Entries RSS Comments RSS

Archive for the ‘Cerita’ Category

Nyobain GPS

Friday, June 18th, 2010

Ga mau kalah dengan kawan-kawan dari Teknik Sipil yang biasa menggunakan GPS, saya juga iseng-iseng nyoba. Dalam perangkatnya, sudah diinstall 3 software navigasi sekaligus yaitu: Google Maps, Ovi Maps, dan tentu saja Garmin XT Mobile. Berikut ini hasil nyoba-nyobanya.

Google Maps adalah software nagivasi gratisan. Untuk menginstallnya cukup download saja dari http://www.google.com/maps . Tentu saja download lewat perangkatnya ya. Kalau download lewat komputer, tentu yang dia kasih adalah versi komputer, tapi kalau download lewat HP dia akan kasih versi HP.

Dulu sempat coba download lewat almarhum Soner Z310i. Ini HP ga ada GPS nya, tapi bisa aja sih dipasangin google maps. Intinya sih, cuma buat peta aja ga bisa buat nunjukin jalan. Tapi agak kaget juga karena dia bisa mendownload peta di sekitar tempat kita berada. Contohnya saat itu saya iseng sedang berada di sebuah mall. Eh ternyata peta yang dia tunjukkan adalah peta daerah di mana mall itu berada. Di tengah-tengahnya ada titik warna merah menyala yang menandakan tempat kita berada. Kayaknya sih dia memakai informasi lokasi BTS untuk menunjukkan posisi kita.

Di HP yang ada GPS nya, tentu saja Google Maps menentukan posisi dari informasi GPS. Seperti biasa, dia hanya akan mendownload peta di sekitar lokasi kita berada saja. Kalau mau dapat peta lokasi lainnya, dia akan download lagi. Tentu saja model kayak gini menghabiskan pulsa telepon. Penggunaannya juga tidak user friendly karena mendapatkan posisinya aja susah, apalagi menghitung rutenya. So, ngga sempat nyoba buat navigasi perjalanan.

Pakai ovi Maps, mungkin lebih murah. Dia bisa download aplikasi dan maps melalui komputer. Jadi kalau yang punya internet unlimited di kantor atau sekolah, bisa deh download peta yang diperlukan. Setelah itu bisa dipakai tanpa perlu terhubung lagi dengan internet.

Bahasa yang digunakan untuk navigasi juga ada versi bahasa Indonesianya. Maps dan bahasa tersedia gratis. Lumayan lah. Tapi tetap aja ada sayangnya. Untuk mendapatkan posisi kita berada mungkin cepat. Untuk menentukan posisi tujuan, juga bisa cepat kalau sudah ada maps nya. Tapi, si software ovi maps ini agak lambat deh menghitung rute.

Saya iseng saja, nyoba rute ke Bank paling dekat dari rumah. Mencari sinyal GPS dan menentukan lokasi kita berada sekarang, cukup cepat. Mungkin ga sampai 20 detik. Tapi ketika sudah menentukan titik tujuan, lama banget nih software menghitungnya. Ga selesai-selesai. Di kasus yang saya pakai, entah berapa puluh menit yang dia gunakan. Setelah dapat rute sih, ya lumayan lah cukup presisi. Dia bahkan sudah punya sampai nama-nama jalan kampung.

Bahasa pengantar yang saya pakai adalah Bahasa Indonesia dengan suara laki-laki. Cukup jelas instruksi yang dia berikan. Tapi ya itu deh, dia agak susah nyari rute. Kalau sudah ada di rute yang benar sih ga masalah karena pas saya sampai di depan bank dia langsung bilang sudah sampai di tujuan. Berarti jago juga.

Yang terakhir, nyoba pakai Garmin. Dari segi mendapatkan sinyal GPS dan lokasi, dia yang paling cepat. Selain itu dia juga punya data terinstall yang lebih banyak. Bahkan kabarnya untuk peta Indonesia ada yang lumayan lengkap dari navigasi.net. Filenya besar juga. Cuma yang defaultnya ga terlalu detail. Dia belum tau nama jalan di depan rumah saya, beda dengan Ovi Maps.

