Thursday, April 16, 2020

‘njlimet’ pembagian anggaran

“Bagaimana kalau organisasi pimpinanmu kelola total dana sekitar 350 miliar rupiah per tahun? Itu yang legal, belum yang tak mau dimasukkan dalam laporan keuangan. Sudah begitu total tim besarmu skala negeri hanya sekitar 180-an orang. Total pengeluaran 70% habis untuk gaji para pegawai yang berlabel sukarelawan. Dengan 30% untuk kepentingan yang jadi amanah dari para donatur. Dengan jumlah pos lebih dari 130-an, bisa terbayangkan betapa ‘njlimet’ pembagian anggarannya, kan?
.
Tak heran segala fasilitas penunjang amanah selalu berkelas nomor satu. Tuntutan di lapangan untuk miliki alat dan perlengkapan super tangguh, tentu prinsip harga tunjukkan rupa berlaku. Dikatakan hedon juga tidak sebab kebanyakan individu di dalamnya menganut vegetarian radikal. Soal yang dipakai serba impor, mari berbaik sangka sebab kantor mereka memang ada di banyak negara. Toh pameran progres proyek selalu digelar fokus di luar negeri. Satu kaos bersablon seharga 50 ribu rupiah di dalam negeri dijual saat pameran seharga paling murah 2 juta rupiah pun laris.
.
Derasnya uang berseliweran dengan pekerjaan di mata awam terlihat santuy, tentu tak sebanding. Meski tentu saja banyak yang kerja 24 jam tanpa kepastian gajian dan kesejahteraan. Setidaknya kekuatan tekad dan niat di hati mampu tundukkan segala halangan dan rintangan. Manusia-manusia yang gadaikan nyawa demi tunaikan peran kekhalifahan terpenting, merawat ‘sedulur tua’ berwujud alam semesta dan penghuni di atasnya, termasuk manusia. Lawannya tak tanggung-tanggung, perusahaan multinasional dan pejabat-pejabat berwewenang tinggi.
.
Agak lama berkecimpung di dalam lembaga semacam ini, aku paham pola konflik di dalamnya. Tentu soal uang dan pengabdian jadi pertempuran abadi. Memisahkan diri dari induk adalah hal lumrah ketika berbagai konflik tak mampu diwadahi asas kebersamaan. Awalnya tentu berat menghidupi tim kecil dengan standar hidup berkuantitas minimal meski berkualitas maksimal. Tapi dua tahun berdiri, pundi-pundi uang menumpuk, kestabilan berjalan, maka bisa berdiri tegap menantang siapa saja di depan.
.
Korupsi tentu selalu ada di berbagai sektor. Tak luput dari lingkungan dengan kultur idealis dan keras kepala ini. Tentu hanya oknum-oknum di posisi strategis saja yang bisa. Mengutip Lord Acton, ‘power tend to corrupt’, kekuatan tuh cenderung merusak. Maka ketika godaan membuat perusahaan sebagai anak usaha permanen dengan lebih dari 34 ribu hektar tanah gratis pakai, sulit ditepis. Jebakan kalau menurut konsep Kak Yai Agung Banyubening saat paparkan Kimiyatussa’adah kemarin Minggu siang. Dituruti bakal merepotkan diri, dilewatkan bisa berbuntut sesal dini.
.
Dalam kasus yang tengah gegeran di sektor aktifis itu, apesnya bagi lembaga terbesar di negeri ini adalah mengelola anak usaha. Ketika ditemukan bahwa tingkah anak usaha tak ubahnya para pihak yang dilawannya soal tata kelola hutan produksi. Bagi sosok super idealis yang kebetulan jabat posisi paling strategis bidang itu di negara ini, munafik adalah hal menjijikkan. Hitam-putih akan dipertimbangkan sebab jelas cara negosiasinya, tapi yang abu-abu susah dipegang kata-katanya. Maka adu kepentingan terjadi dan berujung pada berhentinya kerjasama terakhir selama 25 tahun bisa berujung bertepuk sebelah tangan.
.
