Thursday, April 16, 2020

manusia yang tamak dan kufur nikmat

“Kebanyakan kita termasuk manusia yang tamak dan kufur nikmat. Sudah tercukupi sandang-pangan-papan tapi mengejar kualitas lebih baik. Tanpa pedulikan kondisi masyarakat di sekitar rumah. Malah mengisolasi diri jauh ke lingkungan elit di mana akan mustahil memiliki tetangga yang kekurangan dalam soal makan. Menjauhi masalah oranglain dengan memilih fokus mengejar cita-cita pribadi.
.
Ada sekian juta manusia di negeri ini dengan rekening tabungan tembus miliaran rupiah. Di saat yang sama angka kemiskinan disebut BPS alami penurunan, meski angka kesenjangan sosial meroket. Dalih untuk cabut subsidi gas 3 kg itu. Tentu angka-angka ini hanya sebatas permukaan dan tak bisa dijadikan dalih tak lakukan apapun untuk menolong oranglain yang tengah butuhkan. Meski dalam kajian tasawuf nanti ada tahap di mana dilarang menolong sembarang orang sebab bisa jadi yang kesusahan sedang dimarahi, dihukum, bahkan dilaknat Gusti Allah.
.
Walaupun menurut seorang mursyid bagi beberapa tareqat sebut titik akhir pencucian hati adalah mau menolong orang yang pasti memukul setelahnya. Ikhlas adalah puncak tidak memikirkan diri sendiri. Kalaupun tidak secara sukarela maka harus memaksa diri memenuhi standar kelulusan tinggal di Bumi ini. Untuk awam macam saya, membaca orang yang meminta bantuan setidaknya mulai dipertajam. Menilai mana yang tulus, mana yang berakal bulus. Wajib tuntas sebagai dasar ketepatan menolong sebab memang belum dalam posisi sekaya Sayyidina Ustman bin Affan atau Abdurrahman bin Auf.
.
Tamak itu sendiri memang susah ditaklukkan. Dengan catatan sudah berkelimpahan soal hidup lho ya. Katakan saja sudah sampai tahap ‘financial freedom’ dengan berbagai indikatornya. Setidaknya sampai akhir hayat bisa tetap berada dalam zona berkecukupan dianggap sudah tak perlu lagi menambah materi dunia. Tinggal diluberkan jika memang ada kelebihan. Bukan lagi menambah investasi terus menerus apalagi di bidang yang memang tak dikuasai dan dipegang sendiri. Rawan teracuni investasi bodong yang bisa jadi bentuk Gusti Allah murka pada ketamakan-ketamakan investornya.
.
Orang miskin pun bisa tamak, lho. Dengan banyaknya keinginan di luar kemampuannya secara finansial bisa jadi tanda. Miskin itu sendiri bukan dalam definisi compang-camping, tapi kukira yang pemasukan pengeluarannya sering impas, bahkan minus. Definisi ini tentu klop banget denganku yang sering kebobolan anggaran bulanannya untuk beli cemilan kekinian atau barang tak begitu penting fungsinya. Miskin jenis ini kukira banyak kutemukan bentuknya di tengah pergaulan sehari-hari. Asal gak tamak, peluang masuk kategori nabi 'hidupkan aku di tengah orang miskin, dan matikan di dalamnya' bisa muncul. Tentu asal gak kebanyakan beli yang sia-sia.
.
Soal ini percayalah padaku. Ada beberapa senior yang kekayaannya jauh di atas rata-rata. Dengan hanya anak yang segelintir dan pria semua, secara logika sudah tak perlu kejar materi apa-apa sebab usia sudah menuju senja. Nyatanya justru makin mengejar investasi sana-sini yang memasrahkan semua pada si yang dipinjami modal. Tentu saja iming-iming janji tak semuluk fakta yang tersaji. Ketika beberapa pos investasi yang dimimpikan rontok, begitu juga kondisi psikologisnya. Seharusnya di usia di atas berkepala 5 fokus beristirahat urusi dunia dan fokus ibadah, hidup tenang-tenteram, masih harus memikirkan nasib anak-anak dan harta yang tak akan dibawa mati.
.
Dengan banyak kejadian semacam itu apakah tak mengetuk kesadaran kita? Lihatlah sekeliling mulai dari keluarga, tetangga, hingga orang-orang yang dikenal. Betapa banyak yang hidup dalam kesia-siaan. Kejar yang tak pasti dan buang yang pasti. Bukankah dunia hanya sementara dan hidup usai mati terus mengabadi? Tamak, dan ini disadari para manusia itu ketika sudah terbukti merugi dan ditipu, akan menyeret banyak penyakit hati dan psikologis. Uang yang seharusnya bisa untuk menaikkan derajat orang banyak hanya kandas menghidupi para penipu bergaya hidup mewah.
.
Kasus MeMiles termasuk fenomenal di akhir bulan Januari ini. Ada sisa uang 120 miliar rupiah tersaji di depan konferensi pers kepolisian. Bayangkan, uang sebanyak itu tak dipakai para investor yang percaya pada lidah manis penipu. Belum lagi pertunjukan serba mewah di media sosial dan dipamerkan di dunia nyata oleh banyak orang. Selain memicu iri, dengki, dan hasut, juga berdampak banyak orang ikut teriming-imingi hal tersier itu. Aku pun pernah tergolong dalam kaum ini dengan berbagai dalil-dalih pembenaran. Baru-baru ini saja ditegur mursyid berkali-kali tentang bahayanya memelihara kemewahan dunia bagi pesalik.
.
