Wealth

Menurut kepercayaan yang saya anut, ada makhluk tidak terlihat yang hidup bersama-sama manusia di dunia ini. Makhluk ini diberi nama jin. Dia terbuat dari api dan hidup selayaknya manusia. Jin menikah dan berkembang biak. Dia juga memiliki kehidupan sosial, dimana ada jin jahat dan ada jin baik. Dia memiliki kelompok-kelompok juga seperti manusia. Jin ada yang pintar dan ada yang bodoh. Jin ada yang hidup dan mati. Ada juga jin yang hidupnya sangat lama dibandingkan manusia.

Setiap lahir satu manusia, maka akan ada satu jin pendamping. Ketika manusianya mati, jin itu tidak ikut mati. Jin ini yang sering disebut orang-orang sebagai arwah orang mati yang masih “penasaran”. Dia bisa mengetahui detail kehidupan manusia karena memang dia hidup bersama manusia yang didampinginya. Makanya ketika ada orang yang “berkomunikasi” dengan arwah orang mati, sebenarnya dia berkomunikasi dengan jin pendamping ini.

Kalo saya ada hal lain yang difikirkan. Seandainya semua manusia didampingi satu jin ketika lahir, tapi jin ini tidak mati ketika manusia mati, bahkan dia menikah dan beranak-pinak, maka jumlah jin yang ada di muka bumi ini jauh lebih banyak dari jumlah manusia. Untungnya saya ngga bisa melihat dan merasakan jin. Kebayang takutnya kalo kita melihat disekitar kita banyak sekali jin bertebaran, hiiiiiiii.

Jin hidup di persekitaran manusia. Katanya tempat hidup favorit jin adalah lubang wc, lubang singki (seperti tempat cuci piring), selokan, dan tempat-tempat berair lainnya. Ada juga yang hidup di tempat gelap, kosong, tidak terawat. Kadang kalau jin ini terganggu tempat tinggalnya, dia bisa marah dan balik mengganggu manusia. Karena itu kita dianjurkan untuk berdoa ketika masuk tempat-tempat berair seperti kamar mandi dan wc. Saya termasuk orang yang selalu berdoa dulu ketika akan memasuki tempat yang sudah lama tidak ditinggali manusia. Misalnya ketika pindahan rumah di Bandung dulu. Mertua saya sudah menginap dulu selama tiga hari sholat dan berdzikir di setiap ruangan yang akan ditempati oleh penghuni baru, keluarga saya. Ketika datang ke Malaysia pun sama, rumah yang saya tempati ini juga saya bacakan ayat-ayat al quran sebelum keluarga datang. Harapannya, kami tidak diganggu oleh jin selama menempati rumah ini.

Jin mengganggu manusia dengan banyak cara. Maklum jin ini kan ada juga yang pintar. Secara fisik dia ngga bisa mengganggu langsung. Tapi dia bisa masuk ke jalan darah manusia. Kalau ada yang histeria kemasukan jin, sering dinamakan kerasukan atau kesurupan. Macam-macam gejalanya. Yang pasti si manusia tidak sadar apa yang dia katakan dan dia perbuat. Contohnya di Malaysia sini sedang heboh kerasukan di sekolah-sekolah tingkat SMP dan SMA. Dalam dua bulan belakangan terjadi lebih dari sepuluh kali kerasukan diberbagai sekolah. Yang diserang terutama pelajar keturunan melayu dengan gejala histeris, teriak-teriak, dengan perilaku aneh lainnya.

Tetangga saya juga ada yang sering kerasukan. Biasanya sih saat setelah adzan maghrib. Kata orang setelah maghrib dan jam 3 pagi itu adalah waktu beredarnya jin-jin. Jadi banyak sekali yang sedang keluar saat itu dan iseng mengganggu manusia. Untungnya saya ngga bisa lihat. Ngga pengen deh. Ada juga orang yang membawa terus jinnya dari tempat asal. Misalnya di sini ada orang Mesir yang sering kerasukan. Setiap kali ke Masjid orang ini akan merasa ngga nyaman, kepanasan. Padahal masjidnya full AC lho. Dia sering ngga sadar. Sewaktu di ruqyah, jin ini ngajak ngobrolnya dalam bahasa arab khas Mesir sana.

