Thursday, April 16, 2020

Ramayana

“Semalam kusempatkan ngankring di WarungKami asuhan Mas Rizal ‘Slamet’. Sedari awal memang kuniatkan untuk mencari wangsit dari buku-buku di gerobaknya. Menghitung juga sampai akhir pekan tak ada waktu luang malam hari. Jadilah dari area pegunungan turun menuju perkotaan lewat jalur hutan. Sampai lokasi, rupanya sang juragan sekaligus Pengendali Alumunium itu tengah ‘kerokan’ dengan dirinya sendiri. Kejadian yang baru sekali seumur hidup itu kusaksikan.
.
Usut punya usut rupanya eks-hijrah dan karib catur para habib itu baru saja dikeroki syariah alias bekam. Niat menutup WarungKami sebab meriang gagal sebab setoran nasi kucing dan bala kurawanya sudah keburu datang. Jadilah diriku pelanggan pertama setelah kompor mengeringkan kaum gorengan. Langsung kusodori Kopi Robusta SaptaWening dari Mas Anwar Batang selaku owner dan di-‘roasting’ sang penemu nama sakti itu. Tentu dibagi dua sebab diriku selaku pecinta Robusta perlu punya stok dari lokasi kebun kopi di atas Makam Maulana Magribi itu.
.
‘Catching up’ pun dimulai sebab sudah sekian minggu tak bersua. Terakhir bertemu sepertinya saat maiyahan di TancapKayon-nya GugurGunung. Kawan sepersebats-an Mbah Joko Pinurbo itu khusyuk siapkan Robusta Magelang sesuai resep rahasianya, sedangkan kutelusuri daftar buku yang menarik. Niatnya mencari mantra dari Joko Pinurbo sebab senja tadi mendapat wejangan tentang ponsel, gempa, dan Tuhan dari sang penyair. Apa daya rupanya buku raib entah dipinjam siapa. Jadilah kusaut kitab karangan Mbah Seno Gumira tentang Ramayana. Seolah melanjutkan Anak Bajang Menggiring Angin-nya Romo Sindhunata meski dengan kekoplakan di sana-sini khas Mbah Seno.
.
Langsung meluncur cover belakang, menelisik daftar pustaka, kemudian menyusuri daftar isi. Kapimoda merangsang birahiku pada keingintahuan. Tanpa babibu, dilahaplah segala tafsir Mbah Seno atas sosok 'punk is him' itu. Pasukan terdepan laskar Hanoman itu beruntung sebab dibekali umur panjang dan konon salahsatu kera generasi pertama. Mungkin karena paling awal lahir maka ia tak punya kesaktian secuil pun, bertelanjang tubuh, tak tenar, pokoknya sangat biasa dan cenderung mudah di-‘bully’.
.
Nyatanya, malah si kakek itu jadi satu di antara tiga yang tak terkena Sirep Indrajit. Tak lain sebab usianya lebih tua dari ilmu hitam manapun. Ia malah kemudian menghidupkan Pasukan Titisan Wisnu setelah menyuwuk mayat-mayat dengan air cucian daun yang dibawa Anoman atas saran Wibisana. Pun kemudian ketika bendungan menuju Alengka dihajar raksasa dahsyat anak Rahwana, Kapimoda menjadi ‘problem-solver’ dengan teknik infiltrasi dan ‘hit and run’. Sekali lagi, sosok yang sangat biasa ini justru mengabadi bahkan digambarkan Mbah Seno berulangkali meminta dibunuh lakonnya oleh Mpu Walmiki.
.
Tak menemukan nama ‘perangsang’ lain, kumulai membaca dari depan. Rupanya digambarkan bahwa Pasukan Ayodya pasca menumbangkan kediktatoran Rahwana justru berambisi menyatukan dunia dengan kekuatan merusaknya. Sampai di sini diskusi antara Jamaah Rasan-rasan semakin menarik menyoal Virus Korona. Mas Rizal tunjukkan screenshot Instastory Mas Agus GugurGunung tentang upaya preventif skala hati dengan kaitan Musa, Khidir, dan Qorun. Kukatakan kalau di SurauKami masih adem ayem saja menyoal gegeran virus itu.
.
Kemarin pagi kebetulan berbincang dengan seorang dokter spesialis penyakit dalam dan termasuk orang penting ikatan profesinya. Tak ada sedikitpun cemas dari gestur maupun nada bicaranya. Padahal ia adalah sosok kunci yang seharusnya teramat panik dengan ancaman nyata di gerbang-gerbang negeri. Solusi berupa etika batuk, jaga stamina, hingga tidak paranoid diberikan berulangkali. Maka kukira juga tak perlu lah aku ikut ribut sebab ulama medis sudah berkata demikian.
.
Lantas soal Korona kami otak-atik-gathuk guyonan dengan berbagai kemungkinan. Entah dari santet paku payung sebab Korona kan berbentuk mahkota, sampai kualat atas geger Natuna. Merembet ke mental orang Indonesia yang santuy tapi ‘nggegirisi’ bikin ngeri. Tentara Cina sebanyak apapun akan kabur tunggang langgang bertemu emak-emak penguasa jalanan. Belum lagi deretan nenek-nenek dengan lidah penuh umpatan dan kutukan. Anak sekolah tawuran sudah siap di belakangnya, para bapak laskar ngopi-ngudud siaga dengan papan catur, dan aparat pertahanan dan keamanan cukup mengorganisir orkestra Pertahanan Semesta itu.
.
Lha hanya saat peranglah ilmu hitam dan putih bekerjasama kok. Para dukun stop nyantet sesama anak bangsa, dan para kiai stop menyerang para dukun juga. Semua ditempuh demi menghadang invasi bangsa asing dan aseng. Seperti era kemerdekaan dulu. Jin dan malaikat ikut dikerahkan oleh para penakluknya, persis ujaran Ningsih Tinampi yang agak kontroversial sebab sampai mau menyeret Kanjeng Nabi hanya untuk ngurusi santet.
.
Kaum terkuat di negeri ini memang emak-emak. Siapapun sepertinya bakal mengamini. Bahkan di SurauKami pun para kiai, termasuk kiai sepuh, dibantah oleh santri emak-emak dengan brutal. Mungkin kesadaran bahwa surga ada di telapak kaki mereka, dan ridhonya adalah ridho Tuhan, jadi dalilnya semena-mena. Apalagi tokoh papan atas seperti Syeikh Bajnabai yang diberkahi tundukkan singa gara-gara selalu sabar saat di-‘omyang’ istri. Kekinian, Gus Baha sekalipun anjurkan jalan ninja ini: menuntut kebahagiaan seminimal mungkin dari istri agar tak kecewa. Masih mau solat pun sudah cukup jadi alasan tak membantah istri saat sedang mendidih batinnya.
.
Eh, tapi, ada lho yang paling ditakuti kaum pemegang sapu dan siap mengayunkan ke pantat anak-anaknya itu. Eng-ing-eng, tak lain adalah pasukan tukang kredit. Begitu teriakannya terdengar, langsung pintu dan jendela tertutup, emak-emak moksa entah ke mana. Ketika sang penagih di depan rumah, diutuslah ‘krucil-krucil’-nya sebagai jubir dan katakan bahwa emak tengah pergi. Tak mempan, para bapak yang sedang mager disuruh adu mulut dengan perwakilan Bank Plecit itu. Jika biasanya pihak yang utang lebih galak dari yang ngutangi, emak-emak ini lain, seolah mereka adalah Rahwana yang berjumpa Arjuna Sasrabahu saat tengah bertiwikrama. Nyaliya menciut seketika!
.
Untunglah pihak Cina tak lantas ‘counter-intelligence’ dengan merekrut para bank plecit itu. Bisa bubrah semua strategi Pertahanan Semesta yang dipegang kuncinya oleh emak-emak. Bayangkan saja jika satu emak mampu bikin serumah kebakaran jenggot, apalagi jika skala satu batalion. Wah, pasukan khusus pun bakal mengkerut dan cuma bisa nunduk saat istrinya minta dibelikan kulkas persis milik tetangga rumah. Para intel usia TK-SD yang masih ingusan dan sering minta uang jajan ke warung tetangga juga hanya bisa menangis meraung ketika jatah ngemilnya dipakai untuk bayar cicilan. Sungguh, bahaya jika rahasia ini bocor ke pihak lawan!
.
Di luar guyon itu tentu Indonesia dan Cina adalah saudara tua. Islam bisa masuk ke negeri ini berkat metode Cina. Pun pengobatan alternatif dan banyak kemajuan teknologi didapat dari negara dengan catatan utuh dari 4000 tahun silam itu. Kita tak bisa melepaskan diri darinya. Termasuk saat ada darah Cina mengalir dalam diriku dari Mbah tertentu, atau Cina-cina Hitam yang jadi bukti akulturasi-asimilasi ratusan tahun telah berhasil. Soal gegeran sebab bersumber kesenjangan sosial, gesekan politik, tak usahlah dimasukkan daftar konflik abadi. Biarlah bangsa kita menjadikan kebodohan, kebebalan, dan kemalasan sebagai musuh abadinya. Jihad Akbarnya ya melawan diri.
.
Jadi, kukira memang dolanku bermanfaat sekali dari jam tengah 9 malam sampai jam 2 dini hari. Selain memotret sekian ratus halaman dari Kitab Primbon hasil olahan Ronggowarsito. Setidaknya jamaah seperti ini masih ada dengan nostalgia masa ngaji ketika kanak-kanak, update kekinian gerakan dakwah lingkaran tertentu, sampai area nakal yang tengah hits. Bukankah Hasan al Banna berikut ujung tombak Tarekat Syadziliyah gunakan pendekatan kopi dan rokok untuk latihan istiqomah belajar? Bagi kami, bolehlah rasan-rasan dan misuh tipis-tipis jadi bumbu pengusir kantuk.” Tandas Kang Kuat di sudut ruang.

0 comments:

Post a Comment