Thursday, April 16, 2020

Tuhan memang bisa sekehendak hati

Aku tahu Tuhan memang bisa sekehendak hati. Ia Maha dengan Segalanya Segala. Bebas tanpa kungkungan definisi. Begitu diikat pada satu makna, lepaslah lagi dari ketepatan memahami. Maka berpura-pura bego adalah jalan satu-satunya memahami Tuhan, buatku.
Termasuk ketika memposisikan seseorang atau sekelompok orang di tingginya tinggi. Bak burung rajawail atau aneka hewan bermigrasi lintas benua. Tembus apa saja, cueki sesukanya, asal sampai tujuan. Mereka memisahkan diri dari realitas yang tak berkaitan diri secara langsung. Betul-betul samikna wa atokna pada kebutuhan.
Barangkali Firaun begitu juga di pucuk pimpinannya. Penguasa benua Hitam, pemegang kunci pengetahuan dan teknologi, bahkan teologi. Wajar jika Ramses II bersikap bosan dan memproklamirkan diri sebagai tuhan. Meski kebijakan itu bukan dia yang memulai. Ribuan tahun sebelumnya sudah ada leluhurnya yang senyeleneh itu.
Bayangkan saja, sisi kemanusiaan macam apa yang menghalalkan pembantaian jutaan bayi laki-laki? Kalau bukan karena si Ramses beriman pada takwil mimpinya, tak mungkin kebijakan biadab itu terlaksana. Apalagi kala itu malah sebenarnya klan Firaun masih minoritas dibanding keturunan Nabi Yusuf yang sudah menembus angka jutaan nyawa, menurut Kitab Perjanjian Lama.
Bikin gegerlah si Ramses berhubung kawan seperguruannya, Musa, enggan ikut menikmati kekuasaan. Aneka klaim dan bukti nyata dia lakukan. Semata hanya agar bisa adu pendapat dengan Musa, sosok yang oleh ayah si Ramses dianggap lebih bijaksana jadi seorang raja dibanding anak kandungnya. Untung saja Gusti Allah yang Maha Bebas itu membuat skenario nana-nini hingga akhirnya jiwa homo homini lupusnya terpanggil. Belasan tahun sejak ia hidup di ala anak punk.
Kebetulan juga lakon si Musa bisa dibilang paling suka nego. Bahkan pada Tuhan pun di bukit Tursina. Kelak, mungkin saja solat yang dibebankan pada Nabi Muhammad dapat kortingan berkat bisikan si Musa. Konon lho ya, konon. Tapi toh meski sudah move on, pria yang sekali gampar bisa bikin orang mati itu tetap kembali ke tanah ia dibesarkan.
Daripada mbulet kepanjangan, sebab ini obrolan ngopi, dipotong saja. Intinya, si Firaun bisa bosen di kursi kuasanya karena nikmat mencecap "jenak" sudah dicabut oleh Gusti Allah. Kemampuan merasakan ketenteraman itu dihilangkan, maka percuma saja jungkir balik dengan logika dan kimiawi. Sebuah fase yang mengerikan. Seekor garuda terbang di angkasa tanpa kawan, ia bisa melihat ke semesta, bisa jadi apa saja, tapi ia hanya terbang saja.
Katak di bawah ingin terbang, garuda bosan pada segala yang dipuja dunia. Naasnya, hatinya pun sudah kebas dari ketakjuban. Ia menunggu momen diperjalankan yang barangkali tetes air mata tertampung olehnya.

0 comments:

Post a Comment