Aku tak akan memberi label mafia pada kaum korup ini. Bagaimanapun, masa mudaku sedari awal masuk kuliah dibentuk orang-orang ini. Senior-senior dengan idealisme membumbung tinggi, melawan siapa saja sekuat apapun itu, dan terbukti mampu tundukkan siapapun yang menghadang. Termasuk ketika hingga saat ini godaan membuka cabang kaum ini hadir di depan mata, ibu negara dengan tegas menolak. Konsep ‘sukarelawan’ kok ngarep gajian besar jadi titik beratnya yang dibesarkan di lingkungan tasawuf. Meski tentu saja yang cenderung merapat adalah mereka pemilih jalan sunyi tanpa rekening gendut.
.
Kuharap, gegeran adu kuat dan ‘mutung’ ala anak kecil ini segera usai dengan pendekatan lunak. Hanya karena satunya pamer hasil kerja dan seolah klaim itu murni 100% kinerjanya tanpa pedulikan donatur utama yaitu negara, lantas negara ngambek. Masuk akal jika melihat pola orang-orang luar negeri yang menjual ketelanjangan data negeri ini dengan banyak bumbu agar laku di luar negeri. Ketika dulu sempat berseliweran di dalam helikopter sebuah lembaga dunia yang polisi pun tak berhak adakan penggeledahan di dalamnya, aku pun turut serta sumbangkan beberapa aib negara ini mengelola negeri. Betapa dari foto dan video mampu berharga miliaran rupiah, asal dibungkus dengan indah.
.
Jadi, itu alasanku hengkang meski kala itu berstatus tim inti Asia-Pasifik. Bukan lantaran soal uang, idealisme yang luntur, atau lonjakan adrenalin tiap harus turun ke lapangan dan diburu-buru aparat keamanan atau preman impor bayaran. Hanya karena calon istriku kala itu memintaku tak berangkat ke Borneo di kala Ramadhan di depan mata. Kuatir puasaku bolong-bolong dan tak bisa berlebaran untuk sowan dengan calon mertua, batal sudah promosi jabatan yang mustahil didapat anak baru. Mundur teratur meski sampai sekarang masih dikejar-kejar untuk kembali kelola sistem komunikasi dan informasi skala global itu.
.
Biarlah mereka bekerja dengan segala kepastian lumpur yang tak mungkin dihindari terinjak kaki. Akupun berjuang dengan jalan ninjaku sendiri. Setidaknya kami bermuara ke samudera yang sama selama memang belum terjadi perubahan mendasar di pola pikir dan hati kami. Ada wali-wali perawat bumi yang orang sekitarnya pun tega melabeli gila sebab terus menanam gunung tandus tanpa bayaran. Baik sangkaku pada perawat alam korban perkosaan perusahaan yang ditinggalkan itu ya demikian. Kami sama-sama laksanakan perintah Gusti Allah untuk ambil pelajaran di berbagai penjuru bumi.
.
Mbah Yai Rahmat sering memotivasi santrinya untuk jadi wali tingkat tentara kroco. Setidaknya doakan diri sendiri dan lingkungan terdekat sudah pasti terkabul. Pun mampu rawat hewan dan tumbuhan di sekitar, apalagi manusia yang berada dalam area tanggungjawab. Sehingga kelak ketika di alam ruh akan jalani 14 juta tahun kesunyian, tak akan ada sesal lagi tak lakukan ini-itu. Bukankah prinsip penyelamatan jasad juga sebaiknya dimulai dari penyelamatan ruh diri sendiri?
.
Kuharap, suatu saat nanti, kami masih bisa bersua, bercanda tentang pengalaman dikejar maut, dan meneteskan air mata kala sadar Gusti Allah sungguh Mahabaik. Ia hadir ulurkan keringanan pada kami-kami yang secara sadar tinggalkan salat, mabuk-mabukan, dengan alasan yang penting habluminannas beres. Semoga, ya semoga, kami bisa diterima di sisi-Nya berkat perjuangan di tengah keliaran hutan dan gejolak manusia di antaranya.” Tutup Kang Sabar pada tim delapan matanya.

0 comments:

Post a Comment