Keluarga Nano, punya tiga orang anak. Anak pertama dan kedua sangat rajin belajar. Mereka terkenal sebagai anak yang pintar di sekolahnya. Sedangkan anak yang bungsu, biasa-biasa sajalah. Cenderung tidak suka belajar malah. Karena itu, anak bungsu ini sering kena marah oleh orangtuanya.
“Budi, kamu ini gimana sih. Koq ngga belajar kayak kakak kamu. Masa kamu ngga sepintar kakak kamu. Memangnya kamu ngga malu, ngga setanding dengan kakak?”
“Ah, biarin aja Bu. Belajarnya kan udah, di sekolah. Di rumah sih cuma buat ngerjain PR aja. Udah deh, sini Budi bantuin ngebersihin rumah dan cuci piring.”
Begitulah Budi, si anak ketiga tadi. Daripada belajar, dia lebih suka mengurus pekerjaan rumah. Meskipun keluarga itu tidak punya pembantu, si ibu bisa sedikit leluasa karena ada bantuan Budi. Sedangkan dari kakak yang lain tidak pernah ibu meminta bantuan. Melihat prestasi mereka di sekolah, ibu memahami kalau mereka tidak membantu.
“Ibu, Bapak, tolong belikan aku gitar dong. Aku mau belajar musik nih”
“Ah kamu ini, bukannya belajar yang baik malah belajar musik. Lihat tuh kakak mu yang lain, ngga bisa musik juga masa depan mereka cerah. Selalu berprestasi di sekolah dan bakalan gampang dapat kerja yang bagus. Kalau kamu main musik, masa depan macam apa yang kamu harapkan”
Budi tidak kecewa meskipun tidak dibelikan gitar. Sedikit-demi-sedikit Budi mengumpulkan uang jajannya supaya bisa beli gitar. Kakak-kakaknya tidak pernah kesulitan mendapatkan barang apapun yang mereka inginkan. Biasanya, mereka bisa minta apa saja setelah pembagian rapor. Maklum deh, juara satu.
Setelah besar, kakak-kakak Budi melanjutkan ke perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Tentu saja orangtuanya bangga dengan prestasi mereka. Apalagi setelah mereka mendapatkan beasiswa, bahkan sampai sekolah ke luar negeri.
Budi berbeda, selepas SMA Budi ingin menjadi seniman. Pemusik. Tentu saja orangtuanya marah.
“Kamu ini apa-apaan. Sudah susah-susah kami membesarkan kamu supaya kamu jadi orang pintar. Supaya kamu sekolah yang benar. Supaya kamu bisa dapat kerjaan yang bagus. Eh sekarang kamu mau jadi pemusik. Ga boleh”
Budi senyum saja. Ini pilihan hidupnya.
“Ngga apa-apa lah Bu, Pak. Rizki kan Tuhan yang atur. Insya Allah dengan bermusik pun aku akan bisa hidup bahagia.”
“Ngga boleh!!! Kalau kamu masih membantah juga, lebih baik kamu pergi dari sini. Bapak ngga mau lihat wajah kamu lagi.”
Wah, si Budi dan juga ibunya sedih karena dia diusir. Tapi bagaimana lagi. Bukannya Budi ingin melawan orangtuanya. Tapi ini jalan hidup yang dipilihnya. Insya Allah, dia juga tidak akan menyia-nyiakan orangtuanya yang telah membesarkan dirinya dengan baik sehingga bisa membuat pilihan hidup sendiri.
Budi pergi dari rumah itu, untuk menjadi seniman. Pemusik. Yah memang tidak seberapa hasilnya. Tapi masih bisa dipakai untuk nyicil rumah dan menikah. Meskipun sudah diusir, tapi Budi masih sering datang ke rumah. Sekedar bantu-bantu ibunya yang sekarang kesepian setelah semua anaknya berada di luar. Bapaknya juga masih merengut, tapi hatinya sudah cair. Kadang masih suka bercanda-canda.
Kakak-kakak Budi sudah kembali dari belajar di luar negeri dan bekerja diperusahaan bonafide dengan gaji puluhan kali pendapatan Budi. Mereka juga sudah menikah dan tinggal dengan keluarganya. Sibuknya mereka pergi pagi pulang malam untuk bekerja. Jangankan mengunjungi orangtua, untuk keluarganya saja sudah sangat sedikit waktu yang bisa disediakan.
Suatu hari, Bapak si Budi terserang stroke. Akibatnya dia tidak bisa mengerjakan keperluannya sendiri. Semua pekerjaan harus dibantu, termasuk yang jorok-jorok seperti membuang air kecil dan besar. Kakak-kakak si Budi tidak ada yang sempat membantu. Maklum, mereka harus menjaga karir mereka. Paling banter mereka bisa mengupah perawat untuk melakukan tugas-tugas kotor itu. Tapi ngga ada perawat yang sabar. Bapak Budi selalu merasa tidak enak, melihat raut muka perawat yang selalu terlihat jijik ketika membersihkan dirinya. Akhirnya semua perawat itu dipulangkan. Ibu Budi sendiri sudah tua, tidak ada cukup tenaga untuk melakukan pekerjaan itu.
Suatu hari, Budi dan keluarganya datang lagi ke rumah.
“Bapak, ibu. Aku dan keluarga mau tinggal di sini supaya bisa mengurus Bapak dan Ibu.”
“Lho, bagaimana dengan pekerjaan kamu nak?”
“Tenang saja, masih banyak waktu luang koq. Insya Allah ngga akan mengganggu. Lagipula, kalau aku ngga ada istri dan anakku juga bisa membantu kakek neneknya”
Bapak Budi merasa terharu. Kelihatan si Budi dan keluarganya tidak pernah merasa jijik untuk membantu dirinya. Mereka selalu mengerjakan keperluan si Bapak dengan senyuman dan keikhlasan. Betapa dulu, si anak yang dianggap cacat keluarga ini ternyata adalah anak yang diimpikan oleh semua orangtua. Anak yang berbakti, sampai akhir hayatnya.
Pesan: Ini cerita beneran dari keluarga teman.