Entries RSS Comments RSS

Archive for the ‘Kesehatan’ Category

Yang Datang dan Yang Pergi

Saturday, August 15th, 2009

Dalam setahun ini, keluarga kami menerima anggota baru tapi juga kehilangan beberapa anggota lama. Bahagia dan sedih, datang silih berganti. Wajar mungkin, karena juga namanya hidup.

Bulan Agustus tahun kemarin, kami kedatangan anggota keluarga baru. Adik saya menikah dengan wanita pilihannya. Kedatangan dipestakan di sebuah pantai di Anyer sana. Saya pun, menyempatkan diri datang untuk merayakannya. Maklum, kami cuma berdua kakak beradik. Kalo satu kelewat, ya sudah memang kelewat saja. Alhamdulillah sempat datang ke Indonesia meskipun cuma dua minggu saja.

Ini namanya bahagia. Menyatukan dua manusia dan juga dua keluarga. Kata orang, membuka pintu rejeki yang lain. Doa saya mudah-mudahan adik saya dan istrinya hidup bahagia dengan keluarga barunya.

Kejadian kedua, adalah kepergian Bapak Mertua saya. Memang sudah lama sakit, sejak saya belum menikah pun katanya memang sudah terasa. Saat kami baru menikah pun, sempat di rawat di rumah sakit selama seminggu dan menurut dokter kemungkinan hidup sudah sangat kecil.

Alhamdulillah, kami masih bisa bersama selama 7 tahun. Masih sempat bersama-sama menikmati indahnya kebersamaan, berhari raya, jalan-jalan, dan juga melihat cucu-cucunya lahir. Tapi memang takdir menentukan, Oktober 2008 adalah hari kepergian beliau.

Untungnya istri saya sempat pulang. Dalam beberapa hari menjelang kepergian beliau, memang sudah terasa aura yang kurang enak. Akhirnya disaat-saat terakhir kami memutuskan untuk memulangkan istri dan anak terkecil kami, mudah-mudahan masih sempat bertemu disaat terakhir kalau memang sudah waktunya berpulang. Alhamdulillah, masih bisa menemani sampai menghembuskan nafas yang terakhir disisi beliau. Saya sendiri tetap di Malaysia dengan 2 anak yang sudah bersekolah. Semoga diampuni dosa-dosanya dan diberikan tempat terbaik di kuburnya.

Kemudian, sepupu saya meninggal dunia juga. Umurnya masih mudah, di bawah saya. Mungkin belum sampai 30 tahun. Saat itu istrinya masih mengandung, hamil besar. Kasihan juga belum sempat melihat merasakan indahnya hidup bersama keluarga. Semoga diampuni dosanya dan diberikan kemudahan hidup bagi keluarga yang ditinggalkan. Hidup menjadi yatim sejak belum lahir, tentu bukan hal yang mudah.

Beberapa lama, ngga ada yang datang pergi. Akhirnya awal minggu ini saudara sepupu yang lain juga meninggal akibat sakit kanker. Sudah agak lama berobat, katanya sih sudah baikan. Tapi seminggu kemarin terasa kembali dan akhirnya tidak dapat bertahan lebih lama di dunia fana ini. Semoga diampuni dosanya.

Kemarin, ternyata keluarga kami kedatangan anggota baru. Adik saya yang menikah setahun yang lalu mendapatkan anak pertamanya. Seorang perempuan cantik yang menambah lagi keindahan sebuah keluarga. Semoga menjadi anak yang soleh, bermanfaat bagi agama, bangsa, dan keluarga. Membawa kebahagiaan untuk keluarga dan menjadi jalan ke surga bagi kedua orangtuanya.

  • Share/Bookmark

Health Screening

Tuesday, August 11th, 2009

Setelah diliburkan selama seminggu, sejak Senin kemarin kampus sudah memulai aktivitas belajar mengajarnya. Tapi sebelum mulai aktivitas, semua mahasiswa diwajibkan mengikuti health screening dan mendapatkan kartu tanda lolos agar dapat ikut aktivitas belajar mengajar.

