Thursday, April 16, 2020

urung kuat drajate

"Pernah lihat atau dengar tokoh besar tiba-tiba tersandung masalah pelik yang mungkin bagi manusia awam sangat sepele? Bahkan ia keturunan wali, kiai, atau kaum cerdik-cendekia, yaaaa, okelah sebut saja pengusaha masuk jadi contoh juga. Seolah semua rentetan yang bisa jamin tujuh turunan itu tak berdaya cegah si tokoh dari kebajatannya? Bisa jadi tokoh sekelas itu disembunyikan aibnya rapat-rapat oleh Gusti Allah, tapi begitu dibuka, ngeri, kan? Konsep Jawa menyebutnya fenomena 'urung kuat drajate', belum cocok derajatnya.
.
Raditya DIka suatu senja-senja tai anjing berkisah dengan beberapa kawan komedian papan atas stand-up comedy bahas ini. Kenapa rata-rata cewek para komedian selalu cantik dan seksi dalam standar mata pria pada umumnya. DItemukanlah benang merahnya yaitu humoris dan mampu ubah bad-mood si cewek jadi bed-mood. Tak akan ada yag menghina sebab memang sudah begitu hukum logika. Sama seperti ketika tua-tua tapi menikahi perawan ting-ting. Melihat ketenaran, wibawa, serta harta si kakek, bunga desa mana tak bakal menolak? Itulah pemberian Gusti Allah yang berupa wadah untuk terima amanah.
.
Sunan Tembayat pernah ditegur Sunan Kalijaga sebab jarang mengisi pengajian rutin bagi lingkungan terdekatnya. Padahal Bupati Semarang era Kuno itu membangun masjid di mana-mana. RUpanya, bagi sang guru, itu belum paripurna. Harus hijrah untuk meluaskan wadah dan manfaat. Jika tidak, semua pemberian itu bisa dicabut begitu saja. Lihatlah beberapa nama tenar di media televisi yang kini tak ada lagi, bahkan namanya nista dalam perghibahan emak-emak saat belanja sayuran.
.
Gusti Allah tu punya nama Al Aziz, yang bisa dimaknai sebagai sesuka hati. Gelar yang sangat dikuatirkan menimpa seseorang atau dalam lingkaran komunalnya. Begitu ngerinya, bahkan ada wali atau teman-Nya, yang datang ke suatu wilayah untuk lakukan peran tersebut. Dalam terminologi Hindu, kukira fungsi itu diambil oleh Konsep Dewa Siwa. Destruksi untuk mengawali proses dekonstruksi. Bisa berwujud fisik, pikiran, perasaan, bahkan sampai tahap ruh dan jiwa.
.
Lihatlah bangsa-bangsa terdahulu dengan rentang puluhan ribu tahun. Ada beberapa yang fenomenal hingga tercatat di lintas kitab suci, termasuk catatan para pejalan dan filusuf. Atlantis sendiri dinukil dari tulisan Plato yang konon mampir ke negeri itu. Belum lagi kaum-kaum di TImur Tengah yang beragam juga dihapus dari muka bumi. Tak tanggung-tanggung jika Gusti Allah sedang ingin reset sistem manusia di atas muka Bumi. Keluarga para nabi juga tak luput dari pemusnahan ini. Lihatlah istri dan anak Nabi Nuh, Paman Nabi Ibrahim, bahkan paman-paman Nabi Muhammad.
.
Dinosaurus itu jika digunakan secara rasio ukuran tubuh, kurang lebih hanya seukuran lutut Nabi Adam. Sedangkan mayoritas ahli sejarah sepakat ada makhluk serupa manusia yang tinggal di Bumi ini sebelum Buah Khuldi dimakan. Bisa jadi hujan meteor dan Musim Semi Radiasi Nuklir setelahnya adalah upaya membumihanguskan manusia versi terdahulu itu. Ibaratnya, di-update agar sesuai dengan kebutuhan hidup manusia generasi baru.
.
Ada satu kajian yang jika ditelusuri secara Gogelyah, Scholar sekalipun, hanya akan berujung mumet. Yaitu soal ilmu beginian. DIsebutkan salahsatu tanda 'Al-Aziz' datang adalah dicabutnya standar hidup dasar manusia berupa sandang, pangan, dan papan. Versi kekiniannya, penggusuran. Di luar konteks aturan bernegara dan penyelewengan hak hidup manusia di atas wilayahnya, ada aspek kadar keberkahan suatu daerah. Tidak lantas melabelisasi semua korban gusuran adalah pelaku maksiat dan sebaliknya. Itu simpulan yang terlalu prematur dan tidak adil, blaaass.
.
Dalam kajian tersebut, peran wali sebagai perawat jagat alit di sekitarnya sangat terasa dan terlihat. Sebejat-bejat pejabat, pengusaha, bahkan preman, akan tunduk pada satu atau lebih, sosok yang dirasa mampu kuasai kejiwaannya. Tak heran mereka tak mampu mengusir sang tokoh masyarakat sehingga wilayah pun aman dari dampak kerusakan yang bakal dihasilkan. Coba cek sejarah Tebuireng, Gontor, bahkan Gus Miek dan pilihan tempat dakwahnya. Konsep ini serupa dengan konsep Hutan Lindung yang tak akan berubah jadi Hutan Produksi jika ditemukan manusia adat di atas tanahnya.
.
Aku pernah mendengar kisah jika Mbah Moen termasuk wali yang enggan berpergian. Fokus pada ngaji kitab. Langkah yang kemudian hari diikuti Gus Baha dengan segala alasan masuk akal. Termasuk keputusan beliau menolak banyak permintaan untuk perayaan dakwah penghabis materi dan energi umat, bahkan kiai dan gus yang umumnya naik panggung mengamini. Mbah Moen, dalam kisah yang sering kudengar, hanya akan datang ke satu wilayah jika di tempat tersebut akan mendapat jatah 'Al-Aziz' itu tadi.
