Entries RSS Comments RSS

Archive for the ‘Cerita’ Category

Sudah Tua

Wednesday, January 13th, 2010

Ketika membaca berita cacian seorang pendemo kepada wakil presiden saya tersentak kaget. Kagetnya karena pencaci itu berumur 35 tahun dan dibilang sebagai orang muda. Muda? Perasaan umur 35 itu di mata saya sudah tua. Eh ternyata melihat umur saya juga ya hampir segitu juga. Berarti saya sudah tua ya?

Serasa baru kemarin menikah. Saat ini pun hubungan dengan istri masih seperti pengantin baru. Tapi setiap hari sekarang saya mengantarkan dua anak saya ke SD. Sudah dua yang SD. Ga terasa.

Waktu terus berjalan, badan semakin ringkih. Dulu sewaktu kuliah, masih tahan bersepeda motor dari Bandung ke Garut jam 12 malam. Setelah itu tidurnya pun hanya sebentar dan dilanjutkan kembali lagi ke Bandung pagi harinya.

Sekarang, tidur siang kena kipas anginpun sudah langsung masuk angin. Hidung meler kepala berat dan perut mual. Tambah lagi, uban putih sudah mulai bermunculan, ga cuma di kepala kiri, yang kanan juga. Pantesan sekolahnya belum selesai juga.

Semakin hari, umur makin bertambah sedangkan jatah hidup makin berkurang. Seperti yang digambarkan dalam lagu dari The Panasdalam, intropeksi. Hidup seperti menghabiskan waktu yang tersisa.

Dihabiskan buat apa lagi ya, waktu tersisa untuk orangtua ini? Rasanya hidup masih monoton saja, belum cukup warna warni yang menghiasi umur. Mudah-mudahan ngga menyesal dengan apapun yang saya lakukan untuk menghabiskan umur saya.

  • Share/Bookmark

Rumah Kita Sendiri

Tuesday, October 20th, 2009

Lebih baik di sini, rumah kita sendiri. Begitu kata Gito Rollies, eh Ahmad Albar ding. Lagu yang suka saya putarkan, kalo kira-kira lagi kangen sama Indonesia.

Memang enak tinggal di Malaysia sini. Harga makanan, bensin, dan listrik murah, ngga terlalu banyak orang, cenderung lebih aman dan ga banyak pemeriksaan. Tapi seenak-enaknya tinggal di negeri orang, masih lebih enak tinggal di negeri sendiri.

Sementara itu, ada juga sih yang merasa lebih nyaman tinggal di Malaysia. Meskipun masih punya tanah warisan dan rumah di Indonesia, semua diserahkan kepada saudaranya. Ada juga sih, yang emang ngga punya rumah di sana, jadi lebih rela dikejar-kejar RELA daripada balik ke Indonesia.

Saya merasa ga nyaman di sini, mungkin karena ga bisa bebas melakukan apa yang saya mau. Maksudnya, uangnya pas-pasan aja sih buat kehidupan sehari-hari hehehe. Kalo uangnya berlebih, mungkin mikir ulang kalo mo balik.

Lah, kalo uangnya pas-pasan, ya mending di Indonesia. Ada banyak kegiatan yang bisa diikuti. Setidaknya, bisa menghibur diri dari kecukupan uang. Di sini, entah apa lagi yang bisa dilakukan. Semua perlu ke tempat yang jauh dan bersama orang-orang jauh.

Enak di tempat asal sendiri. Bandung yang (dulu pernah) sejuk (sekarang panas juga bo). Mau ke Mall, tinggal jalan. Mau ke Masjid tinggal pergi. Mau ke sodara-sodara, tinggal angkat telepon. Hidup ngga pernah sepi. Pas banyak uang, banyak yang bisa dilakukan. Pas ngga ada uang, banyak yang menemani. Hi hi hi.

Rumah kita, kapan kita bertemu kembali?

  • Share/Bookmark

Kangen Makanan Indonesia

Friday, October 9th, 2009

Secara hitung-hitungan saya sudah setahun lebih tidak pulang ke Indonesia. Bukan berarti ga makan makanan Indonesia sih, karena istri saya selalu masak makanan Indonesia kegemaran saya di rumah. Kangennya terutama dengan jajanan Indonesia

Jajanan Indonesia seperti Mie Ayam, Bakso, Siomay, Pempek, Sate Padang, dan lainnya memang bikin kangen setelah cukup banyak makan kerupuk lekor, mie lagi dan mie lagi di sini. Sayangnya yang juga hampir ga ada. Kalaupun ada, rasanya ngga seperti yang di Indonesia. Kalau yang rasanya mirip dengan Indonesia, ada di Kuala Lumpur sana.

Makanya ketika kemarin ada konferensi di Kuala Lumpur, saya sempatkan untuk jajan makanan Indonesia. Yang terkenal, terletak di daerah Chow Kit. Kata orang, di sini pusat ngumpulnya orang Indonesia di Malaysia.

Untuk sampai ke sini, agak susah juga. Kalau bis, dari KL Sentral dan Puduraya ada sih yang ke sini, yaitu bis nomor 111. Tapi ngga tau deh, langsung atau ga. Soalnya kan rutenya muter-muter gitu.

Pake taksi juga lumayan mahal. Dari KL Sentral yang bertarif resmi harganya sudah RM 13.  Waktu tempuh padahal cukup cepat, ga sampe 1/2 jam. Apalagi kalau dari KLCC, cuma RM 5 dan cepet banget deh.

Tempat yang terkenal di sini adalah Rumah Makan Padang yang judulnya Garuda. Letaknya di Jalan Raja Alang. Kalo siang, tempat ini penuh melulu. Masakannya mirip dengan RM Padang di Indonesia. Harganya agak di atas rata-rata. Untuk nasi ayam saja paling tidak kita harus merogoh kantong sedalam RM 6. Padahal di rumah makan biasa, pakai ayam paling banter RM 4.

Masakan jawa juga banyak. Di depan Jalan Raja Alang ada satu restoran yang namanya Restoran Jawa An Nuur. Saya sempat merasakan sotonya sekali. Lumayan enak. Mirip dengan yang ada di Lucky Plaza Singapura.

Tapi beberapa teman menyarankan Restoran TAR untuk dikunjungi. Letaknya tepat di bawah stasiun monorail Chow Kit. Di sana bisa kita jumpai Es Teler, Siomay, Bakso, Mie Ayam, dan masakan khas Indonesia lainnya. Harganya juga lumayan tinggi, hampir sama dengan restoran Padang tadi.

Setiap hari selama di KL kemarin saya ke restoran ini. Wah, cukup terpuaskan juga. Yang kerja juga dari Semarang dan sekitarnya. Orang Indonesia semua, dan pada faseh ngomong Bahasa Jawa hehehe.

Kapan-kapan main lagi ke sana ah.

  • Share/Bookmark

Jalan-jalan ke Genting Highland

Thursday, October 8th, 2009

Genting highland adalah sebuah kota hiburan di Malaysia. Di sana ada bermacam hiburan seperti pertunjukan artis, permainan video, judi (hiburan kah?), dan taman tema. Seperti namanya, memang Genting terletak di tempat yang tinggi.

Untuk sampai di sana, kalau tidak punya kendaraan sendiri kita bisa naik bis. Ada bis umum yang bertolak dari Titiwangsa. Tapi, Genting Highland punya layanan bis sendiri yang bisa diakses dari banyak tempat diantaranya adalah Puduraya, KL Sentral, dan Gombak.

Layanan bis ini bisa dibeli terpisah atau secara paket dengan layanan lainnya. Misalnya bisa dibeli dengan cable car atau di Indonesia juga dikenal sebagai kereta gantung atau gondola. Malah kalau mau lebih murah, beli saja paket Go Genting yang menawarkan ongkos pergi pulang dan taman tema luar.

Kebetulan ketika saya ke sana, saya pakai paket Go Genting yang berharga RM 140 untuk 4 orang. Jam keberangkatan dan jam pulang bisa dipilih sendiri. Untuk kenyamanan, pergi nya pagi dan pulangnya sore. Jangan pulang terlalu malam.

Perjalanan bis, sekitar 45 menit dari KL Sentral ke Genting Cable Car. Dari sini kami naik Cable Car terpanjang di Asia tenggara katanya. Cable car menuju ke atas. Cukup mengerikan bagi yang takut ketinggian. Makanya, lebih baik pulang sore hari ketika kita masih bisa melihat sinar matahari. Kalau malam, suasana seram ketinggian bertambah besar dengan kegelapan di luar cable car.

Pagi hari orang belum begitu ramai, jadi ngga terlalu lama menunggu giliran untuk sampai ke atas. Di stasiun atas, ternyata banyak kabut yang menyelimuti kompleks hotel dan taman permainan.

Setelah sampai di atas, mencari taman tema agak susah. Ternyata taman tema berposisi setelah kasino (tempat main judi). Kalau mau masuk sini, selalu di tanya kartu identitas (IC) kalau berwajah asia. Soalnya warga negara Malaysia yang beragama Islam dilarang masuk ke dalam kasino. Tapi ada teman saya yang iseng masuk, ditanya IC dia kasih passport. Ternyata boleh tuh masuk ke dalam. Artinya, agama apapun boleh masuk ke sana asal bukan warga negara Malaysia. Ngga tau deh sekarang masih bisa seperti itu atau ga.

Kembali ke taman tema. Paket yang saya ambil termasuk taman tema luar (Outdoor Theme Park). Jumlah mainan cukup banyak. Kebanyakan bisa untuk keluarga / anak-anak. Daftar permainan lengkap bisa dilihati di websitenya.

Untuk permainan yang agak menyeramkan, biasanya ada syarat tambahan. Misalnya ketinggian dan berat badan. Enaknya di sini yang antri ga terlalu banyak seperti di Dunia Fantasi. Jadi kalau mau coba yang asyik-asyik, cukup ngantri ngga sampai sejam sudah bisa masuk. Apalagi kalau sudah sore dan bukan hari libur, biasanya makin sedikit yang antri.

Harga makanan standar saja. Hampir sama dengan harga makanan di KL. Jadi ngga usah terlalu khawatir kelebihan belanja makanan. Harga KFC pun sama dengan yang lain.

Harga paket Go Genting terhitung murah, karena untuk ongkos pulang pergi saja sudah lebih dari RM 18. Artinya kalau kita naik dua permainan, harga yang dibayar sudah impas. Apalagi seperti anak-anak saya yang main bumper car (bom bom car di dufan) sampai 7 kali, belum terhitung permainan lainnya, tentu sudah sangat murah.

Oh iya, biar jangan kecewa, coba lihat jadwal maintenance anjungan permainan di website genting. Jadi jangan sampai sudah berharap banyak pingin main sesuatu eh ngga kesampaian gara-gara sedang diperbaiki. Setidaknya saat saya ke sana, ada 3 anjungan yang sedang diperbaiki tapi secara umum kami sekeluarga sudah cukup menikmati permainan yang ada.

Pengen ke sana lagi? Kemungkinan besar iya. Dufan masih terlalu jauh sih, hehehe. Harga lebih mahal dan ngantri lebih lama. Biar dinikmati dulu deh di sini.

  • Share/Bookmark

Ngumpul, Makan, dan Gosip

Saturday, September 26th, 2009

Seperti dalam tulisannya Bang Aip, teman-teman mahasiswa orang Indonesia itu suka ngumpul. Selesai sholat Jum’at, ngumpul di pojok Masjid. Kalau mau makan siang, bareng-bareng berangkatnya. Jalan-jalan ke mall juga ngga sah kalau cuma sendirian, maunya bergerombol kalau perlu sewa mobil bersama.

Apalagi yang bawa keluarga, makin top markotop aja kalo ngumpul. Anak-anaknya senang karena bisa main, bahkan sampai larut malam. Berenang atau bertamasya juga rame kalo bersama anak-anak mahasiswa lain.

Ibu-ibu juga senang, karena bisa bertukar cerita (gosip kali ya) atau sekedar melepaskan uneg-uneg beratnya hidup di negeri orang dengan teman senasib sepenanggungan.

Bapak-bapak juga senang, bisa makan-makan yang kalau bikin sendiri repot banget dan kayaknya ngga mungkin didapat. Kongkow dan tukeran rokok sudah biasa dilakukan.

Malam ini, 25 September 2009 kami mengadakan acara ngumpul lagi. Menghabiskan sisa dana buka puasa bersama, kami bikin sate ayam, gule nangka, sop tulang, lontong dan nasi. Persiapannya juga ngga ribet, cuma belanja di pagi hari dan dikerjakan sore hari, sudah siap di masak malam hari.

Pekerjaan yang paling sulit cuma menyalakan bara api, yang perlu perjuangan keras supaya apinya merata dan segera bisa dipakai untuk membakar sate. Setelah bara jadi, semua pekerjaan jadi gampang.

Begitu deh, kegiatan ngumpul, makan, dan gosip yang kadang-kadang dilakukan oleh kelompok mahasiswa Indonesia di sini, terutama yang bawa keluarga. Apalagi di kesempatan khusus seperti malam tahun baru, tujuh belasan, dan hari raya biasanya ngga dilewatkan dari kumpul-kumpul.

Kadang, kumpul-kumpul juga dilakukan untuk mendamaikan orang-orang yang berseteru. Maklum saja, banyak kepala dari banyak tempat, tentu yang namanya pergesekan pernah terjadi juga. Biasanya sih, yang turun gunung adalah tetua kita, dosen-dosen asal Indonesia yang coba mengeratkan lagi tali silaturahmi.

Ya, bener juga sih. Merekatkan tali silaturahmi. Entah kapan lagi ada acara seperti ini. Acara yang biasanya dilakukan disaat istimewa. Tahun depan, kebanyakan dari kami mungkin sudah pulang ke Indonesia. Mahasiswa baru dari Indonesia belum sebanyak yang sekarang. Jadi, ngga tau apa masih ada ngumpul-ngul, makan, dan ngegosip seperti ini.

Mudah-mudahan masih.

  • Share/Bookmark

Kado Lebaran

Sunday, September 20th, 2009

Sip sip sip, tahun ini dapat kado lebaran istimewa dari Chris John, juara dunia kelas bulu WBA dari Semarang Indonesia. Barusan baca beritanya di internet, kalo Chris John menang angka atas penantangnya, Rocky Juarez dari Amerika.

Sebagai catatan, pertandingan ini adalah pertandingan rematch. Sebelumnya bulan Februari kemarin kedua petinju ini sudah bertarung, di Texas Amrik. Tapi pertandingan ini dianggap gagal karena hasilnya seri. Sebenarnya ada kecurigaan kalau hasil seri ini adalah curang, sebab dari wasit sampai juri semuanya dari kampung halaman Rocky Juarez.

Kalau lihat perbincangan di forum-forum tinju, banyak orang bilang Chris John sebenarnya menang telak atas Rocky Juarez saat itu. Tapi faktor wasit dan juri itu telah merampas kemenangan Chris John.

Untuk memuaskan semua orang, akhirnya ditentukan partai tanding ulang yang dilaksanakan tadi pagi waktu Indonesia. Pertandingannya sendiri dilaksanakan di Las Vegas, Amerika juga sih. Tapi katanya tempat itu lebih netral, dengan wasit dan juri pilihan yang lebih netral.

Akhirnya memang CJ The Dragon bisa menang telak. Ketiga juri (kalo di Kompas, 2 juri) memberikan angka kemenangan kepada CJ. Dan mudah-mudahan bisa membawa CJ ke jenjang karir yang lebih tinggi. Ayo CJ, jadi orang Indonesia pertama yang merangkul berbagai macam juara tinju.

  • Share/Bookmark

Lebaran di Malaysia

Wednesday, September 16th, 2009

Tahun ini insya Allah menjadi tahun ke empat saya berlebaran di Malaysia. Alhamdulillah, meskipun ngga bisa bertemu keluarga besar saya masih merayakan lebaran bersama keluarga sendiri. Sepi ga?

Di kampus sebenarnya banyak mahasiswa Indonesia. Tapi yang membawa keluarga hanya di bawah 30 saja. Jadi sebagian besar pulang ke Indonesia saat lebaran. Yang bawa keluarga, sebagian besar tetap berlebaran di Malaysia. Soalnya ongkosnya gede juga, apalagi libur lebaran paling banter cuma seminggu dua minggu. Rugi katanya kalau pulang cuma sebentar.

Kalau sekedar berlebaran saja sih, ngga sepi dari orang Indonesia. Seperti biasa, kami ngumpul setelah sholat Ied. Tapi tempat tinggal dan kampus kami lumayan sepi karena sebagian besar orang pulang kampung.

Acara standard, setelah sholat ied, makan bareng di kantin. Biasanya disediakan makanan katering oleh kampus. Maklum, hampir semua kantin tutup sedangkan banyak mahasiswa internasional yang ngga mungkin pulang.

Siangnya, sering ada undangan makan. Ada yang dari supervisor, kenalan, atau restoran yang sering dikunjungi orang Indonesia. Sorenya biasanya kami pergi ke rumah imam Masjid Kampus yang memang orang Indonesia, tapi sudah lama tinggal di sini bahkan anaknya pun sudah jadi warga negara Malaysia. Imam ke dua, adalah orang Malaysia tapi lulusan Gontor yang sering bilang orang Malaysia yang berhati Indonesia. Karena letak rumahnya bersebelahan, ya tentu kami kunjungi keduanya bergantian.

Rencananya tahun ini ada acara ngumpul bareng, makan bareng mahasiswa Indonesia. Ibu-ibu sudah bagi tugas untuk buat makanan dan minuman. Mudah-mudahan tidak merepotkan.

Setelah itu, rencananya mau ada acara jalan-jalan bareng. Tapi belum ditentukan mau kemana. Sebelum ini, pernah kami pergi ke pantai atau air terjun setelah lebaran syawal atau lebaran haji. Tapi sering kecewa, karena tempatnya sepi akibat orang ngga ada yang datang dan berjualan.  Untuk tahun ini beberapa keluarga bahkan ada yang sudah punya acara jalan-jalan sendiri, biasanya sih ke Kuala Lumpur.

Kangen juga euy, berlebaran di Indonesia. Tapi harus ditahan dulu nih, sampe kelar kerjaan di sini. Mudah-mudahan do’a ramadhannya dikabulkan jadi saya bisa segera pulang ke Indonesia. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Kompetisi Entrepreneur Muda Asia

Monday, September 14th, 2009

Wow, hebat. 9 dari 25 finalis Asia’s Young Entrepreneur berasal dari Indonesia. Ga tanggung-tanggung, bahkan beberapa orang umurnya masih 19 tahun. Masih muda banget tuh (dibanding saya kali ye).

Melihat pengumuman seperti di atas, jadi ingat ajang Asian Idol dan Miss Universe yang baru saja berlalu. Hebatnya, wakil Indonesia masih bisa mendapatkan vote tertinggi dibandingkan peserta lain, meskipun akhirnya ga jadi juara juga seh hehehe.

Cuma sekarang yang jadi masalah adalah: ada 9 orang yang harus dipilih. Kalau cuma 1 kan gampang seperti kasus Miss Universe kemarin. Voter memilih wakil Indonesia. Kalo 9? Terbagi rata ya mungkin ga jadi juara juga ya.

Saingannya berat Bo, soalnya ada yang dari China dan India juga. Seperti yang kita ketahui, China dan India pengakses internetnya cukup banyak. Apalagi jumlah finalis dari negara mereka ngga banyak-banyak amat. Jadi ya bisa ditebak dong, kalo mereka bakalan dapat banyak vote.

Nah, ngga tau nih yang dari Indonesia bisa menang atau ga. Yang pasti, kalau melihat jumlah vote, bisa jadi kalah banyak dari China dan India. Tapi ngga menutup kemungkinan menang. Soalnya Asian Idol juga yang menang ternyata dari Singapura. Kenapa bisa?

Lah, kan disuruh milih 2 negara. Yang India milih negaranya sendiri ditambah satu negara lainnya. Dia mikir, Singapura kan negara kecil, kalau pun nambah voter ngga akan bisa sebanyak India. Yang Indonesia juga mikir begitu. Akhirnya ya Singapura lah yang menjadi pemenangnya.

Tapi bukan karena Rasial gitu juga sih. Memang penyanyi dari Singapura bersuara bagus, akhirnya dia terpilih.

Kalo melihat salah satu finalis dari Indonesia, ternyata ada public figure juga. Oscar Lawalata. Wah, kalo dia mengerahkan teman-teman selebritinya, kayaknya bisa jadi dia yang menjadi favorit nih.

  • Share/Bookmark