Kalo ditanya, apa saya bisa menyembuhkan orang yang kerasukan jin? Saya akan jawab, ngga bisa. Dulu sewaktu ikutan olahraga pernafasan pernah diajari bagaimana caranya mendeteksi jin dan membersihkan jin. Tetapi niat saya ikutan olahraga pernafasan adalah untuk kesehatan, ngga ada niat untuk bisa mendeteksi jin. Akhirnya ngga bisa merasakan gimana jin itu. Apalagi membersihkannya. Tapi untuk menghindari terkena serangan jin, kita harus mendekatkan diri kepada yang punya jin, yaitu Allah. Mintalah perlindungan kepada Dia, dan yakinlah kalau manusia itu makhluk yang lebih tinggi derajatnya dari jin sehingga ngga bisa diganggu jin.

Kalo kesurupan, saya pernah. Dulu sewaktu sebelum menikah bahkan hampir setahun sekali saya kesurupan. Gimana caranya? Ya balik kampung aja. Nama kampung tempat kakek saya tinggal adalah surupan. Artinya adalah tempat air menghilang. Salah tulis ya, seharusnya ke Surupan bukan kesurupan.

Penutupnya, yah mudah-mudahan kita selalu dilindungi Allah dari kejahatan makhluk-makhluk Nya, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Aamin.

Tags:

“Uwak Semar sih enak hidupnya. Anak sudah lepas dan bisa cari makan sendiri. Rumah bertebaran di mana-mana. Mau pergi sudah ada mobil mewah dengan supir yang siap mengantarkan. Pokoknya, uang sudah ngga jadi masalah. Ngga kaya saya ini, hidup masih susah”

“Wah, ya ngga gitu lho Mas Iman. Kata siapa hidup Mas Iman masih susah. Kelihatannya sih, masih baik-baik saja.”

“Baik-baik saja gimana? Sekarang hidup saya tambah susah wak. Semenjak kenaikan BBM. Dulu saya biasanya bisa seminggu sekali jalan-jalan dengan keluarga. Makan daging setiap hari. Sekarang? Jangankan seminggu sekali. Sebulan sekali juga belum tentu bisa jalan-jalan Wak. Makan daging cuma tiga hari sekali. Hidup tambah susah.”

“Mas Iman baru melihat saya sekarang saja sih. Kalau melihat saya dulu sewaktu seumuran mas Iman, pasti merasa bersyukur dengan yang udah ada sekarang.”

“Ah, ngga mungkin Wak Semar hidup susah.”

“Eh ngga percaya. Dulu, saya jarang-jarang dapat uang banyak. Begitu dapat uang yang cukup banyak, saya belikan minyak tanah dan beras. Mikirnya, ya kalo ngga dapat uang lagi setidaknya masih bisa makan pakai beras. Kalau untuk lauknya, nyari lagi setiap hari.”

“Bohong nih Wak Semar”

“Bener mas. Jaman dulu tuh lebih susah dari jaman sekarang. Coba saja, baca novel-novel terbitan jadul. Sudah dari dulu bangsa ini menderita. Rakyatnya melarat di tengah kekayaan negerinya.”

“Tapi kan, ngga seganas sekarang Wak. Korupsi di mana-mana”

“Kata siapa? Coba kamu cari novel-novel yang dulu dibreidel. Isinya ya gitu, menceritakan kebobrokan para penguasa. Dari mulai korupsi, main perempuan, dan main kayu. Makanya, sekarang mas Iman harus bersyukur. Hidup susah aja, masih bisa makan pakai lauk. Masih bisa jalan-jalan sebulan sekali. Dulu mana bisa”

“Tapi tetep wak, hidup ini makin susah”

“Tenang saja Mas. Buat yang mau berusaha, insya Alloh ada jalannya. Tapi memang harus pasrah. Pertolongan Tuhan itu, kadang-kadang ngga tau dari mana datangnya. Tapi selalu ada di saat yang paling kita butuhkan.”

“Oh gitu ya Wak. Baiklah akan saya coba berjuang”

“Begitu dong, itu baru namanya anak muda. Insya Alloh nanti sudah tua bisa hidup senang macam saya ini, hehehe”

Semar mesem lagi.