Lantas ada fenomena berhutang tapi gaya hidup jor-joran? Ibarat bau busuk, si maniak hutang akan tersebar aibnya ke mana-mana. Apalagi jika rajin unggah menu masakan beberapa jenis sekali makan dengan harga di atas orang normal. Secara tak langsung para manusia yang dihutangi merasa terdzalimi. Seolah yang meminjam uang menggunakan utangannya hanya untuk mempertahankan gaya hidup glamor, bukan sebab tak bisa makan. Kebiasaan ini bisa mematikan harkat, derajat, dan martabat seseorang hingga anak keturunannya. Tenang, ada jalan keluar dari pola beracun ini.
.
Aku sangat beruntung kenal dengan gaya hidup Kanjeng Nabi dan para sahabat yang cukupkan diri pada menu seadanya. Nabi pernah tak makan berhari-hari sampai perut diganjal batu pada saat Madinah paceklik parah. Umar bin Khattab tak pernah makan dengan lauk lebih dari dua jenis sebab sang nabi contohkan hal serupa. Sekelas Sayyidina Ustman pun meski sudah menyedekahkan separuh hartanya masih terus dikejar harta banyak sebagai hukum alam. Kesederhanaan adalah penghibur bagi mereka yang tengah dihimpit keterbatasan, adapun bagi kaum berlebih, sederhana adalah pilihan hidup mengikuti jejak sang nabi.
.
Bukan lantas sisa dari kecukupan ditabung untuk anak cucu. Beralasan biar anak cucu yang belanjakan sebagai amal jariyah sepeninggal orangtua meninggal. Bukannya tak sedikit warisan justru membuat bubar keluarga besar karena saling merasa lebih berhak? Film 'Knives Out' bisa jadi rujukan. Demikian juga barangkali alasan banyak tokoh tak tinggalkan harta dunia ketika mau meninggal. Harta yang didapat selalu disalurkan kepada orang-orang yang tepat sehingga mampu tingkatkan status sosial dan ekonomi keluarga lain.
.
Tak asal memberi utang pada orang yang terlihat malas bekerja tapi gaya hidupnya seolah terjamin tujuh turunan. Khusus para kiai tentu aturan main berbeda seperti penjelasan Ibnu Athaillah dalam Hikam seputar Maqam Tajrid, dan satunya yang kulupa namanya. Imam Syafii harus bekerja untuk dapat kurma bagi gurunya, Imam Malik, yang tak bekerja pun tetap dapat kurma. Ini ada syarat dan ketentuan berlakuuntuk ukur lebih rinci.
.
Sudahlah, wahai orang-orang dengan tabungan melebihi biaya hidup 3 bulan ke depan. Berhentilah mengejar mimpi mewah duniawi dengan cara tak sesuai patokan dasar investasi kecuali masuk ke reksadana, saham, surat berharga, di sekuritas-sekuritas. Itupun masih banyak kasus kebobolan ketika secara individu tidak ambil alih setir investasi. Kasus Jiwasraya dan Asabri cukuplah jadi pelajaran berharga betapa keinginan hanya mau enaknya cuan tanpa berpikir keras bisa ludeskan 90% modal yang ditanam. Syukurilah pada tahap 10-12% cuan sesuai pola minimal di deposito, reksadana, dan saham. Tak usah cari selain itu. Itupun dana dingin yang tak akan terpakai dalam 3 tahun.
.
Tahu dirilah pada tingkatan pemahaman dan pemasukan kita masing-masing. Jangan memaksakan jika memang belum sanggup. Jika masih ada tetangga yang kelaparan sebab tak berprofesi dengan gaji tutup pengeluaran bulanan, tolonglah buatkan lahan pekerjaan dengan gaji di atas pengeluarannya. Kalau ada teman pengusaha butuh modal, coba telisik keseharian dan pola syukurnya bagaimana. Jangan sampai memberi hutang pada yang belum siap membayar. Ini tingkatan awam saja sehingga tak merusak pertemanan ketika hutang tak kunjung dibayar.
.
Dianggap pelit pun tak mengapa selama memang kita tahu perhitungan bulanan. Terus jaga stabilitas keuangan keluarga sembari membayar kafarat ketika ada sisa lebih. Hidup dari bulan ke bulan, tahun ke tahun, cukuplah untuk memunculkan rasa membutuhkan Gusti Allah sebagai pemberi rezeki. Jangan terlalu nyaman keuangan terjamin belasan tahun kemudian, bisa bahaya bagi kesadaran hati. Harus dibuang ke orang-orang tepat yang amanah agar bisa berdampak sebagai amal jariyah berkalilipat.
.
Kalau investasi masih jauh di angan-angan sebab pemasukan-pengeluaran selalu impas, cukup syukuri tahapan ini saja. Jika sudah tak mampu bagi waktu dan tenaga untuk cari penghasilan tambahan, sederhanakan lagi gaya hidupnya. Kita hidup tidak untuk di dunia ini saja, masih ada 9 alam lain yang bekalnya juga dikumpulkan di Bumi. Dari satu pemasukan untuk bekal 10 alam termasuk alam ini. Sungguh mantap perhitungan dan ruwetnya. Tapi itu harus ditempuh supaya bisa menemukan ketenangan dalam mengarungi tiap badai sehari-hari.
.
Selamat berlayar ke samudera samsara. Nikmati tiap derita sebagai penggugur dosa dan pencegah dari foya-foya. Alirkan kelebihan apa saja yang datang ke diri ke yang membutuhkan secara tepat dan akurat. Bagaimanapun, utang adalah fenomena tak terhindarkan dalam peradaban kekinian. Maka tak heran jika bank bersistem riba tetap ada meski diharamkan, sebab banyak orang, termasuk diriku, tak mampu atau tak mau bantu sesamanya demi kekayaan pribadi. Buru semu tanpa sedikitpun ragu.” Tukas Kang Syukur di dapur umum.

0 comments:

Post a Comment