Health screeningnya sih, gampang saja. Cuma periksa suhu badan dan mengisi formulir. Setelah itu dapat kartu yang harus ditunjukkan kalau mau masuk ke tempat publik seperti lab, kantor dosen, dan mungkin juga perpustakaan.

Tapi pagi ini beda sedikit, semua kendaraan yang masuk kampus kena screening juga. Setiap penumpang diperiksa suhu badannya oleh satpam kampus dan baru boleh jalan kalau tidak melebihi 37,5 C.

Wah, masuk kampus jadi lama karena banyak kendaraan mengantri. Entah mau berapa lama ada screeningnya, padahal kan pagi banyak sekali kendaraan masuk.

Belum lagi, hari Minggu besok ada wisuda. Keluarga wisudawan pasti datang sebagai tamu. Apa semua tamu akan kena screening ya? Kayaknya sih ngga.

Huhuhu, gara-gara babi batuk, seluruh dunia tercekam, gitu katanya. Yah, memang lebih baik mencegah daripada mengobati. Masa sih, kampusnya mau ditutup lagi gara-gara ada yang kena H1N1. Libur melulu, tambah panjang deh daftar libur di Malaysia.

  • Share/Bookmark

Kampus Tutup Akibat Wabah H1N1

Friday, July 31st, 2009

Akhirnya, setelah dicurigai sudah banyak yang kena H1N1, kampus saya ditutup juga mulai hari ini Jum’at 31 Juli 2009 jam 15.00 selama seminggu. Di tutup, artinya mahasiswa yang dari Semenanjung Malaysia dipersilahkan pulang ke rumah masing-masing. Yang ga pulang ga boleh keluar dari kampus. Yang tinggal di luar kampus ga boleh masuk kampus. Ngga sepi dari kegiatan sih, karena staf tetap wajib masuk kampus meskipun ga ada kegiatan belajar mengajar.

Keputusan ini diambil setelah ada lebih dari 100 orang yang dikarantina akibat memiliki gejala H1N1. Suspect aja sih, sedangkan yang positif ada 3 orang. Suspect, karena gejala flu biasa pun mirip. Jadinya yang flu biasa juga kena karantina. Disediakan asrama khusus bagi yang dikarantina ini. Ini kata orang yang bertanggung jawab untuk penanganan H1N1 di kampus.

Sebagai informasi, beberapa hari terakhir jumlah penularan H1N1 dalam negri sudah melampaui kasus penularan import. Artinya meskipun ngga ada riwayat bepergian ke luar negeri, jumlah yang terkena H1N1 jauh lebih banyak. Sampai hari ini sudah 1200 an orang yang positif dengan 3 kasus meninggal dunia.

Indonesia saya perhatikan juga sudah mulai banyak. Setidaknya sudah 300 an yang terkena kalo ga salah. Sampai saat ini saya belum lihat situs resmi informasi H1N1 di Indonesia. Kebanyakan berita saya dapatkan dari internet saja. Jadi ga tau, penularannya kebanyakan dari mana, lokal atau impor? Kemudian, kalo lokal apakah akan ada penutupan tempat keramaian seperti di beberapa negara lain termasuk Malaysia sini?

Mudah-mudahan badai H1N1 cepat berlalu. Saya sudah kehilangan kesempatan konferensi di Singapura Agustus besok karena wabah ini. Ga tau nih, seharusnya Oktober nanti ada konferensi juga di Kuala Lumpur, tapi dengan adanya kasus ini status paper saya ga jelas. Padahal sudah dapat persetujuan dari ketua jurusan dan direktur pasca sarjana. Tapi sampai saat ini belum jelas kepastian pendaftaran, apalagi kampus ditutup saya ga bisa mengurus sampai selesai sedangkan deadline pendaftaran sebentar lagi.

Sekalian berdoa, mudah-mudahan semua mendapat perlindungan Allah dari kejahatan makhluk Nya. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Heboh H1N1

Thursday, July 23rd, 2009

Negara ASEAN selain menjadi tujuan wisata juga warga negaranya senang berwisata ke tempat lain. Karena itu wabah H1N1 yang melanda dunia juga pasti akan datang ke negara-negara ASEAN. Di cegah seperti apapun, kalau sudah banyak orang berlalu lalang dan berinteraksi, satu saat juga akan ada kasus juga.