Untuk urusan hitung-menghitung rute, Garmin ini lah yang paling cepat. Mungkin cuma dalam hitungan belasan sampai 30 detikan sudah bisa kasih tau, rute mana yang harus di tempuh ke tempat yang kita tuju. Saya iseng masukkan tempat pengisian bensin untuk pengujiannya.

Bahasa yang digunakan untuk navigasi adalah bahasa Inggris, ngga ribet, cukup jelas seperti yang Indonesia. Belokan-belokan kecil ga terlalu bisa sedetail Ovi Maps. Kayaknya harus sambil mantengin layar petanya deh kalau sedang navigasi. Kalo yang ovi, bisa konsentrasi ke jalan sambil cukup dengarkan petunjuk saja. Mungkin kalo untuk daerah yang banyak gang, lebih presisi si Ovi dibandingkan Garmin. Ga tau deh kalau sudah install maps yang lebih lengkap, mungkin bisa sama. Cuma kan, Garmin ga gratis. Maps nya ada sih yang bisa didapatkan gratis seperti mapm Asean atau Indonesia, cuma saya belum sempat coba.

Nah, gitu deh hasil perbandingannya. Kesimpulannya, kalau mau cepat pilihlah Garmin. Kalau mau detail, pilihlah Ovi. Kalau mau gratis, pilihlah Ovi. Kalau mau murah, pilih tanya aja sama orang di pinggir jalan.

  • Share/Bookmark

Manusia Luar Biasa

Friday, June 11th, 2010

Siapakah dia? Panggilannya Dewi Yul atau nama aslinya Raden Ayu Dewi Pujiati adalah seorang manusia luar biasa.

Diberi berbagai macam cobaan, tapi sampai sekarang terlihat tegar.

Sewaktu diberi anak pertama kali  sudah dapat anak yang spesial. Anak yang membutuhkan perhatian lebih dari orang tuanya. Ya, ada banyak orang tua seperti ini, yang mendapatkan anak dengan kebutuhan khusus.

Beberapa orang yang saya kenal juga diberi keistimewaan dengan anak-anak seperti itu. Kadang, anak istimewa membuat orang tua terutama ibunya jadi lebih terbatas ruang geraknya.

Satu saat, ada seorang pengunjung tokodiskon.com yang banyak tanya tentang produk-produk di situs kami. Heran juga sih, kenapa ya sebanyak itu nanyanya. Ternyata, dia bilang dia adalah seorang ibu untuk anak dengan kebutuhan khusus yang tidak memungkinkan dia untuk keluar rumah.

Mengantar anak dengan kebutuhan khusus memang luar biasa. Kadang ngga bermimpi indah si anak jadi juara, jadi orang hebat yang bergaji besar dan sering ke luar negeri. Cukup si anak bisa mandiri, bisa mengurus dirinya sendiri, dan ngga membebani orang lain sudah sangat berarti. Kan, ortu juga ngga mungkin selamanya ada untuk si anak.

Karena itu, mendapatkan anak seperti Dewi Yull ini tentu sangat berat usahanya. Apalagi sampai bisa membuatnya sangat mandiri. Mampu menentukan pilihan hidupnya sendiri dan menanggung semua akibat dari keputusannya.

Dalam banyak berita, bisa dilihat bagaimana anak Dewi Yull sudah bisa melampaui anak-anak yang biasa-biasa saja. Bisa dibayangkan beratnya usaha dan doa Dewi Yull ini.

Sekarang, ternyata sang anak sudah lebih dulu dipanggil oleh pemiliknya. Sudah selesai semua perjuangan Dewi Yull membawa anaknya di dunia. Selamat jalan Gisca, semoga tabah Dewi Yull.

