meski mustahil menang sebab klan itu sangat individualis, tapi pada akhirnya memilih berkalang tanah daripada berputih tulang. Marcopolo juga memilih lanjutkan perjalanan dari tadinya yang seorang penasehat kekaisaran Khan sebab tak kuasa melihat intrik usai penaklukan Cina. Kukira, pada satu titik memang hijrah jadi solusi." Tukas Kang Kuat.
.
"Tapi para walisongo tetap mengawal transisi peralihan Majapahit-Demak-Pajang-Mataram, sampai sekarang Indonesia merdeka pun dikawal anak keturunannya. Kenapa beda sikap ada di sini? Padahal bisa saja Majapahit hilang begitu saja dengan kemunculan Islam yang sangat kuat kala itu. Para ahli strategi-budaya-agama itu malah turun tangan langsung mengelola dan mengalirkan kekuasaan pada yang emmang-memang mampu. Kebo Kenongo misalnya, meski difitnah habis-habisan oleh Sunan Kudus, tetap mendokan kebaikan pada negeri ini dengan mewangikan anak-keturunannya sebagai penerus estafet pengawal negeri. Kemudian hari, Sunan Kudus memilih membayar kafarat dengan uzlah 40 hari sebab yang dibunuh ternyata adalah kekasih Gusti Allah." Imbuh Kang Ikhlas.
.
"Tak lain dan tak bukan karena para wali songo ini juga merupakan produk dari percampuran multietnis. Darah mereka mengalirkan genetik Arab, Cina, bahkan etnis lokal di sini. Kesadaran bahwa mereka memiliki latar belakang yang mewakili mayoritas dan minoritas penduduk negeri, secara otomatis tak akan tega menumpahkan darah skala masif. Kasus Firaun dan Khan, adalah contoh mempertahankan kekuasaan atas dasar ras. Konflik semacam ni terus bermunculan bahkan setelah era moderen dan masa ultra-moderen seperti sekarang ini. Nazi, KluxKluxKan, apartheid, dan beragam pertahankan kekuasaan atas ras tu terus terjadi sampai sekarang.
.
Para wali mengedepankan apa yang barangkali disebut maqasid dan maqoidush syariah, tujuan sebuah kebijakan hukum dan tindakan. 'For greated good' kalau istilah Barat. Bukan penghalalan segala cara atau 'necessary-evil', tapi memutari masalah agar tidak perlu sampai ekstrim konfliknya. Barangkali ini juga hikmah setelah puluhan ribu pasukan Janissary beserta keluarganya habis dibabat di Wilayah Kedu oleh para penguasa yang beraliran memuja dewa Siwa dan dewi Durga, kalau saya tidak keliru. Pendekatan oleh gelombang kedua yang dimulai oleh Syaikh Jumadil Kubro terbukti lebih manjur dengan memakai pengetahun dan ilmu terapan." Kang Kuat lantas menyeruput kopi di tangannya.
.
"Taktik serupa masih bisa diterapkan sekarang? Bermodal simpati-empati, jalur infiltrasi memakai asimilasi-akulturasi masih mempan? Sama saja masuk ke septic tank yang harus siap berkubang najis, dong? Apa ada indikator progres metode semacam itu berhasil?" Kejar Kang Koplak.
.
"Nyatanya, meski negara kita ini demokratis, dan punya pasal kebebasan ungkapkan sikap dan berpendapat, LGBT tetap dihajar habis-habisan para penguasa. Tidak ada orang telanjang bebas dengan dalih dan dibela aparat penegak hukum sebab sedang bebas berpendapat. Walaupun korupsi seolah mustahil diberesi, seiring dengan narkoba dan pornografi, setidaknya nilai dan moral bermasyarakat masih ada. Tentu ada geliat kaum muda yang hobi cari mutual, atau pamer Amer, ya itu fenomena biasa. Medsos hanya menunjukkan apa yang selama ini nyaris tak mungkin dipublikasikan. Itupun rata-rata pakai akun medsos kedua atau palsu sekalian." Sahut Kang Kuat.
.
"Jadi, ini gerilya dengan taruhan ngeri, ya? Harus siap difitnah, meski sejatinya tengah memperbaiki sedikit demi sedikit. Asal gak sepik-sepik iblis berjubah malaikat dulu lalu berujung one night standing. Hahahaha..." Celetuk Kang Koplak.
.
"Bangkeeeeeee!" Kang Kuat misuh.

0 comments:

Post a Comment