Sunday, May 10, 2020

Proven Smart

Proven Smart
Setiap orang yang ditanya perihal sesuatu yang terkait dengan kepentingan umum mesti memberikan dua temuan:
Bila saiya bertanya apakah sebaiknya demi kepentingan umum maka dunia ini tetap dikondisikan dalam situasi isolasi atau lockdown karena dampak positifnya terhadap kualitas lingkungan. Alasannya virus Covid 19 telah membuat kehidupan dunia menjadi lebih santai, lapisan ozon mulai pulih, udara bersih, alam terkembang, orang lebih perduli dengan kebersihan, dan kualitas hubungan keluarga pun menjadi lebih baik. Tidak dibutuhkan seorang Al Gore dan ribuan trilyun dana SDGs untuk mendapatkan dunia yang pro lingkungan dan kehidupan berkelanjutan.
Tentu tidak semua orang akan menerima pendapat ini sebagai sebuah kebenaran. Bukan karena pernyataan yang saiya berikan itu keliru tetapi ada satu kondisi dimana setiap orang dalam komunitas yang kita sebut masyarakat umum (publik) tidak menemukan kepentingan (interest) mereka di pernyataan itu. Misalnya bagi para pekerja sektor informal atau manufaktur maka kondisi ini benar-benar pukulan bagi mereka. Ada jutaan orang kehilangan mata pencarian dan terancam jatuh di jurang kemiskinan.
Sementara yang setuju terhadap pernyataan di atas pun akan terbagi menjadi dua. Mereka yang memang setuju dan mendukungnya, atau mereka yang setuju tetapi tidak dapat mendukungnya.
Sehingga bila kita buatkan definisi tentang kepentingan umum tadi sebenarnya adalah sesuatu yang sempit saja. Yang hanya menjadi okupansi (garapan) dan isu-isu dari pihak yang melontarkannya. Hanya karena saiya menganggap bahwa isu ini penting bagi saya secara individu maupun kelompok -meskipun di dalam kelompok tadi pun tidak semua berkeinginan serupa- maka perlulah ia didorong dengan label kepentingan umum.
Hanya saja secara seleksi dan juga mental isu kepentingan umum menjadi tidak terdistribusi secara penuh karena barangkali tidak semua mau membayar biaya yang dikeluarkan untuk itu. Para pengusaha manufaktur barangkali setuju dengan pendapat saiya tetapi mereka tentu sungkan untuk mengambil konsekeunsi dari berhentinya kegiatan pabrik. Bila karena korona saja mereka sudah merugi bagaimana jika ini dijadikan sebagai "a new normal"?.
Jadi apa yang saya maksud dengan kepentingan umum atau publik itu bagi satu kelompok lain akan menjadi kepentingan pribadi atau private juga. Sehingga menjadi sangat tergantung bagaimana dan oleh siapa isu ini dikonseptualisasikan dan dimainkan di ranah publik.
Lalu apa hubungan tulisan di atas dengan judul dan gambar Najwa Shihab dengan buku-buku? Tentu saja tidak ada dan hubungan mereka bersifat arbriter saja.
Hanya saja ketika saiya mendapatkan foto Najwa di bawah ini dengan hamparan buku-buku, lapto tertutup, dan tulisan besar entah apa saiya pun melihat hubungan-hubungan yang sama sekali tidak terjadi dengan benar. Ini mirip kisah kasih cinta Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih. Si Siti tetap tidak dapat menerima nasibnya dimadu pria tua, meskipun si pria telah memberikan resolusi finansial bagi keluarga besarnya.
Saiya heran mengapa judul buku-buku itu seperti disusun secara rapi menghadap pemirsa. Seolah-olah itu merupakan satu kesalahan yang terencana.

0 comments:

Post a Comment