Thursday, April 16, 2020

waktu taat dan waktu maksiat

“Kanjeng Nabi Muhammad tuh pernah touring ke surga, neraka, dan alam-alam di antaranya, Kang. Meski begitu, beliau tetap kembali ke 'basecamp' di Mekah. Bertenaga cahaya, Burung Besi beliau itu melibas ruang-waktu hanya semalam. Terus intinya apa sih touring Kanjeng Nabi itu selain penghibur di Tahun Duka Cita? Kukira sih seperti apapun sukses-celaka di hari esok, masih bisa diperbaiki di hari sekarang ini.
.
Kemarin Yai Rahmat jelaskan konsep waktu taat dan waktu maksiat. Istilah dari Kitab Iqodhul Himam karangan Kyai Ahmad Sanusi itu bisa jadi solusi kekinian. Garis besarnya sih harus lebih banyak waktu untuk taat daripada maksiat. Misal nih saat main hape buat pakai VPN gratisan 3 jam, nah pakai hape itu juga untuk sarana nambah ilmu terutama agama harus lebih dari 3 jam. Makanya kesadaran menghisab diri sendiri harus ‘running in foreground’, nongol terus di otak kita.
.
Jangan sampai kita larut dengan fasilitas yang Gusti Allah beri. Bahayanya kalau Dia sampai marah, wah, bisa diambil paksa semua. Sudah banyak kasusnya lho. Setahun ini paling tidak aku baru sadar bahwa fenomena di tengah masyarakat, bahkan tingkat keluarga, bisa dijadikan bahan refleksi. Kita melihat pola sebab-akibat secara logika, maupun sampai tingkat ruh yang orang sebut sebagai batin. 'Wong nandur bakalan panen', memanen pasti yang ditanam.
.
Memfitnah orang bisa jadi niatnya untuk jatuhkan yang difitnah. Latar belakangnya bisa iri, dengki, hasud, dkk, Cuma asalnya ya mengada-ada. Tipe pengecut sebab tidak berani satu lawan satu makanya mencari kawan untuk keroyokan. Biasanya juga bermuka dua, di depan kita memuji, di belakang meludahi. Akibatnya bisa malah harga dirinya yang jatuh saat fitnah itu tidak terbukti.
.
Kembali ke soal touring, aku jadi ingat dulu teman karibku mengubah cita-cita keliling dunia pakai VW-Combi jadi touring di surga saja. Bisa jadi pertimbangan ekonomi jadi faktor terbesar. Hanya saja kemarin malam Yai Rahmat mengajak lebih baik touringnya besok saja setelah ruh lepas dari raga. Bisa menjelajahi ke manapun, asalkan selama masih menempel jasad terus merawat ruh. Sesederhana dengan mendengar, melihat, serta segala input masuk ke otak yang baik-baik. Tentu menutup panca indera kita dari segala kejelekan dunia, termasuk ghibah tipis-tipis.
.
Adapun jiwa, yang letaknya di dalam ruh, diberi nutrisi dengan melakukan perbuatan baik. Tentu niatnya harus beres dulu setidaknya menjadikan manfaat lebih dahsyat. Tadinya kopi baru petik harganya sekilo cuma 2.500 rupiah, kita olah hingga setelah branding sekilonya sampai tembus 400 ribuan. Tentu sebab dan akibatnya adalah lingkungan di sekitar pohon kita rawat setulus mungkin, termasuk para pekerja di sekitar. Semata agar keuntungan itu terus menjadi berkah yang men-tsunami ke lingkup terluar diri.
.
Beda tipis antara kapitalisasi dan meningkatkan derajat sesuatu. Kapitalisme itu kan ‘kemaruk’, pasir gratis di bawah gunung diangkut. Dijual dengan harga mantab, lantas uangnya untuk maksiat. Itu sama saja tidak angkat derajat pasir, malah menjadikan pasir sebagai pembuka perbuatan dosa. Bukannya berkah, uang hasil penjualan akan membawa dampak merusak bagi si juragan, bahkan keluarganya. Entah istri dan anak tidak bisa dinasehati, habis untuk biayai pengobatan, aib jadi bahan omongan orang, sampai pengguna narkoba dan selingkuh.
