Thursday, April 16, 2020

Tenang sejati itu adalah sikon ketika tengah di tengah badai

"Lho dikira aku juga gak pernah menderita, Kang? Disangka keseharianku penuh kegembiraan dan kelapangan? Bahkan tiap tahun ditutup dengan prestasi berwujud materi duniawi? Indikator apa yang terlihat di depan mata malah Sampeyan pakai untuk menilaiku?" Tanya Kang Sabar pada Kang Koplak yang tiba-tiba mampir ke KebunKami.
.
"Lha iya to. Gak pernah sekalipun aku baca, dengar, dan lihat Sampeyan sambat, ngeluh, tentang apapun. Sesekali sebatas cerita masalah-masalah yang Sampeyan hadapi. Ya misuh pun sesekali. Tapi kok kayaknya gak seberat hidupku. Setidaknya aku merasa ada momen terlemah di hari-hariku." Ujar Kang Koplak yang masih berpakaian necis khas kantoran sembari leyeh-leyeh.
.
"Kan doaku memang minta derita pas sedang kuat-kuatnya, Kang. Minta kepayahanku di hari-hari terlemahku untuk didouble pas sedang di hari terkuatku. Baik fisik, mental, termasuk juga finansial. Jadi gak begitu terasa bertubi-tubi sebab memang sudah dipersiapkan sedari jauh hari. Gusti Allah bisa dinego gitu, kok. Ingat ya, Sayyidatina Khadijah kan seolah menyambut derita ketika mau melamar Muhammad yang belum jadi nabi." Jawab Kang Sabar sembari memindahkan rumput dari pot-pot mawar ke tanah.
.
"Sampeyan gila, dong. Masak minta ke Tuhan kok berupa penderitaan. Aku dikejar kuota habis aja bingung belinya pas tanggal tua." Kang Koplak gusar dengan tangan tengah sibuk menyeduh dua gelas kopi.
.
"Penderitaan itu gak bisa dihindari di hidup ini, Kang. Tuh, Sidharta Gautama saja malah bilang bahwa dunia ini adalah tempatnya samsara. Kalau di Bumi ini beres nyuci salah kita, bakal reinkarnasi jadi beres. Ibaratnya dicuci. Makanya para sufi gila-gilaan bayar kafarat, tebus atas salah mereka. Sebab itu anak tangga pertama menuju ketenteraman sejati. Penderitaan adalah salahsatu proses penebusan dosa itu, selain efek juga dari tingkah di masa lalu." Sahut Kang Sabar.
.
"Serius bahas dosa? Aku gak percaya konsep pahala dan dosa lho." Ujar Kang Koplak.
.
"Hahaha.... Lupa aku. Ya katakan istilah dosa itu wujud penyederhanaan dari efek perilaku kita saat melukai baik fisik, batin, ataupun kemungkinan masa depan oranglain atau makhluk hidup bahkan benda mati lainnya. Hukum alam itu memang ada, Kang. Sampeyan 'teplak' satu nyamuk atau satu lalat, maka berapa tingkat anak-cucunya musnah? Itu kenapa barangkali Al Ghazali bisa masuk surga karena biarkan satu lalat meminum tinta di penanya. Padahal membunuh berarti memutuskan keturunan, rezeki, dan peran pihak lain. Termasuk sungai, gunung, dan mineral di dasar laut." Ucap Kang Sabar yang mau duduk di lincak.
.
"Betul juga sih. Waktu aku membebaskan tanah adat jadi kebun sawit efeknya resah tanpa jelas sebabnya. Mabok dan cewek gak mampu redakan gelisahnya. Tapi begitu traktir temen atau ngasih duit ke oranglain bisa hilang sendiri." Kang Koplak menyodorkan segelas bening berisi kopi mengepul ke seniornya di kampus dulu itu.
.
"Lantaran memberi sesuatu justru akan membuat lebih bahagia daripada menerima sesuatu. Kan hasil riset tahun lalu di Eropa sebut gitu. Nah, pelaksanaan kafarat paling 'simple' tuh memberikan sesuatu ke oranglain dan kita gak ikut menikmatinya. Bisa berwujud ngasih duit ke orang yang baik, yatim piatu, atau juga janda. Kalau gak punya duit ya ngasih makan, ngambilin penghalang di jalanan kayak duri atau batu, membersihkan saluran air yang macet di lingkungan sekolah atau masjid, bisa juga puasa." Kang Sabar menyeruput pelan Kopi Etiopia racikan si tamu.
.
"Termasuk derita di keseharian juga wujud dari bayar kafarat itu?" Tanya Kang Koplak.
.
"Yup. Pokoknya begitu dapat resah tanpa alasan, segera diam. 'Flashback' dari menit sampai tahunan kira-kira mana yang bikin resah itu. Bisa saat kita nyakitin bawahan tanpa sengaja, bikin sakit hati orangtua, atau hal-hal sepele lainnya misal nyabut rumput tanpa sebab atau buang sampah sembarangan. Terus minta maaf atau lakuin tindakan untuk 'reverse' atau putar balik dari kerusakan jadi perbaikan." Sahut Kang Sabar.
.
"Gak perlu ibadah kek solat gitu-gitu, kan?" Kejar Kang Koplak.
.
"Ya kalau situ masih 'keukeuh' untuk agnostik sih gak ya gakpapa. Cuma kalau ingin naik ke anak tangga kedua, ya ibadah fisik perlu dilakuin. Solat Awwabin untuk cuci salah keseharian, tambahin solat tobat, terus solat kafarat habis Jumaatan. Indikator suksesnya adalah Sampeyan dapat rezeki dadakan. Nah, tinggal itu diniatkan untuk bayar kafarat. Bikinlah Jumat Berkah kek anak-anak mabok di forum sebelah yang sebelum dugem selalu bagi-bagi nasi kotak dan amplop ke siapapun yang dirasa butuh." Imbuh Kang Sabar.
.
"Pola pikir dan kesadaran itu yang bikin Sampeyan kelihatan adem ayem terus?" Tanya Kang Koplak.
.
"Yep. Dawuh Mbah Yai Sepuhku gitu. Lebih tepatnya tantangan sih buatku. 'Tenang sejati itu adalah sikon ketika tengah di tengah badai'. Wajar dong Sampeyan tenang saat ada duit, kerjaan lancar, pacar gak ribut, dan beres hidupnya. Tantangannya, apa Sampeyan bisa tenang saat duit minus, kerjaan dipersulit atasan, pacar ngajak putus terus, dan hidup terasa sempit? Ini permainan mental sih. Menang Sampeyan atau samsara dan kroco-kroconya." Tandas Kang Sabar.
.
"Jadi, ini PR-ku selanjutnya?" Celetuk Kang Koplak.
.
"Boleh, kalau Sampeyan ngerasa kuat gitu. Hahaha..." Sahut Kang Sabar.

0 comments:

Post a Comment