Thursday, April 16, 2020

mencari hikmah

“Kita perlu ndingkluk, Kang. Di era akal dijunjung sedemikian tinggi sampai nalar dipakai untuk mencari pembenaran. Dalil dikelirutafsirkan sesuai kepentingan sesaat ataupun kelompok. Akhirnya, kesewenang-wenangan terjadi di berbagai pihak. Ndingkluk, adalah proses sengaja sekaligus bisa juga tak disengaja.
.
Ndingkluk saat Khutbah Jumat bisa berbuah dua hal: ilmu baru atau mimpi berliur. Sebuah bentuk sikap yang hasilnya bisa tercermin dari niat sebelum lakukan. Dalam keseharian, ia bisa dimaknai tak ubahnya sujud. Jeda untuk membumi dan merasakan fungsi mawas diri dan waspada. Lihatlah Surah 96:19, tertuang ‘bersujudlah dan dekatkanlah dirimu pada Tuhan’. Ditafsir saja dengan ndingkluklah agar mendekat ke Tuhan.
.
Memisahkan dari rutinitas harian dan tuntutan memberatkan darinya wajib dilakukan. Al Hallaj mengatakan keadaan kerasukan dan cinta sempurna bisa membuat manusia lupa akan pagi dan petang dan bahkan waktu Salat. Bukankah saat kepala menengadah, seringkali pasangan entah pacar atau istri dan anak-anak, pekerjaan bahkan hobi melalaikan diri dari ruang dan waktu? Ndingkluk, bisa jadi adalah mencecap kerasukan itu tapi dalam bentuk mengesampingkan keduniawian. Setidaknya dalam waktu sekilas. Berzikir atau wiridan bisa jadi salahsatu contoh paling puncak, selain mendengarkan kajian kitab.
.
Mau kan cicip tipis-tipis situasi dan kondisi bernama fana? Toshihiko Izutsu artikan fana sebagai penghapusan kesadaran ego secara total dan menyatu dengan yang kusebut sebagai 'mencari hikmah'. Dalam ndingkluk ada upaya untuk meniadakan keakuan dan mempertajam indera untuk menerima hal baru. Pelarian bagi kaum tertentu menuju game di ponsel atau PC-nya, atau menuju kajian kitab bagi kaum haus kebijaksanaan. Kalau fana versi lengkap didapat melalui serangkaian pembersihan hati, ndingkluk kukira seperti melihat iklan 5 detik di tiap tayangan Youtube. Sekilas tapi jadi tahu tentang produk terbaru.
.
Kuanggap ndingkluk ini muraqabah KW super atau bersemedi kecil-kecilan. Jika beruntung maka bisa bertemu musyahadah secuil berwujud ‘oh maksud semua ini adalah itu’. Nge-game pun ada momen ketika bertemu musuh sulit ditaklukkan, ketika terus menghajar maka bisa menemukan pola untuk akali. Masalah juga demikian, bisa temukan kaitan kenapa atasan sewot atau bawahan mbalelo. Momen ketika berkata ‘eureka’ kata Archimedes saat ndingkluk bertapa di bak mandi atau ‘oh’ kataku, itulah musyahadah skala kecil. Bukankah Newton ketemu konsep gravitasi ketika sedang ndingkluk di bawah pohon Apel? Untung saja bukan pohon durian, kan?
.
Tujuan ndingkluk sebagai solusi instan kukira juga bentuk kesadaran pada ‘santuy dalam rutinitas’ ala Rumi yang meneruskan peringatan Dhu’n-Nun Al Mishri empat ratus tahun sebelumnya. Bahwa keasikan melakukan sesuatu, beribadah sekalipun, bisa munculkan kesenangan bagi diri. Maka menyelingi kegiatan apapun, termasuk ibadah, dengan tindakan sepele seperti merawat taman atau binatang, sangat dianjurkan. Kita tahu sendiri santuy (faragh) adalah penyakit pembawa banyak keburukan. Entah buka VPN, cari mutualan, atau nambahin daftar keranjang di Toko Online.
.
Sunnah Nabi paling jarang kudengar gaungnya kukira adalah mengurangi makan, tidur, dan berbicara. Paling sering ya sekadar penampilan fisik (jenggot, isbal, cadar) juga malam Jumat. Tapi ‘qa-im al-lail wa saim ad-dahr’ atau malam hari bersembahyang dengan berdiri dan siang hari berpuasa hanya dicicipi segelintir umat Islam. Baiklah, akupun berat lakukannya. Tapi kalau latihannya adalah ‘qillat at-ta’am qillat al-manam wa qillat al-kalam’, kukira bisa dicicil lewat ndingkluk. Asal tidak sambil ngemil, ketiduran, atau ngghibah. Ndingkluk berkesadaran, cieh, adalah sunnah nabi juga dan perlu dikampanyekan lebih masif, terstruktur, dan em, kekinian.