Contohnya di Indonesia, sampai pertengahan Juni masih belum terdengar adanya kasus H1N1 di Indonesia meskipun negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura sudah ratusan orang terjangkiti. Saya pun terpaksa mengundurkan diri dari konferensi di Singapura karena wabah H1N1 disarankan tidak bepergian ke luar negeri. Jangankan yang sakit, yang sehat saja begitu ketahuan baru saja pulang dari negara yang terjangkiti H1N1 diharuskan karantina di rumah selama seminggu. Ini kebijakan lokal di Malaysia ya, ngga tau deh kalo di Indonesia.

Proteksi ini tidak main-main karena orang yang melanggarnya bisa dipenjara dan dikenakan denda. Hasilnya cukup lumayan. Beberapa waktu terakhir ini, jangkitan dari luar alias import bisa ditekan sekecil-kecilnya. Bahkan sekarang penyebaran lokal yang menjadi penyebab dominan. Terakhir, tanggal 23 Juli dilaporkan 18 kasus baru, 1 kasus import dan sisanya penularan lokal.

Awalnya sih penularan lokal hanya terjadi di daerah sekitar KL, dimana orang-orang berada yang baru saja bepergian dari luar negeri bertempat tinggal. Biasanya tertular melalui sekolah anak-anak. Begitu ada kasus penyebaran di sekolah, maka sekolah itu biasanya akan ditutup paling tidak selama seminggu. Dua atau tiga minggu sebelum tulisan ini dibuat, setidaknya ada 3 sekolah yang ditutup karena ada penularan lokal.

Selain sekolah, tempat yang rawan menjadi tempat penyebaran H1N1 adalah tempat bekerja. Sekitar dua minggu lalu, ada satu kantor yang 8 pekerjanya terkena virus H1N1 ini di cyber jaya.  Akhirnya ya kantor ditutup sementara untuk seminggu.

Untuk tempat tinggal saya yang agak jauh dari KL, seharusnya sih lebih aman dari penyebaran H1N1. Tapi dengan status dua perguruan tinggi yang ada di sini, tentu tinggal tunggu waktu saja. Apalagi, kampus tempat saya belajar banyak pelajar asingnya. Sekarang semester baru sudah bermula, setiap siswa yang baru datang dari luar negeri langsung diperintahkan untuk periksa ke klinik untuk pencegahan.

Tadinya sih, lebih khawatir kalau penyebaran akan terjadi dari kampus saya dengan status siswa internasionalnya. Tapi ternyata takdir berkata lain. Malah kampus di sebelah yang hanya diperuntukkan untuk pribumi (bumi putera kalau kata orang sini) yang terkena lebih dulu. Baru saja diberitakan di TV kalau sudah ada yang positif H1N1 di kampus ini dan kampus ditutup selama seminggu. Padahal baru saja kemarin sore ada pasar malam, tempat berkumpul mahasiswa dan penduduk seabreg-abreg.

Waw, mudah-mudahan semua baik-baik saja. Mudah-mudahan sehat wal afiat dan terhindah dari penyakit yang berbahaya. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Peningkatan Kesejahteraan Rakyat

Friday, January 23rd, 2009

Biasanya, tingkat kesejahteraan secara ekonomi dari suatu negara dilihat dari GDP per Capita. Hitung-hitungannya adalah GDP negara itu dibagi ke jumlah penduduknya. Kalau dilihat dari daftar, Indonesia memiliki GDP nomor 20 terbesar sedunia. Tetapi setelah dibagi jumlah penduduknya, maka dari daftar juga, Indonesia jadi peringkat nomor 115 dunia. Artinya, jumlah penduduk itu yang menjadi penentu. India saja yang punya GDP hampir 3 kali lipat Indonesia ada di peringkat 134 dunia pendapatan kotor per kapitanya. Kalau Indonesia mau mengejar kesejahteraan lewat peningkatan pendapatan, harus berusaha berkali lipat lagi deh kayaknya. Dengan pertumbuhan GDP yang seret belakangan ini, ya bisa dibilang susah deh.