.
Kenapa begitu terkesan jahat sih Gusti Allah dalam pandangan ini? Kukira qiyas-nya sama seperti seorang ayah yang pada titik tertentu harus memukul si anak ketika sudah keterlaluan dan menimbulkan efek merusak di luar diri. Baik perasaan, akal, terutama fisik dan berujung zalim ke orang lain. Meski anak usia 3-9 tahun ada dalam binaan malaikat, tapi peran orangtua harus mengenalkannya pada pijakan tangga menuju tingkat mumayyis dan mukallaf. Mampu memilah dan memilih sesuai standar prioritas dan dampak kebermanfaatan.
.
Laku ini diambil di banyak lingkaran ksatria sedari ribuan tahun silam. Periode setelah 9 tahun sampai 15 tahun, anak harus dilepaskan, dititipkan ke guru-guru bijak. Selain untuk menjadi karakter baru yang berbeda dari pengaruh orangtua, juga melatih kemandirian dan 'tatag' dalam jalani kehidupan. Buya Syakur sebut bahwa standar melepas ini kalau kekinian ada selepas masa Sekolah Menengah Atas. Anak berdiri sendiri, untuk lanjut bekerja atau kuliah. Jika kemudian orangtua memilih membiayai, termasuk ketika menikah dan setelahnya dibantu sedikit-sedikit, itu bernilai amal baik saja, bukan sebuah kewajiban.
.
Kembali ke soal 'Al-Aziz', Indonesia menurut kesaksian beberapa penerabas jalur wali, memang sedang menuju ke arah sana. Senada dengan hasil analisis njlimet para pakar di berbagai sektor. Dimulai 2020 sebagai penguji, alam dan situasi-kondisi masyarakat tengah tunjukkan gejala dihukum dan berdampak sistemik jika tak segera sadar diri dan mulai nyicil perbaikan. Seperti tangani banjir, tanah longsor, dan angin ribut, sebenarnya bisa dilakukan pencegahan mulai dari jauh-jauh hari.
.
Memang ada para teman-Nya Gusti Allah yang lakukan perbaikan-perbaikan dalam jalan sesunyi-sunyinya. DIlambangkan sampai makam beliau-beliau pun tersembunyi dan sengaja tidak ingin diketahui orang banyak. Ini kesaksian kawan dan senior yang memang hobi melacak keberadaan makam-makam para aktifis ekossopolbudhankam era dulu, hinggga rentang ratusan tahun silam. Metode yang tidak bisa kuraih dengan logika sebab tak miliki dasar kemampuan dan pengetahuan.
.
Kita pun bisa andil dalam peran itu secara awam dan lugu. Seperti kemarin ada teman yang berkomentar di status febsukku soal menyimpan benih apa saja untuk ditebar di pekarangan-pekarangan kosong. Kemudian membagikan benih-benih yang terbukti berbuah baik agar menyebarkan virus menanam. Niat sedekah oksigen dan penyimpan air itu sangat mulia tapi terkesan sepele. Prakteknya? Kukira hanya yang berhati ikhlas sanggup istiqomah di suluk tersebut. Siapapun, bisa jadi bagian dari proyek khilafah fil 'ardi dalam lingkup paling sederhana. Menahan diri dari buang plastik es teh atau cilok sungguh sangat berat, kan?
.
Waspada talbis juga dalam soal perbaikan ini. Sebab Quran sudah ingatkan bahwa ada yang seolah memperbaiki justru malah merusak lebih besar lagi. Sebuah artikel di Mojok minggu lalu agak menyentak alam bawah sadarku. DI sana si penulis dengan tengil menyentil pola pikir bahwa tote-bag lebih baik dariipada tas kresek murahan dan sedotan stainless steel lebih merusak daripada sedotan plastik. Rupanya, melakukan perbaikan pun butuh makrifat atau reason behind those action. Gak bisa asal tambal sulam jika tak paham aturan dasar.
.
Suatu hari aku pernah terkaget-kaget saat Kak Yai Banyubening sarankan seorang ibu meghentikan mengirim fatihah ke anaknya. Ini sebab dikuatirkan doa si ibu untuk dirinya sendiri belum tembus langit juga. Akan sia-sia jika berupaya menolong oranglain tapi lalai menolong diri sendiri. Jangan didebat dulu, ini ranah ruh yang luar biasa luas. Tak heran jika masa kehidupannya mencapai 14 juta tahun. Hidup di dunia yang dapat 63 tahun saja sudah mujur ini, tentu hanya remah rengginang dibanding hidup setelah mati, kan?
.
Jadi, ayo mulai sadar diri lah. Jangan sampai memancing Gusti Allah terpaksa marah ke kita. Kalau dalam istilah Mbah Nun, 'la ubali', jangan marah padaku. Bukankah hidup yang penuh samsara ini semata dilakukan demi mencari ridho-Nya? Kalau masih menuruti ridho diri sendiri dan manusia di sekitar sampai lalai tugas utama menjadi abdi bagi-Nya, ya percuma. Amal-amal akan dilempar ke muka kita kala Hari Penghitungan. Itu kalau ruh kita masih bisa hidup melalui 14 juta tahun." Tukas Kang Sabar di depan cangkir teh Sarwangi.

0 comments:

Post a Comment