  • Share/Bookmark

Sudah Tua

Wednesday, January 13th, 2010

Ketika membaca berita cacian seorang pendemo kepada wakil presiden saya tersentak kaget. Kagetnya karena pencaci itu berumur 35 tahun dan dibilang sebagai orang muda. Muda? Perasaan umur 35 itu di mata saya sudah tua. Eh ternyata melihat umur saya juga ya hampir segitu juga. Berarti saya sudah tua ya?

Serasa baru kemarin menikah. Saat ini pun hubungan dengan istri masih seperti pengantin baru. Tapi setiap hari sekarang saya mengantarkan dua anak saya ke SD. Sudah dua yang SD. Ga terasa.

Waktu terus berjalan, badan semakin ringkih. Dulu sewaktu kuliah, masih tahan bersepeda motor dari Bandung ke Garut jam 12 malam. Setelah itu tidurnya pun hanya sebentar dan dilanjutkan kembali lagi ke Bandung pagi harinya.

Sekarang, tidur siang kena kipas anginpun sudah langsung masuk angin. Hidung meler kepala berat dan perut mual. Tambah lagi, uban putih sudah mulai bermunculan, ga cuma di kepala kiri, yang kanan juga. Pantesan sekolahnya belum selesai juga.

Semakin hari, umur makin bertambah sedangkan jatah hidup makin berkurang. Seperti yang digambarkan dalam lagu dari The Panasdalam, intropeksi. Hidup seperti menghabiskan waktu yang tersisa.

Dihabiskan buat apa lagi ya, waktu tersisa untuk orangtua ini? Rasanya hidup masih monoton saja, belum cukup warna warni yang menghiasi umur. Mudah-mudahan ngga menyesal dengan apapun yang saya lakukan untuk menghabiskan umur saya.

  • Share/Bookmark

Rumah Kita Sendiri

Tuesday, October 20th, 2009

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Begitu kata Gito Rollies, eh Ahmad Albar ding. Lagu yang suka saya putarkan, kalo kira-kira lagi kangen sama Indonesia.

Memang enak tinggal di Malaysia sini. Harga makanan, bensin, dan listrik murah, ngga terlalu banyak orang, cenderung lebih aman dan ga banyak pemeriksaan. Tapi seenak-enaknya tinggal di negeri orang, masih lebih enak tinggal di negeri sendiri.

Sementara itu, ada juga sih yang merasa lebih nyaman tinggal di Malaysia. Meskipun masih punya tanah warisan dan rumah di Indonesia, semua diserahkan kepada saudaranya. Ada juga sih, yang emang ngga punya rumah di sana, jadi lebih rela dikejar-kejar RELA daripada balik ke Indonesia.

Saya merasa ga nyaman di sini, mungkin karena ga bisa bebas melakukan apa yang saya mau. Maksudnya, uangnya pas-pasan aja sih buat kehidupan sehari-hari hehehe. Kalo uangnya berlebih, mungkin mikir ulang kalo mo balik.

Lah, kalo uangnya pas-pasan, ya mending di Indonesia. Ada banyak kegiatan yang bisa diikuti. Setidaknya, bisa menghibur diri dari kecukupan uang. Di sini, entah apa lagi yang bisa dilakukan. Semua perlu ke tempat yang jauh dan bersama orang-orang jauh.

Enak di tempat asal sendiri. Bandung yang (dulu pernah) sejuk (sekarang panas juga bo). Mau ke Mall, tinggal jalan. Mau ke Masjid tinggal pergi. Mau ke sodara-sodara, tinggal angkat telepon. Hidup ngga pernah sepi. Pas banyak uang, banyak yang bisa dilakukan. Pas ngga ada uang, banyak yang menemani. Hi hi hi.

Rumah kita, kapan kita bertemu kembali?

