Buat setiap manusia, sakratul maut itu adalah peristiwa spesial. Yang bisa menunggui orang yang sakratul maut pun adalah orang-orang terpilih. Tidak semua orang dekat bisa menyaksikan seseorang meninggalkan dunia ini. Begini ceritanya.
Pak Tuo (Uwak, Pak De) dari istri saya adalah adik-beradik 6 bersaudara. Pada saat itu dia sedang melanjutkan studi dengan beasiswa di Amerika Serikat. Biasanya sih kehidupan berjalan biasa saja, apa lagi sudah di semester terakhir kuliah, ya kegiatan di kampus sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Tetapi entah kenapa dalam seminggu itu setiap kali akan masuk ke kelas si pintu selalu terkunci dari dalam. Ketika dia meninggalkan kelas tersebut, orang lain dengan mudah bisa masuk ke ruang kelas tanpa terkunci dari dalam. Pas dia balik lagi ke kelas tersebut pintu sudah terkunci lagi tanpa bisa dibuka. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan kejadian tersebut yang menyebabkan dia berpikir untuk segera pulang ke Indonesia meskipun sekolahnya belum selesai. Sampai-sampai supervisornya juga bertanya kesungguhan dia untuk pulang karena kalau sudah pulang dia tidak akan bisa kembali lagi ke Amerika karena tiket kembali dari program beasiswa sudah dipakai. Akhirnya dia pulang juga ke Indonesia meskipun tidak akan bisa menyelesaikan sekolahnya.
Sesampainya di Indonesia ternyata ibunya sudah sampai tahap terakhir kehidupannya. Semua kegiatan seolah-olah sudah persiapan terakhir saja. Keenam anaknya sudah berkumpul semua. Harapannya sih, semua bisa menyaksikan saat-saat terakhir si ibu, sakratul maut. Tetapi ketika saat-saat terakhir itu kondisi si ibu yang sudah payah membuat tiga orang anaknya pergi keluar untuk mencari dokter sedangkan tiga anaknya yang lain dapat mendampingi si ibu menghembuskan nafas terakhir, salah satunya Pak Tuo istri saya itu. Aneh, tapi memang nyata. Kata-kata pembuka tulisan inilah yang disampaikan oleh Pak Tuo saya ke istri saya saat pulang dua minggu yang lalu ke Indonesia karena ayahnya sudah payah.
Mengenai persiapan terakhir, biasanya di hari-hari terakhir tubuh manusia yang akan meninggal itu sudah mulai membersihkan kotoran dari dalam tubuhnya. Jalan pembersihannya macam-macam. Kasus yang pernah disampaikan ke istri saya, ada yang selalu muntah-muntah. Ada lagi seperti mertua lelaki saya pada lima hari terakhir itu selalu pergi ke toilet untuk buang air besar dan air kecil Padahal ngga makan dan ngga minum. Hari ke lima itu juga sudah mulai menyampaikan salam ke malaikat maut. “Assalamu ‘alaikum malaikat maut, selamat datang”. Begitu katanya sambil menengok ke satu arah. Padahal ngga ada siapa-siapa di arah yang dilihat oleh mertua saya itu.
Beberapa orang meninggal setelah beberapa hari tidak sadar atau pingsan. Ini yang terjadi pada Uwak saya yang kepalanya terbentur lantai setelah jatuh dari pagar. Ayah istri saya juga sudah tidak sadar sejak beberapa hari sebelum beliau meninggal. Mungkin ada baiknya seperti itu. Menurut Rasul, saat paling sakit dalam kehidupan manusia adalah saat sakratul maut. Mungkin kalau tidak sadar rasa sakit sakratul maut bisa lebih ringan sakitnya. Sayang belum ada yang bisa cerita saat-saat sakratul maut ya. Kalau ibu melahirkan, katanya itu sudah dekat-dekat sakratul maut. Sakitnya luar biasa kata istri saya.
Saat-saat sakratul maut juga penuh dengan misteri. Saat Mak Tuo (Uwak perempuan, Bu De) istri saya akan meninggal istri saya sudah berniat ingin menginap di rumah sakit. Sudah siapkan pakaian dan perlengkapan mandi segala. Tapi menjelang jam dua belas malam istri saya kebelet pulang ke rumah. Akhirnya pulanglah dia diantar ayahnya. Sesampainya di rumah ayah istri saya merasa ngga tenang dan merasa harus segera pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit hampir jam satu malam dan saat sampai di pintu kamar kakaknya sudah mulai proses sakratul maut. Untungnya ayah istri saya itu masih bisa mendampingi saat-saat terakhir kepergian kakaknya.
Ketika ayah istri saya akan meninggal, di rumah ada beberapa anggota keluarga yang ikut membaca quran. Bahkan mereka sudah datang dari subuh untuk sama-sama membacakan quran buat ayah istri saya. Sore harinya sekitar jam 7 malam beberapa orang pamit pulang. Beberapa orang keluarga lainnya juga sedang keluar membeli barang keperluan tapi tercegat macet di dekat rumah. Baru saja beberapa langkah yang pamit pulang pergi ternyata ayah istri saya meninggal. Akhirnya memang benar, hanya beberapa orang terpilih saja yang bisa ikut mendampingi sedangkan yang lainnya karena satu dan lain hal tidak akan bisa ikut.
Bagaimana sih detik-detik hembusan nafas terakhir itu? Beberapa orang yang akan meninggal sudah terasa dingin bagian bawah kakinya menjelang sakratul maut. Menurut penjelasan dalam agama Islam, nyawa memang dicabut perlahan dari bagian bawah dulu yang dikosongkan. Nafas juga cuma tinggal sekali-kali saja dan selang waktu ke nafas selanjutnya cukup lama. Mungkin sekitar 2 menitan. Ketika nyawa sudah sampai diujung, biasanya ada suara seperti ceklok. Istri saya yang menyaksikan ayahnya meninggal juga memang mendengar suara seperti itu. Setelah itu nafas berat sekali dan tenang. Alhamdulillah ketika meninggal tidak ada kejadian aneh yang berlaku. Pada saat yang tidak terlalu lama tetangga mertua saya juga meninggal. Karena ada penyakit usus, ketika sakratul maut keluar darah dari lubang-lubang tubuhnya. Misalnya dari mulut, hidung, telinga, dan bagian bawah.
Begitu saja sharing cerita sakratul mautnya. Mudah-mudahan bisa jadi pengingat karena kita pun satu saat akan segera menyusulnya. Sudah siap-siap?
In Memoriam, Mertua saya Tamerlan Tores Tahir. Meninggal dunia di Bandung, 15 Oktober 2008, jam 19.15. Mudah-mudahan amal ibadahnya diterima, dosanya diampunkan, urusan kubur dan akhiratnya dimudahkan. Aamiin.