Setelah pengumuman krisis dunia di akhir tahun 2008 kemarin, saya penasaran dengan kondisi di Indonesia. Apa sih pengaruhnya buat yang tinggal di Indonesia? Saya tanya-tanya ke beberapa teman yang ada di sana. Jawabannya hampir sama, ya gitu aja deh ngga ada yang aneh. Biasa aja dengan krisis, malah beberapa bilang kalau dari segi pendapatan sih sekarang jauh lebih baik daripada tahun 2003. Di mall-mall, masih penuh dengan orang berbelanja. Jalanan masih macet dengan mobil-mobil terbaru. Lalu, apa pengaruhnya angka-angka tadi dan juga krisis ekonomi?

Apa saya yang salah. Maksudnya, saya nanyanya sama orang-orang yang ga terpengaruh oleh krisis (Atau berarti saya juga sudah masuk kalangan yang ngga terpengaruh ya hehehe, aamiin). Soalnya saya lihat juga, orang-orang yang mengeluh tentang krisis ini, sebenarnya “punya” tapi sebenarnya disimpan untuk keperluan yang lain. Misalnya ada kawan yang mengeluh kurang uang untuk bayar anak sekolah, untuk makan seadanya, tapi sebenarnya uangnya dipakai untuk mencicil rumah ke tiga. Weleh, ini sih bukan kekurangan, tapi mengurangi yang satu untuk dapat yang lain.

Di koran-koran memang sering diceritakan betapa orang-orang “kecil” semakin menjerit karena himpitan ekonomi. Tapi masih saya lihat juga, orang-orang “kecil” yang jajannya jauh lebih banyak dibandingkan dengan makanan mingguan saya. Misalnya, tetangga di Jakarta, memilih makan pakai bakso yang harga satu mangkoknya sekali makan itu cukup untuk makan sekeluarga saya sehari. Rumahnya ngontrak dibuat dari bilik tapi ada TV dan DVD, sedangkan saya dulu cuma punya TV saja.

Kesejahteraan mungkin tidak seharusnya dihitung dari jumlah uang yang didapat saja. Buktinya, saya disini ditanya oleh penjaga kedai orang Malaysia berapa pendapatan saya sebulan. Ketika saya jawab dengan satu angka, dia bilang mana cukup uang segitu? Wah, padahal dengan uang segitu saya masih bisa nabung lebih banyak dibandingkan ketika ada di Indonesia. TKI di sini juga dibayar dengan gaji yang lebih kecil, tapi saya lihat sekali kirim bisa 3 kali lipat gaji saya di Indonesia (saya bukan TKI, jadi belum bisa ngirim 3 kali gaji saya di Indonesia hehehe).

Jadi ngga penting tuh kelihatan angka-angkanya. Yang penting terpenuhi kebutuhannya. Mungkin pemerintah Indonesia ngga perlu menghitung jumlah pendapatan yang harus didapat oleh rakyatnya. Tetapi lebih baik, kebutuhan dasar apa saja yang harus terpenuhi. Kalo ngga bisa dipenuhi oleh pendapatan si rakyat, ya dipenuhi oleh pemerintah saja.

Rakyat ngga perlu subsidi BBM. Yang diperlukan adalah saat mau pergi dari satu tempat ke tempat lain, dia bisa melakukannya dengan biaya terjangkau. Yang diperlukan adalah saat mau masak, ya ada energi masaknya. Terserah gimana caranya. Ketika bis yang disubsidi ternyata ongkosnya lebih mahal daripada beli motor sendiri, akhirnya orang pakai motor meskipun harus kredit baru. Ketika pakai kompor gas ternyata susah, ya balik lagi ke minyak tanah atau kayu bakar.

Kebutuhan dasar ini agak jarang dibahas dalam literatur. Pajangan angka saja yang banyak ditampilkan. Kalau melihat angkanya, kadang ngga kepikir gimana ya caranya. Misal, pemerintah cukup kaget karena setelah kenaikan harga BBM tahun lalu koq konsumsi BBM meningkat. Ternyata ya rakyat berubah metoda bepergiannya dari memakai angkutan umum menjadi angkutan pribadi karena menurut hitungan lebih murah. Pemerintah rugi juga karena harus “mengeluarkan” subsidi tambahan. Mungkin, kalau pemerintah menyediakan solusi angkutan yang murah, jumlah uangnya lebih sedikit daripada “mengeluarkan” subsidi.

Bagi banyak pemerintah negara lain, kebutuhan dasar rakyat yang harus dipenuhi selain sandang, pangan, dan papan adalah pendidikan dan kesehatan. Sistem asuransi nasional memungkinkan rakyat mendapatkan pelayanan kesehatan dengan murah. Harga obat, harga dokter, harga RS, boleh saja mahal. Tapi karena ditanggung oleh asuransi maka harganya jadi tidak ada lagi. Pemerintah ngga perlu mikirkan subsidi obat lagi. Jujur saja, saya rela membayar asuransi asalkan saya dan keluarga ngga sakit meskipun uangnya hangus. Daripada saya masuk rumah sakit di kelas VVIP, mendingan saya sehat dan bisa beraktivitas dengan leluasa.

Pendidikan juga bukan sesuatu yang murah. Tetapi saya sudah melihat, TPA TKA, pesantren, sekolah minggu, dan lainnya itu koq bisa jalan-jalan saja dari dulu. Sejak kecil saya ikutan pengajian di Masjid, ada yang bayar ada yang gratis. Pendidikannya jalan sampai sekarang masih ada pengajian di Masjid.  Mungkin model sekolah terbuka bisa diadopsi juga. Ada yang bilang proses itu penting, tapi kenyataannya sekarang dinilai dari hasil. Artinya ya sudah nilai dari hasil saja, prosesnya terserah mau bagaimana. Mau belajar otodidak, belajar di sawah, di lapangan, atau di mana saja, test di tempat ujian. Kalo lulus, ya berarti pada saat itu dia sudah memiliki kelayakan. Kalau belum lulus, ya test lagi aja kapan-kapan.

Tapi percaya lah, banyak orang pintar di atas sana. Hal-hal tersebut bukannya ngga dipikirkan dan dirancang solusinya. Kalo ada ide, ya silahkan majukan biar jadi bahan pertimbangan orang-orang pintar itu. Kalo saya sih, mikirkan gimana caranya ya supaya meskipun pengeluaran saya meningkat tetap ada sumber-sumber pundi uang untuk membayarinya hehehe. Dasar.

  • Share/Bookmark

Lari Lari Lari !!!

Thursday, January 22nd, 2009

Kembali lagi tentang harga diri bangsa. Dulu harga diri Indonesia cukup disegani di bidang olah raga. Kata orang, salah satu macan asia lah kalo dalam urusan yang satu ini. Sekarang, sudah sangat jarang kita mendengar hal-hal seperti ini (apa iya? kurang gaul aja kali loe wan hehehe).

Cabang olah raga yang masih menjadi andalan kita untuk mendulang medali di berbagai event tingkat dunia, sekarang tinggal bulu tangkis. Itupun saat ini sudah ketar ketir dengan prestasi Cina. Bahkan negara Eropa seperti Denmark dan juga Asia lainnya seperti Malaysia sudah menggeliat. Kalau dilihat rangkin dunianya, Malaysia punya rangking satu dunia untuk tunggal putra dan ganda putri. Sisanya ya bagi-bagi Cina. Indonesia masih ada ga ya?

Tapi olah raga bulu tangkis itu mahal. Saya juga main bulu tangkis. Sekali main, satu cock nya aja sudah sepuluh ribu rupiah. Apalagi kalo habis ber kokok (banyak cock maksudnya). Ngga cocok lah buat kondisi Indonesia sekarang. Makanya itu juga kali yang jadi penghalang prestasi olah raga ini untuk bertahan atau meningkat.