Tags:

“Cepot, kemana sodara kamu si Dawala, sudah tiga hari ini tidak kelihatan”

“Maaf abah, saya lupa kasih tahu kalau si Dawala teh sedang menunggu anaknya di rumah sakit. Anaknya terkena demam berdarah”

“Eleuh-eleuh, kamu teh gimana. Urusan Gawad Darudad macam gitu tidak kasih tau ke abah. Hayu antarkan abah ke rumah sakit.”

Semar dan anaknya, si Cepot, buru-buru pergi ke rumah sakit untuk menengok cucunya yang terkena demam berdarah. Biasanya kalo musim sakit demam berdarah, cadangan darah di semua tempat pasti menipis. Kalaupun ada, harus antri mendapatkannya. Sayang, ngga banyak orang yang mau donor darah. Takut lihat jarum katanya, padahal banyak orang meregang maut gara-gara ga mendapatkan darah.

Sesampainya di rumah sakit, Semar melihat pemandangan yang sama dari hari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan, dan tahun ke tahun. Di banyak tempat banyak orang bergerombol, dan tidur-tiduran. Itu biasanya keluarga pasien yang bergantian menjaga. Tapi ada yang bikin Semar heran dengan perilaku keluarga pasien itu. Sepertinya semua orang yang kesusahan itu menghadapi sendiri masalah mereka. Padahal, ada cara yang mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang lebih bagus.

Akhirnya Semar bertemu dengan anak nya Dawala dan cucunya yang sedang sakit. Selepas memberikan doa dan bekal untuk penunggu, Semar mengajak Dawala untuk pergi ke ruang tunggu keluarga.

“Hayu Dawala, ikut abah. Kita harus melakukan sesuatu di ruang tunggu keluarga pasien”

“Ada apa bah? Nanti siapa yang jaga anak saya?”

“Eta mah gampang atuh. Pan ada si Cepot. Biarin dia yang jaga, sementara kamu ikut abah”

Bergegaslah Semar dan Dawala ke ruang tunggu pasien yang ternyata penuh juga. Si Semar langsung ke bagian depan ruangan dan berteriak.

“Assalamu ‘alaikum bapak ibu juragan sekalian. Sedang apa di sini?”

Orang-orang pada kaget, tapi menjawab juga.

“‘Alaikumussalam, kami sedang menunggu giliran jaga, Pak”

“Kenapa menunggu giliran jaga tidak optimal? Koq malah ngobrol ngalor ngidul sharing penderitaan. Mau ga saya ajak melakukan sesuatu yang lebih baik. Insya Allah bisa membuat keluarga kita bisa sembuh lebih cepat”

“Ngapain Pak?”

“Kita berdoa bareng-bareng di sini. Semuanya harus nangis dan minta sekuat-kuatnya kepada Tuhan, supaya keluarga kita yang sedang sakit dapat diberikan kesembuhan. Kita ini kan orang yang sedang mendapat cobaan. Orang seperti kita, doanya lebih makbul. Apalagi kalau doanya berjamaah”

Dan akhirnya di rumah sakit itu, acara berdoa bersama untuk kesembuhan yang sakit menjadi acara rutin dan dilakukan terus menerus. Memang benar, dengan bersatu maka kekuatan doa akan menjadi lebih besar dan mudah dikabulkan. Itu yang juga sering dilakukan di acara pengobatan-pengobatan alternatif massal.

Seandainya saja orang bermasalah bersatu…entah apa yang sudah bisa dihasilkan.

Gambar-gambar Thumbnail diambil dari redcross.org dan redcross.int

Tags:

Hari ini, Budiman pergi juga ke Malaysia untuk meneruskan belajarnya. Setelah delapan tahun berkutat di perguruan gajah duduk dengan gelar sarjana dan magister, sekarang waktunya untuk Budiman mengejar doktor filsafat. Banyak harapan digantungkan Budiman di negeri Jiran ini. Pertama, karena dekat. Kedua karena budayanya ngga jauh dengan Indonesia bahkan bahasanya pun hampir mirip. Ketiga, Malaysia dikenal sebagai negara yang penganut Islamnya masih taat. Bahkan menurut cerita temannya, tukang pungut sampah saja akan berhenti shalat di Masjid begitu terdengar adzan.