.
Taktik Hasan al-Banna pendiri Ikhwanul Muslimin lewat gerakan ngopi-ngopi di kedai kukira adalah salahsatu bentuk ajakan ndingkluk era itu. Di mana ponsel belum hadir, obrolan dan berkegiatan bersama seperti catur, kartu, dll bisa jadi alat ndingkluk. Bukankah ada kisah Gus Dur melatih satu santri bermain kartu remi dan ternyata sangat berguna untuk berdakwah di daerah baru penuh preman? Gus Miek juga tempuh jalur ini untuk mengajak ndingkluk siapapun sesuai dengan hobi masing-masing. Barangkali Sunan Kalijaga di era kekinian tak hanya tapa di pinggir kali tapi juga membersamai para mancing mania mantap.
.
Ndingkluk itu tadi juga wujud puasa dalam artian mengurangi segala hal. Beda konsep dengan Gus Baha yang katakan tidurnya orang awam lebih baik daripada tidurnya orang alim. Sebab ketika si awam tidur maka terhindar dari karaokean, mabuk-mabukan, dan perbuatan unfaedah lainnya. Adapun yang awam tapi mau nyicil jadi alim, puasa tidur ya dilakukan dengan ndingkluk di kajian-kajian kitab, atau pantengin di Yutub. Sebab kita tahu lah, gak semua orang betah ndingkluk di depan buku. Nge-game pun bisa dipuasani agar tak terus-terusan ‘push-rank’. Dikurangi sedikit demi sedikit agar bisa lakukan kegiatan lebih berfaedah lainnya. Scrolling timeline Twitter atau Instagram bisa dikurangi dikit-dikit lah. Apalagi nungguin balasan chat doi di WhatsApp yang cuma di-read doang.
.
Barangkali dalam pemahaman ngawurku, ndingkluk ini juga upaya tawakkul seperti kata Darani yang mengikuti ajaran Hasan al-Basri. Puncak dari melepaskan dunia untuk kepentingan menemukan ketenangan dengan taklukkan ujian-ujian pelepasan. Meski ndingkluk versiku tak serumit Muhasibi dengan berbagai tingkatan tawakkul yang juga dirumuskan Dhu’nNun sebagai ‘kepastian sepenuhnya’. Tuhan sudah menjamin segala yang jadi bagian rezeki kita, tinggal disadari saja apa peran maksimal yang belum ditunaikan kita. Menggantungkan semua asa pada Tuhan versi ndingkluk adalah dalam sekejap mata mampu tenangkan segala keresahan. Kuatir pada isi dompet, saldo Go-Pay atau OVO menipis, kuota habis, dibuang jauh-jauh.
.
Jadi, ndingkluk itu butuh banyak pengorbanan. Baik fisik maupun batin butuh ndingkluk sebisanya. Dimarahin ya diam, menahan diri dari bereaksi apalagi klarifikasi dan verifikasi. Biarkan saja, fokus membenamkan diri dalam bumi kekosongan kalau kata Ibn Athaillah dalam Hikam. Sekejap saja gakpapa. Tapi juga jangan balas dendam setelahnya. Belajar pada padi yang makin berisi makin tertunduk. Asal tetap tegar ketika badai menyerbu, kalau padi kan ambyar seketika, ambruk.
.
Toh apa sih dicari orang-orang kekinian dengan sinyal 4G di genggaman? Bukannya pemain game, tiktok, medsos, semuanya karena ingin isi waktu luang? Ndingkluknya sama, tinggal bermanfaat dan tidaknya dalam skala individu atau banyak orang. Bernilai lebih di mata Tuhan kalau efek positifnya lebih menyebar ke banyak pihak, kan? Jadi, berusaha keras untuk ndingkluk berfaedah. Setidaknya menghibur dalam standar tidak menghina fisik, menghindari SARA, dan syukur-syukur bisa ingatkan ke jalan Tuhan.
.
Mari ndingkluk agar tak asal tunduk.” Tukas Kang Sabar di PojokanCinta.

0 comments:

Post a Comment