Kalau mau meningkatkan prestasi, ya mungkin ngga usah dari olah raga yang mahal-mahal dulu lah. Contohnya lari. Tentu sudah sering dengar dong, pelari dari negeri antah berantah seperti Kenya, Jamaica, dan negara Afrika lainnya memenangkan berbagai kompetisi tingkat dunia.  Apa sih hebatnya negara-negara itu dibandingkan Indonesia?

Kalau dengar cerita, mereka berlatih berlari juga ngga pakai sepatu. Cuaca panas. Negara miskin, eh maksudnya masih di bawah Indonesia lah (Jamaica masih lebih bagus peringkatnya dari Indonesia). Mereka bisa tuh bikin atlet yang bagus. Masa Indonesia ngga bisa? Bisa lah.

Apa sih yang bisa ditawarkan dari olah raga? Keringat? Cape? Wah belum tau ya manfaat olah raga. Olah raga itu menyehatkan. Sehat itu ngga harus mahal, karena kalau sakit akan jadi lebih mahal. Berlari adalah olah raga murah meriah. Ngga perlu trak khusus, ngga perlu alat khusus. Tinggal keluar rumah, dan mulailah berlari.

Supaya lari jadi olah raga pilihan untuk mengangkat harga diri bangsa, tentu perlu lah gula-gula yang bisa mendorong orang melakukannya. Ngga sekedar sehat, tapi juga bisa menghasilkan uang. Coba ada ya, kompetisi rutin tingkat RT RW kelurahan, sampai nasional untuk lari ini. Ngga usah gede-gede hadiahnya, asal ada, juga sudah cukup membahagiakan.

Dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, masa sih ngga ada yang bisa lari cepat dan lari kuat. Bisa lah. Bisa. Nanti, kalo balik ke Indonesia insya Allah akan mempopulerkan lari. Biar bisa nyaingi badminton. Biar lahir juara-juara dunia dari Indonesia. 100m, marathon, triathlon, dan lainnya. Aamiin.

  • Share/Bookmark

Pharmacist Knows Better

Friday, November 14th, 2008

Rasanya saya pernah tulis di sini tentang sikap dokter Melayu yang ada di sini. Kebanyakan bersikap dingin apalagi yang bekerja di poliklinik milik pemerintah. Cool banget. Pernah ketika saya memeriksakan anak saya yang sakit si dokter ngga nanya apa-apa. Cuma diem aja dan terus menuliskan resep untuk pasien tanpa sepatah katapun terucap dari mulutnya.

Ngga cuma sekali kejadian itu terjadi. Gara-gara ngga sembuh juga sakit batuk saya bawa anak ke tempat praktik dokter bebas. Di sana juga sama saja, baik pasien maupun orang tua ngga ditanya macam-macam. Dokter diem aja mendengarkan keluhan dari pasien tanpa bertanya atau memberikan saran. Ngga ada senyum sedikitpun.

Kejadiannya beda kalo kita pergi ke dokter swasta yang biasanya diisi oleh dokter India atau China. Secara alaminya keturunan non Bumiputera yang ada di Malaysia memang dibatasi untuk memasuki jurusan-jurusan tertentu termasuk kedokteran (sama juga dengan di Indonesia kali ya). Karena itu bagi mereka yang ingin menjadi dokter biasanya sekolah di luar negeri seperti di Indonesia (banyak di kedokteran UNPAD, UNBRAW, dll), India, dan Rusia. Dokter-dokter ini biasanya lebih ramah dan mau menyapa termasuk ke anak-anak. Sewaktu kami periksa kehamilan istri di rumah sakit swasta di Ipoh, anak saya juga diajak ngobrol dan diberi permen oleh dokternya langsung.

Berdasarkan pengalaman di atas, kalau harus periksa ke dokter yang bayarnya hampir sama ya kami lebih baik pergi ke rumah sakit swasta dari pada ke poliklinik. Tapi sayangnya rumah sakit swasta cukup jauh dari rumah sewa kami. Karena itu kalau ada sakit apa-apa biasanya kami langsung pergi ke apotek saja untuk nanya ke apotekernya.

Biasanya si apoteker juga punya pengetahuan tentang penyakit dan obatnya. Cukup bawa orang yang sakit dan ceritakan apa keluhannya si apoteker bisa memberikan saran obat apa yang harus dimakan dengan sekalian takarannya. Ini jauh lebih murah karena kita ngga perlu bayar si apoteker hehehe. Saya pernah bawa anak saya yang kena sakit jari akibat sering digigitin sendiri ke apotek. Di sana saya cuma ceritakan sedikit keluhan dan sebab terjadinya penyakit itu ke apoteker. Eh ternyata jawaban si apoteker jauh lebih panjang dan lebih informatif dibandingkan kalo saya pergi ke dokter. Ya udah, sekarang apotek jadi langganan saya kalo ada penyakit. Tapi mudah-mudahan ngga perlu banyak ke apotek deh. Bagaimanapun hidup sehat lebih baik dari pada sakit. Mendingan saya bayar asuransi kesehatan tapi ngga pernah menggunakannya daripada saya dapat pelayanan kelas satu di rumah sakit. Iya ngga? Biar deh orang lain saja yang menggunakan asuransi kesehatan yang saya bayar, yang penting keluarga saya sehat wal afiat.

  • Share/Bookmark

Sakratul Maut

Monday, October 27th, 2008

Buat setiap manusia, sakratul maut itu adalah peristiwa spesial. Yang bisa menunggui orang yang sakratul maut pun adalah orang-orang terpilih. Tidak semua orang dekat bisa menyaksikan seseorang meninggalkan dunia ini. Begini ceritanya.

Pak Tuo (Uwak, Pak De) dari istri saya adalah adik-beradik 6 bersaudara. Pada saat itu dia sedang melanjutkan studi dengan beasiswa di Amerika Serikat. Biasanya sih kehidupan berjalan biasa saja, apa lagi sudah di semester terakhir kuliah, ya kegiatan di kampus sudah menjadi rutinitas sehari-hari. Tetapi entah kenapa dalam seminggu itu setiap kali akan masuk ke kelas si pintu selalu terkunci dari dalam. Ketika dia meninggalkan kelas tersebut, orang lain dengan mudah bisa masuk ke ruang kelas tanpa terkunci dari dalam. Pas dia balik lagi ke kelas tersebut pintu sudah terkunci lagi tanpa bisa dibuka. Dia merasa ada sesuatu yang salah dengan kejadian tersebut yang menyebabkan dia berpikir untuk segera pulang ke Indonesia meskipun sekolahnya belum selesai. Sampai-sampai supervisornya juga bertanya kesungguhan dia untuk pulang karena kalau sudah pulang dia tidak akan bisa kembali lagi ke Amerika karena tiket kembali dari program beasiswa sudah dipakai. Akhirnya dia pulang juga ke Indonesia meskipun tidak akan bisa menyelesaikan sekolahnya.

Sesampainya di Indonesia ternyata ibunya sudah sampai tahap terakhir kehidupannya. Semua kegiatan seolah-olah sudah persiapan terakhir saja. Keenam anaknya sudah berkumpul semua. Harapannya sih, semua bisa menyaksikan saat-saat terakhir si ibu, sakratul maut. Tetapi ketika saat-saat terakhir itu kondisi si ibu yang sudah payah membuat tiga orang anaknya pergi keluar untuk mencari dokter sedangkan tiga anaknya yang lain dapat mendampingi si ibu menghembuskan nafas terakhir, salah satunya Pak Tuo istri saya itu. Aneh, tapi memang nyata. Kata-kata pembuka tulisan inilah yang disampaikan oleh Pak Tuo saya ke istri saya saat pulang dua minggu yang lalu ke Indonesia karena ayahnya sudah payah.

Mengenai persiapan terakhir, biasanya di hari-hari terakhir tubuh manusia yang akan meninggal itu sudah mulai membersihkan kotoran dari dalam tubuhnya. Jalan pembersihannya macam-macam. Kasus yang pernah disampaikan ke istri saya, ada yang selalu muntah-muntah. Ada lagi seperti mertua lelaki saya pada lima hari terakhir itu selalu pergi ke toilet untuk buang air besar dan air kecil Padahal ngga makan dan ngga minum. Hari ke lima itu juga sudah mulai menyampaikan salam ke malaikat maut. “Assalamu ‘alaikum malaikat maut, selamat datang”. Begitu katanya sambil menengok ke satu arah. Padahal ngga ada siapa-siapa di arah yang dilihat oleh mertua saya itu.

Beberapa orang meninggal setelah beberapa hari tidak sadar atau pingsan. Ini yang terjadi pada Uwak saya yang kepalanya terbentur lantai setelah jatuh dari pagar. Ayah istri saya juga sudah tidak sadar sejak beberapa hari sebelum beliau meninggal. Mungkin ada baiknya seperti itu. Menurut Rasul, saat paling sakit dalam kehidupan manusia adalah saat sakratul maut. Mungkin kalau tidak sadar rasa sakit sakratul maut bisa lebih ringan sakitnya. Sayang belum ada yang bisa cerita saat-saat sakratul maut ya. Kalau ibu melahirkan, katanya itu sudah dekat-dekat sakratul maut. Sakitnya luar biasa kata istri saya.

Saat-saat sakratul maut juga penuh dengan misteri. Saat Mak Tuo (Uwak perempuan, Bu De) istri saya akan meninggal istri saya sudah berniat ingin menginap di rumah sakit. Sudah siapkan pakaian dan perlengkapan mandi segala. Tapi menjelang jam dua belas malam istri saya kebelet pulang ke rumah. Akhirnya pulanglah dia diantar ayahnya. Sesampainya di rumah ayah istri saya merasa ngga tenang dan merasa harus segera pergi ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit hampir jam satu malam dan saat sampai di pintu kamar kakaknya sudah mulai proses sakratul maut. Untungnya ayah istri saya itu masih bisa mendampingi saat-saat terakhir kepergian kakaknya.

Ketika ayah istri saya akan meninggal, di rumah ada beberapa anggota keluarga yang ikut membaca quran. Bahkan mereka sudah datang dari subuh untuk sama-sama membacakan quran buat ayah istri saya. Sore harinya sekitar jam 7 malam beberapa orang pamit pulang. Beberapa orang keluarga lainnya juga sedang keluar membeli barang keperluan tapi tercegat macet di dekat rumah. Baru saja beberapa langkah yang pamit pulang pergi ternyata ayah istri saya meninggal. Akhirnya memang benar, hanya beberapa orang terpilih saja yang bisa ikut mendampingi sedangkan yang lainnya karena satu dan lain hal tidak akan bisa ikut.

Bagaimana sih detik-detik hembusan nafas terakhir itu? Beberapa orang yang akan meninggal sudah terasa dingin bagian bawah kakinya menjelang sakratul maut. Menurut penjelasan dalam agama Islam, nyawa memang dicabut perlahan dari bagian bawah dulu yang dikosongkan. Nafas juga cuma tinggal sekali-kali saja dan selang waktu ke nafas selanjutnya cukup lama. Mungkin sekitar 2 menitan. Ketika nyawa sudah sampai diujung, biasanya ada suara seperti ceklok. Istri saya yang menyaksikan ayahnya meninggal juga memang mendengar suara seperti itu. Setelah itu nafas berat sekali dan tenang. Alhamdulillah ketika meninggal tidak ada kejadian aneh yang berlaku. Pada saat yang tidak terlalu lama tetangga mertua saya juga meninggal. Karena ada penyakit usus, ketika sakratul maut keluar darah dari lubang-lubang tubuhnya. Misalnya dari mulut, hidung, telinga, dan bagian bawah.

Begitu saja sharing cerita sakratul mautnya. Mudah-mudahan bisa jadi pengingat karena kita pun satu saat akan segera menyusulnya. Sudah siap-siap?

In Memoriam, Mertua saya Tamerlan Tores Tahir. Meninggal dunia di Bandung, 15 Oktober 2008, jam 19.15. Mudah-mudahan amal ibadahnya diterima, dosanya diampunkan, urusan kubur dan akhiratnya dimudahkan. Aamiin.

  • Share/Bookmark