Sesampainya di Bandara, suasana panas sudah menyapa Budiman dengan garangnya. Beda sekali dengan cuaca di Bandung yang selalu bersahabat. Asli panas, bikin ubun-ubun nyut-nyutan. Dilanjutkan dengan perjalanan dengan bis ke terminal pusat kereta api Kuala Lumpur. Dari sana, katanya bisa naik bis atau kereta ke mana saja. Namanya juga terminal pusat.

Sesampainya di Kuala Lumpur (KL), Budiman menjadi heran melihat papan iklan billboard yang besar-besar itu. Katanya, Malaysia itu negara yang agama Islamnya kuat. Tapi kenapa, iklan supermarket malah menawarkan barang haram? Lihat itu, tulisannya supermarket kami membantu anda berjimat secara cermat. Astaghfirulloh. Ini sudah tidak benar. Masa orang ramai diajak untuk berjimat. Itu kan pekerjaan maksiat, syirik. Seharusnya manusia itu hanya menggantungkan harapannya pada Alloh semata. Bukan pada jimat.

Eh, tapi tunggu dulu. Ternyata selain ada bahasa Malaysianya, ada bahasa Inggrisnya juga. “Help you Save more”. Oh, berjimat itu artinya berhemat toh. Hampir saja Budiman balik ke Bandung gara-gara jimat.

Nah sekarang Budiman siap-siap naik Bis ke terminal puduraya. Tapi Budiman terenyuh, melihat seorang wanita tua kesulitan membawa tasnya yang besar. Maka Budiman membantu wanita ini membawa tasnya sampai ke dalam Bis. Wah, tentu saja wanita ini sangat berterima kasih. Dia bilang “Terima kasih, Payah abang ini”.

Suit, langsung saja wajah Budiman berubah. Ibu ini koq aneh sih, sudah dibantu dan bilang terima kasih, koq bilang aku payah. Aku ini sudah susah payah bantu bawain tas segede gambreng, eh masih diejek juga. Hampir saja Budiman marah besarrrr. Untung si ibu sudah sering nonton film sinetron Indonesia yang ditayangkan di banyak TV Malaysia. Langsung saja dia mengerti dan meralat perkataannya, “Terima kasih, sudah merepotkan abang ini”. Oh oh oh, rupanya payah itu artinya merepotkan. Budiman akhirnya pasang tampang gembira. “Iya Bu, sama-sama”

Sorenya, Budiman sudah sampai di Universitas Harapan yang akan dimasukinya sebagai kawah candradimuka doktor filsafat. Besok paginya Budiman harus ikut briefing dan test matrikulasi. Briefing sih ngga ada masalah, paling yang diomongin gitu-gitu aja. Nah, test matrikulasi ini yang bikin deg-degan. Setiap test, bagi Budiman adalah momen yang menyeramkan. Selalu dilewati dengan perasaan pingin ke belakang untuk buang air. Kali ini juga, sama. Budiman ingin buang air.

Untungnya sebelum test dimulai, pembawa acara memberikan kesempatan bagi peserta untuk buang air. Kesempatan ini tidak dilepaskan oleh Budiman untuk segera keluar mencari tempat buang air. Putar-putar, setiap tempat yang ada tanda toilet sedang dalam perbaikan. Bagaimana ini, test sudah dimulai tapi tempat buang air belum ketemu. Nah itu ada juga satu ruangan dengan tanda toilet. Tapi begitu mau masuk, Budiman membaca lagi label di pintu: “Untuk Kaki Tangan Sahaja”. Padahal Budiman cari toilet untuk buang air, ini hanya untuk kaki tangan. Nah itu ada satpam, segera saja Budiman tanya ke Satpam, di mana letak toilet terdekat. Satpam menjawab, “itulah encik, toilet ada di belakang Encik”. “Tapi saya ingin buang air, yang itu hanya untuk kaki tangan, toilet yang lain sedang dalam perbaikan”. Walah, satpam itu tertawa terbahak-bahak. “Encik, kaki tangan itu maksudnya staf, bukan kaki dan tangan ini” sambil menunjuk kaki dan tangan mereka. Waduh, salah lagi si Budiman ini.