.
Tidak ada makhluk ciptaan Allah yang rela dijadikan lantaran pembangkangan pada Gusti Allah. Ingat, tugas khalifah fil ardi, perawat bumi, tidak sanggup diemban makhluk semesta raya. Tapi Gusti Allah bekali Adam dengan ‘skill’ dan ‘will’, kemampuan dan tekad untuk lakukan amanah tersebut. Tentu syarat dan ketentuan berlaku, sebab biasanya hanya secuil yang mau melakukan perbaikan tanpa sorot liputan kamera. Maka tak heran Gusti Allah menganggap orang-orang yang pasti difitnah kaumnya itu sebagai teman.
.
Nah, makrifatnya touring kukira semacam studi banding. Di tempat asal ada batu berserakan di sungai, di perjalanan menemukan si batu diolah jadi akik, di tempat tujuan kaget sebab batu pun bisa jadi hiasan rumah. Lantas si rider itu pulang kampung, terinspirasi, dan mengolah batu seperti yang ia lihat sebelumnya. Proses tanpa berniat cari uang ini justru tengah memberi makan jiwa, selama saat berproses tak malah meracuni ruh dengan ghibah, dkk. Ketika manfaat sudah didapat dan oranglain merasakan hal serupa, secara otomatis akan datang pembeli, bahkan kolektor, tanpa kita promosikan.
.
Sudah kubuktikan sendiri formula ini. Biarlah Gusti Allah mengurus uang yang akan teralokasi untuk menutup utang, biaya hidup, sampai cadangan. Tugasku hanya sebatas berproduksi kebaikan setiap hari. Etika dijaga, estetika dijadikan tujuan. Memperindah yang sudah indah sebab Gusti Allah sendiri Mahaindah dan cinta keindahan. Jadi jangan berpatokan bahwa zuhud dan talak dunia itu pasti berpakaian compang-camping dan tak beralas kaki seperti laku Nabi Isa.
.
Kenapa Kanjeng Nabi diturunkan level prihatinnya daripada Nabi Isa? Sebab ketika nabi berperilaku seperti Isa, yang ada malah dianggap Tuhan. Maka Kanjeng Nabi tetap jadi saudagar, investor, tokoh masyarakat, menikah, berketurunan, dan masih mau mengurusi lumpur-lumpur Kota Mekah kala itu. Bercita-cita surga tak hanya didapat dari penampilan fisik yang ala kadarnya. Ingat, ada kesombongan pun dibatalkan surga atas kita. Miskin bisa sombong? Sangat bisa dan biasa.
.
Nanti, ketika sudah serba berkecukupan sandang-pangan-papan, harus mau touring lagi ke hulu perjuangan. Jangan ‘stuck in comfort zone’, mager di saat baju bermerek Suprim, perut kenyang, dan rumah tingkat seratus. Kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, ‘taruhlah dunia di tanganmu, jangan di hatimu’. Maka ia dengan mudah memberikan apa yang ada di tangan. Sebab sadar sepenuhnya yang ia dapatkan hanyalah pemberian dari Gusti Allah, bukan hasil kerja keras peras keringat banting setir, eh, banting tulang.
.
Di sinilah peran uzlah itu muncul. Kita tinggal di kota besar tentu susah mencari gua seperti Kanjeng Nabi di Gua Hira. Maka tinggal mencari lokasi-lokasi yang berfungsi seperti gua, memisahkan diri dari rutinitas dunia. Imam Ghazali memilih zawiyah atau tempat mojok di atas menara masjid. Rutinitasnya pun hanya menyapu dan jadi marbot. Padahal kala itu statusnya adalah rektor terbesar di negerinya. Toh dari momen itu justru lahir kitab Ihya Ulumuddin, Kimiyatussa’adah, dan banyak lainnya.
.
