Sunday, May 10, 2020

Harga Anjlog, Ati Ambyaar

Harga Anjlog, Ati Ambyaar
Ini salah satu bagian yang saiya sukai sejak lama, jalan-jalan malam hari melihat pasar segar ikan dan sayur mayur dimana saja. Selain tentunya mendengarkan obrolan ibu-ibu di warung sayur dadakan milik Enjul di ujung jalan.
Hari ini harga cabai dan bawang bombay turun di pasar induk Kramat Jati. Si gadis penjualnya bertanya lepas berapa kwintal yang akan saya ambil. Ia menyebut angka 6, 7, 8, 9 ribu per kilo tergantung berapa banyak kita ambil. Semua jenis cabai turun harga dan dia tidak faham kenapa harga di bulan ramadhan dan di tengah pandemi korona ini bisa murah.
"Biasanya Ramdhan, pedagang tahan harga pak, apalagi ini kan dua minggu lagi lebaran." Ia berkata
"Ya" Jawab saiya
Sementara di Kramat Jati Cililitan, Ibu penjual ayam menyebut harga ayam murah sekali.
"Ayam segar loh pak, bukan bekuan."
Hal ini dapat saya fahami. Korona membuat mall dan toko-toko tutup, pasokan daging segar untuk industri menurun dan daging mesti dilempar ke pasar basah. Sekarang mudah dilihat di youtube dan sosmed lainnya. Pengusaha penggemukan ayam membagi-bagi ayam secara gratis kepada warga.
"Harga telor di Entin, 18 ribu. Kemaren 17 ribu. Dari biasa di depan 24 ribu per kilo."
Nyonyah Seno melaporkan kepada majlis subuh warung sayur Enjul. Nyonyah Dewi, kader Partai Demokrasi Perjuangan yang sedari tadi duduk menyimak menjelaskan.
"Yang beli telor sekarang siapa? Noh, pabrik kue aja pegawainya disuruh pulang kampung."
Ia berkata dan diiyakan majelis emak-emak.
"Iye, kagak ada yang bikin nastar. Tukang kue di pasar juga ga banyak yang belanja."
"Engga, harga ayam daging murah jadi telor sekarang ga ditetesin jadi anak ayam. Semua telor COD sekarang ikut-ikutan dijual ke pasar telor."
Saiya mencoba mengilmiahkan, yang dijawab emak-emak dengan iya-iya saja.
Si Enjul ini biasanya mengedarkan gerobak sayurnya ke jalan dan gang-gang. Pascalokdon, ibu-ibu memutuskan berbelanja di gerobaknya daripada ke pasar. Antusiasme emak-emak untuk mendapatkan sayur terbaik membuatnya tidak perlu lagi menjalankan gerobaknya. Pesanan datang baik via Whatapps atau omongan langsung.
Pada situasi seperti itu dia berkata:
"Kira-kira kalau saya ambil kontrakan bu RW yang didepat buat bikin warung sayur permanen bagaimana menurut pak Andi?"
Ia berkata ketika majelis subuh tadi mulai sirna dan akan berganti dengan majelis pagi yang biasanya akan membeli kekurangan saja. Sambil membagi pesanan dalam beberapa plastik ia meninjau jawaban saiya.
"Tunggu saja sampai Juni, mungkin ibu-ibu belanja begini karena malas ke pasar. Gak tau nanti kalau normal, apa masih begini atau gerak lagi."
"Iya, ya pak. Saya juga ragu-ragu mikir ke sana. Ini dari tadi ngomongin ayam murah, daging murah, cabe murah, segala telor murah. Tapi ya belanjanya segitu-gitu aja. Seledri aja minta, ati ku ambyaar."
Saya tersenyum saja. Sebentar lagi dia akan mengkritik pemerintah kenapa tidak membeli semua daging dan cabe hasil panen petani. Ya, kapan lagi selain di majelis emak-emak orang membicarakan dapur dan cita-cita.

0 comments:

Post a Comment