  • Share/Bookmark

Kangen Makanan Indonesia

Friday, October 9th, 2009

Secara hitung-hitungan saya sudah setahun lebih tidak pulang ke Indonesia. Bukan berarti ga makan makanan Indonesia sih, karena istri saya selalu masak makanan Indonesia kegemaran saya di rumah. Kangennya terutama dengan jajanan Indonesia

Jajanan Indonesia seperti Mie Ayam, Bakso, Siomay, Pempek, Sate Padang, dan lainnya memang bikin kangen setelah cukup banyak makan kerupuk lekor, mie lagi dan mie lagi di sini. Sayangnya yang juga hampir ga ada. Kalaupun ada, rasanya ngga seperti yang di Indonesia. Kalau yang rasanya mirip dengan Indonesia, ada di Kuala Lumpur sana.

Makanya ketika kemarin ada konferensi di Kuala Lumpur, saya sempatkan untuk jajan makanan Indonesia. Yang terkenal, terletak di daerah Chow Kit. Kata orang, di sini pusat ngumpulnya orang Indonesia di Malaysia.

Untuk sampai ke sini, agak susah juga. Kalau bis, dari KL Sentral dan Puduraya ada sih yang ke sini, yaitu bis nomor 111. Tapi ngga tau deh, langsung atau ga. Soalnya kan rutenya muter-muter gitu.

Pake taksi juga lumayan mahal. Dari KL Sentral yang bertarif resmi harganya sudah RM 13.  Waktu tempuh padahal cukup cepat, ga sampe 1/2 jam. Apalagi kalau dari KLCC, cuma RM 5 dan cepet banget deh.

Tempat yang terkenal di sini adalah Rumah Makan Padang yang judulnya Garuda. Letaknya di Jalan Raja Alang. Kalo siang, tempat ini penuh melulu. Masakannya mirip dengan RM Padang di Indonesia. Harganya agak di atas rata-rata. Untuk nasi ayam saja paling tidak kita harus merogoh kantong sedalam RM 6. Padahal di rumah makan biasa, pakai ayam paling banter RM 4.

Masakan jawa juga banyak. Di depan Jalan Raja Alang ada satu restoran yang namanya Restoran Jawa An Nuur. Saya sempat merasakan sotonya sekali. Lumayan enak. Mirip dengan yang ada di Lucky Plaza Singapura.

Tapi beberapa teman menyarankan Restoran TAR untuk dikunjungi. Letaknya tepat di bawah stasiun monorail Chow Kit. Di sana bisa kita jumpai Es Teler, Siomay, Bakso, Mie Ayam, dan masakan khas Indonesia lainnya. Harganya juga lumayan tinggi, hampir sama dengan restoran Padang tadi.

Setiap hari selama di KL kemarin saya ke restoran ini. Wah, cukup terpuaskan juga. Yang kerja juga dari Semarang dan sekitarnya. Orang Indonesia semua, dan pada faseh ngomong Bahasa Jawa hehehe.

Kapan-kapan main lagi ke sana ah.

  • Share/Bookmark

Jalan-jalan ke Genting Highland

Thursday, October 8th, 2009

Genting highland adalah sebuah kota hiburan di Malaysia. Di sana ada bermacam hiburan seperti pertunjukan artis, permainan video, judi (hiburan kah?), dan taman tema. Seperti namanya, memang Genting terletak di tempat yang tinggi.

Untuk sampai di sana, kalau tidak punya kendaraan sendiri kita bisa naik bis. Ada bis umum yang bertolak dari Titiwangsa. Tapi, Genting Highland punya layanan bis sendiri yang bisa diakses dari banyak tempat diantaranya adalah Puduraya, KL Sentral, dan Gombak.

Layanan bis ini bisa dibeli terpisah atau secara paket dengan layanan lainnya. Misalnya bisa dibeli dengan cable car atau di Indonesia juga dikenal sebagai kereta gantung atau gondola. Malah kalau mau lebih murah, beli saja paket Go Genting yang menawarkan ongkos pergi pulang dan taman tema luar.

Kebetulan ketika saya ke sana, saya pakai paket Go Genting yang berharga RM 140 untuk 4 orang. Jam keberangkatan dan jam pulang bisa dipilih sendiri. Untuk kenyamanan, pergi nya pagi dan pulangnya sore. Jangan pulang terlalu malam.

Perjalanan bis, sekitar 45 menit dari KL Sentral ke Genting Cable Car. Dari sini kami naik Cable Car terpanjang di Asia tenggara katanya. Cable car menuju ke atas. Cukup mengerikan bagi yang takut ketinggian. Makanya, lebih baik pulang sore hari ketika kita masih bisa melihat sinar matahari. Kalau malam, suasana seram ketinggian bertambah besar dengan kegelapan di luar cable car.

Pagi hari orang belum begitu ramai, jadi ngga terlalu lama menunggu giliran untuk sampai ke atas. Di stasiun atas, ternyata banyak kabut yang menyelimuti kompleks hotel dan taman permainan.

Setelah sampai di atas, mencari taman tema agak susah. Ternyata taman tema berposisi setelah kasino (tempat main judi). Kalau mau masuk sini, selalu di tanya kartu identitas (IC) kalau berwajah asia. Soalnya warga negara Malaysia yang beragama Islam dilarang masuk ke dalam kasino. Tapi ada teman saya yang iseng masuk, ditanya IC dia kasih passport. Ternyata boleh tuh masuk ke dalam. Artinya, agama apapun boleh masuk ke sana asal bukan warga negara Malaysia. Ngga tau deh sekarang masih bisa seperti itu atau ga.

Kembali ke taman tema. Paket yang saya ambil termasuk taman tema luar (Outdoor Theme Park). Jumlah mainan cukup banyak. Kebanyakan bisa untuk keluarga / anak-anak. Daftar permainan lengkap bisa dilihati di websitenya.

Untuk permainan yang agak menyeramkan, biasanya ada syarat tambahan. Misalnya ketinggian dan berat badan. Enaknya di sini yang antri ga terlalu banyak seperti di Dunia Fantasi. Jadi kalau mau coba yang asyik-asyik, cukup ngantri ngga sampai sejam sudah bisa masuk. Apalagi kalau sudah sore dan bukan hari libur, biasanya makin sedikit yang antri.

Harga makanan standar saja. Hampir sama dengan harga makanan di KL. Jadi ngga usah terlalu khawatir kelebihan belanja makanan. Harga KFC pun sama dengan yang lain.

Harga paket Go Genting terhitung murah, karena untuk ongkos pulang pergi saja sudah lebih dari RM 18. Artinya kalau kita naik dua permainan, harga yang dibayar sudah impas. Apalagi seperti anak-anak saya yang main bumper car (bom bom car di dufan) sampai 7 kali, belum terhitung permainan lainnya, tentu sudah sangat murah.

Oh iya, biar jangan kecewa, coba lihat jadwal maintenance anjungan permainan di website genting. Jadi jangan sampai sudah berharap banyak pingin main sesuatu eh ngga kesampaian gara-gara sedang diperbaiki. Setidaknya saat saya ke sana, ada 3 anjungan yang sedang diperbaiki tapi secara umum kami sekeluarga sudah cukup menikmati permainan yang ada.

Pengen ke sana lagi? Kemungkinan besar iya. Dufan masih terlalu jauh sih, hehehe. Harga lebih mahal dan ngantri lebih lama. Biar dinikmati dulu deh di sini.

  • Share/Bookmark

Ngumpul, Makan, dan Gosip

Saturday, September 26th, 2009

Seperti dalam tulisannya Bang Aip, teman-teman mahasiswa orang Indonesia itu suka ngumpul. Selesai sholat Jum’at, ngumpul di pojok Masjid. Kalau mau makan siang, bareng-bareng berangkatnya. Jalan-jalan ke mall juga ngga sah kalau cuma sendirian, maunya bergerombol kalau perlu sewa mobil bersama.

Apalagi yang bawa keluarga, makin top markotop aja kalo ngumpul. Anak-anaknya senang karena bisa main, bahkan sampai larut malam. Berenang atau bertamasya juga rame kalo bersama anak-anak mahasiswa lain.

Ibu-ibu juga senang, karena bisa bertukar cerita (gosip kali ya) atau sekedar melepaskan uneg-uneg beratnya hidup di negeri orang dengan teman senasib sepenanggungan.

Bapak-bapak juga senang, bisa makan-makan yang kalau bikin sendiri repot banget dan kayaknya ngga mungkin didapat. Kongkow dan tukeran rokok sudah biasa dilakukan.

Malam ini, 25 September 2009 kami mengadakan acara ngumpul lagi. Menghabiskan sisa dana buka puasa bersama, kami bikin sate ayam, gule nangka, sop tulang, lontong dan nasi. Persiapannya juga ngga ribet, cuma belanja di pagi hari dan dikerjakan sore hari, sudah siap di masak malam hari.

Pekerjaan yang paling sulit cuma menyalakan bara api, yang perlu perjuangan keras supaya apinya merata dan segera bisa dipakai untuk membakar sate. Setelah bara jadi, semua pekerjaan jadi gampang.

Begitu deh, kegiatan ngumpul, makan, dan gosip yang kadang-kadang dilakukan oleh kelompok mahasiswa Indonesia di sini, terutama yang bawa keluarga. Apalagi di kesempatan khusus seperti malam tahun baru, tujuh belasan, dan hari raya biasanya ngga dilewatkan dari kumpul-kumpul.

Kadang, kumpul-kumpul juga dilakukan untuk mendamaikan orang-orang yang berseteru. Maklum saja, banyak kepala dari banyak tempat, tentu yang namanya pergesekan pernah terjadi juga. Biasanya sih, yang turun gunung adalah tetua kita, dosen-dosen asal Indonesia yang coba mengeratkan lagi tali silaturahmi.

Ya, bener juga sih. Merekatkan tali silaturahmi. Entah kapan lagi ada acara seperti ini. Acara yang biasanya dilakukan disaat istimewa. Tahun depan, kebanyakan dari kami mungkin sudah pulang ke Indonesia. Mahasiswa baru dari Indonesia belum sebanyak yang sekarang. Jadi, ngga tau apa masih ada ngumpul-ngul, makan, dan ngegosip seperti ini.

Mudah-mudahan masih.

  • Share/Bookmark

Kado Lebaran

Sunday, September 20th, 2009

Sip sip sip, tahun ini dapat kado lebaran istimewa dari Chris John, juara dunia kelas bulu WBA dari Semarang Indonesia. Barusan baca beritanya di internet, kalo Chris John menang angka atas penantangnya, Rocky Juarez dari Amerika.

Sebagai catatan, pertandingan ini adalah pertandingan rematch. Sebelumnya bulan Februari kemarin kedua petinju ini sudah bertarung, di Texas Amrik. Tapi pertandingan ini dianggap gagal karena hasilnya seri. Sebenarnya ada kecurigaan kalau hasil seri ini adalah curang, sebab dari wasit sampai juri semuanya dari kampung halaman Rocky Juarez.

Kalau lihat perbincangan di forum-forum tinju, banyak orang bilang Chris John sebenarnya menang telak atas Rocky Juarez saat itu. Tapi faktor wasit dan juri itu telah merampas kemenangan Chris John.

Untuk memuaskan semua orang, akhirnya ditentukan partai tanding ulang yang dilaksanakan tadi pagi waktu Indonesia. Pertandingannya sendiri dilaksanakan di Las Vegas, Amerika juga sih. Tapi katanya tempat itu lebih netral, dengan wasit dan juri pilihan yang lebih netral.

Akhirnya memang CJ The Dragon bisa menang telak. Ketiga juri (kalo di Kompas, 2 juri) memberikan angka kemenangan kepada CJ. Dan mudah-mudahan bisa membawa CJ ke jenjang karir yang lebih tinggi. Ayo CJ, jadi orang Indonesia pertama yang merangkul berbagai macam juara tinju.

  • Share/Bookmark