Kukira tadinya motor adalah zawiyahku. Ditemani adrenalin atau khauf, memburu maut dan kemudian berkilah darinya. Ternyata anggapan ini kurang pas menurut Yai Rahmat. Tetap saja ketenangan harus didapat dari memberhentikan jasad, akal, bahkan hati dari dunia. Hanya diam dan memanggil Gusti Allah. Tentu suasana sepi tidak jadi syarat jika memang harus siap diuji. Kita bisa saja duduk wiridan dengan tenang padahal satu meter di depan kita ramai orang berghibah ria.
.
Harus terus sadar bahwa hidup ini toh pada akhirnya adalah cara lanjutkan touring di alam kubur yang bermasa 14 juta tahun. Tak usah gubris kaum ghibah yang belum tentu selamat jasadnya selama di dunia, sebab kita pun tak terjamin keselamatannya. Patokannya ya umur 50 tahun sudah ruwet hidupnya, entah biayai keluarga yang bermasalah, antri di dokter dan ketergantungan obat. Kala itu hadir baru sadar apa yang seharusnya diprioritaskan sedari muda. Bagiku yang masuk 30 tahun beberapa bulan lagi, persoalan ini sangat serius, termasuk istri dan anak sudah dipikul tanggungjawabnya di pundak sedari ijab-qabul diteriakkan sah oleh para saksi nikah.
.
Ibaratnya nih ya, seorang suami adalah road-captain bagi anggota lain. Road-captain ini harus punya guru di depannya, yang beritahu rute mana lebih aman dan jalur trabas agar lebih efektif-efisien. Guru bisa begitu sebab pernah lalui jalur sejenis. Guru ini nanti berfungsi juga sebagai ‘sweeper’ di belakang yang mengawasi progres selama touring. Bagi guru ruhani yang sudah melimpah jiwanya, ketika kita mlipir dan mau maksiat, beliau akan hadir dengan berbagai metode ingatkan kita. Percaya wislah, aku sudah buktikan ini.
.
Ketika kemarin Yai Rahmat menegur touringku cukup di alam ruh saja, aku tergelak. Memang gas dan kopling sudah kutinggalkan sejak berbulan ini, termasuk helm full-face sudah terkurung dalam lemari entah sejak kapan. Energi habis untuk hadir secara offline saat briefing touring ke alam ruh seminggu bisa sampai 4 kali. Seringkali sekali sesi sampai 5 jam lebih dengan masih ditambah penguatan rencana dan pengumpulan bekal saat sendirian di rumah. Betul-betul tak sempat untuk touring menggeber mesin ribuan cc yang sudah terparkir rapi di garasi kawan.
.
Jadi, jika kemarin pagi temanya ‘my pain my gain’, nah pagi ini ya ‘touring bisa nanti-nanti, bekalnya harus dicari lagi hari ini’. Jasad kita akan tunduk pada ruh, dan ini sudah kami buktikan. Aturan main biologis ala barat hanya 'safe-mode' untuk yang ruh dan jiwanya tak terlatih. Tapi bagi para CEO atau sufi kelas kakap, gaya hidup amburadul secara medis toh nyatanya hidup mereka bisa sampai usia 70 tahun lebih dengan kebugaran fisik jelas di atas rata-rata.
.
Tak heran Yai Rahmat tegaskan bahwa ‘Kanjeng Nabi itu gaya hidupnya gak sehat, lha kapan beliau tidur, asupan nutrisinya gimana, tapi toh nyatanya catatan beliau sakit sangatlah sedikit’. Itulah kenapa bagi beberapa kawan seper-touring-an di SurauKami yang sudah celaka total, pengumpulan bekal di alam ruh dan pendisiplinan ruh lebih diprioritaskan dari mengurus jasad.
.
Gusti Allah tidak akan pernah mencelakai manusia yang dikenal-Nya secara dekat. Malah akan dijaga seperti Ashabul Kahfi.” Papar Kang Sabar tentang hasil pengamatannya pada 5 pria berkepala penuh uban dengan gambar tengkorak di kaosnya.

0 comments:

Post a Comment