Akhirnya selesai juga masalah Budiman, bisa buang air dan mengikuti test matrikulasinya dengan baik. Wassalam.

Tags:

Nostalgia sedikit tentang teman-teman kuliah di Bandung dulu. Waktu itu, harga-harga masih cukup murah. Bensin seliter masih 700 rupiah, makan dengan rendang cukup dengan 1000 rupiah, dan kost-kostan ku hanya 750 ribu rupiah satu tahunnya. Bahkan dekat kampusku, sebelah kebon binatang Bandung, ada kantin yang menawarkan langganan makan 30 ribu rupiah untuk satu bulannya (3 kali makan). Super murah.

Ada seorang teman, yang mungkin bukan dari golongan berada. Kamar kostnya, hanya dalam orde seratus ribuan setahun. Tempatnya di pinggir pasar, bilik, dan tempat tidur melantai dengan kasur super tipis. Lampunya pun hanya 20 watt. Ngga ada lemari dan meja yang cukup baik untuk menaruh baju dan bukunya. Kadang hanya diserakkan saja dengan rapi (berserak tapi rapi, gimana ya?) di depat kasurnya.

Dia ini, ngga bisa hidup nyaman. Soalnya saya lihat sendiri makannya hanya bermodal roti tawar yang sekali beli dipakai berhari-hari. Ganjal perut dengan nasi berlauk hanya bisa dilakukan sekali atau dua kali dalam seminggu. Itupun tunggu sore hari, dimana kantin sudah mau menghabiskan sisa makanan sehingga ambil banyakpun harganya tetap super murah. Mungkin dengan uang seratus atau dua ratus, dia bisa dapat nasi segunung dengan lahar sayur. Ngga pakai telur, apalagi daging. Sudah untung kalau sayurnya sudah dicampur dengan sisa telur atau daging. Untuk pulang pergi ke kampus, dia cukup senang masih bisa berjalan kaki.

Ngga bertahan lama kuliah di Bandung. Hanya 6 bulan saja. Bulan Desember ketika kebanyakan temannya sedang sibuk ujian dan OSPEK jurusan, dia pergi dari kota itu. Tentu saja, untuk penghidupan yang lebih baik karena mendapat beasiswa ke Jepang. Terakhir ketemu, dia sedang mengambil Ph.D, masih di Jepang juga. Wajahnya sudah segar
dan lebih gemuk dibandingkan saya. He he he, nasib memang berubah.

Ada lagi teman saya, yang kamar kost nya saja sudah 250ribu sebulan. Ngga perlu khawatir dengan baju kotor karena ada petugas kebersihan yang siap membereskan kamar dan mencuci pakaiannya. Kamar mandi ngga perlu keluar, karena sudah tersedia di kamarnya. Untuk pulang pergi ke kampus, sudah ada mobil toyota starlet terbaru siap mengantarkannya. Nasib memang berubah, dia juga sama keluar dari kuliah. Entah kemana. Mudah-mudahan dia baik-baik saja.

Ada teman yang menarik buat saya. Ketika tahun pertama dan kedua, kami cukup dekat. Dia keturunan, dan bukan berasal dari keluarga yang kaya. Kuliahnya dibiayai oleh kakaknya. Tapi kamar kostnya sudah cukup mahal, 150ribu sebulannya. Kalau makan, antik. Soalnya selalu menghabiskan makanannya sampai ke remeh-remeh nasinya. Bahkan kalau ada nasi yang tersangkut di garpu, akan dia keluarkan dengan sendok dan dihabiskannya sampai tandas. Ini prinsip ekonomi yang diterapkan keluarganya, dan saya ikut juga sekarang. Kalau makan, jangan ada yang disisakan. Kalau merasa kebanyakan, lain kali ambil sedikit saja. Sekarang dia sudah bergaya, kerja di perusahaan multi nasional.

Aku? Yah jadi PNS sudah cukup memuaskan, yang penting halal dan mencukupi nafkah keluarga. Sekolah, cukup di Indonesia dan Malaysia saja. Kalau benar sekolahnya, insya Alloh akan bermanfaat buat diriku, keluargaku, bangsaku, dan agamaku. Aamiin.

Tags: