Cerita

Aduuuh, ngga kerasa ya. Dua minggu itu waktu yang sangat cepat. Masih belum banyak tempat yang disinggahi. Teman-teman di kantor juga nanyain, koq ngga datang. Padahal datang di waktu malam. Soalnya siang hari keluyuran ke sana ke mari, wisata fashion dan kuliner. Berhenti wisata karena kehabisan dana likuid, hihihihi.

Memang, meskipun Indonesia itu semrawut, tapi koq rasanya lebih indah daripada di Malaysia sini yang lebih teratur. Makanannya, tempat wisatanya, udaranya, orang-orangnya, Indonesia jauh lebih baik. Tapi koq ngga bisa jadi tujuan wisata nomor satu dunia ya? Mungkin karena terlalu banyak orang yang ambil keuntungan dari wisata, jadi aja bikin lieur wisatawan. Di Malaysia hampir ngga ada orang jualan tak teratur di tempat wisata. Di Indonesia sih, jangankan yang jualan, yang narikin parkir dari satu tempat wisata aja bisa banyak orang. Bayangkan di pintu masuk di tarik uang retribusi orang dan mobil. Eh ditempat parkir diminta lagi, pindah parkir ke yang teduh, kena bayar parkir lagi, hehehe. Lieur memang.

Sewaktu pesan tiket pesawat, saya isi form pesanan satu tas bagasi saat berangkat ke Indonesia dan tiga tas bagasi saat kembali ke Malaysia. Bener aja, tiga tas bagasi. Tambah lagi satu tas kabin, jadi total keseluruhan 70 kg yang harus saya bawa sendiri. Maklum, istri saya harus bawa tiga anak kecil. Akhirnya badan pada sakit semua dalam dua hari.

Sesampainya di sini, mood untuk bekerja belum balik sepenuhnya. Biar aja dulu deh, menikmati liburan. Sekalian mengucapkan selamat menempuh hidup baru untuk adik saya yang menikah 2 Agustus lalu. Cepat punya anak ya.

Tags:

Blug, jam 2 pagi terbangun. Hati ngga tenang, karena besok pagi adalah perjalanan panjang menuju Indonesia tercinta setelah dua tahun berkelana di negeri orang. Baru bisa tidur lagi setelah jam setengah empat pagi.

Teng tong, pagi jam 6 sudah bangun. Beberes biar semua siap. Barang-barang sih sudah disiapkan jauh hari. Beratnya tas travel yang dibawa. Semua siap berangkat jam setengah sembilan pagi. Dari rumah di antar oleh dua orang teman. Satu mobil bawa tas travel, istri, dan aku. Satu lagi bawa anak-anak.

Sampai di terminal bis, belum datang bisnya. Ternyata banyak orang yang pergi ke Kuala Lumpur bareng bisku. Ada dua puluh dua tiket. Bis cukup penuh. Bahkan semua tempat duduk terisi setelah tempat pemberhentian ketiga. Dari terminal bis berangkat jam 9 pagi.

Wuaah, lamanya perjalanan ke KL. Lebih lama dari perjalanan KL Jakarta. Badan cape, istirahat dulu di hotel setengah hari. Bayarannya sih sama, satu hari hehehe. Istriku jalan-jalan sendiri di Petaling Street. Ribet katanya kalo bawa anak-anak kecil tiga orang. Penat, tapi puas katanya. Ngga ada apa-apa sih. Masih lebih bagus Bandung.

Jam 8.20 malam, sudah siap keluar dari hotel. Dipesenin taxi oleh petugas hotel. Tapi taxi datangnya lama banget. Jam 9.05 baru datang. Sempet khawatir ngga keburu check in. Tapi taxi ngebut dan sampai di Bandara LCCT jam 10.05 malam. Check in dan ternyata setelah ditimbang, travel bag kelebihan sekilo. Dipindahin dulu deh ke tas kabin. Lalu nunggu pesawat.

Eh pesawat terlambat. Padahal itu sudah di delay dua jam. Jadwal semula jam 9.30 malam jadi 11.30 malam. Pesawat dari Jakarta datang terlambat, jam 12 baru berangkat. Kasihan yang nunggu di Jakarta. Tapi anak-anak senang karena bisa lihat lampu kota dari atas udara. Mereka tidur setelah pesawat steady.

Lapar, pesen mi ABC cup. Satunya 13.000. Berapa ya aslinya? Saat itu ngga ada duit rupiah di kantong. Malas kokoreh dari dalam tas di kabin. Kata petugasnya boleh koq bayar pake ringgit. Beli tiga, total 39.000. Bayar 50 ringgit, eh dikembalikan 58000. Satu ringgit = 3000. 150.000 kembali 58.000 untuk 3 cup mie? Rugi bandar. Terpaksa kokoreh tas, ambil uang rupiah. Minta balikin uang ringgitnya.

Sampe di Jakarta jam 1 malam. Anak-anak sudah segar lagi. Aku nih yang teler. Kurang tidur. Akhirnya sampe di rumah ortu jam 3 pagi. Langsung tidur, sampe jam 6 pagi. Sebenernya udah bangun sih jam 5, sholat doang terus tidur lagi.

Siangnya beli nomor hp Indonesia. Terus camer adikku datang dengan keluarga. Ngobrol sana-sini sampe makan siang. Setelah mereka pulang, kami siap-siap pergi ke Bandung. Jam 3 berangkat, dan sekarang saya sudah di rumah mertua menikmati dinginnya Bandung. Biasanya di tronoh, 33 derajat celcius. Sekarang, di Bandung 18 derajat. Dinginnya, ngga perlu AC lagi deh.

Seneng banget bisa balik lagi di Indonesia. Jalan lebar, mulus, dan kosong sekarang sudah digantikan dengan jalan sempit, berlubang, dan macet. Ngga papa, ini Indonesia bung, katanya. Hopefully, sehat dan bahagia sampe balik lagi ke Malaysia.

Tags:

Aku Pulang, dari rantau bertahun-tahun di negeri orang

Oh Malaysia

Akhirnya setelah hampir dua tahun ngga pulang ke Indonesia, besok 19 Juli 2008 aku pulang sebentar. Semua keluarga dibawa. Menghabiskan hampir setengah tabunganku hehehe. Tapi biarlah, itu berbaloi. Soalnya pulang dalam suasana khusus, pernikahan adik saya.

Semua keluarga siswa seangkatan atau yang di atas saya yang sudah lama ada di Malaysia sudah pernah pulang ke Indonesia. Sekali atau dua kali. Bahkan ada yang setahun dua kali. Pulangnya sampai satu bulan penuh. Aku sih, cuma dua minggu saja. Soalnya kuliah semester ini sudah mulai berjalan Senin depan.

Kuliahku belum selesai. Belum tau juga kapan selesainya. Tapi insya Allah, begitu selesai aku akan langsung pulang. Sebenarnya, kata teman-temanku bekerja di sini sangat menggiurkan. Beberapa lulusan universitasku langsung diterima di Petronas, bagian riset, dengan gaji yang mencapai 45 juta rupiah sebulan. Wah, gajiku dua tahun juga ngga sampe segitu. Gimana, tergiur ga?

Bahkan sudah ada yang berancang-ancang untuk tidak segera kembali. Padahal mereka sudah teken kontrak kembali bekerja di Indonesia. Maklumlah, seperti aku, mereka juga dapat gaji bulanan meskipun ngga bekerja. Tapi itu urusan masing-masing. Aku sih, takut kalo uang yang sudah didapat malah jadi tidak halal karena gagal melaksanakan kewajiban. Uangnya sih menggiurkan, tapi takut kalo jadi sesuatu yang tidak baik di masa depan. Bukan hanya untuk aku, tapi juga untuk keluargaku, terutama anak-anak. Sudah banyak contoh nyata, orang-orang yang mencari harta tidak halal memiliki keluarga yang berantakan. Aku ngga mau.

Rizki itu bisa dicari di mana saja. Ngga harus di Malaysia. Yang penting cukup untuk semua kebutuhan. Perlu uang untuk sekolah anak, ada. Perlu uang untuk makan, ada. Perlu uang untuk beli rumah, ada. Perlu uang untuk naik haji, ada. Entah gimana deh nanti caranya, yang penting halal.

Pulang pulang pulang. Meskipun belum tau rumahnya dimana, soalnya belum mampu beli rumah sendiri sih. Tapi yang penting, begitu mau tidur, ada tempat untuk tidurnya, iya ngga?

Tags:

“Aku mual membaca buku ini”

Begitu kata seorang teman istriku.

“Ih kepala ini rasanya jangar, pusing tujuh keliling pas baca buku ini. Apa kayak gitu ya kelakuan para suami?”

Itu kata istriku setelah membaca buku “Catatan Hati Seorang Istri” karya Asma Nadia, terbitan Lingkar Pena Publishing dan didistribusikan oleh Mizan. Isinya tentang kelakuan para suami kurang ajar, yang menikah bukan cuma sekali. Tentu saja, membuat para istri atau calon istri yang membacanya merasa sebel, marah, muak, dan bimbang.

Saya ngga baca semua cerita dalam buku ini. Cuma baca cerita di bagian depan saja, tentang Pak Haris yang berterus terang kalau dia ingin menikah adalah karena dia cinta wanita itu. Bukan karena sunnah Rosul atau alasan klise lainnya. Kenapa ngga saya baca semua? Takut terinspirasi hehehe.

Biarlah sekarang saya menjadi suami yang setia dengan satu istri. Satu istri yang ini saja sudah berlimpah-limpah kebahagiaannya buat saya. Dengan tiga anak yang sudah menjadi buah hati kami, apa lagi sih yang dicari? Kan kegiatan kehidupan ini ngga cuma sekedar menyalurkan nafsu saja. Masih banyak hal lain yang bisa dikerjakan dengan satu istri dan tiga anak.

Tags:

Keluarga Nano, punya tiga orang anak. Anak pertama dan kedua sangat rajin belajar. Mereka terkenal sebagai anak yang pintar di sekolahnya. Sedangkan anak yang bungsu, biasa-biasa sajalah. Cenderung tidak suka belajar malah. Karena itu, anak bungsu ini sering kena marah oleh orangtuanya.

“Budi, kamu ini gimana sih. Koq ngga belajar kayak kakak kamu. Masa kamu ngga sepintar kakak kamu. Memangnya kamu ngga malu, ngga setanding dengan kakak?”

“Ah, biarin aja Bu. Belajarnya kan udah, di sekolah. Di rumah sih cuma buat ngerjain PR aja. Udah deh, sini Budi bantuin ngebersihin rumah dan cuci piring.”

Begitulah Budi, si anak ketiga tadi. Daripada belajar, dia lebih suka mengurus pekerjaan rumah. Meskipun keluarga itu tidak punya pembantu, si ibu bisa sedikit leluasa karena ada bantuan Budi. Sedangkan dari kakak yang lain tidak pernah ibu meminta bantuan. Melihat prestasi mereka di sekolah, ibu memahami kalau mereka tidak membantu.

“Ibu, Bapak, tolong belikan aku gitar dong. Aku mau belajar musik nih”

“Ah kamu ini, bukannya belajar yang baik malah belajar musik. Lihat tuh kakak mu yang lain, ngga bisa musik juga masa depan mereka cerah. Selalu berprestasi di sekolah dan bakalan gampang dapat kerja yang bagus. Kalau kamu main musik, masa depan macam apa yang kamu harapkan”

Budi tidak kecewa meskipun tidak dibelikan gitar. Sedikit-demi-sedikit Budi mengumpulkan uang jajannya supaya bisa beli gitar. Kakak-kakaknya tidak pernah kesulitan mendapatkan barang apapun yang mereka inginkan. Biasanya, mereka bisa minta apa saja setelah pembagian rapor. Maklum deh, juara satu.

Setelah besar, kakak-kakak Budi melanjutkan ke perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Tentu saja orangtuanya bangga dengan prestasi mereka. Apalagi setelah mereka mendapatkan beasiswa, bahkan sampai sekolah ke luar negeri.

Budi berbeda, selepas SMA Budi ingin menjadi seniman. Pemusik. Tentu saja orangtuanya marah.

“Kamu ini apa-apaan. Sudah susah-susah kami membesarkan kamu supaya kamu jadi orang pintar. Supaya kamu sekolah yang benar. Supaya kamu bisa dapat kerjaan yang bagus. Eh sekarang kamu mau jadi pemusik. Ga boleh”

Budi senyum saja. Ini pilihan hidupnya.

“Ngga apa-apa lah Bu, Pak. Rizki kan Tuhan yang atur. Insya Allah dengan bermusik pun aku akan bisa hidup bahagia.”

“Ngga boleh!!! Kalau kamu masih membantah juga, lebih baik kamu pergi dari sini. Bapak ngga mau lihat wajah kamu lagi.”

Wah, si Budi dan juga ibunya sedih karena dia diusir. Tapi bagaimana lagi. Bukannya Budi ingin melawan orangtuanya. Tapi ini jalan hidup yang dipilihnya. Insya Allah, dia juga tidak akan menyia-nyiakan orangtuanya yang telah membesarkan dirinya dengan baik sehingga bisa membuat pilihan hidup sendiri.

Budi pergi dari rumah itu, untuk menjadi seniman. Pemusik. Yah memang tidak seberapa hasilnya. Tapi masih bisa dipakai untuk nyicil rumah dan menikah. Meskipun sudah diusir, tapi Budi masih sering datang ke rumah. Sekedar bantu-bantu ibunya yang sekarang kesepian setelah semua anaknya berada di luar. Bapaknya juga masih merengut, tapi hatinya sudah cair. Kadang masih suka bercanda-canda.

Kakak-kakak Budi sudah kembali dari belajar di luar negeri dan bekerja diperusahaan bonafide dengan gaji puluhan kali pendapatan Budi. Mereka juga sudah menikah dan tinggal dengan keluarganya. Sibuknya mereka pergi pagi pulang malam untuk bekerja. Jangankan mengunjungi orangtua, untuk keluarganya saja sudah sangat sedikit waktu yang bisa disediakan.

Suatu hari, Bapak si Budi terserang stroke. Akibatnya dia tidak bisa mengerjakan keperluannya sendiri. Semua pekerjaan harus dibantu, termasuk yang jorok-jorok seperti membuang air kecil dan besar. Kakak-kakak si Budi tidak ada yang sempat membantu. Maklum, mereka harus menjaga karir mereka. Paling banter mereka bisa mengupah perawat untuk melakukan tugas-tugas kotor itu. Tapi ngga ada perawat yang sabar. Bapak Budi selalu merasa tidak enak, melihat raut muka perawat yang selalu terlihat jijik ketika membersihkan dirinya. Akhirnya semua perawat itu dipulangkan. Ibu Budi sendiri sudah tua, tidak ada cukup tenaga untuk melakukan pekerjaan itu.

Suatu hari, Budi dan keluarganya datang lagi ke rumah.

“Bapak, ibu. Aku dan keluarga mau tinggal di sini supaya bisa mengurus Bapak dan Ibu.”

“Lho, bagaimana dengan pekerjaan kamu nak?”

“Tenang saja, masih banyak waktu luang koq. Insya Allah ngga akan mengganggu. Lagipula, kalau aku ngga ada istri dan anakku juga bisa membantu kakek neneknya”

Bapak Budi merasa terharu. Kelihatan si Budi dan keluarganya tidak pernah merasa jijik untuk membantu dirinya. Mereka selalu mengerjakan keperluan si Bapak dengan senyuman dan keikhlasan. Betapa dulu, si anak yang dianggap cacat keluarga ini ternyata adalah anak yang diimpikan oleh semua orangtua. Anak yang berbakti, sampai akhir hayatnya.

Pesan: Ini cerita beneran dari keluarga teman.

Tags: