Entries RSS Comments RSS

Archive for the ‘Kebaikan’ Category

Sistem Pertahanan Indonesia

Monday, July 13th, 2009

Sebagai negara kepulauan yang luas dan juga banyak warga negaranya tentu sistem pertahanan yang baik sangat diperlukan. Menjaga kedaulatan bangsa dan juga melindungi bangsa Indonesia dari ancaman dalam dan luar negri adalah beberapa tujuan dari sistem pertahanan yang baik.

Sedihnya memang, banyak peralatan sistem pertahanan belum bisa diproduksi sendiri di dalam negeri. Perangkat militer seperti radar, pesawat tempur, roket, satelit, dan juga berbagai macam senjata masih harus diimpor dari luar negeri. Susahnya lagi kalau terkena embargo peralatan tempur, maka kita akan kesulitan bahkan untuk sekedar memperbaiki peralatan.

Beberapa waktu lalu juga ramai diberitakan tentang banyaknya korban dari pihak militer Indonesia akibat kegagalan fungsi peralatan seperti pesawat latih dan helikopter. Ngga cuma Indonesia sih yang seperti itu, Malaysia juga mengalami hal yang sama. Tapi karena banyak uangnya, tentu Malaysia mampu beli pesawat dan heli yang baru. Malah sekarang Malaysia sudah punya kapal selam yang dibeli dari Perancis.

Untungnya, Indonesia masih punya sumber daya manusia yang hebat. Meskipun sekarang uangnya belum banyak, tetapi dengan berjalannya waktu insya Allah kemampuan untuk menyediakan sendiri sistem pertahanan di Indonesia akan semakin baik. Berikut ini beberapa contoh produksi alat yang berpeluang besar menjadi pendukung sistem pertahanan.

Panser

Beberapa saat setelah pemilu, PT Pindad yang ada di Bandung menyerahkan sebagian panser buatan sendiri untuk militer Indonesia. Ini adalah panser pertama yang berhasil dibuat di dalam negeri. Memang kehandalannya belum teruji di medan perang sungguhan, tapi saya yakin produk ini sudah mengalami pengujian ketat dalam waktu yang lama sehingga bisa diluncurkan sebagai kendaraan perang resmi. Berita agak lengkap bisa dibaca di Kaltim Post.

Roket

Akhirnya Indonesia mampu meluncurkan roket medium. Memang diameternya ga lebih dari setengah meter, tapi jarak jangkauannya lumayan jauh. Kalau benar bisa dikendalikan maka bisa dipakai menembak sasaran dari jarak 100 km.

Roket ini dibuat oleh LAPAN oleh bangsa Indonesia sendiri. Selain berpotensi untuk peluru kendali, roket juga bisa dipakai untuk keperluan eksplorasi antariksa. Menurut rencana, tahun 2014 atau lima tahun setelah tulisan ini dibuat Indonesia sudah bisa meluncurkan satelitnya sendiri dengan roket buatan sendiri.

Satelit

Satelit terutama dibutuhkan dalam telekomunikasi tapi bukan tidak mungkin bisa dimodifikasi untuk kebutuhan sistem pertahanan. Sistem pertahanan Amerika yang menggantungkan informasi dari GPS juga bukan tidak mungkin suatu saat nanti bisa dibuat oleh bangsa Indonesia.

Selain itu, satelit juga bisa dipakai untuk kegiatan mata-mata, melakukan pengintaian ke tempat-tempat yang dicurigai sebagai pengancam kedaulatan negara. Contohnya adalah program google earth yang kadang dipakai juga untuk merencanakan penyerangan ke tempat-tempat tertentu.

Indonesia rasanya sudah punya kemampuan untuk bikin satelit. Beberapa anak bangsa yang sedang sekolah di luar negeri juga sudah dikenal mampu membuat satelit sendiri. Misalnya yang ditunjukkan mahasiswa Indonesia di Belanda yang merancang nano satelit yang akan diluncurkan tahun 2010 untuk keperluan telekomunikasi.

Radar

Radar biasanya digunakan untuk mendeteksi adanya kendaraan-kendaraan asing di laut dan udara. Penting juga untuk sistem pertahanan misalnya seperti yang dilihat di film pearl harbour. Padahal sudah jelas ada pesawat musuh yang masuk dalam wilayah radar, tapi akibat kecuaian akhirnya pearl harbour hancur lebur diserang Jepang.

Mungkin radar buatan Indonesia seperti yang diberikan di kompas, belum bisa mendeteksi pesawat siluman. Tapi tetap ini adalah suatu perkembangan yang baik bagi sistem pertahanan Indonesia. Dengan kemampuan memproduksi radar sendiri maka diharapkan Indonesia mampu menjaga batas-batas terluar negara dari masuknya ancaman-ancaman luar negri. Ancaman ga selalu dalam bentuk ancaman militer. Nelayan asing atau penyelundup juga ancaman, yang mungkin dengan adanya radar bisa dideteksi dengan lebih baik.

  • Share/Bookmark

Pelatahan Blog

Sunday, May 3rd, 2009

Minggu, 3 Mei 2009 kampus saya Universiti Teknologi PETRONAS mendapatkan tamu-tamu penting. Pertama dan kedua, adalah Ibu Fitria Barmawi dari Forum Lingkar Pena Malaysia dan Bapak Raffaell blogger yang tinggal di Malaysia. Peserta pentingnya juga datang dari beberapa PPI universitas di Malaysia seperti APIIT, UUM, USM, UPM, UM, dan UKM.

Tamu-tamu penting ini berkumpul dalam rangka pelatihan “Be A Successful Blogger” yang diselenggarakan PPI UTP dengan sokongan PPI se Malaysia. Isinya kalo dari Bu Tria tentang tips menulis sedangkan dari Pak Raff tentang tips membuat blog.

Di akhir acara pelatihan dibuat sebuah workshop untuk membuat blog berkelompok dan pemenang dari pembuatan blog ini mendapatkan hadiah.

Kecewa juga sih dengan pelatihan ini karena tidak mendapatkan apa yang saya harapkan. Bukan karena materi atau pematerinya kurang bagus lho. Harapan saya adalah ingin mendapatkan petunjuk memperbaiki tulisan saya yang amburadul dan kurang terstruktur ini, misalnya melalui workshop penulisan. Tapi ternyata hanya materi dari Bu Tria saja yang agak nyerempet meskipun ngga sempat praktek. Materi Pak Raff banyak menyentuh sisi layout dan asesori blog yang ngga terlalu berkaitan dengan apa yang saya harapkan dari pelatihan ini.

Kemudian saat lomba juga kriteria penilaian tidak dijelaskan sejak awal. Instruksinya hanya diminta untuk membuat blog dengan isi yang berkaitan dengan pelatihan. Wah banyak juga waktu yang dihabiskan untuk menyiapkan konten sampai akhirnya melupakan layout. Eh pas penilaian yang banyak kontribusi nilai malah layout, bukan konten. Seharusnya kalau tau layout yang menentukan, ya konsentrasi di layout aja. Lagi pula kan layoutnya pakai yang standar diberikan di wordpress, blogspot, atau multiply. Perubahan yang bisa dilakukan juga minimal. Jadi seharusnya sih isi tulisannya yang diberi penilaian yang lebih banyak. Sayang juga terbuang waktu menunggu selesai hanya untuk menyaksikan layout termenarik yang mendapatkan hadiah hehehe. Penonton kecewa, tapi ya sudahlah terima saja.

Buat yang penasaran dengan konten yang saya buat, bisa lihat aslinya di http://gobloginutp.wordpress.com . Tapi saya sertakan di sini juga deh biar lebih gampang aksesnya. Gobloginutp adalah singkatan dari go blog in utp yang artinya kami semua sengaja pergi ke UTP untuk belajar ngeblog. Judulnya seperti judul yang salah, tapi memang itu tujuannya, mendapatkan perhatian dari pembaca terhadap isi tulisan dengan judul yang seperti salah padahal benar. Dan inilah isinya:

PELATAHAN BLOG DI UTP

Trauma itu bisa membunuh potensi seseorang. Contohnya gara-gara trauma tampil di depan umum di masa kecil, kemampuan menyampaikan pikiran dalam bentuk lisan maupun tulisan secara terstruktur menjadi tidak berkembang.

Kacian deh lo! Yang tadinya mungkin bisa jadi presiden, eh malah mentok jadi Pak RT. Ketika seharusnya menjadi direktur bisa-bisa cuma jadi tukang sayur. Sayang banget kan?

Salah satu cara terapi trauma seperti di atas adalah dengan menulis blog. Menurut salah satu pemateri pelatihan “To be a successfull blogger” yang diadakan oleh PPI-UTP bersama dengan PPI Malaysia, blogging adalah salah satu cara untuk mengungkapkan diri.

Buat yang belum pede dengan dirinya, bisa mulai dengan sarana blog yang gratis dengan identitas anonymous. Misalnya make engine blog buatan google di www.blogspot.com atau juga di www.wordpress.com. Kalo pake yang gratis, kita ngga perlu mikir space dan keamanan. Jangka waktu hidupnya juga bisa sangat panjang. Sampe orang yang mati pun, kata Mas Raffaell, isi blognya akan tetep ada selama si engine itu ada.

Kita pun tidak perlu memikirkan mengisi blog dengan nama asli kita. Kita bisa sembunyikan identitas saat mendaftarkan dan membuat blog. Dengan anonymous juga bukan berarti ngga bisa mengembangkan diri lho. Soalnya dengan blog walking atau kunjungan ke blog yang lain, kita bisa koneksi dengan orang lain. Ngga perlu kenalan bisa langsung ngasih komentar. Ngga perlu ngundang orang datang ke blog kita gara-gara baca komentar kita di blog orang lain. Ini cukup membantu orang-orang yang punya krisis percaya diri.

Makin sering nulis dan makin sering komen, maka makin baiklah kualitas kita. Ini terapi yang bagus untuk yang punya trauma. Yang tadinya kuper karna kurang pede, jadi gaul deh lewat blog! Keren kan? Jaringan antarblog juga bisa dijadikan sarana untuk memperbaiki kualitas pede kita lho. Kita bisa minta orang lain untuk me-review tulisan kita juga dengan sering membaca, kita juga bisa belajar dari tulisan orang lain. Begitu kata ibu Fitria Barmawi, salah satu pembicara dalam acara yang sama yang diadakan di Perak, UTP tanggal 3 Mei 2009.

Blog juga bukan cuma buat terapi lho. Tergantung tujuan masing-masing, bikin blog bisa buat cari uang, cari temen, cari pacar, cari musuh, cari ketenangan hati.. atau cari yang lain. Tapi, kalo ngga punya tujuan, bikin blog sama juga latah.

Pelatahan blog deh jadinya.

  • Share/Bookmark

Lari Lari Lari !!!

Thursday, January 22nd, 2009

Kembali lagi tentang harga diri bangsa. Dulu harga diri Indonesia cukup disegani di bidang olah raga. Kata orang, salah satu macan asia lah kalo dalam urusan yang satu ini. Sekarang, sudah sangat jarang kita mendengar hal-hal seperti ini (apa iya? kurang gaul aja kali loe wan hehehe).

Cabang olah raga yang masih menjadi andalan kita untuk mendulang medali di berbagai event tingkat dunia, sekarang tinggal bulu tangkis. Itupun saat ini sudah ketar ketir dengan prestasi Cina. Bahkan negara Eropa seperti Denmark dan juga Asia lainnya seperti Malaysia sudah menggeliat. Kalau dilihat rangkin dunianya, Malaysia punya rangking satu dunia untuk tunggal putra dan ganda putri. Sisanya ya bagi-bagi Cina. Indonesia masih ada ga ya?

Tapi olah raga bulu tangkis itu mahal. Saya juga main bulu tangkis. Sekali main, satu cock nya aja sudah sepuluh ribu rupiah. Apalagi kalo habis ber kokok (banyak cock maksudnya). Ngga cocok lah buat kondisi Indonesia sekarang. Makanya itu juga kali yang jadi penghalang prestasi olah raga ini untuk bertahan atau meningkat.

Kalau mau meningkatkan prestasi, ya mungkin ngga usah dari olah raga yang mahal-mahal dulu lah. Contohnya lari. Tentu sudah sering dengar dong, pelari dari negeri antah berantah seperti Kenya, Jamaica, dan negara Afrika lainnya memenangkan berbagai kompetisi tingkat dunia.  Apa sih hebatnya negara-negara itu dibandingkan Indonesia?

Kalau dengar cerita, mereka berlatih berlari juga ngga pakai sepatu. Cuaca panas. Negara miskin, eh maksudnya masih di bawah Indonesia lah (Jamaica masih lebih bagus peringkatnya dari Indonesia). Mereka bisa tuh bikin atlet yang bagus. Masa Indonesia ngga bisa? Bisa lah.

Apa sih yang bisa ditawarkan dari olah raga? Keringat? Cape? Wah belum tau ya manfaat olah raga. Olah raga itu menyehatkan. Sehat itu ngga harus mahal, karena kalau sakit akan jadi lebih mahal. Berlari adalah olah raga murah meriah. Ngga perlu trak khusus, ngga perlu alat khusus. Tinggal keluar rumah, dan mulailah berlari.

Supaya lari jadi olah raga pilihan untuk mengangkat harga diri bangsa, tentu perlu lah gula-gula yang bisa mendorong orang melakukannya. Ngga sekedar sehat, tapi juga bisa menghasilkan uang. Coba ada ya, kompetisi rutin tingkat RT RW kelurahan, sampai nasional untuk lari ini. Ngga usah gede-gede hadiahnya, asal ada, juga sudah cukup membahagiakan.

Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, masa sih ngga ada yang bisa lari cepat dan lari kuat. Bisa lah. Bisa. Nanti, kalo balik ke Indonesia insya Allah akan mempopulerkan lari. Biar bisa nyaingi badminton. Biar lahir juara-juara dunia dari Indonesia. 100m, marathon, triathlon, dan lainnya. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Bahasa Nasional?

Thursday, January 15th, 2009

Sewaktu saya SD dulu, seingat saya pertama kali belajar bahasa ya mulai dari yang gampang dulu. Ini ibu Budi. Ibu Budi pergi ke pasar. Gitu aja, ngga susah-susah. Tapi kayaknya sekarang permintaan pasar udah makin tinggi deh.

Anak saya yang belajar di Malaysia sini juga terkena imbas permintaan pasar yang tinggi ini. Saat di sekolah setingkat TK, sudah diajari Bahasa Inggris, menulis, dan berhitung. Padahal dulu saya di TK cuma belajar menyanyi dan menggambar. Sekolah tingkat SD nya apalagi. Matematika dan Sains diajarkan dalam Bahasa Inggris, tambah pelajaran Bahasa Inggris (saya baru belajar pas SMP). Padahal sekolah negeri lho. Cukup bikin pusing kepala, lha wong pelajaran Bahasa Melayu nya aja ortunya anak-anak belum bisa. Malah jagoan mereka dibanding saya.

Tujuan dari pengantaran pelajaran Matematika dan Sain dalam English adalah untuk meningkatkan modal persaingan era global. Supaya anak-anak yang dididik di Malaysia sudah mahir berbahasa asing sejak kecil dan tidak canggung lagi untuk menggunakannya di saat mereka besar nanti.

Tujuannya memang baik. Tetapi tujuan baik tetap juga ada yang berpendapat sebaliknya. Misalnya beberapa hari lalu ada suatu wawancara di televisi yang menampilkan tokoh pendidikan yang ingin supaya semua pelajaran di sekolah negeri setingkat SD disampaikan dalam bahasa ibu. Bahasa ibu di sini setidaknya ada 3, bukan cuma Bahasa Melayu saja. Sekolah negeri di Malaysia ada jenis Cina dan Tamil, yang masing-masing bahasa ibunya berbeda.

Dalam wawancara tersebut terlihat sekali kalo si pembawa acara lebih mendukung Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Penampilan wawancara dengan orang awam pun hanya dari pihak yang mendukung penggunaan Bahasa Inggris saja. Saat bertanya jawab pun, selalu berusaha memojokkan pendapat tokoh pendidikan ini.

Tapi, bagaimanapun si tokoh pendidikan memang teruji kemampuan untuk membawakan misinya. Meskipun dipojokkan sana sini, akhirnya memang kelihatan argumen dia jauh lebih logis untuk diterima. Misalnya, menurut penelitian dia, sebagian besar (lebih dari 80%) orang tua menginginkan kedua pelajaran tadi diberikan dalam bahasa ibu. Hal ini disebabkan matematika dan sain mementingkan pemahaman konsep yang mungkin lebih baik disampaikan dalam bahasa yang familiar. Pembawa acara memojokkan dengan pertanyaan apakah demi yang mayoritas maka minoritas harus dipinggirkan? Tokoh ini cukup menjawab dengan dua kalimat. Tugas pemerintah adalah membuat kebijakan. Yang namanya kebijakan ya memang harus mengakomodir yang mayoritas daripada yang minoritas. Wah si pembawa acara langsung saja menghentikan acara untuk sesi iklan hehehe.

Penggunaan bahasa asing yang lebih kerap, menurut saya memang akan menghilangkan identitas bangsa. Contohnya semalam ada wawancara pemusik yang merasa tersaingi lagu-lagu dari Indonesia. Di Indonesia mau keturunan Jawa, Cina, Sumatra, dll, dalam hal lagu mereka akan menerima lagu dalam Bahasa Indonesia. Di Malaysia beda, lagu Melayu ya diterima oleh orang Melayu, Lagu Cina diterima oleh orang Cina, dan lagu Tamil oleh keturunan India. Karena itu industri musiknya dikatakan saat ini kurang berkembang.

Kekhawatiran lainnya adalah, satu saat Malaysia akan menjadi English Speaking country. Seperti Singapura gitu lah. Meskipun katanya Bahasa Melayu adalah bahasa nasional, dia akan menjadi terpinggirkan karena kedudukannya akan menjadi sama dengan Bahasa Cina dan Tamil. Mungkin kalo di Indonesia menjadi seperti bahasa daerah. Dia tidak akan digunakan secara luas di kegiatan negara.

Di sini ngga aneh melihat mentri atau bahkan perdana mentri memberikan ucapan dalam Bahasa Inggris. Bagus untuk publikasi internasional. Di Indonesia, jarang-jarang atau bahkan saya ngga pernah lihat mentri memberikan pernyataan media dalam Bahasa Inggris. Selalu Bahasa Indonesia. Dalam konteks identitas bangsa masih bagus. Tapi kadang Bahasa Indonesianya juga tercampur-campur atau tidak baku.

Bahasa, adalah produk budaya yang paling sering dipakai. Tidak seperti pakaian tradisional atau tarian yang dipakai pada acara tertentu saja, bahasa dipakai setiap hari. Bila bahasa sudah tercemar, maka bisa jadi itu adalah indikator budaya nasional juga sudah tercemari. Apalagi kalo sudah digantikan dengan bahasa lain, artinya sudah tidak punya gigi lagi.

Tapi memang terserah pada kebijakan pemerintah, mau membawa bangsa ini kemana melalui bahasanya. Go global dengan penggunaan bahasa internasional (boleh dibilang English dan Chinesse sudah ada ribuan tahun lalu, dibanding Bahasa Indonesia yang baru seumur siapa ya?). Atau tetap dengan budaya sendiri tapi masih mengakomodir globalisasi (Seperti Jepang mungkin). Jadi, kita rakyat ya ikut saja.

  • Share/Bookmark

Cewek Kece dan Cowok Tajir

Tuesday, January 13th, 2009

Suatu hari, di sebuah asrama putri sekolah setingkat SMU di Yogyakarta Bapak asrama sedang memberi wejangan kepada penghuni asrama.

“Dengarkan sini anak-anakku. Sungguh seorang wanita cantik itu akan sulit mencari orang yang benar-benar cinta pada dirinya. Dia sulit untuk mengetahui apakah lelaki itu mencintai kepribadiannya atau mencintai kecantikannya. Biasanya wanita cantik itu akan mendapatkan lelaki yang kaya atau terkenal, tetapi tidak ngganteng dan belum tentu setia. Bisa dilihat banyak artis lelaki yang wajahnya pas-pasan memiliki pasangan yang wajahnya cantik dan setia. Sedangkan artis itu tak jarang suka bermain wanita bahkan beristri lebih dari dua.”

“Hal yang sama juga berlaku kepada lelaki kaya. Banyak teman dan wanita yang mendekat hanya karena menginginkan uangnya saja. Ngga peduli kepada wajah, kalau perlu tutup mata. Yang penting dapat harta yang jaman sekarang memang susah untuk dicarinya. Banyak cerita, wanita cantik yang menginginkan harta akan rela dinikahi oleh pria yang jauh lebih tua. Sekedar mendapatkan kucuran dana untuk memenuhi kebutuhannya. Masalah kebutuhan yang lain, bisa dicari di tempat lain katanya.”

Kasian juga ya, pria muda yang hidupnya pas-pasan. Namanya juga merintis hidup, ga mungkin dong langsung mapan. Pasti perlu perjuangan lebih di awal hidup lepas dari orangtua. Membeli rumah, membeli kendaraan, pasti menyedot sebagian besar penghasilannya. Biasanya setelah berumur 40-an baru akan mapan.

Ada juga wanita-wanita yang rela ikut berkorban memilih suami yang berjuang meniti hidupnya. Tetapi pada saat kemapanan sudah di depan mata, diambil alih oleh wanita-wanita muda yang pingin mencicipi kemudahan tanpa harus ikut berjuang. Pahitnya ngga ikut dirasa, tetapi manisnya rela dibagi dua, begitu katanya.

Herannya ada juga yang mau dengan lelaki tua, tidak kaya, dan juga tidak berwajah tampan meskipun harus berbagi dengan tiga istri lainnya. Setidaknya saya pernah lihat dua contohnya. Satu orang bekerja menjadi teknisi tidak tetap di lab saya yang satu lagi jadi tukang batu seadanya. Gimana baginya ya?

Yah, katanya kalo dapat uang sekali ya dibagi saja langsung ke empat istrinyanya, sama rata. Masalah cukup atau tidak cukup, ya itu tergantung setiap istri menggunakannya. Enak banget nih orang. Ngga enak banget buat istrinya. Tapi mereka mau, ya harus gimana lagi dong.

Tidak semua wanita cantik atau lelaki kaya tidak beruntung. Ada juga yang dapat pasangan yang mampu membahagiakannya. Tidak selalu tampan atau kaya. Yah biasa saja, yang penting sayang dan bertanggung jawab. Mau mengurusi sampai tuanya. Ada lho lelaki biasa saja, tetapi istrinya yang cantik tetap setia disampingnya sampai tua. Ada lho lelaki tampan yang juga setia. Jangan pernah berpikiran mencari lelaki karena wajahnya biasa terus dianggap akan setia.

Jadi gimana dong tips nya mencari jodoh? Yah banyak berusaha dan berdoa. Namanya juga manusia, ada lebih ada kurangnya. Kadang dapat yang banyak kelebihannya, kadang juga sebaliknya. Berdoa saja mudah-mudahan anda termasuk orang yang beruntung.

  • Share/Bookmark

Kena Hajar Krisis

Monday, January 12th, 2009

Dulu sewaktu rajin ikutan kegiatan di Pembinaan Anak-anak Salman, salah satu acara rutin yang kami lakukan adalah mengunjungi rumah adik-adik binaan. Yang jauh maupun yang dekat kami sambangi. Tujuan utamanya adalah silaturahmi, merekatkan ikatan batin antara adik, kakak, dan juga orangtua. Tujuan lainnya adalah peningkatan gizi. Maklum bagi pembina yang kebanyakan anak kost, kunjungan ke rumah adik adalah momen berharga untuk mendapatkan makanan yang beda. Masakan rumah gitu lho. Selain bisa makan banyak, kami juga kadang bisa bawa pulang. Lumayan lho, sering kami ngga perlu pusing mikirin makanan sahur karena sudah ada bingkisan dari rumah adik.

Salah satu rumah adik yang saya kunjungi waktu itu berada di tepi jalan besar dekat rumah sakit terkenal di Bandung. Dibandingkan dengan rumah disekitarnya, rumah itu biasa saja. Hampir ngga ada penanda kalo rumah itu ada. Salah satu pengingat keberadaan rumah itu adalah sebuah mobil Daihatsu Hijet berwarna gelap.

Saya masih ingat, saat itu adalah ramadhan tahun 1997. Belum begitu terasa panasnya krisis ekonomi, sehingga kami masih bisa tertawa-tertiwi dengan riangnya. Buku-buku pun sering saya beli karena masih terjangkau dengan dompet saya. Lagipula, saya belum memikirkan nafkah sendiri, jadi belum begitu terasa susahnya mencari uang.

Beberapa bulan kemudian, saya dan teman bermaksud mencari rumah itu lagi. Alasannya sih, sudah kangen koq ngga pernah kelihatan aktif lagi di Masjid Salman. Berdua dengan teman, saya putar-putar jalan itu tapi masih ngga ketemu juga yang mana ya rumahnya. Mau tanya juga susah karena bukan daerah yang banyak penghuni rumah. Akhirnya kami gagal menemukan rumah adik tersebut.

Tak sangka akhirnya kami berhasil bertemu dengan orangtua si adik di jalan. Kami ngobrol sebentar karena nampaknya si Bapak agak sibuk. Kami tanya tentang kondisi keluarga, rumah, dan juga usaha kami mencari tempat tinggal mereka beberapa waktu lalu. Jawabannya sungguh mengagetkan karena sebagian harta benda keluarga itu sudah dijual. Pilihannya memang berat, punya sesuatu tapi tak bisa makan, atau jual.

Setelah krisis ekonomi tahun 97, kondisi keuangan memang agak berat. Dulu, yang namanya krisis itu terasa banget, maklum terbiasa dengan kondisi yang tenang dan ekonomi “terjamin”. Tapi sekarang saya tanya dengan teman-teman, krisis itu ya sudah biasa saja nampaknya di Indonesia. Mungkin karena sudah terbiasa dengan berita krisis yang berkepanjangan.

Entahlah bagaimana dengan krisis yang mulai ada sekarang ini. Soalnya yang kena krisis ternyata ngga cuma negara di Asia saja. Sekarang krisis ekonomi mulai mendunia. Pemerintah sudah bilang fondasi ekonomi kita kukuh sehingga tidak perlu khawatir, tapi saya tetap ada khawatir juga. Meskipun kita ngga boleh putus harapan dengan rejeki dari Alloh, kita harus tetap waspada dengan kondisi yang ada di depan.

Boleh jadi, kita tidak terkena hajaran krisis. Tapi bahaya krisis bukan saja datang dari krisis yang terjadi pada kita. Kalau krisis itu terjadi pada orang lain, kita pun bisa terkena getahnya. Kita jualan, yang beli kena krisis ya kita juga kena. Di Malaysia sini malah mulai khawatir dengan tingkat kejahatan yang diperkirakan semakin tinggi. Mudah-mudahan hal ini tidak terjadi di Indonesia.

Kena hajar krisis? Kalo bisa sih, kita hajar balik. Sukses buat anda semua semoga badai krisis akan berlalu.

  • Share/Bookmark

Nikmat Terasa

Tuesday, January 6th, 2009

Keluarga itu nikmat

Harta itu nikmat.

Tahta itu nikmat.

Makanan itu nikmat.

Nikmat itu sebenarnya apa-apa yang sudah ada ditangan. Dicarinya susah, dengan keringat, darah, dan air mata. Baru kerasa nikmat, biasanya saat sudah akan hilang.

Ga mau ah, pinginnya kerasa nikmat ketika ada ditangan. Biar bisa disyukuri, dinikmati, dibagi-bagi (yang bisa dibagi). Walau sekedar cerita di siang bolong, atau dongeng pengantar tidur.

  • Share/Bookmark

Titi DJ

Sunday, January 4th, 2009

“Aku pergi dulu ya, bye bye”

“Bye, Titi DJ ya”

Dalam waktu yang tidak sampai 3 hari pelaksanaan kewajiban tali keselamatan untuk penumpang belakang, terjadi beberapa kecelakaan lalu lintas yang merenggut belasan nyawa di Malaysia sini. Menurut polisi dan juga pendapat sebagian masyarakat, penyebab kecelakaan yang menyebabkan kematian biasanya bukan disebabkan oleh kurangnya fasilitas keselamatan yang dimiliki dalam kendaraan. Kebanyakan kecelakaan disebabkan oleh kelalaian pengemudi yang mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan tinggi.

Mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi dapat mengurangi tingkat kewaspadaan. Hal ini memang sering terjadi di Malaysia, bahkan sering disebutkan sebagai pembunuh nomor satu di sini. Jalan-jalan yang besar, mulus, cenderung lurus, dan berkualitas nomor satu menyebabkan kenyamanan mengendara akan bertambah mengasyikkan bila dilakukan dengan kecepatan tinggi. Pedal gas seperti tidak terasa akan membawa kendaraan pada top speed disebabkan keadaan sekitar yang sepi dan menyebabkan pengemudi kurang awas terhadap keadaan sekeliling.

Mungkin pengemudi di Indonesia diuntungkan dengan kondisi jalan raya yang kurang baik dan juga cenderung ramai. Orang jadi lebih berhati-hati mengendara karena jalan tidak cukup lebar, banyak gelombang atau lubang, dan juga banyak kendaraan lain.

Secara alami, mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi di Malaysia memang mudah dipahami. Kalau mengendarai kendaraan dengan kecepatan tinggi di Indonesia, itu ngga mudah. Koq aneh, udah jalan sempit, bergelombang, banyak belokan, lubang, dan ramai masih juga ngebut. Itu namanya memang ngga hati-hati.

Sikap hati-hati di jalan bisa dikatakan menjaga diri sendiri dan juga ORANG LAIN dari terjadinya kecelakaan. Orang yang tidak hati-hati di jalan, artinya tidak peduli kepada keselamatan sendiri dan juga ORANG LAIN. Mungkin seharusnya dikategorikan sebagai penjahat pasif (atau aktif ya). Merasa diri bukan penjahat tapi sebenarnya berpotensi menyebabkan kejahatan terjadi.

Orang yang hati-hati pun akhirnya kadang kena getahnya juga. Ada orang yang sudah jalan dengan kecepatan sedang, di jalur yang benar, tidak serobotan, eh kena jadi korban gara-gara ulah pengendara lain yang ugal-ugalan. Berarti memang layaklah orang yang tidak hati-hati itu dijuluki penjahat.

Hati-hatilah, hati-hatilah. Titi DJ.

  • Share/Bookmark